Mrs Billionaire

Mrs Billionaire
Hukuman



“Maaf.” Ivana merasa tidak enak ketika melihat dirinya memeluk Savero. Dia buru-buru melepaskan pelukan itu.


“Tidak apa-apa.” Savero merasa tidak masalah. Lagi pula tadi dia berusaha menenangkan Irena.


Ivana merasa tidak enak sekali. Karena memeluk Savero begitu saja. Harusnya dia sadar jika Savero adalah orang asing baginya.


“Masalah bukti tadi. Apa kamu mau aku menyerahkan kepada polisi?” Savero menatap Irena. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa persetujuan Irena.


“Tentu saja. Aku ingin melihat mereka di jeruji besi. Jadi lakukan yang menurutmu baik.” Irena mempercayakan semua pada Savero. Walaupun baru mengenal Savero, dia yakin jika Savero bisa melakukan semua itu.


“Baiklah, aku akan mengurusnya. Fokuslah dengan kesehatanmu.” Savero meyakinkan Irena.


Ivana mengangguk. Dia juga ingin segera pulih dan melihat paman dan bibinya berada di jeruji besi.


...****************...


Tiga hari Ivana dirawat, dan ditambah seminggu dia bolak-balik ke persidangan. Memberikan kesaksian atas apa yang dilakukan oleh paman dan bibi Irena. Bukti yang terungkap membuat paman dan bibi Irena tidak dapat berkutik. Akhirnya paman dan bibi Irena itu di penjara seumur hidup atas beberapa kasus. Percobaan pembunuhan yang dilakukan pada Irena sebanyak dua kali dan percobaan pembunuhan yang dilakukan orang tua Irena. Dua kasus itu memperberat hukuman mereka. Apalagi mereka masih bersikukuh tidak bersalah.


Kini Irena sudah terbebas dari paman dan bibinya. Tentu saja itu membuatnya lega sekali.


“Terima kasih sudah membantu kasus ini.” Ivana menatap Savero yang menyetir. Pria itu ingin mengantarkannya pulang.


“Sama-sama. Aku senang membantumu.” Savero tersenyum tipis.


Jarang-jarang Ivana melihat Savero tersenyum. Biasanya pria itu pelit sekali tersenyum.


“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Savero.


“Aku akan mengurus perusahaan dengan baik.” Ivana menjawab. Namun, sejenak dia terdiam.


Ivana melanjutkan keinginannya itu. Dia merasa aneh karena dia belum terbangun dari tidurnya. Padahal kematian orang tua Irena sudah terungkap. Dan lagi kasus percobaan pembunuhan juga sudah terungkap. Jelas itu harusnya sudah menyelesaikan masalah Irena.


“Kamu harus bekerja keras untuk membangun bisnismu itu.” Savero memberikan dukungan pada Irena.


“Iya, produk kita sudah rilis. Jelas aku akan lebih berusaha keras agar semua produk yang dibuat akan semakin laku di pasaran.” Ivana tersenyum. Selama dia masih di tubuh Irena, jelas dia akan melakukan yang terbaik.


Mobil sampai di rumah. Irena dan Savero masuk ke rumah. Mereka duduk di kursi ruang tamu. Seorang asisten rumah tangga datang memberikan minuman untuk Irena dan tamunya.


“Maaf, Nona. Saya ingin mengabari jika Nona Jane sudah pergi.” Asisten rumah tangga memberitahu Irena.


Ivana terkejut. Tadi dia masih melihat Jane di persidangan. Namun, ternyata gadis itu langsung pergi begitu saja.


“Apa dia bilang ke mana dia pergi?” tanya Ivana.


“Tidak. Dia hanya pergi begitu saja dengan membawa kopernya setelah Nona pergi.”


Ivana menebak. Jika Jane pergi saat dirinya pergi, artinya Jane berencana pergi sebelum putusan pengadilan. Gadis itu pergi pastinya karena tidak yakin jika papa dan mamanya akan selamat.


“Apa aku perlu mencarinya?” tanya Savero. Dia sedikit was-was karena bisa jadi Jane balas dendam.


“Aku rasa tidak perlu. Melihat orang tuanya di penjara. Pastinya dia akan berpikir panjang jika akan melakukan hal buruk.” Ivana yakin Jane tidak akan berani melakukan apa pun.


“Baiklah, jika itu maumu.” Savero menyerahkan semuanya. Lagi pula jika Irena yakin sepupunya tidak melakukan apa pun. Dia bisa apa.


Mereka berdua menikmati teh yang disajikan. Sesekali menceritakan tentang pekerjaan. Obrolan mereka berdua memang tak jauh-jauh dari pekerjaan.