
Sudah sebulan sejak Irena menandatangani berkas akuisisi perusahaaan. Kini perusahaannya berada di bawah naungan dari perusahaan Savero. Ivana harus pasrah ketika harus menyerahkan semua perusahaan pada Savero.
Ivana mengembuskan napasnya. Andai uangnya tidak dibawa kabur oleh Carlos, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Sejam sebulan yang lalu, setelah Carlos membawa kabur uang perusahaan, Ivana harus putar otak agar perusahaan bertahan. Cara satu-satunya memang mengakuisisi perusahaan dengan perusahaan Savero.
Sebulan ini juga dia berusaha
mempertahankan perusahaan. Beberapa orang sudah dipecat oleh Savero. Apalagi mereka yang masih bekerja pada Paman Berto.
Savero benar-benar membenahi perusahaan. Hal itu tentu saja membuat Ivana jauh lebih mudah melanjutkan perusahaan. Bantuan Savero memang tidak main-main.
Sejak sebulan yang lalu, Ivana mulai merombak banyak karyawannya. Itu semua tak terlepas dari saran Savero. Ivana akui, Savero memang luar biasa. Karena dengan adanya Savero, dia dapat memperbaiki perusahaan lebih baik. Ibarat luka, dia mencari di mana luka itu berasal. Agar kelak tidak menggerogoti tubuh. Dengan memecat orang-orang yang mengambil keuntungan secara diam-diam pada perusahaan.
“Bersiaplah, besok kita akan menikah.” Savero menatap Irena.
Ivana terdiam. Pikirannya melayang memikirkan bagaimana bisa dia menjalani pernikahan dengan Savero. Padahal jelas di dunia nyata saja dia belum menikah.
“Iren.” Savero menyadarkan Irena yang sedang sibuk dengan pikirannya.
“Iya.” Ivana langsung mengalihkan pandangan pada Savero.
Savero tersenyum. Dia merasa Irena memikirkan sesuatu. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Savero.
“Tidak ... iya ... tidak.” Ivana bingung sendiri ketika menjawab pertanyaan Savero.
Savero semakin melebarkan senyumnya ketika melihat Irena tampak gugup.
“Kita menikah secara tiba-tiba. Apa yang kamu rasakan?” Ivana ingin tahu isi hati pria tersebut.
Savero tampak berpikir. “Sepertinya aku tidak merasakan apa-apa.” Dia menjawab enteng.
Ivana mengembuskan napasnya. Pernikahan apa yang akan dijalani Irena kelak jika suaminya saja tidak merasakan apa pun. Harusnya perasaan cinta menghiasi pernikahan mereka. Namun, sejenak Ivana sadar jika pernikahannya disebabkan karena perusahaan. Jadi jelas jika Savero tidak menyukainya.
“Aku masuk dulu.” Ivana membuka sabuk pengaman, dan segera keluar dari mobil. Dia tidak mau banyak bertanya sama sekali. Takut justru akan terluka.
Melihat Irena yang hendak pergi, Savero segera meraih tangan Irena. Membuat wanita itu berbalik. Saver pun segera mengangsur tubuhnya. Mendekati tubuh Irena.
“Aku tahu kamu mengira aku menikahimu karena perusahaan.” Savero menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Irena.
Jantung Ivana semakin tak menentu. Dia merasa jika ada perasaan aneh masuk ke hatinya.
“Tapi, perlu kamu tahu jika aku punya beberapa alasan.” Savero menatap mata Irena yang begitu cantik. Warna biru yang begitu jernih.
“Apa alasannya?” tanya Ivana.
“Pertama karena aku ingin menjagamu. Kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi biarkan aku menjadi tempatmu bersandar.” Savero menyelipkan rambut ke balik telinga Irena.
Ivana terpaku. Memang benar kenyataan jika tidak ada lagi yang dimiliki Irena. Tak punya siapa-siapa. Jadi dia butuh tempat berkeluh kesah. Harusnya Ivana mendukung. Paling tidak kelak Irena akan hidup dengan bahagia bersama orang yang bisa menjaganya.