
Ivana membuka matanya. Saat membuka matanya, dia melihat jika ini bukan lagi di gudang yang tadi. Langit-langit kamar yang dihiasi dengan lampu kristal membuat Irena semakin bingung di mana dirinya.
“Aku di mana?” Ivana memegangi kepalanya. Saat hendak memegang kepalanya, dia menyadari jika tangannya sudah diperban. Dia yakin pasti ada yang melakukannya. Dia segera berangsur bangun.
“Kamu sudah bangun?” Savero yang masuk ke kamar mendapati Irena sudah bangun.
Ivana menyadari jika ternyata Saverolah yang membawanya. Jadi wajar saja Dia segera meletakkan makan yang dibawanya di atas meja. Setelah itu, dia membuka gorden agar cahaya matahari masuk ke dalam.
Saat cahaya matahari masuk ke kamarnya, Ivana memejamkan matanya. Merasa sinar matahari itu menyilaukan. Seketika menutup matanya dengan tangannya.
“Aku di mana?” Ivana menyingkirkan tangannya dari wajahnya.
“Di rumahku.” Savero mengayunkan langkahnya mendekat ke Irena.
“Bagus, kamu tidak membawaku pulang.” Ivana merasa bersyukur karena tidak harus bertemu dengan paman Irena. Jika bertemu, pasti itu akan membuatnya emosi.
“Memang kenapa?” Savero melihat Irena tampak kesal. Dia duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur. Dia mengambil makanan yang dibawanya.
“Aku yakin sekali dia yang merencanakan ini semua.” Ivana sudah menduga jika pasti paman Irena itu terlibat dalam hal ini.
Savero hanya mendengarkan. Dia menyuapi Irena di saat gadis itu sedang kesal. Tanpa sadar Ivana pun menurut saja. Dia yang kesal tidak menyadari jika membuka mulutnya dan memakan makanan yang diberikan oleh Savero.
“Aku benar-benar akan membuat perhitungan dengannya.” Ivana meluapkan kekesalannya.
“Memang kamu yakin jika dia yang melakukannya?” Savero memastikan pada Irena sambil menyuapi Irena. Dia tahu tangan Irena sedang terluka, jadi dia menyuapinya.
“Aku yakin sekali.” Ivana mengunyah makanan yang diberikan oleh Savero. Dia yang kesal tidak menyadari Savero terus menyuapinya.
“Apa yang membuatmu yakin dia yang melakukannya?” Savero begitu penasaran sekali.
Ivana mengunyah makanannya sebelum menjawab. Savero pun mendengarkan apa yang dikatakan oleh Irena.
“Jika bukan dia pelakunya, tentu saja dia akan datang menolongku, tetapi buktinya dia tidak datang.” Ivana yakin seratus persen. “Setelah ini aku akan ke kantor polisi. Melaporkan kejadian ini.” Dia tidak akan melepaskan Paman Berto begitu saja.
Savero menatap Irena dengan lekat. Tidak menyangka jika ternyata Irena akan menempuh jalur hukum.
“Apa orangmu mengurus penjahat kemarin? Di mana mereka? Aku ingin menanyai sendiri siapa yang menyuruh mereka. Setelah itu aku akan menyeretnya ke kantor polisi.” Ivana menatap Savero. Dia yakin pria di depannya itu pasti mengurus orang-orang kemarin.
“Aku akan mengantarkanmu bertemu mereka, tetapi makan dulu makananmu.” Savero menyuapi Irena.
Ivana dengan polosnya menerima suapan yang diberikan oleh Savero. Dia mengunyahnya sambil memikirkan apa yang akan dilakukannya. Savero pun terus menyuapi. Saat mengunyah, Ivana menyadari sesuatu.
“Kenapa kamu menyuapi aku?” Dia yang mendapati jika sedari tadi disuapi oleh Savero, langsung melempar pertanyaan.
“Karena tanganmu sakit, jadi tidak bisa makan sendiri.” Savero dengan tenang menjawab. Sambil menyuapi Irena lagi.
Irena melihat telapak tangannya yang terluka. Walaupun tangannya itu terluka, dia tetap bisa makan. Jadi alasan Savero tidak masuk akal.
Savero menyodorkan sendok yang berada di dalam makanan. Sayangnya, Irena tidak mau lagi. Dia menggeleng karena tidak mau disuapi oleh Savero. Savero pun tidak menolak. Dia memilih mengambil gelas berisi air putih dan memberikannya pada Irena.
“Kamu bersiaplah, maid akan mengantarkan bajumu.” Savero segera meletakkan kembali gelas ke nampan. Kemudian membawaknya keluar.
Ivana melihat Savero yang perlahan meninggalkan kamarnya. Pria itu baik sekali, membuat jantung Ivana sedikit bergetak. Sejenak dia merasa aneh dengan perasaan ini. Dia adalah orang yang tidak mudah jatuh cinta, lalu bagaimana bisa dia merasakan perasaan itu. Ivana pun segera menyingkirkan pikiran itu. Dia harus bersiap untuk menemui penjahat itu. Jadi dia harus segera bersiap.
...****************...
Savero membawa Irena ke mansion belakang. Di sanalah orang-orang yang menculik Irena berada. Savero membuka pintu. Mempersilakan Irena masuk
Ivana yang begitu bersemangat langsung masuk. Alangkah terkejutnya ketika melihat dua orang kemarin sedang enak-enak makan. Dia pun segera menoleh ke Savero, Memastikan kenapa dua orang itu sedang makan enak. Bukankah harusnya Savero mengikatnya.
“Kamu bisa tanyakan sendiri.” Savero mempersilakan Irena.
Peduli apa mereka berdua sedang apa. Yang penting Ivana harus tahu jika paman Irena yang telah melakukannya. Dia pun segera mengayunkan langkahnya. Mendekat ke arah dua orang tersebut.
“Siapa yang menyuruh kalian?” Ivana menatap tajam pada pria yang memiliki tubuh besar itu.
Dua orang itu saling pandang. Kemudian mengalihkan pandangan pada Savero. Tatapan keduanya menyiratkan apa yang harus mereka jawab.
Ivana menyadari akan hal itu. Dia merasa jika Savero sudah mengetahui semua. Dia pun mengalihkan ke dua orang di depannya. Menunggu siapa yang menyuruh mereka.
“Tuan ….” Satu orang berusaha untuk menjawab.
“Tuan siapa?” Ivana semakin penasaran.
“Tuan Savero.” Salah satu yang lain menjawab.
Ivana membulatkan matanya. Bagaimana bisa Savero yang melakukan itu. Padahal jelas pria itu yang menolongnya.
“Jawab sekali lagi. Siapa yang menyuruh kalian?” Ivana masih belum percaya, jadi dia kembali bertanya.
“Tuan Savero, Nona.”
Ivana mendengar jelas jika jawaban tidak sama sekali goyah. Jadi artinya memang Saverolah yang melakukannya. Ivana segera berbalik. Dia menghampiri Savero yang berdiri di belakangnya. Dia berhenti tepat di depan Savero.
“Apa benar kamu yang melakukannya?” Ivana menatap tajam pada Savero.
Savero melihat jelas wajah Irena yang kesal. Jadi dia tidak mau membuat gadis itu semakin marah. “Iya.” Dia dengan tegas menjawab.
Ivana benar-benar tidak percaya. Artinya semalam Savero hanya pura-pura menolongnya. Tanpa berbasa-basi, Ivana langsung memukul perut Savero. Membuat Savero kesakitan sambil memegangi perutnya. Ivana yang kesal segera memilih pergi. Meninggalkan mansion milik Savero.
Savero yang kesakitan hanya meringis saja. Dia segera mengejar Irena. Saat keluar, ternyata Irena sudah tidak ada. Dia yakin Irena akan berjalan untuk sampai ke jalan raya. Karena mansionnya cukup jauh dari jalan raya. Savero pun memilih untuk mengejar Irena. Tak mau sampai gadis itu kenapa-kenapa.
Irena yang kesal terus berjalan keluar mansion Savero. Dia benar-benar kesal karena Savero dalang dari semua ini. Rasanya, dia menyesali karena hanya meninju perutnya saja. Harusnya dia meninju wajah tampannya itu.
“Aku akan buat perhitungan kalau dia di depanku.” Ivana menggerutu kesal.