Mrs Billionaire

Mrs Billionaire
Menyadari



Melihat Irena yang tampak kesakitan, tanpa basa-basi Savero langsung membawa Irena ke rumah sakit. Dia segera menangkup tubuh Irena dengan kedua tangannya. Kemudian membawa Irena dengan mobilnya. Kebetulan, asistennya memang mengikuti Savero. Jadi dengan sigap dia membukakan mobil.


Savero segera membawa Irena ke rumah sakit. Carlos yang melihat akan hal itu pun begitu panik. Dia segera masuk ke mobilnya. Mengikuti Savero yang membawa Irena ke rumah sakit.


Di rumah Paman Berto dan Bibi Laria panik. Mereka tidak menyangka jika semua tidak sesuai dengan rencana mereka.


“Kenapa kamu menghidangkan minumannya?” Paman Berto murka. Dia marah pada sang istri yang sembarangan sekali melakukan hal ini.


“Mana aku tahu ada pria itu juga.” Bibi Laria tidak mau disalahkan.


Tadi dia sengaja menyajikan minuman ketika Irena sampai. Dia yakin Irena akan sangat haus, mengingat Irena baru turun dari bukit. Namun, dia tidak menyangka jika ada Savero juga di sana. Lebih membuat Bibi Laria terkejut adalah ketika ternyata tiba-tiba Irena meminta nampan berisi minuman.


“Kalau pria itu sampai membawa kita ke kantor polisi bagaimana?” Bibi Laria langsung panik. Dia merasa jika yang dilakukannya akan berdampak buruk untuknya.


“Singkirkan teh sisa Irena. Bersihkan semua barang bukti.” Paman Berto pun meminta sang istri untuk menghilangkan barang bukti. Tentu saja dengan begitu mereka tidak akan jadi tersangka.


Di mobil yang dikendarai asisten Savero, Irena masih memegangi lehernya. Dia merasa kepanasan.


“Iren.” Savero benar-benar ketakutan sekali. Dia menduga jika paman dan bibi Irena mencampurkan sesuatu di minuman Irena.


Irena terus memegangi lehernya. Ketika melihat jika mobil sudah meninggalkan vila cukup jauh barulah dia melepaskan tangannya.


“Ach ....” Irena merintih, tatapi tidak terlalu berlebihan seperti tadi.


“Kamu berbohong?” Savero langsung melemparkan pertanyaan pada Irena.


Irena menoleh. “Tidak.” Dia menggeleng.


“Lalu kenapa kamu baik-baik saja?” Savero merasa heran dengan yang dilakukan oleh Irena. Tampak tidak kesakitan seperti tadi.


“Tenggorokanku benar-benar sakit, tetapi tidak parah. Aku hanya merasakan lidahku terbakar dan tenggorokanku panas saja. Mirip radang tenggorokan.” Irena menjelaskan rasa sakitnya.


Savero hanya mendengus kesal. Ternyata Irena membohonginya. Bersandiwara kesakitan.


“Jangan berpikir aku berbohong!” Ivana langsung menatap Savero. “Aku benar-benar merasakan racun itu masuk ke tenggorokanku. Dan ini masih terasa sakit.” Ivana menjelaskan sambil memegangi tenggorokannya.


“Jadi kamu menyadari kamu diracuni? Lalu kenapa kamu memaksa minum?” Savero menatap tajam pada Irena. Gadis itu ceroboh sekali. Hingga meminum racun.


“Tadi saat aku ingin meminumnya, aku mencium teh berbeda. Aku menyesapnya sedikit dan aku merasa lidahku terbakar. Aku sengaja tidak melanjutkannya, tetapi aku ingin memberikan pelajaran pada mereka dengan berpura-pura meminumnya dan benar-benar keracunan.” Ivana tentu saja sangat berhati-hati. Jadi tentu saja dia tahu jika ada rencana busuk disiapkan paman dan bibir Irena. Mungkin jika tidak ada Savero dan dia meminum racun itu, jelas dia akan dibiarkan mati.


“Lalu apa rencanamu?” Savero menatap Irena.


“Bawa aku ke dokter. Aku yakin masih ada sisa racun di mulutku. Ini akan jadi bukti menyeret mereka ke penjara.” Ivana yakin dengan begini mereka bisa membawa