Mrs Billionaire

Mrs Billionaire
Villa



Pagi ini Ivana ikut ke vila bersama dengan Paman Berto, Bibi Lari, dan Jane. Awalnya Ivana ingin membawa mobil sendiri. Namun, ternyata Paman Berto melarang. Dia mengatakan jika mereka akan pergi berempat saja. Karena Paman Berto meyakinkan sekali, akhirnya Irena memilih untuk percaya saja. Dia pun ikut apa yang dikatakan oleh paman Irena itu.


Vila begitu indah sekali. Pepohonan yang terdapat di sana membuat suasana begitu tenang sekali. Ivana merasakan kedamaian ketika berada di sana. Ivana merasa begitu tenang sekali. Sejak bekerja, Ivana tidak pernah menyempatkan diri untuk berlibur. Rasanya, Ivana akan berlibur jika nanti dia kembali ke dunia nyata. Menikmati hidupnya yang begitu indah.


Saat menikmati suasana yang ada, tiba-tiba terlihat ada mobil yang datang. Seorang pria keluar dari mobil. Ivana melihat ada Carlos yang keluar dari mobil. Sejenak Ivana memikirkan, bagaimana bisa Carlos datang. Padahal dia tidak pernah mengundangnya.


“Hai, Iren.” Carlos menyapa Ivana.


“Hai.” Ivana menyapa. “Kamu ke sini?” tanyanya penasaran.


“Aku mengundangnya.” Suara Jane terdengar.


Ivana menautkan alisnya ketika mengetahui Jane mengundang Carlos. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Memikirkan ada hubungan apa dengan Jane dan Carlos.


“Papa memintaku menghubungi Carlos.” Jane menjelaskan pada Irena.


Ivana akhirnya mendapatkan jawaban itu. Jika paman Irena, dia masih yakin mengundang Carlos, jika Jane sengaja mengundang, rasanya tidak mungkin.


“Aku ingin ikut menghabiskan waktu denganmu.” Carlos tersenyum pada Irena.


Ivana tampak biasa saja. Tidak ada yang menarik yang dilihat dari Carlos. Jadi dia tidak merasa kehadiran Carlos menguntungkan.


“Oh ya ... aku ingin mengajak kalian untuk mendaki bukit. Apa kalian mau?” Jane menatap Irena dan Carlos. Dia begitu bersemangat sekali.


“Wah ... pasti seru itu. Ayo, kita ke bukit. Kita bisa melihat pemandangan dari atas.” Carlos langsung bersemangat sekali.


Ivana malas sekali pergi dengan mereka berdua. Namun, dia merasa pasti akan sangat menyenangkan ketika melihat keindahan dari ketinggian. Jadi tentu saja, dia tidak akan melepaskan kesempatan itu. Dia pun mengangguk. Setuju dengan ajakan Jane.


Mereka bertiga segera bersiap. Karena tidak tahu akan mendaki, Ivana tidak membawa sepatu khusus. Akhirnya, dia memutuskan untuk memakai sepatu biasa saja. Yang penting dia akan berhati-hati. Namun, saat melihat Jane dan Carlos, dia merasa aneh. Dua orang itu sudah siap dengan sepatu khususnya.


Apa mereka memang sudah merencanakan mendaki? Pertanyaan itu pun menghiasi kepala Ivana.


“Ayo.” Carlos langsung menarik tangan Irena.


Ivana hanya pasrah saja. Mengikuti ke mana Carlos menariknya.


Mereka bertiga segera menuju ke bukit. Semalam ternyata di sekitar vila hujan. Jadi jalanan sedikit berlumpur. Hal itu membuat Ivana harus berhati-hati. Karena harus berhati-hati ketika berjalan, dia tertinggal jauh oleh Jane dan Carlos. Hal itu membuatnya harus menerima kenyataan jika dia sendiri di belakang.


Ivana sudah setengah jalan. Jadi dia memilih untuk melanjutkan kembali langkahnya. Tepat saat di tengah jalan tiba-tiba Ivana tergelincir. Ivana benar-benar pasrah ketika tubuhnya pasti akan jatuh ke bawah. Namun, tanpa disangka ada tangan kokoh yang menangkap tubuhnya. Hal itu membuat Ivana terkejut. Saat membuka mata, dia mendapati Savero di sana.


“Kamu di sini?” Ivana terkejut ketika mendapati Savero berada di satu tempat dengannya.


Savero menegakkan tubuh Irena. “Aku melihat posisimu dari ponsel yang kamu bawa. Aku mendapati jika kamu ke tempat ini. Jadi aku putuskan untuk menyusulmu.” Dia menjelaskan pada Irena.


“Kenapa harus menyusulku?” Ivana merasa aneh. Ucapan Carlos seketika melintas. Bahwa Savero memiliki rasa dengannya.


“Kamu pergi dengan pamanmu. Jadi tentu saja aku khawatir.”


Ivana merona. Dia merasa tersipu karena dikhawatirkan oleh Savero.


“Mau naik?” tanya Savero. Menanyakan apakah Irena mau melanjutkan perjalanannya atau tidak.


“Mau.” Irena mengangguk.


Savero pun segera menggenggam tangan Irena. Membawanya untuk ke bukit. Savero benar-benar memastikan jika Irena baik-baik saja.


Akhirnya mereka sampai juga. Sampai di puncak bukit, dia tidak mendapati Carlos dan Jane di sana. Ivana merasa heran. Namun, alih-alih memikirkan akan hal itu. Lebih baik dia melihat pemandangan yang ada.


Mereka berdua menikmati pemandangan. Tak ada yang bicara. Hanya sibuk menikmati keindahan alam yang tersaji.


“Kamu senang sepertinya lihat pemandangan ini?” Savero tersenyum.


“Iya, aku merasa senang melihat pemandangan dari ketinggian. Karena itu aku memilih apartemen yang tinggi.” Ivana menceritakan apa yang dia suka.


Savero merasa heran apa yang dikatakan oleh Irena. “Kamu tinggal di mansion, bagaimana bisa kamu di apartemen?” Dia yang bingung pun segera bertanya.


Ivana merutuki kesalahannya. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini. Jika Savero tahu di dalam tubuhnya bukan Irena, tentu saja ini akan sangat bahaya sekali.


“Maksud aku, kelak aku mau tinggal di apartemen. Agar bisa melihat pemandangan kota.” Dia pun menjelaskan.


Savero pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan oleh Irena.


Puas melihat pemandangan, akhirnya mereka memutuskan untuk turun dari bukit. Ivana mengajak Savero untuk ke vila miliknya. Savero pun tidak menolak.


Saat sampai di vila, dia melihat Carlos dan Jane. Ivana memikirkan, bagaimana mereka sudah sampai. Padahal tadi dia tidak bertemu.


“Iren.” Carlos yang panik langsung menghampiri Irena. “Apa kamu tidak apa-apa?”


Ivana masih dengan pikirannya. “Kapan kamu turun?” tanyanya.


“Kami tadi mencarimu. Kami memutuskan turun lewat sisi lain. Kami berpikir kamu pasti turun karena sudah tertinggal cukup jauh, tapi ternyata kamu tidak ada.” Jane pun menjelaskan.


Ivana malas jika harus berpikir. Peduli apa mereka turun duluan.


“Ayo, Savero. Kita masuk. Aku akan menyuguhkan minuman.” Ivana pun mengajak Savero masuk.


Savero pun mengangguk. Dan segera ikut masuk Irena.


“Iren kamu sudah kembali.” Bibi Laria menyapa Irena. Dia membawa nampan berisi lima cangkir.


“Iya, sudah.” Ivana melihat ke arah nampan yang dibawa oleh Bibi Laria. “Itu untuk siapa?” tanyanya.


“Aku membuatkan untuk kita, tetapi sepertinya harus tambah satu lagi.” Bibi Laria tersenyum pada Savero.


“Kalau begitu biar aku yang bawa. Bibi bisa buat satu lagi.” Ivana meraih cangkir yang berada di atas nampan.


Bibi Laria tidak punya pilihan selain menyerahkan nampan.


Ivana membawa cangkir dan mengajak Savero untuk duduk. Tak hanya Savero yang duduk. Di sana juga ada Paman Berto, Carlos, dan Jane yang ikut duduk.


Ivana membagikan minuman. Ternyata minuman terdiri dari satu teh dan empat kopi.


“Hanya ada satu teh. Karena aku tidak bisa minum kopi, jadinya aku teh dan kalian kopi.” Ivana menjelaskan.


Tidak ada yang protes. Semua bersedia. Termasuk Savero. Dengan cepat Ivana membagikan minuman.


Mereka segera menyesap minuman yang ada. Ivana juga menyesap teh miliknya. Namun, dia merasa tehnya terasa panas di tenggorokannya. Hal itu membuatnya seketika menghentikan aksinya.


“Ach ....” Ivana langsung memegangi tenggorokannya. Rasanya tenggorokannya seperti terbakar. Hal itu membuatnya kesakitan.


“Irena.” Savero yang melihat Irena kesakitan langsung panik.


“Acchh ....” Ivana tidak bisa bicara. Dia hanya bisa memegangi tenggorokannya. Ivana merasakan seolah dirinya benar-benar akan mati saat ini juga.