
Savero mendekat ke arah Irena. Tangannya mengunci pergerakan wanita yang kini jadi istrinya itu. Tatapannya memuja terlihat dari sorot matanya.
“Sepertinya aku tidak bisa lari lagi.” Ivana tersenyum.
“Sekarang katakan padaku. Jika kamu mencintai aku.” Savero semakin mendekat.
Seolah tak ada jalan lagi untuk berlari, akhirnya Ivana mengalah. “Aku mencintaimu.” Satu kata yang terucap dari bibirnya.
Kalimat itu bak sihir yang membuat Savero seketika semakin mendekat. Dia begitu senang mendapati sang istri yang mengungkapkan rasa cintanya. Savero yang terus mengangsur tubuhnya, kini berada tepat di atas Irena. Tangannya membelai lembut wajah Irena.
“Aku berjanji akan menjagamu. Tidak akan aku biarkan kamu sendiri.”
Ivana tersenyum.
“Aku mencintaimu.” Savero mendaratkan bibirnya pada bibir Irena.
Ivana pun memejamkan matanya. Menikmati ciuman yang diberikan Savero.
...****************...
“Ivana ... Ivana ....”
Suara seseorang terdengar lirih memanggil. Ivana berusaha untuk membuka matanya perlahan.
Saat matanya terbuka, terlihat langit-langit kamar yang berwarna putih. Langit-langit itu tampak seperti kamarnya.
“Di mana aku?” tanya Ivana yang bingung dengan keberadaannya.
“Di apartemen. Memang di mana lagi?”
Ivana memutar bola matanya untuk melihat ke sekeliling. Tampak seorang berdiri di sebelah Ivana. Orang itu adalah teman Ivana. Temannya itu memang tahu akses apartemennya. Jadi jelas dia bisa masuk. Ivana menyadari sesuatu. Ternyata dia berada di kamarnya.
“Cepat bangun. Kita harus pergi menonton.” Teman Ivana segera membuka gorden di kamar Ivana.
Cahaya yang masuk membuat Ivana memejamkan matanya. Cahaya yang masuk ke kornea matanya begitu menyilaukan. Membuatnya harus menyesuaikan diri.
Ivana yang sempat menyipitkan matanya, melihat ke sekeliling lagi. Dilihatnya ternyata dirinya sudah di kamarnya.
“Aku sudah kembali?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Ivana.
“Kembali dari mana?” Stevany merasa bingung dengan temannya itu. Merasa aneh.
“ Sepertinya kamu banyak bermimpi.” Dia melempar bantal sofa ke wajah Ivana.
Bantal itu mengenai wajah Ivana. Terasa begitu nyata sekali.
Ivana berusaha untuk bangun. Dia segera bersandar pada headboard tempat tidur.
“Stev, tolong cubit aku?” Ivana masih belum yakin jika dia sudah kembali.
“Auch ....” Ivana merasa sakit. Artinya memang dirinya sudah tidak bermimpi. “Aku sudah kembali.” Ivana berbinar. Dia tidak menyangka akhirnya dapat kembali. “Stev, aku kembali.” Dia menggoyang-goyangkan tubuh Stevany.
Stevany merasa bingung. Ada apa sebenarnya yang terjadi pada temannya itu. Dia pun duduk di samping temannya.
“Memang kamu ke mana?” tanya Stevany.
“Aku ke London di mana Irena berada. Aku membantunya mengungkap kejahatan pamannya. Menangkap tunangan dan sepupunya. Aku juga menikah dengan Savero.” Ivana menceritakan dengan penuh semangat.
Stevany tertawa terbahak-bahak. Dia merasa temannya begitu lucu sekali ketika temannya menceritakan tokoh dari novel yang dipinjamkannya. “Semalaman kamu di kamar tidur. Bagaimana bisa kamu ke London?” Dia memegangi perutnya. Merasa begitu lucu dengan temannya.
“Tapi, aku benar-benar berada di sana.” Ivana mencoba menjelaskan. Dia yakin jika itu bukan mimpi.
“Kamu sepertinya terlalu mendalami ketika membaca novel.” Stevany melihat novel yang berada di samping Ivana. Dia berangsur bangun. “Cepat mandi. Ini sudah siang. Aku ke sini ingin untuk mengajakmu menonton film. Kamu sudah janji 'kan.” Stevany langsung mengayunkan langkahnya keluar kamar.
Ivana masih merasa jika dia bukan sedang bermimpi. Dia yakin sekali jika yang dialami nyata.
“Jangan lupa saat mandi guyur kepalamu. Agar kamu tersadar dari mimpimu itu.” Sebelum benar-benar keluar dari kamar Ivana, Stevany meledek temannya itu.
Ivana mendengkus kesal. Dia yakin jika tidak sedang bermimpi. Dia yakin semua nyata.
Rasa penasaranmu membuatnya meraih novel yang dibacanya semalam. Dia membaca novel di akhir kisah novel itu. Novel itu berhenti tepat saat Irena dan Savero berciuman. Menikmati malam pertama mereka. Sama persis saat dirinya belum tersadar.
Ivana masih berusaha menyadarkan dirinya. “Aku yakin jika ini bukan mimpi.” Dia merasa semua yang dilakukannya nyata. Jadi tentu saja dia tidak percaya jika mimpi. Namun, sejenak Ivana ditampar oleh kenyataan. Di mana jarak antara kejadian itu hanya semalam di dunianya. Padahal dia sudah berada di dalam novel itu berbulan-bulan.
“Ivana cepat!”
Suara Stevany menyadarkan Ivana. Dia bergegas bangun. Dan ke kamar mandi. Dia segera mandi. Seperti kata Stevany, dia mengguyur kepalanya menyadarkan kenyataan yang ada. Sayangnya semua masih terasa nyata.
Entah mimpi atau bukan. Yang jelas, Ivana sudah mengubah takdir Irena. Membuatnya mendapatkan kebahagiaannya.
...TAMAT
...
.
.
...****************...
Terima kasih sudah membaca kisah ini. Akhirnya selesai juga. Kisah ini hanya singkat ya jadi ga bisa banyak. Maaf membuat lama menunggu menyelesaikan kisah ini.
Mungkin masih banyak kurangnya dari kisah ini. Semoga jadi pembelajaran aku Sepertinya aku harus banyak belajar banyak genre fantasi. Semoga lain waktu jauh lebih baik lagi.
Sekali lagi terima kasih.