Mrs Billionaire

Mrs Billionaire
Rumah Sakit.



Savero akhirnya pasrah ketika Irena memintanya ke rumah sakit. Dia pun meminta sopir untuk melajukan mobilnya ke rumah sakit. Savero hanya berpikir bagaimana bisa Irena meminum minuman yang dicampur racun. Padahal jelas itu sangat membahayakan.


Mengingat alasan Irena, hal itu membuat dia cukup kagum. Karena dengan begitu Irena dapat mengetahui niat buruk dari paman dan bibinya.


Mobil sampai di rumah sakit. Perawat langsung membawa Irena ke ruang gawat darurat. Mengecek keadaan Irena.


“Saya baru saja minum teh, dan terasa panas.” Irena mengeluhkan pada dokter apa yang dirasakannya.


“Sepertinya Anda terkena racun, tapi untuk lebih memastikan. Kita harus uji laboratorium. Saya akan ambil sampel untuk dicek.” Dokter langsung mengambil contoh dari air liur Irena. Kemudian meminta perawat membawanya laboratorium.


Perawat langsung menangani Irena. Memberikan obat agar racun tak menyebar. Wajah Ivana memang berusaha kuat, tapi aslinya dia cukup merasakan kesakitan karena racun yang diminumnya.


Savero dengan setia menemani Irena. Dia justru merasa tidak tega. Dia pun tak melepaskan pandangan pada Irena. Sampai saat perawat memindahkan ke kamar perawatan.


“Apa aku boleh minta tolong laporkan semua ini.” Ivana menatap Savero. Dia butuh bantuan pria yang sedari tadi ikut dengannya itu.


“Baiklah, aku akan menghubungi polisi.” Savero merasa tidak ada masalah jika harus membantu.


Savero segera keluar dari ruang perawatan dan segera menghubungi polisi. Melaporkan keracunan yang terjadi oleh Irena.


Tepat saat sedang sibuk menghubungi polisi. Dia melihat seorang pria datang dan masuk ke ruangan Irena. Pria itu adalah pria yang dilihatnya di vila.


Carlos masuk ke kamar perawatan. Dia tampak panik melihat Irena yang hampir keracunan.


“Iren, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Carlos.


“Tidak.” Ivana menggeleng.


“Syukurlah kalau begitu. Aku benar-benar khawatir sekali.” Carlos merasa begitu lega sekali.


Savero masuk ke kamar perawatan. Menghampiri Irena. Carlos hanya terus menatap pria tersebut. Dia sudah pernah melihat ketika perusahaan bekerja sama.


“Aku sudah laporkan kasus ini.” Savero memberitahu Irena.


“Kamu akan melaporkan paman dan bibimu, Iren?” tanya Carlos memastikan.


“Iya.” Ivana mengangguk.


“Tapi, belum tentu mereka berniat meracuni kamu. Siapa tahu memang tehnya yang bermasalah.” Carlos mencoba menjelaskan pada Irena.


“Jika mereka tidak bersalah. Biarkan saja mereka menjelaskan.” Ivana malas berdebat dengan Carlos.


Carlos pun langsung menutup rapat mulutnya. Merasa bukan haknya untuk bicara.


Dokter datang. Membawa hasil laboratorium. Ivana sudah tak sabar menunggu hasil laboratorium tersebut.


“Kami sudah memeriksa semua. Ditemukan racun, dalam pemeriksaan. Beruntung baru sedikit yang tertelan. Karena jika banyak, pasti akan menjadi menyebabkan kematian.” Dokter menjelaskan pada Irena.


Dokter menyerahkan laporan tersebut. Namun, Saverolah yang menerima. “Saya sedang melaporkan kasus ini. Biarkan ini menjadi data pendukung atas kasus keracunan ini.” Dia mencoba menjelaskan pada dokter.


“Baiklah, silakan.” Dokter menyerahkan hasil laboratorium tersebut. “Untuk sementara, pasien harus dirawat sampai kandungan racun dalam tubuhnya menghilang.”  Dokter menatap Irena.


Ivana mengangguk.


“Aku akan urus semuanya. Istirahatlah saja.” Savero merasa harus mengambil alih kasus ini.


“Kenapa dia yang urus, Ren? Kamu bahkan baru mengenalnya.” Carlos merasa Savero tidak berhak mengurus semua ini.


“Terkadang orang yang tidak kita kenallah yang membantu justru kita harus berhati-hati dengan orang-orang yang dikenal dekat.” Savero menyeringai.


Carlos tak bisa menjawab ucapan Savero. Ada kemungkinan paman dan bibi Irena berencana meracuni. Jadi Carlos lebih mencari aman. Membiarkan Savero melakukan apa pun.