
Menginjak akhir bulan Januari, ia mendapat telepon dari rumah sakit, menginformasikan bahwa ibunya sakit terkena osteoporosis. Dokter menyebut jumlah dana yang diperlukan untuk penyembuhan, namun masih kurang. Meski kakaknya sudah menambahkan, angka yang dicapai masih sangat jauh. Tepat setelah dokter menelepon, giliran kakaknya.
"Hei, Die (mati), anda sudah tahu kalau ibumu sedang dirawat? Anda tahu kalau sulapmu tidak bisa menyembuhkan ibu?"
"Craig, sudah saya katakan; meski saya terkenal, bukan berarti upah yang saya peroleh sangat banyak."
"Lantas anda mau apakan ibu setelah dia sudah tiada? Mengantar nyawanya pada malaikat kematian? Kau mau mengokoh dosa-dosanya dengan tanganmu?"
"Putain de Merde! Itu tidak lucu, dasar kadal lepek!"
"Bonsang! Anda bukan adik saya lagi, ya! Persetan dengan namamu yang sedang naik daun, mengulurkan sedikit uang saja tidak becus!"
"Setidaknya ibu sadar dulu apa yang sudah dia perbuat pada ayah."
Telepon dari kakak sudah terputus.
Ia membeli seikat bunga varian warna merah, kuning dan merah muda. Lanjut pergi membeli roti di toko roti langganannya untuk mengurangi rasa lapar sang ibu.
Tiba di toko roti, ia sudah disambut tuan Baker yang sangat berbeda dari biasa; membaca koran sambil merokok dan membiarkan radio menyala cukup keras, tatapan tuan Baker juga murung. Ia reflek berpikir positif; mungkin saja dia sedikit kesal karena tokonya sepi.
"Selamat pagi, tuan Baker! Maaf saya sedikit terburu-buru. Bisakah saya ambil satu buah french bread itu?"
Tuan Baker tidak merespon.
"Emm... Tuan Baker? Maaf lancang, itu untuk ibu saya, dia sedang dirawat dan sangat suka french bread. Saya pikir untuk mengambil satu saja cukup untuk beliau."
Masih tidak ada respon. Ia mulai berpikir realis. Ia mengeluarkan selembar dollar ke atas meja kasir. Tuan Baker langsung merespon, namun merespon dengan memberinya beberapa koin kembaliannya. Lalu kembali baca koran. Rawut wajah tuan Baker juga sama saja.
Sambil menerima kembalian, "Tuan Baker, ini saya, tuan P.D! Ingat?" Bujuk Dai.
"Jika tidak ada keperluan lain silahkan pergi dari sini!" Tegas tuan Baker tanpa menoleh sedikitpun.
Ia termangu, menyadari ada yang tidak beres dengan keadaan sekitarnya. Sebelum tuan Baker meluapkan amarah, ia segera keluar dari toko.
"Nyonya Brittany Peterson berada di kamar nomor 92 lantai lima." Jelas seorang receptionist. Setiba di depan kamar ibu, ia menarik napas dalam-dalam, hal yang lumrah sebelum bertemu orang tuanya.
Ia mengetuk pintu dan masuk sambil berkata "permisi" dengan halus. Sedangkan ibunya merespon dengan nada tidak enak didengar.
"Craig? Kemana adikmu itu? Katamu mau diantarkan?!"
"Ini Dai, ibu. Saya datang sendiri. Kakak kelihatannya masih sibuk."
Ia menghela napas berat. Ketika ia menunjukkan seikat bunga dan roti sang ibu terdiam dan menatap tajam.
"Kenapa baru sekarang memberiku sesuatu seperti ini?"
Dai masih mengabaikan ocehan sang ibu. Ia duduk di kursi sebelah ranjang ibunya. Dengan berat hati beritahu bahwa ia belum bisa menyumbang sisa dana untuk melunasi biaya perawatan. Setelah Dai menyebut berapa persen dana yang ia mampu bayar, sang ibu menyambar kalau selama ini dugaannya benar. Sambil mengucapkan kata kasar dengan bahasa Perancis, sang ibu terus mengoceh tentang keserakahannya yang turun dari sang ayah. Kemudian terus menceramahinya tentang ayah yang pergi hingga bertemu pertengkaran saat kakaknya berumur 16 tahun. Dai berumur 12 tahun yang tidak tahu apa-apa namun masih berlinang di kamar bersama dengan imajinasinya dan berlagak seperti seorang pesulap. Juga sedih karena faktanya bahwa putra bungsunya di usia remaja menderita psychosis. Kepolosannya waktu remaja percaya bahwa obat pil yang ibunya tinggalkan di kamar merupakan penambah kekuatan super yang ia dambakan. Kini beliau hanya pasrah melihat putranya tumbuh hanya bisa menghibur dan tak menghasilkan uang sepeser pun di tabungannya, olok sang ibu. Dai berusaha tidak mendengar namun tidak bisa. Dengan wajah murung pun sang ibu tidak peduli. Lalu ia memotong ucapan ibunya saat menjelek-jelekkan karirnya.
"Hei, pernahkah ibu sesekali bersyukur? Pernahkah ibu sesekali memiliki rasa bangga pada anak-anak dan keluarganya sendiri?"
"Saya belum selesai bicara, dasar anak tidak tahu--"
"Ayah pergi karena ada alasan. Tidak seperti ibu yang menceraikan ayah begitu saja." Ibunya membungkam. "Tak apa, ibu. Tolong beritahu saya kalau punya alasan; apa saja!"
Ibu masih menatap dengan tatapan bimbang. Perlahan ibunya menggeleng kepalanya. "Ibu tidak tahu salah ibu apa. Tapi sudah jelas ayahmu juga salah. Dia tidak pernah bilang pada saya kalau beliau sedang ada uang atau tidak, punya wanita simpanan atau tidak. Kalian tahu kalau ibu tidak bisa bekerja terus menerus seperti ayahmu."
Dai terdiam sejenak sambil menarik napas. "Itu yang saya mau. Sebaiknya ibu ingat kata-kata tadi dan katakan langsung pada ayah." Ia berdiri gontai dan keluar. Sontak ia berbalik badan ke ruangan untuk mengambil dua tangkai bunga sambil minta izin ke sang ibu. Respon ibu tetap nol.
Dua tangkai bunga yang ia bawa merupakan warna yang mendekati warna baju gingham Katie. Ia tiba di depan toko roti Amber dan hendak mengetuk. Tangannya mendadak berhenti setelah melihat pasangan di belakang tumpukkan gentong. Ragu jika matanya tidak salah lihat, ia diam-diam menghampiri pasangan itu sambil menyembunyikan bunga.
Belum terlalu dekat pun ia bisa melihat dengan jelas pasangan itu adalah Katie dengan mantan kekasihnya Joel. Matanya jelas tidak ingin melihat mereka berpelukkan, bahkan sampai berciuman. Saat itu, pikiran Dai yang selalu penuh kini kosong sangat cepat seperti spong menyerap air. Bahkan bentuk matanya yang bulat kini meredup, ikan segar telah membusuk. Dengan paras wajah seperti itu, menjelaskan bahwa ia bebas dari mengurus keuangan, rencana pernikahan, bahkan kepercayaannya pada Katie.
Dai menghampiri Katie seperti sesuatu yang sangat normal. "Selamat siang, nona Katie!"
Katie kaget dan menolehnya.
"Dan selamat atas hubungan kalian yang kembali normal. Saya hanya mau memberikan bunga ini; sisa dari menjenguk ibu saya--"
Katie menegas sebelum ia selesai bicara. "Tuan Dai! Maskud saya... Tuan P.D! Aku mohon, dengarkan saya!"
"Tidak perlu, Nona. Semua masalah sudah selesai, bukan? Pria tampan disana sudah mendahului saya tanpa basa-basi, seperti yang anda inginkan, bukan begitu?"
Katie cemas sambil sesekali menoleh sang mantan kekasih di belakang. "P.D, saya..."
"Katie, aku mohon, lepaskan saya..." Sambil memasang wajah murung.
Katie terdiam, lalu mengangguk kepalanya dengan berat. Keraguan Katie masih melekat di dalam dirinya. Dan lagi, meski seorang wanita mempunyai sisi licik, Dai sebagai seorang pria biasa yang mampu meraih cita-citanya masih memaafkan dan menghormati.
Ia terus berjalan tanpa lihat ke belakang. Dai melangkah dengan lapang dada. Pikirannya tentang pernikahan dan kerja sama dengan toko roti keluarga Baker lenyap begitu saja menjadi asap, terutama--pada buku sampul biru. Dengan percaya diri ia tersenyum di depan proposal yang ia sudah rencanakan.