
Bulan Agustus nan tentram, Madam Claire menghampiri Dai yang sibuk membereskan peralatannya di bawah tenda. Madam claire mengajaknya makan malam di suatu restoran cina pilihannya, dengan suasana tidak terlalu ramai dan terdapat roti gratis di setiap meja. Madam Claire meringankan pikirannya soal harga makanan disana, lantas ia terus melototi ragam makanan yang ada di atas meja.
Setelah gigitan terakhir, gilirannya membuka pertanyaan. Dai selalu mempertanyakan buku berukuran 10x15 cm dengan sampul kulit tebal berwarna biru dongker di benaknya. Setelah di utarakan pada Madam Claire, dia berani menjawab dengan kalimat yang membuat orang-orang sekitarnya tidak penasaran.
"Oh, buku itu hanya diary ku saat masih remaja. Warna sampul itu juga mirip baju kesukaanku saat remaja. Kalah anda penasaran dengan isinya sangat tidak saya izinkan, namun intinya adalah tentang kenangan dan mimpiku."
Walau firasatnya berkata lain, ia mengangguk layaknya sedang bersimpati. Dalam batinnya ia ingin memukul wajahnya agar tumbuh niat kuat untuk mencari tahu lebih dalam isi buku itu dengan mata kepalanya sendiri. Kalaupun itu hanya diary, sebagus apapun sampulnya, buku yang berisi catatan tentang pribadi akan disimpan di tempat tertutup dan gelap. Ia pernah sekali melihat buku itu di taruh dengan ornamen seperti pajangan. Dai sedikit kesal sambil membuang muka ke meja lain, lantas mereka sudah membuat perjanjian kekal yang salah satunya adalah kejujuran. Batinnya hanya ada perasaan terkhianati diam-diam.
Pertunjukkan kesekiannya berhasil memukau anak-anak dan membuat mereka diliputi keberanian akan sihir, bahkan anak laki yang takut karena pertunjukkan saat mengeluarkan burung dara dari topinya kini berani naik ke panggung untuk menanti momen itu. Para orang tua tidak lagi prihatin akan keselamatan mereka, dengan kata lain sudah mempercayai pesulap Mr. P.D ini. Hampir setiap pertunjukkan ia memperoleh dua puluh hingga lima puluh dollar. Ia menyadari setelah angkat kaki dari istana kerajaan hidupnya berubah pesat. Seisi kota mengenalinya dan tak segan menyetarakannya seperti pesulap ternama dari Amerika dan beberapa negara. Ia tidak terganggu atau tersinggung, hanya saja ia tumbuh dengan kepala yang tak pernah kosong. Urutan teratas dari sekian banyak pertanyaan di kepalanya hanyalah buku sampul biru milik Madam Claire. Tak pernah menyangka buku diary itu begitu misterius sampai menghantuinya dalam mimpi.
Ia tiba di toko buku langganannya. Ia berdiri di rak buku puisi romantis tahun 1802. Kembali ke masalah dalam kepalanya, ia tidak tertarik mengintip beberapa halaman buku di depannya. Matanya terus menatap gambar sampul buku itu dengan tatapan dingin. Sepuluh detik berlalu, wanita gingham menyapanya dengan nada gemulai. Ia memaksa kepala dan matanya yang berat menoleh, dan tidak berat lagi setelah bertemu wanita gingham lagi.
"Siang, tuan P.D!"
"Anda tahu nama saya?" Lamunan Dai berhasil teralihkan.
"Apakah anda punya waktu senggang?"
Sebuah pertanyaan yang langsung ke inti dari seorang wanita yang ia nantikan. Ia bingung memilih jawaban yang tepat, tapi ia bisa berkata begini.
"Saya selalu senggang, jika tidak ada panggilan dari pemilik sirkus."
"Itu tidak setiap hari, bukan?"
"Ya. Tapi sisa hari yang senggang adalah waktu berhargaku." Sekarang ia berani menunjukkan senyum hangatnya.
Dai sedang tidak berbohong, wanita gingham sadar akan hal itu. Sayangnya, kelemahan wanita gingham adalah terlalu banyak menyimpan harapan. Wanita gingham bersikeras membual di depannya.
"Nama saya Kate, biasa dipanggil Katie. Ayahku pemilik toko roti ternama di jalan Redbrick. Anda suka roti?"
Dai terkagum setelah mendengar kata roti. Matanya membesar seperti kucing melihat ikan.
Setelah ditanya tuan Baker, ia menjawab singkat; berkat usahanya yang tidak pernah mengkhianati hasil. Tuan Baker yang tidak tahu kalau itu bukan suatu candaan tertawa terbahak, sedangkan putrinya tetap duduk manis dan tertawa kecil. Dai mempelajari bahwa ayah Katie adalah pria yang tidak percaya pada kesuksesan yang datang dari diri sendiri. Seperti tokonya yang saat ini terkenal bukan karena kerja kerasnya. Dai tahu roti yang ia makan adalah french bread, tapi nama yang terpajang "french bread with cheese dices extra lemon grass" seharga 25 euro.
Roti di tangannya sudah habis. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya hingga remah-remah roti berjatuhan di atas piring kecil, lalu mengelap mulutnya dengan tisu.
"Terima kasih rotinya, tuan Baker! Dan Katie, kita bertemu lagi nanti, ya. Saya tidak sabar untuk menikmati kesendirianku."
Ia memperlihatkan sedikit sulap sebelum pergi; membuka topi lalu mengeluarkan sejumlah lembaran uang untuk tuan Baker dan setangkai bunga tulip hidup untuk Katie.
Topinya ia pakai lagi sambil berkata "selamat sore". Saat mau berjalan menuju pintu, Katie sudah menahan erat tangan kiri Dai.
"Tuan P.D, datang lagi besok, banyak yang ingin kita bicarakan." Potong Katie.
"Apakah itu penting--"
"Pokoknya datang saja." Tekan Katie.
Ia perlahan gelisah dan menambah muatan ke dalam kepalanya. Saat keluar pun wajahnya terlihat jelas kusut.
Senja berganti malam, malam berganti pagi. Katie sedang bersemangat, sampai rela menggunakan gaun cantik dengan pundak terbuka berwarna hijau daun dengan pernak pernik, seolah gaun itu seperti terbuat dari permata. Gaun indah yang dikenakan Katie bermaksud menarik perhatian Dai dengan mengikuti kebiasaannya dalam berpakaian.
Ia tiba tepat waktu, walau nyatanya terlambat lima detik saat sudah di depan pintu kayu toko ayahnya yang terdapat kaca setinggi bahu. Ia terpukau oleh Katie yang terlihat cantik pagi itu. Batinnya terus bertanya kalau pertemuan ini sebenarnya kencan atau sebaliknya. Katie menyapanya lebih dulu, sementara ayahnya menjamu Dai dengan roti yang ia makan kemarin. Walau ia ragu di awal, ia berani menerima tawaran keluarga Katie dengan cuma-cuma. Ia lupa kapan terakhir kali keluarganya peduli dengannya.
Sebelum menuju inti pertemuan, Katie memintanya pendapat tentang gaunnya. Dai menjawab singkat, "Cantik. Menawan. Sangat cocok denganmu." sambil mengunyah roti. Reaksi Katie terpapang jelas, wajahnya memerah dan perlahan menundukkan kepala sambil berterima kasih. Walau tatapannya masih seperti ikan mati namun Katie dan ayahnya sudah terbiasa.
Giliran ayah Katie bicara. Sang ayah menawarkan Dai untuk bekerja dengannya, mempromosikan tokonya di pertunjukkannya. Dai setuju, dengan syarat sang ayah perlu menata ulang konsep tokonya. Dengan nama panjang yang berlebihan serta harga yang kurang masuk akal ia akan kena rugi juga, ia juga harus diskusi dengan madam Claire tentang kerjasama ini.
Tuan Baker pun menambahkan tepat setelah ia menjelaskan, meski sedikit terkesan tidak sopan, tuan Baker bersikeras untuk bilang demikian pada Dai.
"Kalau anda setuju, saya izinkan anda bersama dengan Katie. Sampai menikahinya pun tidak masalah. Kita impas, Tuan P.D."