
Dai menyapa para pekerja bangunan yang sedang beristirahat di dalam. Mereka tentu mengenalinya dengan baik. Mereka menyapa Dai bersamaan, seperti mencium akan mendapat upah melimpah dari seorang pesulap ternama.
"Anda akan buka pos surat, tuan P.D?" Salah satu pekerja bertanya.
"Bukan. Ini untuk bisnis sampingan saya. Dan bonus untuk kalian adalah 40 persen setelah selesai dibangun. Saya hanya butuh kepercayaan kalian. Rahasiakan tujuan pembangunan bisnis ini dan samakan persis dengan yang ada di kertas ini."
Diperlihatkanlah kertas kecoklatan muda lengkap dengan gambar sketsa dan penjelasan. Para pekerja menelaah sambil sesekali mengangguk. Salah satu yang mewakili mereka tersenyum padanya, seolah mengatakan tidak ada yang tidak bisa kalau berusaha.
1×5 jam setiap hari Dai mengunjungi mereka di lokasi yang sudah mereka temukan--tidak terlalu jauh dan dekat dari apartemennya. Kayu yang menggunung hari demi hari menipis. Minggu kedua, toko kecil yang sudah terbentuk sebagian sudah di cat. Selama pembangunan toko, kali ini saja ia bisa tersenyum sungguhan dari lubuk hatinya. Ia tak sabar memperlihatkan atraksi spesial darinya.
Sehari sesudah toko kecilnya selesai, ia langsung minta menaruh namanya di beberapa koran ternama, seperti Daily Royal, Daily Telegram, dan The Times. Koran terbit dan siap disebarkan. Dalam dua hari banyak orang menumbuhkan rasa antusias yang sangat besar. Bahkan sang pangeran yang rajin membaca Daily Royal mengangguk dengan atraksi barunya.
Hari yang ditunggu pun tiba. Tanpa teater mewah, digantikan dengan tenda untuk berteduh, orang-orang mengantri hingga antrian memanjang ke perumahan kelima. Tamu pertama langsung terkesan dengan atraksinya yang hanya duduk tenang di belakang bola kristal. Dai cukup menyampaikan ramalan masa depan setiap tamu di depan tokonya. Harga ramalan yang ia jual hanya tergantung seberapa puasnya tamu-tamu disana.
"Selamat siang, Tuan P.D." sapa salah seorang nasabah bank.
"Anda mengenal saya?"
"Tentu saja, nama anda sudah menyebar kemana-mana, tuan. Dan anak saya penggemar berat anda."
Ia bergumam. "Begitu, ya. Saya mau ambil dari tabungan." Ucapnya sambil melepas topi.
"Tabungan anda hampir penuh, tuan. Beruntung hari ini anda mengambil separuh tabungan anda."
Ia mengangguk-angguk.
"Lalu... Bagaimana bisnis baru anda, tuan?"
"Lancar, seperti saat pertunjukkan." Jawabnya santai.
Hampir dua bulan terlewati, bisnis meramalnya terus naik dengan konsisten. Keluarga Baker dan Peterson tahu akan hal itu. Reaksi sang ibu tetap biasa saja, begitu juga dengan kakaknya. Tuan Baker mengucek koran dan melempar ke tumpukkan sampah di gang sempit. Katie hanya diam di tempat duduk. Seorang seperti Dai tidak pantas dimanfaatkan dan ditinggalkan begitu saja, batinnya.
Hari-hari yang terlewati membuat Dai teringat sesuatu--ia tidak melihat tenda khas milik Madam Claire. Sekalipun melihat tenda yang hampir serupa, pikirannya tentang Madam Claire langsung terlintas.
Pagi hingga petang, ia hampir meninggalkan karirnya sebagai pesulap. Perlahan-lahan, hal yang tidak ia duga menghampirinya. Ia bertanya pada pemilik sirkus yang sedang merokok di depan panggung kosong tempat pertunjukkan sulapnya. Ia segera menanyakan jadwal pertunjukkan Madam Claire. Sang pemilik sirkus terdiam dengan mata sedikit melotot.
"Siapa? Madam Claire?"
"Siapa itu madam Claire? Saya tidak pernah dengar nama itu!"
"Madam Claire adalah pesulap juga seperti saya, dan beliau bekerja sudah empat tahun!"
"Hah? Bukannya anda satu-satunya pesulap disini? Maksud saya, saya selalu mengingat siapapun yang menyewa panggung ini."
Dai membungkam di hadapan sang pemilik sirkus.
Ia terkapar lemas di ranjangnya dengan posisi terlentang, merasa keganjilan yang datang membuatnya kesulitan berpikir jernih. Telinganya yang hening pelan-pelan mendengar bisikan aneh, seperti bertanya kenapa dan bagaimana, juga suara yang ia selalu dengar dari ibu dan beberapa orang yang ia kenal. Napasnya menderu, keringat mengalir di dahi hingga leher, membasahi ketiak, pandangannya perlahan mengabur, akhirnya tertidur pulas.
Dai terbangun pukul tiga dini hari. Dalam Hati ia berkata "time of the ox". Ia percaya bahwa makhluk dari alam akhirat memanggilnya. Dai memutuskan mandi. Sambil merasakan air mengalir, ia juga merasakan kehampaan pada tetangga di kamar sebelah. Ia terus parno, terutama pada eksistensial seorang wanita bernama Claire. Sejauh ini ia tak pernah memikirkan nama lengkap dan identitas wanita Claire itu. Atau mungkin saja ada yang tidak beres dengan memorinya. Setelah sekian lama menghabiskan separuh hari di toko kecilnya, ia sadar kalau ia hampir lupa cara bersulap. Ia juga hampir lupa orang-orang yang pernah ia temui; Katie, tuan Baker, pesulap ternama yang pernah ia temui, bahkan ratu dan pangeran kerajaan.
Matahari tampak jelas di ufuk timur. Dai menatap matahari lewat gorden yang tertutup setengah. Sinar itu menyinari kepala dan dadanya vertikal. Paras wajahnya kosong, tak bernyawa sampai selarik cahaya menyinari pupil matanya. Lalu ia melangkah gontai ke kamar mandi, tak lupa membenturkan kepala kosongnya ke kayu pintu. Air hangat dari sinar mentari mengembalikan nyawanya yang pergi entah kemana. Beberapa saat kemudian telepon berdering. Dai melangkah dan menggenggam ganggang telepon dengan gemetar.
"Dengan tuan Dai Peterson?" Suara dari telepon yang terdengar berat dan samar. Pendengarannya belum sepenuhnya kembali normal.
"Iya... Dengan saya sendiri..." Suaranya juga masih patah-patah.
"Saya dokter Willard, yang mengurus ibu anda. Tadi malam suster mengabarkan bahwa beliau tidak bernafas dan matanya melotot kaku. Maaf jika terkesan lancang, kami menyatakan nyonya Brittany meninggal dunia. Karena biaya perawatan nyonya Brittany juga belum lunas, saya hanya bisa mengirim suster untuk merawatnya, tapi tidak begitu lama. Kami turut berduka cita, tuan Peterson."
Reaksinya datar, juga tidak memberi respon apapun.
"Oh! Baru saja kakak anda--tuan Craig kemari dan sudah mengetahui hal ini--"
"Pak, saya paham, mohon segera tutup telepon ini sebelum--"
Kakaknya berhasil meraih telepon dokter.
"DAI, MERDE! HENTIKAN RAMALAN TIDAK MASUK AKAL ITU, ATAU SAYA PANGGIL POLISI--"
Tanpa pikir panjang ia menutup telepon.
Esoknya mereka mengadakan pemakaman untuk sang ibu. Kerabat dan orang-orang penting yang mengenalnya juga datang sebagai tanda hormat. Sang kakak tidak terima saat adiknya lebih banyak memperoleh ucapan. Dia yang paling sedih karena harus menghadapi dua orang aneh di keluarga; ayah yang kabur dan adik penyihir (rumor para pesulap disangka melakukan itu dengan bantuan sihir). Sang kakak sudah dengar dari banyak orang tentang ramalan yang tak pernah meleset. Saat itu juga, sang kakak memanggil teman lamanya seorang inspektur dan menyewa seorang psikolog. Sang kakak meminta mereka untuk menyamar, sebisa mungkin hingga orang-orang tidak mengenal mereka. Karena Dai adalah pesulap, ia tidak akan meninggalkan hal kecil apapun di sekitarnya.