Mr. P D - The Enigma

Mr. P D - The Enigma
Part 11



Pertunjukkan di hari ke lima pun berjalan lancar, namun ia sempat lesu setelah memperoleh berapa banyak uang yang ia peroleh. Ia paksa memasang senyum di depan beberapa penonton yang antusias bertatap muka dengannya. Beberapa ada yang mengenalinya lewat media dan sering menyaksikan pertunjukkan. Dai menerima antusias mereka, sampai sesaat kemudian, ia disapa seorang wanita. Sang wanita mengakui dia hanya janda sangat menikmati pertunjukkannya.


"Bertahanlah sedikit lagi..." Teriaknya dalam hati. Ia sadar senyumnya perlahan kaku dan merosot, namun masih melontarkan kata-kata sopan dihadapan sang wanita janda. Kemudian sang wanita janda memperlihatkan "tamu spesial" padanya. Tamu spesial yang merupakan seorang anak kecil sekitar umur empat belas dan lima belas tahun, dengan kedua mata tertutup dengan kain buluk, serta tongkat setinggi badannya, berlagak bangsawan pelan-pelan melangkah kepadanya.


Dai terpicu, kedua matanya terbuka sangat lebar, kaget bukan kepalang. Ia memperhatikan anak kecil itu dan hampir mengabaikan kalimat sang wanita janda. Lalu sang wanita janda menjelaskan setelah Dai kembali menyimak. Amanda, putri satu-satunya menderita buta sejak umur tujuh tahun. Tidak sekolah namun diajarkan untuk memiliki cita-cita sebesar apapun itu. Namun Amanda adalah putri yang mempunyai cita-cita sangat indah, dan wanita janda ingin sekali Dai bisa bantu mengabulkan cita-cita anak kecil itu.


Dai itu adalah pria yang sekalinya suasana hati sedang rusak, akan memakan waktu sangat lama untuk memulihkannya. Jika merasa tidak nyaman, ia akan terang-terangan pada siapapun, seraya tenggorokannya terlalu berat untuk mengeluarkan beberapa kalimat. Karena sifat itu juga yang membuatnya sangat ragu jika benar-benar akan menikahi Katie.


Dai menunduk dan menatap Amanda sang anak kecil nan imut. Ia menyebut namanya dengan lembut sebagai pembuka. Ia tidak ingin menyakiti hati sang anak kecil, melainkan membuatnya menyesal telah menemui seseorang seperti Tuan P.D.


"Tuan pesulap P.D? Apakah ini sungguhan? Saya sudah lama menanti momen ini!"


Sang ibu dari anak kecil tertawa manis. "Tentu saja, nak! Dia tuan P.D yang selama ini ibu ceritakan!"


Sang anak kecil tergirang-girang dengan keadaan yang menyedihkan. Dai sedikit mengerutkan dahi.


"Tuan P.D! Bisakah anda mengabulkan cita-cita saya?"


Dai menghela nafas sebelum mendengar kalimat selanjutnya. "Apa itu, nak?"


"Bisakah anda membuat saya bisa melihat?" Tanya anak kecil penuh antusias.


Dai membeku di tempat. Ia mengeluh; mengapa harus bertemu hal sebegitu aneh. Pikirannya tetap kosong karena suasana hatinya, dan bertabrakan dengan tindakan yang seharusnya ia lakukan. Dan lagi-lagi ia "terpaksa".


"Nak, saya bisa menghibur siapapun, namun tidak bisa mengabulkan keinginan, cita-cita, apapun itu." Ia sudah menduga seperti apa reaksi sang wanita janda dan putrinya. "Saya hanya pesulap sirkus. Saya tidak tahu apa-apa tentang menyembuhkan."


"Tuan, saya tidak masalah jika anda berkata begitu, tapi... jangan pada putri saya!" Sang wanita janda gelisah.


Masih memandangi sang anak kecil, "Saya juga punya mimpi yang sama dengan mimpi anda, nona Amanda. Namun saya menghukum saya sendiri karena terus menempelkan mimpi aneh saya dalam diri saya. Saya buang dan berubah menjadi mimpi yang realistis. Dengan begitu, saya bisa hidup dengan tenang mengikuti arus kehidupan, seperti yang anda temui sekarang."


Amanda membisu. Kemudian sang ibu menyinggah. "Tuan P.D, mengapa anda bicara begitu?"


Ia menarik beberapa lembar uang dari lubang lengan bajunya layaknya sedang menunjukkan sulap dan berikan kepada sang ibu tanpa basa-basi.


"Ini sedikit bantuan dari saya untuk mengabulkan cita-cita anak anda, nyonya Sunday. Semoga anak anda cepat--"


"Perawatan? Operasi? Apa maksud semua ini, tuan P.D?"


"Uluran bantuan, nyonya."


Kalimat sang ibu terbata-bata. Lalu Amanda menyambar. Dengan begini orang-orang sekitar dengan mudah menyaksikan.


"Tuan, saya penggemar berat anda! Walau saya tidak melihat, namun saya bisa merasakan! Saya tahu ibu sedang sedih!"


Sang ibu membungkuk sedikit dan mengelus kepala putrinya dengan maksud ibunya baik-baik saja.


"Nak, jika sudah selesai, tuan pergi dulu, ya! Tuan P.D sangat terburu-buru sekarang. Selamat sore." Sambil memakai topi dan memutar badan.


"Untuk menipu orang-orang lagi?"


Langkah gesitnya tertahan, matanya melotot, setetes keringat mengucur di dahinya. Ia menelan ludah, masih tidak percaya bahwa seorang anak kecil yang bicara begitu. Ia bisa merasakan orang-orang memandanginya tanpa perlu melirik, seperti para iblis mengelilinginya dengan senyuman sinis dan tampang mengerikan. Tak lama, sang ibu ikut bertanya di tengah kegelisahannya.


"Tuan P.D, sebenarnya... mimpi anda yang sama seperti putri saya apa?" Wajah sang ibu masih murung.


Ia membuat hening sejenak agar bisa kembali bicara dengan normal. Ia pun menjawab, "Menjadi seorang yang jujur." tanpa memandangi sang ibu dan anak lagi.


Sudah terlambat, semua orang sudah tahu kebusukan pesulap dan peramal bernama P.D ini. Ia sadar akan hal itu, naas masih sulit melupakannya.


Malam itu tidak hujan. Sebagai gantinya ia membuka lebar-lebar jendela di kamarnya. Ia tidur dengan angin malam yang menyengat, seperti yang ia inginkan. Ia tidak bermimpi apapun, tapi sulit melupakan kalimat dari sang anak kecil; harapan orang-orang tidak akan mati.


Telepon berdering di siang bolong. Ia membuka matanya yang Kaku setelah cahaya mentari sebesar kelereng masuk ke bola mata. Ia kesal untuk yang pertama kalinya pada sang mentari. Perutnya berbunyi, namun ia tidak peduli. Ia berjalan gontai ke telepon yang terus berdering setiap lima detik.


"Halo?" Ucapnya seperti singa yang mengamuk.


"Biar saya tebak. Anda sedang di Manchester, bukan?" Kata seorang dibalik telepon.


"Craig keparat! Anda tahu dari siapa?"


Craig cekikikan beberapa saat. "Memangnya apa yang kakak tidak tahu dari adik saya sendiri? Yang seenaknya menghilang dari kulit kacangnya setelah ibu meninggal dunia."


"Bagaimana pun juga saya tidak akan kembali ke tanah keluarga maupun apartemen saya. Saya harus segera pergi, jauh dari kegilaan ini. Dan saya tidak mau anda tahu kemana saya akan pergi."


"Itu yang ingin saya beritahu sekarang, Dai."


Ia menyipitkan mata. Sangat aneh, ia tidak ingat kakaknya pernah menyebut namanya dengan benar secara personal.


"Tempat jauh dari perkotaan kebanyakan makan banyak biaya karena tempat menginap dan sewa yang mahal, sisanya adalah tempat terbengkalai bagai kuburan para pelaut. Saya punya saran tempat yang bagus. Dan mungkin bisa menghilangkan rasa penat anda."


Air keringat Dai mengalir di pelipis.


"Cari di peta kota bernama Brighton atau Hove. Setahu saya anda cukup naik kereta bawah tanah sebanyak tiga kali dan berjalan kaki sebentar ke suatu jalan yang dikelilingi toko kecil." Ia langsung mencatat di memorinya. "Selalu ada perumahan kecil yang terpisah dan biaya murah untuk pengunjung lokal. Angin sejuk, nyiur melambai, suara ombak dan burung camar. Akan lebih indah jika menatap pantai bersama dengan langit senja keemasan... Halo?"


Lamunan Dai kabur.


"Dasar Craig bajingan. Terima kasih banyak. Saya pastikan tidak akan pulang sebelum rambut saya memutih." Ia menggeleng kepala dan langsung tutup telepon.


Dai telah menemukan destinasi baru. Ia segera membereskan kopernya dan bergegas ke stasiun. Kepalanya seketika membayangkan suasana sejuk nan asri pantai yang ia nantikan. Seperti liburan akhir dunia menanti. Ia tidak peduli jika tiba terlalu awal, bahkan sudah makan atau belum. Kereta bawah tanah penuh sesak, namun ia menerobos masuk. Tubuhnya yang kurung mudah sekali menyelinap seperti kucing.