Mr. P D - The Enigma

Mr. P D - The Enigma
Part 10



Tepat esok hari sang inspektur dan psikolog benar-benar merubah penampilan, dari gaya rambut, jenggot, hingga gaya sepatu. Sang psikolog berpura-pura menjadi orang buta bertongkat yang hanya duduk di bangku taman--seberang toko kecilnya.


Sang inspektur ikut mengantri. Sekitar tiga puluh menit sudah mencapai giliran sang inspektur.


"Tuan, anak saya sebentar lagi menginjak kelulusan SMA nya, namun beliau baru saja terkena demam tinggi. Badannya panas, sekitar 43 derajat Celsius. Namun setelah saya dan istri saya bawa ke dokter, mereka mengatakan bahwa anak saya tidak demam, melainkan punya kekhawatiran yang besar. Seminggu sebelum ujian, anak saya tidak mau belajar, berkeringat dan lemas. Beliau sulit tidur seminggu ini.


Kami memutuskan izin beberapa hari tidak mengikuti ujian dan membawanya ke rumah sakit lagi. Kali ini kata dokter beliau terkena penyakit jantung karena setelah diperiksa jantungnya berdebar sangat cepat. Berdasarkan dokter yang berbeda menyatakan anak saya punya penyakit jantung atau anemia. Saya sangat bingung, saya harus apa terhadap anak saya, tuan!"


Dai mengedipkan matanya sekali setelah selesai mendengarkan kalimat tidak logis dari pelanggan satu ini.


Sambil mengucek matanya, "Tuan, bukankah sudah jelas apa yang akan terjadi setelah itu?"


"Maksud anda?"


"Penyakit semacam itu terdengar langka. Lantas anda dan istri anda tidak percaya kata-kata dokter, bukan?"


Sang inspektur terdiam.


"Penyakit yang tidak biasa, antara penyakit jantung atau anemia. Saya tidak percaya keduanya juga. Bahkan tanpa menerawang pun saya sudah tahu anda harus berbuat apa."


Hening. Pelanggan yang mengantri ikut menyimak.


"Kehadiran anda disini adalah jawabnya."


Inspektur tersenyum tipis.


"Itu berarti... Anda tidak bisa melakukan apapun lagi dengan anak tercinta anda. Saya adalah puncak jawaban anda. Kalau saya menerawang sebanyak lima puluh lima ribu tiga ratus dua puluh empat kali juga akan berakhir ke saya--"


"Puncaknya tetap kepada anda. Namun, bagaimana kalau saya memilih penyakit anak saya ada karena anda?"


Pelanggan di antrian saling berbisik meliputi rasa curiga dan misterius. Dai membuang semua napas yang ia tumpuk.


"Lantas untuk apa, saya menceritakan hal yang tidak jelas tentang anak saya? Saya bocorkan sedikit pada anda. Saya tahu tesis anda setahun lalu, anda punya penyakit sama dengan anak saya; anxiety. Dan anda terlalu membuat-buat mereka percaya bahwa ramalan anda benar, bermula dari anda yang secara bersamaan mencegah kegelisahan mereka." Jelas inspektur sambil menoleh pelanggan yang mengantri di belakang inspektur. "Jangan khawatir, tuan P.D, kami punya saran bagus untuk anda!"


"Kami?" Ia curiga. Kemudian matanya langsung menatap ke seseorang berkacamata hitam yang duduk sendirian di bangku taman. Pikirnya bahwa tidak mungkin seorang buta ingin duduk di tempat sekitar kerumunan yang sesak. Ia berasumsi mereka berasal dari kepolisian yang dikirim oleh orang yang dekat dengannya.


"Angkat tangan, tuan!" Ucap inspektur dengan nada halus, sambil mengacungkan pistol di depan dahinya. "Cukup angkat tangan, anda akan dibebaskan kurang dari setengah jam. Begitulah ramalan saya--"


Sontak suara inspektur tertahan sesuatu yang tak terlihat. Di leher inspektur seperti ada bekas genggaman tangan sangat besar yang terus menekan suaranya. Inspektur yang malang tidak dapat menjerit memanggil sang psikolog di belakang sana. Namun, tetap saja, pelanggan yang mengantri adalah saksi mata. Dai melakukan itu tanpa ampun, terlihat jelas di paras wajahnya yang geram namun dingin.


Drama berakhir setelah suara tembakan di langit terdengar. Tembakan pertanda yang berasal dari sang psikolog mengejutkan para pelanggan. Terdengar juga suara para polisi yang sigap berlari ke keramaian. Dai melepas cekikan dan menabur beberapa bom asap warna warni (yang ia gunakan saat pertunjukkan). Beberapa polisi membubarkan pelanggan itu, sisanya memeriksa keadaan inspektur dan psikolog.


"Lebih baik anda segera laporkan ke kakak beliau!" Tegas sang inspektur.


Psikolog dengan sifatnya yang sangat tenang dan teliti menilik isi toko kecilnya, sambil membaca makna benda yang ia simpan di toko itu.


Dalam sekejap setelah Dai kabur, asap warna-warni itu menghilang. Pelanggan tidak ada satupun yang terluka, namun, sayangnya saat di introgasi beberapa polisi tidak ada satupun dari mereka yang ingat.


Craig menerima laporan setelah antusias datang ke kantor polisi. Sesuai dengan penjelasan inspektur, Craig langsung menyatakan, Dai pantas di cari atas tindakan kriminalnya. Craig berbisik dalam hati seolah sedang bicara dengan adiknya; kalaupun ia pergi jauh, Craig berharap ia mau bertobat dari keegoisannya.


Dai telah membulatkan keputusan. Terik siang hari mengantar bayangannya ke suatu tempat nun jauh dari habitatnya. Bersama dengan bayangan ia membeli tiket tujuan Manchester. Ia menyewa tenda kecil untuk pertunjukkan terakhirnya selama seminggu. Tabungan yang ia bawa hanya digunakan untuk menginap. Hujan deras menyiram kota. Dingin dan sejuk adalah momen yang sangat ia nantikan, ia tak ragu rasakan langsung di balik bingkai jendela yang terbuka. Udara pengap hotel pun lenyap.


Sambil menggenggam sebuah kertas ia menatapi hujan dengan tatapan lesu. Ia kembali merasakan "jatuh di ujung tanduk". Sesekali ia menatap kertas yang merupakan poster buruan. Dai kini adalah buron yang telah menipu puluhan orang tiap harinya dengan segala macam ramalan yang dianggap di luar logis. Tatapan lesu terhadap foto wajah dirinya yang terlihat menyedihkan seperti dahulu, seakan dua orang bertemu untuk menantang realita, atau satu orang dengan dua jiwa yang saling melawan. Semakin menikmati hujan, ia juga semakin malas memikirkan rencana nanti setelah kerja menjadi pesulap lagi. Namun ia semakin memikirkan reaksi orang-orang akan seperti apa, seberapa cukup uang yang ia peroleh untuk pergi lebih jauh dari Eropa, hingga siapa madam Claire yang sebenarnya. Membayangkan soal madam Claire, pula ia hampir lupa siapa dirinya.