
Pagi itu ia sudah mengenakan pakaian terbaik dan paling rapih yang pernah ia pakai setelah dua tahun lamanya. Setelan merah tua dengan kemeja putih yang cocok dengan dasi merah, serta topi top hat paling klimis. Matanya yang biasanya terlihat sayu dan lesu kini terbuka dan cerah, membuat penampilannya menyatu dengan cerahnya pagi hari.
Ia tidak niat menggunakan transportasi umum, tapi ingin sekali menyusuri jalan sejauh tiga kilometer menuju toko buah sambil melihat-lihat suasana kota sembari tersenyum. Dirinya yang biasa terabaikan perlahan mencuri banyak perhatian pejalan kaki yang lalu lalang.
Seperti perkiraannya, wanita itu akan menunggu di dalam tenda sambil duduk di belakang meja bundar kecil. Ia menyapa dahulu sambil melepas topinya. Sang wanita menyambut dengan nada khasnya dan mempersilahkan duduk.
"Saya yakin inilah hari yang kau tunggu-tunggu. Benarkah, tuan P.D?" Ucap Madam Claire sambil tersenyum padanya. Ia balas senyum dan sedikit tertawa karena tersipu akan kecantikannya hari ini--dengan gaun berwarna pink yang dihiasi satu jenis bunga yang mengelilingi gaun bawah, tanpa topi tapi di ganti dengan kalung permata amber. Ia tidak masalah jika madam Claire bisa membaca bahasa tubuhnya, melainkan memikirkan sifatnya yang senang berganti gaun setiap hari, dan kecantikan yang tak pernah hilang.
Dalam delapan jam dari pukul delapan pagi ia latihan sihir dengan madam Claire. Ia menyimak tahap-tahap dan menyesuaikan antara teknik miliknya dengan teknik sang pesulap. Saat makan siang, ia memberanikan diri menceritakan pengalaman terburuk setelah bangkrut. Mereka sudah saling percaya, tidak ada lagi yang ia ragukan selama bercerita. Madam Claire memberinya saran, bahwa orang baik akan mendapat karma baik, dan orang jahat akan mendapat karma buruk. Apapun yang Madam Claire katakan, ia percaya.
Sore dalam perjalanan pulang (dengan transportasi umum) ia mampir sebentar di toko buku. Ia segera mencari kalender sobek seharga 3 dollar. Lalu ia menuruni tangga toko dan di sapa seorang wanita dari kirinya.
"Permisi, tuan. Apakah anda tahu arah ke stasiun Redbrick?" Dengan suaranya yang kecil tapi halus.
Ia terpukau dalam diam sejenak sambil memperhatikan wanita ini dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan pakaiannya dengan motif gingham seperti wanita yang ia lihat saat malam tahun baru. Kali ini ia melihat perawakan wanita gingham lebih jelas. Rambut coklatnya yang di ikat bentuk bulat dan sepasang mata sebiru sapphire. Dan baju terusan gingham nya berwarna hijau tua.
Sama seperti saat memandang madam Claire, matanya berbinar juga setelah menatap wanita yang selama ini ia pertanyakan.
Dai, pria pendiam yang tidak tertarik sama sekali dengan wanita, hari ini berbeda. Ia beritahu bangunan patokan dan nama jalan disekitarnya sampai wanita ini benar-benar paham. Setelah paham, wanita itu malah memperpanjang percakapan.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Belum." Jawabnya singkat.
Ia menjeda sebelum membalas, "Mungkin anda saja yang tidak tertarik sama sekali dengan kembang api. Atau, anda sebenarnya takut dengan kembang api?"
"Kalau aku takut, kenapa aku masih di luar?" Kini wanita itu tersenyum--bukan ingin berterima kasih atas bantuannya, melainkan ketertarikannya pada Dai.
Dai membuat batuk palsu agar tidak terkesan membosankan. "Teka-tekimu lucu juga."
Sang wanita yang baru ia kenal masih ingin bicara dengannya lebih lama. Sangat disayangkan ia harus pulang lebih awal untuk mempersiapkan latihan hari esoknya. Ia masih punya sopan santun. Ia melepas topinya dan mengucapkan "selamat sore". Sang wanita masih berdiri di tempat hingga punggungnya menghilang di balik salah satu kios. Bahkan saat ia pergi, wanita seorang diri segera membuat harapan untuk bisa bertemu dengannya lagi di lain hari.
Satu bulan terlewati, Dai dengan segala trik yang ia hafal di luar kepalanya siap mengisi pertunjukkan sulap lusa. Madam Claire memperhatikannya sangat dalam dengan bangga, menepuk pundaknya dan mengatakan hal positif sebagai hadiah pertama. Ia tidak menyesal menghabiskan satu bulan tanpa menari dengan gramophone nya demi menjadi pesulap ternama, apalagi bersama dengan idolanya. Madam Claire sudah mempersiapkan nama panggungnya; The Magnificent Mr. P.D.
April 4, 1894
Hari pertunjukkan pertamanya, ia melewatkan atraksi api serbet dan hula hup tak terhingga, tapi secara keseluruhan madam Claire memuji sudah sesuai instruksi. Meski hanya dibayar 4 dollar, ia masih siap bekerja untuk lusa lagi. Madam Claire ikut semangat dan tidak sabar meliat perkembangannya.
Pertunjukkan kedua ia lupa memberi salam penutup pada menonton. Tapi sebagian besar penonton sangat kagum. Pertunjukkan ketiga hingga seterusnya tanggapan tentang sulapnya perlahan berkembang. Hari berganti minggu, hingga dua bulan lamanya, namanya telah dibawa di mulut orang-orang kota, bahkan para bangsawan. Pada bulan Juni, pertunjukkannya di sewa pangeran kerajaan Inggris untuk pesta ulang tahunnya. Selama masa persiapan, ia harus memborong beberapa pasar seperti yang madam Claire rekomendasikan, pasar dimana wanita gingham yang ia pernah temui masih memperhatikan awaknya yang terburu-buru.
Wanita gingham mempunyai sifat penasaran dan sangat suka mencari tahu, maka itu wanita gingham menguntit Dai sejauh lima kilometer. Ia tidak masalah saat kehilangan punggungnya. Dai sangat mudah ditemukan, dari awaknya yang kurus dan senang mengenakan rompi merah tua dan topi baret buluk berwarna hijau lumut milik ayahnya. Wanita gingham berhenti setelah Dai belok tajam ke kanan gedung lain yang sudah melewati apartemennya. Ia susul belok dan hanya tembok, tak ada tong sampah ataupun objek lain disekitar sana. Wanita gingham menyerah.
Selama bulan Juni, wanita gingham yang merindukan awak pria baik tergantikan dengan rasa takjub meledak-ledak. Koran hariannya secara tidak sengaja memberi tahu siapa pria yang dia temui dan dia tunggu hari itu, dan nama yang di tulis besar-besar adalah nama sang pria. Wanita gingham semakin terpukau setelah tahu kalau sang pria adalah pesulap terhebat yang dengan gagah berdiri di ubin kerajaan bersama seorang pangeran. Ia tersenyum lebar, dan sungguh-sungguh bangga terhadap orang yang baru dia kenal.