Mr. P D - The Enigma

Mr. P D - The Enigma
Part 13 End



"Cla--ah... Madam Claire...! Siapa..."


Retakan besar membuat lubang, terdapat jurang yang sangat gelap dan curam. Dai memegang tanah sekuat tenaga agar tidak jatuh. Separuh tubuhnya perlahan merosot ke lubang. Ia terus meneriaki nama madam Claire. Madam Claire masih berdiri diam, memperhatikannya, tidak peduli, dengan tatapan dingin yang jelas, dan hati yang panas karena merasa dikhianati.


Gempa masih berlangsung, membuat usaha Dai keluar dari lubang sia-sia.


"Madam... Maafkan saya! Saya mohon! Dan siapa diri anda sebenarnya?! Saya perlu tahu tentang anda!"


"Oh begitu... Memang seharusnya anda tahu hal ini." Jawab Madam Claire dengan pelan. Kemudian Madam Claire mengeluarkan amarah sesungguhnya.


"Saya adalah Madam Clairvoyant, penyihir pengabulan! Mengabulkan keinginan adalah sihir saya! Anda tahu sendiri bagaimana mimpi anda dapat terkabulkan hanya dengan melihat saya! Saya adalah penyihir pertama yang berhasil bertahan setelah 300 tahun era "witch trial"!" Perlahan amarah madam Claire meredup. "Namun, saya mengharapkan manusia untuk mendengarkan larangan, namun tak ada satupun..."


Dai kaget, "E... Eleanor--"


Gaun Madam Claire berkibar-kibar. Mata kuning madam Claire menyala-nyala bagai api. Dai yang malang hanya bisa meratapi nasib selanjutnya.


Namun, Telinganya tiba-tiba saja tidak mendengar suara dentuman di langit, darat, maupun matahari, menjadi samar-samar. Melainkan suara Madam Claire yang sangat jelas terdengar, seperti saat ia menari dengan tenang di tengah kekacauan. Begitu juga dengan madam Claire yang sudah tenang setelah meluapkan semua jago merah pada Dai. Tampang Dai yang takut kini menjadi tampang yang biasanya, menyedihkan. Mereka saling bertatap muka, mulai saling mengerti.


Madam Claire perlahan berlutut dan mendekatkan wajah pilu pada Dai.


"Sama seperti anda, saya punya keinginan. Namun, dikala jutaan orang menyimpulkan yang berbanding terbalik dari fakta, itu menimbulkan tuduhan. Suami saya pun tidak mempercayai saya. Mereka meneriaki saya penyihir dengan histeris. Dan nasib, saya hanya menerima apa adanya. Mereka membakar saya hingga tak menyisakan apapun."


Dai terdiam.


"Anda mengerti bukan? Bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang anda percayai?"


"Madam... Buku anda..."


"Maafkan saya, tuan P.D. Saya sudah tidak percaya dengan anda lagi. Buku sampul biru saya jelas anda tukar dengan yang serupa dengan buku menggambar milik kakak anda. Meski tidak pernah saya baca, itu adalah salah satu ujian anda. Makanya saat anda buka buku itu berisi tentang trik membuka mata untuk menerawang masa depan. Ternyata, hasilnya..."


"Madam! Saya... Hanya ingin hidup sesuai keinginan..." Giliran Madam Claire menyimak. "Saya... Tau itu salah. Namun, kegelisahan saya tak berhenti menyerang... Kepala saya. Saya... Ingin ayah kembali... Saya ingin ayah dan ibu berbaikkan, atau lebih baik lagi jika mereka bangga atas kesuksesan saya! Dan, kegelisahan yang tak pernah habis ini, terhadap buku anda... Saya pikir, saya bisa mempercayai anda lebih lama lagi... Semuanya membekaskan kesialan terhadap saya..."


Madam Claire sedikit murung. Tidak hanya mendengar curhatannya, juga sambil membaca masa lalunya. Dai jujur.


"Tapi saya mohon, ampuni saya sebelum anda mencabut nyawa saya!


"...?! Sebegitu mudahnya?!"


Dai terkesiap, dadanya sesak. Tidak ada harapan lagi. Lalu madam Claire mengulurkan tangan kirinya dan menutup kedua mata Dai.


"Ngomong-ngomong, saya suka ide bisnis baru anda--meramal masa depan. Namun saya tidak suka bahwa faktanya semua itu hanya bualan murahan. Mungkin ini termasuk kutukan paling ringan untuk anda..."


"Saya memesan 1644 buku berisi catatan masa depan setiap manusia yang ada di bumi ini--"


"Jangan...!" Tenaga Dai melemas.


"Ketiklah semua itu paling lama 300 tahun. Jangan terlambat! Saya tidak sabar untuk mengirimkan ke teman-teman penyihir saya..."


"..." Mulutnya kaku, hendak merintih nangis namun tidak bisa.


"Au revoir, tuan P.D, Procidat Deceptionem." Bisik madam Claire di telinga kirinya.


Retakan terakhir, genggamannya lepas, ia tersungkur seperti burung putih yang terluka di udara. Harapan, rencana, semuanya yang ada di depan mata lenyap. Matanya seperti menatap cahaya kecil di depannya. Ia menatap madam Claire untuk terakhir kalinya. Tangan yang lemah tidak lagi ingin menggenggam usaha. Tangan yang ia gunakan untuk menghibur kini harus ternodai. Kedua kaki kokoh yang selalu menemaninya pergi kemanapun kini harus kaku bagai batang pohon. Waktu yang ia lalui harus berhenti, bahkan hanya berjalan sesuai tebakkannya saja. Mata yang ia gunakan untuk melihat orang-orang dan apapun yang menghidupkan hari-harinya, kini tergantikan dengan gundukkan kertas tak terhitung. Mesin ketik yang merupakan teman untuk mencatat kenangan, kini menjadi musuh terbesarnya. Bahkan nama yang diberikan keluarganya terhapus dari ingatannya. Ia jatuh bersama kertas-kertas yang ia tulis selama setahun, berisikan ramalan yang ia karang. Di pikirannya, ini adalah momen yang paling ia sesali.


Si nasabah bank, keluarga Baker, kakak dan ibu, ayah yang minggat, gadis buta, dan idolanya, ia berharap untuk yang terakhir kalinya, berharap untuk memaafkannya. Berharap semoga mereka dapat melanjutkan kehidupan mereka sebaik mungkin.


Berakhir sudah kisah seorang pesulap ternama di Inggris.


Here lies Dai Peterson / Mr. P.D


The magnificent magician, the friendly and kindest man of people's happiness.


1873-1902


/-/-/


Jemari Dai masih mengetik dengan sigap di depan mesin ketiknya--sudah beberapa dekade terlewati. Kemudian tangannya berhenti setelah mendengar suara ketukan pintu di depannya. Ia tidak menjawab sebelum seseorang sudah memutuskan untuk menerobos masuk sebelum minta izin.


Seorang wanita muda dengan gaun kuning dan jas biru tua. Wanita itu segera menutup pintu karena ketakutan terhadap sesuatu yang sedang mengejarnya. Dai menatap wanita itu sejenak. Wanita itu mengatur nafas dan memohon padanya.


"Tuan? Apakah anda bisa bantu saya? Kami terjebak di kereta ini berhari-hari! Saya mohon, tuan!"


"Lalu?" Jawab Dai singkat.


"Ah... Anda--apakah anda juga kru di kereta ini?" Wanita itu tentu curiga. Jelas, Dai sudah menebak. Ia hanya bisa tersenyum bahwa faktanya kereta ini juga bagian dari kutukan...


Wanita tadi melirik ke potret sejenak. Pikirnya potret itu ada Dai, atau kutukan di kereta ini, atau lebih buruk lagi.



Tamat (?)