
1900, Oxford, London
Keramaian di iringi aduan suara kendaraan dan pejalan kaki. Keramaian itu perlahan menyebar membuat jalur masing-masing yang berbeda. Seorang pria melangkah sedikit lesu menuju bank, dengan tangan kiri yang menggenggam erat tas kotak besar buluk nan berat. Selain tas yang berat, pikiran dan pandangannya juga berat. Terlihat jelas dari tatapannya yang seperti kurang nutrisi dan tidak makan seminggu. Salah satu nasabah bank memanggil nama, "Tuan Peterson!" Reflek pria ini berdiri. Namun tidak hanya dia seorang diri yang terpanggil. Dua pria di sebelah kiri dan belakangnya bingung sambil memandanginya.
Sang nasabah menghela nafas, "Tuan Harry Peterson!"
Akhirnya ia kembali duduk bersamaan dengan pria lain di belakangnya.
Tiga puluh menit kemudian hal yang sama terjadi lagi. Nama pria ini sedikit kikuk, yakni David Philip Douglas Philodendron Davor Dan Peterson, anak bungsu dari dua bersaudara dalam keluarga Perancis, ayah yang merupakan mantan tentara Amerika dan ibu berprofesi sebagai penulis puisi. Ringkasnya pria lesu ini sering dipanggil Dai, terdengar serupa dengan 'die', lantas dari tampangnya yang seolah siap mati kapan saja.
Dua jam kemudian, "Tuan Philip!" Pria ini nyaris berdiri setelah melihat seorang pria tua berdiri terlebih dahulu di sebelah kanannya.
Sela beberapa menit, namanya akhirnya di sebut oleh salah satu seorang nasabah yang cukup lama mengenalinya.
"Tuan Dai!"
Akhirnya ia berdiri dengan yakin, sambil loyo.
"Tuan, cobalah untuk minum vitamin penambah nutrisi." Sang nasabah membersihkan tenggorokan. "Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
"Periksa tabungan." Ucapnya sambil melepas topinya.
Sang nasabah mengangguk sambil senyum tipis. Sambil menunggu ia sesekali menggaruk kepala belakangnya seperti belum keramas. Beberapa saat kemudian sang nasabah menunjukkan secarik kertas yang tidak seberapa panjang dari orang-orang yang ada di dalam bangunan ini. Perasaannya sudah tidak enak. Sejenak ia mengedipkan mata dan menilik kertas dari si nasabah bank.
"Saya rasa anda tidak akan pernah dapat keberuntungan, tuan..."
"Saya berhenti bekerja." ucapnya dengan tatapan lesu pada lawan bicaranya.
Nasabah bank akan konsisten menagih hutangnya setiap akhir bulan. Sudah bulan Desember, nasabah bank juga mengkritik awaknya yang terlihat menyedihkan usai dijelaskan sudah dua setengah tahun ia menganggur. Nasabah juga tidak terlalu peduli pekerjaan yang dia cari selanjutnya.
Sang nasabah meninggalkan apartemennya, tanpa menoleh lagi menyusuri jalan raya yang berasap dan bising, tapi beginilah estetik sekitar perumahan ini.
Ia diam sambil menghitung sepuluh detik, lalu berbalik badan. Ia mengambil salah satu dari sekian susunan piringan hitam di atas meja dan ditaruh di atas gramophone. Ia sangat menyukai lagu itu, seraya dengan suasana dalam ruangan yang gelap dengan sedikit cahaya siang hari. Ia tidak mendengar bising transportasi lagi, hanya merdunya lagu dan suaranya yang sangat pelan mengikuti nada lagu. Ia menari di tengah ruangan setelah menepi semua perabotan. Seraya menari mengikuti nada, perlahan ia melupakan hal yang ia benci hari ini. Mulai dari subuh yang hujan deras, sudah disuruh orang di kamar sebelah untuk membetulkan genting. Paginya di telepon ibunya yang mengeluh tentang kemalasannya yang tidak jauh beda dengan mantan suaminya. Dan hingga siang hari sebelum di kunjungi nasabah bank, ditolak mentah-mentah lamarannya di lima kantor. Ia terus menari, dan senyumannya semakin berseri.
Sesekali di hari libur ia menghubungi ibunya untuk memberi sedikit uang untuk kebutuhannya sebulan kedepan. Seperti biasa, ibunya hanya menumpahkan kalimat tak becus panjang lebar. Ia tidak mau ibu sendirian di komplek itu sejak tetangganya perlahan pergi. Tetap tidak berguna, ibunya sudah tidak ragu lagi berkata "aku menyesal telah melahirkanmu". Hidup ibunya seperti tiada arti tanpa sepeser uang. Lalu apa gunanya kakaknya tinggal dengannya?
Malam yang sangat dingin hari itu sangat ramai. Ia memutuskan keluar dari apartemen dan berbaur di keramaian. Jalan raya senggang, hanya ramai orang-orang dan hiasan natal yang menyelimuti rumah-rumah. Malam itu ia teringat kalau hari ini adalah malam terakhir tahun 1900. Sangat disayangkan ia belum ganti kalender sejak tahun 1898.
Kembang api yang indah menghiasi langit malam. Malam itu menjadi sedikit hangat. Ia perlahan membuka matanya lebih lebar--karena kaget dan lega bersamaan. Orang-orang memasang senyum terindah mereka. Terakhir, ia berhasil memasang senyuman terhangatnya setelah dua tahun kehilangan harapan.
Malam itu tidak segelap malam biasanya. Ia memutuskan kembali ke apartemen. Ia memapasi sebuah taman kecil yang ada di tengah jalan raya. Suasana perumahan masih sepi karena sebagian besar orang-orang berpindah ke tengah kota sebagai titik berkumpul. Namun, masih ada satu orang yang duduk di bangku di taman kecil. Tidak salah lagi, seorang wanita dengan baju hangat motif gingham yang sama ketika ia pergi dengan kereta bawah tanah.
Tidak pernah terpikirkan di benak untuk mengajak bicara dengan orang yang tak dikenal.
Dari tanggal satu sampai empat Januari ia memutuskan meliburkan diri dari kesehariannya di luar, tapi tidak akan mengangkat telepon dari siapapun. Sejak pagi hari ia sudah menari dengan lagu kesukaannya. Di tanggal empat saat ia sedang menari, nasabah bank datang lagi tanpa memberi kabar. Tentu ia mengabaikan ketukan pintu dan deringan bel kamarnya. Nasabah itu jengkel, hingga niat mengintipnya dari luar. Nasabah sedikit menjauh dan mendangak ke kamarnya yang berada satu lantai dari bawah. Nasabah itu melihat sekilas ia sedang menari dengan tenang. Terlalu jengkel, nasabah itu pun berani mempermainkannya, sang nasabah lapor ke pemilik apartemen kalau sang pria di lantai satu sedang bertingkah sangat aneh--seperti sedang menari dengan hantu.
Setelah selesai menikmati ketenangannya, ia akhirnya merespon ketukan pintu. Dua orang terlihat murka sudah berdiri di depan kamarnya. Sang wanita pemilik apartemen tolak pinggang dan mengacungkan payung ke arahnya.
"Kau harus berhenti menari mengerikan seperti tadi, mulai hari ini, atau kau harus angkat kaki dari sini!" Murkanya. Lalu pergi begitu saja tanpa peduli alasan apapun. Pria menyerahkan waktu senggangnya demi nasabah bank yang lelah menunggu sejak tadi pagi.
Ia tidak percaya pada apa yang ia lakukan. Ia menyesal mengizinkan nasabah bank itu masuk. Seharian dia tidak membicarakan keuangan, melainkan bermabuk dan makan makanan simpanannya untuk satu bulan kedepan. Malamnya ia langsung mengantarnya ke plang bis sampai bis tujuannya tiba, tidak peduli nasabah itu masih dalam keadaan mabuk.
Ruangannya berantakan, bau alkohol, gramophone nya terkena sedikit noda selai kacang miliknya. Ia merenung, matanya memberat, tapi tubuhnya berkata tidak ingin tidur dengan suasana seperti kapal pecah.
Bulan Maret; jika perkiraannya tidak salah, ia berniat mengunjungi karnaval di ibu kota setelah diajak pria dari kamar sebelah.
Karnaval itu lebih ramai di malam hari, karena orang-orang menanti pertunjukkan spektakuler seorang pesulap ternama dari Kanada. Matanya perlahan terbuka. Rasa tertariknya pun terbuka setelah mendengar pertunjukkan sulap. Sudah lama ia menantikan melihat pertunjukkan sulap.
Ia selalu lupa akan satu hal sederhana sebelum bepergian, membawa dompet. Ia cepat sadar setelah banyak orang mengejar kedai makanan. Walau perutnya berisk, ia tidak tertarik untuk membeli makan, ia fokus pada pertunjukkan sulap yang ia dambakan.
Tidak ada cara lain, ia menyaksikan pertunjukkan dengan cara kekanakan. Ia mencari sudut tenda yang sempit, lalu melubangi kain tenda dan menyaksikan sulap lewat lubang itu. Pertunjukkan itu hanya berlangsung satu jam. Selama ia bisa melihat atraksinya, tidak masalah.
Lima belas menit sulap berlangsung, ditengah-tengah ia di sahut seorang pemilik kios yang baru sampai dan langsung mengusirnya. Masih belum puas, ia balas menyahut dengan arti menolak. Tapi nyalinya kalah jauh dari si pedagang. Ia menyerah dan meninggalkan pertunjukkan sesukaannya.
Malam yang dingin, ia masih frustasi dengan pilihannya yang seharusnya tidak membiarkan kesenangannya direbut orang lain. Ia juga kesal dengan dirinya yang naif, pelupa, tak pernah bisa mencapai mimpinya. Dan lagi ia pulang dengan tangan kosong.
Paginya, pukul sepuluh ia terbangun karena suara telepon. Kali ini kakaknya yang menelepon, memintanya untuk ke toko buah untuk mengambil buah pesanan kakaknya, untuk ia makan hari ini. Ia tidak berkata "terima kasih" , melainkan "iya".
Teriknya cahaya pagi hari melelehkan sisa salju dari bulan Februari lalu. Ia sampai di toko buah dan menghampiri salah satu truk buah. Si pengurus toko cepat sadar dengan nama kakaknya dan segera memberi keranjang buah padanya.
Dalam perjalanan pulang, ia seperti mengenal tenda yang ia lihat di dekat sebuah bangunan yang sedang dalam perbaikan. Ia adalah pria yang tidak tanggung-tanggung dalam bertindak. Ia akhirnya masuk ke dalam tenda. Sesuai dugaan, tenda ini adalah milik seorang pesulap. Matanya melebar dan sedikit tersenyum, dan secara bersamaan ia takut dipergoki pesulap disitu. Maka ia melihat sekilas benda-benda antik sekitarnya: bola kristal, burung gagak palsu yang digantung di atas, susunan serbet berwarna merah, biru, dan hijau, tongkat yang akan mengeluarkan seikat bunga (ia sudah hafal), jubah panjang biru tua dengan pola bintang-bintang berwarna kuning, dan meja bundar kecil dengan kartu-kartu tarot yang berserakan.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
Sapaan mendadak yang mengejutkannya nyaris membuat dirinya tersandung. Beruntung ia tidak menabrak apapun di dalam tenda. Pandangan pertamanya pada seorang wanita memakai gaun yang berbentuk bunga berwarna biru sapphire, topinya yang lebar dengan hiasan bunga dengan ragam warna merah dan pink. Usai melihat awaknya yang cantik, ia tidak lagi kikuk seperti orang bodoh. Ia langsung bertanya bahwa wanita ini seorang pesulap sungguhan. Wanita itu menjawab "benar" dengan nadanya yang khas dan spektakuler, sama halnya dengan pertunjukkan sihirnya.
Ia mengenal suaranya yang khas, pesulap itulah yang membawa pertunjukkan di malam karnaval. Ia kagum dan takut bersamaan. Lantas dialah penyihir terhebat di tahun itu, Madam Claire. Wajah menyedihkannya lenyap, jantungnya berdebar kencang seperti sehabis tertusuk panah. Ia mendekatinya satu-dua langkah dan antusias menanyakan banyak hal yang berhubungan dengan sihir dan tentang perjalanan suksesnya menjadi seorang pesulap terhebat. Wanita itu rendah hati, ia siap melayani pelanggan siapapun, terutama kepada penggemar beratnya seperti pria ini.
Menuju percakapan terakhir, madam Claire akhirnya bertanya tentang dirinya, hanya menanyakan nama, dan tidak tertarik menanyakan umur atau berasal dari mana pria ini.
"Namaku... Dis. P.D singkatnya."
Wanita itu cekikik dengan suaranya yang anggun dan menggenggam kedua tangannya yang kasar dan dingin. Tangan madam Claire putih dan bersih, serta kuku berwarna pink yang terlihat lebih imut walau paras wajahnya terlihat sedikit keriput.
"Tuan P.D, untuk bertahan hidup, kau harus ingat tiga hal: perjanjian, kejujuran, dan kepercayaan."
Kalimat itu terdengar menahan pernapasannya. Ia bertanya lagi apa maksud sebenarnya.
"Perjanjian; berjanjilah untuk tidak beritahu siapapun tentang rahasia kesuksesan, identitasku, dan lainnya. Karena hanya kau yang aku beritahu. Kejujuran; jangan bohong tentang hal seperti sihir, apalagi terhadap seorang master seperti aku. Kepercayaan; ini sangat sederhana, kau cukup percaya padaku tentang trik dan strategi dalam karir seorang pesulap. Disaat kau sudah siap, aku adalah gurumu hari itu. Dan masa latihanmu menjadi seorang pesulap adalah rahasia antara kita berdua."
Ia menganggukkan kepalanya yang berat. Pria yang malang merasa hari ini ia sangat beruntung. Ia akan terus mengingat momen terbaik itu; bertemu idolanya empat mata.
"Semoga beruntung!" Ucap Madam Claire sambil tersenyum ramah. Pria menyedihkan itu berhasil membalas dengan senyuman terbaiknya.
Demi mengabadikan momen, ia segera menutup kamarnya rapat-rapat dan memainkan gramophone nya lagi, lalu menari seperti biasa. Kali ini ia benar-benar merasa hidupnya berarti dan peluang menuju kesuksesan sudah ada di depan mata.
Pagi itu ia sudah mengenakan pakaian terbaik dan paling rapih yang pernah ia pakai setelah dua tahun lamanya. Setelan merah tua dengan kemeja putih yang cocok dengan dasi merah, serta topi top hat paling klimis. Matanya yang biasanya terlihat sayu dan lesu kini terbuka dan cerah, membuat penampilannya menyatu dengan cerahnya pagi hari.
Ia tidak niat menggunakan transportasi umum, tapi ingin sekali menyusuri jalan sejauh tiga kilometer menuju toko buah sambil melihat-lihat suasana kota sembari tersenyum. Dirinya yang biasa terabaikan perlahan mencuri banyak perhatian pejalan kaki yang lalu lalang.
Seperti perkiraannya, wanita itu akan menunggu di dalam tenda sambil duduk di belakang meja bundar kecil. Ia menyapa dahulu sambil melepas topinya. Sang wanita menyambut dengan nada khasnya dan mempersilahkan duduk.
"Saya yakin inilah hari yang kau tunggu-tunggu. Benarkah, tuan P.D?" Ucap Madam Claire sambil tersenyum padanya. Ia balas senyum dan sedikit tertawa karena tersipu akan kecantikannya hari ini--dengan gaun berwarna pink yang dihiasi satu jenis bunga yang mengelilingi gaun bawah, tanpa topi tapi di ganti dengan kalung permata amber. Ia tidak masalah jika madam Claire bisa membaca bahasa tubuhnya, melainkan memikirkan sifatnya yang senang berganti gaun setiap hari, dan kecantikan yang tak pernah hilang.
Dalam delapan jam dari pukul delapan pagi ia latihan sihir dengan madam Claire. Ia menyimak tahap-tahap dan menyesuaikan antara teknik miliknya dengan teknik sang pesulap. Saat makan siang, ia memberanikan diri menceritakan pengalaman terburuk setelah bangkrut. Mereka sudah saling percaya, tidak ada lagi yang ia ragukan selama bercerita. Madam Claire memberinya saran, bahwa orang baik akan mendapat karma baik, dan orang jahat akan mendapat karma buruk. Apapun yang Madam Claire katakan, ia percaya.
Sore dalam perjalanan pulang (dengan transportasi umum) ia mampir sebentar di toko buku. Ia segera mencari kalender sobek seharga 3 dollar. Lalu ia menuruni tangga toko dan di sapa seorang wanita dari kirinya.
"Permisi, tuan. Apakah anda tahu arah ke stasiun Redbrick?" Dengan suaranya yang kecil tapi halus.
Ia terpukau dalam diam sejenak sambil memperhatikan wanita ini dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan pakaiannya dengan motif gingham seperti wanita yang ia lihat saat malam tahun baru. Kali ini ia melihat perawakan wanita gingham lebih jelas. Rambut coklatnya yang di ikat bentuk bulat dan sepasang mata sebiru sapphire. Dan baju terusan gingham nya berwarna hijau tua.
Sama seperti saat memandang madam Claire, matanya berbinar juga setelah menatap wanita yang selama ini ia pertanyakan.
Dai, pria pendiam yang tidak tertarik sama sekali dengan wanita, hari ini berbeda. Ia beritahu bangunan patokan dan nama jalan disekitarnya sampai wanita ini benar-benar paham. Setelah paham, wanita itu malah memperpanjang percakapan.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Belum." Jawabnya singkat.
"Menurutku iya. Malam tahun baru anda satu-satunya orang yang tidak menyaksikan kembang api sampai akhir di tengah kota."
Ia menjeda sebelum membalas, "Mungkin anda saja yang tidak tertarik sama sekali dengan kembang api. Atau, anda sebenarnya takut dengan kembang api?"
"Kalau aku takut, kenapa aku masih di luar?" Kini wanita itu tersenyum--bukan ingin berterima kasih atas bantuannya, melainkan ketertarikannya pada Dai.
Dai membuat batuk palsu agar tidak terkesan membosankan. "Teka-tekimu lucu juga."
Sang wanita yang baru ia kenal masih ingin bicara dengannya lebih lama. Sangat disayangkan ia harus pulang lebih awal untuk mempersiapkan latihan hari esoknya. Ia masih punya sopan santun. Ia melepas topinya dan mengucapkan "selamat sore". Sang wanita masih berdiri di tempat hingga punggungnya menghilang di balik salah satu kios. Bahkan saat ia pergi, wanita seorang diri segera membuat harapan untuk bisa bertemu dengannya lagi di lain hari.
Satu bulan terlewati, Dai dengan segala trik yang ia hafal di luar kepalanya siap mengisi pertunjukkan sulap lusa. Madam Claire memperhatikannya sangat dalam dengan bangga, menepuk pundaknya dan mengatakan hal positif sebagai hadiah pertama. Ia tidak menyesal menghabiskan satu bulan tanpa menari dengan gramophone nya demi menjadi pesulap ternama, apalagi bersama dengan idolanya. Madam Claire sudah mempersiapkan nama panggungnya; The Magnificent Mr. P.D.
April 4, 1894
Hari pertunjukkan pertamanya, ia melewatkan atraksi api serbet dan hula hup tak terhingga, tapi secara keseluruhan madam Claire memuji sudah sesuai instruksi. Meski hanya dibayar 4 dollar, ia masih siap bekerja untuk lusa lagi. Madam Claire ikut semangat dan tidak sabar meliat perkembangannya.
Pertunjukkan kedua ia lupa memberi salam penutup pada menonton. Tapi sebagian besar penonton sangat kagum. Pertunjukkan ketiga hingga seterusnya tanggapan tentang sulapnya perlahan berkembang. Hari berganti minggu, hingga dua bulan lamanya, namanya telah dibawa di mulut orang-orang kota, bahkan para bangsawan. Pada bulan Juni, pertunjukkannya di sewa pangeran kerajaan Inggris untuk pesta ulang tahunnya. Selama masa persiapan, ia harus memborong beberapa pasar seperti yang madam Claire rekomendasikan, pasar dimana wanita gingham yang ia pernah temui masih memperhatikan awaknya yang terburu-buru.
Wanita gingham mempunyai sifat penasaran dan sangat suka mencari tahu, maka itu wanita gingham menguntit Dai sejauh lima kilometer. Ia tidak masalah saat kehilangan punggungnya. Dai sangat mudah ditemukan, dari awaknya yang kurus dan senang mengenakan rompi merah tua dan topi baret buluk berwarna hijau lumut milik ayahnya. Wanita gingham berhenti setelah Dai belok tajam ke kanan gedung lain yang sudah melewati apartemennya. Ia susul belok dan hanya tembok, tak ada tong sampah ataupun objek lain disekitar sana. Wanita gingham menyerah.
Selama bulan Juni, wanita gingham yang merindukan awak pria baik tergantikan dengan rasa takjub meledak-ledak. Koran hariannya secara tidak sengaja memberi tahu siapa pria yang dia temui dan dia tunggu hari itu, dan nama yang di tulis besar-besar adalah nama sang pria. Wanita gingham semakin terpukau setelah tahu kalau sang pria adalah pesulap terhebat yang dengan gagah berdiri di ubin kerajaan bersama seorang pangeran. Ia tersenyum lebar, dan sungguh-sungguh bangga terhadap orang yang baru dia kenal.
Bulan Agustus nan tentram, Madam Claire menghampiri Dai yang sibuk membereskan peralatannya di bawah tenda. Madam claire mengajaknya makan malam di suatu restoran cina pilihannya, dengan suasana tidak terlalu ramai dan terdapat roti gratis di setiap meja. Madam Claire meringankan pikirannya soal harga makanan disana, lantas ia terus melototi ragam makanan yang ada di atas meja.
Setelah gigitan terakhir, gilirannya membuka pertanyaan. Dai selalu mempertanyakan buku berukuran 10x15 cm dengan sampul kulit tebal berwarna biru dongker di benaknya. Setelah di utarakan pada Madam Claire, dia berani menjawab dengan kalimat yang membuat orang-orang sekitarnya tidak penasaran.
"Oh, buku itu hanya diary ku saat masih remaja. Warna sampul itu juga mirip baju kesukaanku saat remaja. Kalah anda penasaran dengan isinya sangat tidak saya izinkan, namun intinya adalah tentang kenangan dan mimpiku."
Walau firasatnya berkata lain, ia mengangguk layaknya sedang bersimpati. Dalam batinnya ia ingin memukul wajahnya agar tumbuh niat kuat untuk mencari tahu lebih dalam isi buku itu dengan mata kepalanya sendiri. Kalaupun itu hanya diary, sebagus apapun sampulnya, buku yang berisi catatan tentang pribadi akan disimpan di tempat tertutup dan gelap. Ia pernah sekali melihat buku itu di taruh dengan ornamen seperti pajangan. Dai sedikit kesal sambil membuang muka ke meja lain, lantas mereka sudah membuat perjanjian kekal yang salah satunya adalah kejujuran. Batinnya hanya ada perasaan terkhianati diam-diam.
Pertunjukkan kesekiannya berhasil memukau anak-anak dan membuat mereka diliputi keberanian akan sihir, bahkan anak laki yang takut karena pertunjukkan saat mengeluarkan burung dara dari topinya kini berani naik ke panggung untuk menanti momen itu. Para orang tua tidak lagi prihatin akan keselamatan mereka, dengan kata lain sudah mempercayai pesulap Mr. P.D ini. Hampir setiap pertunjukkan ia memperoleh dua puluh hingga lima puluh dollar. Ia menyadari setelah angkat kaki dari istana kerajaan hidupnya berubah pesat. Seisi kota mengenalinya dan tak segan menyetarakannya seperti pesulap ternama dari Amerika dan beberapa negara. Ia tidak terganggu atau tersinggung, hanya saja ia tumbuh dengan kepala yang tak pernah kosong. Urutan teratas dari sekian banyak pertanyaan di kepalanya hanyalah buku sampul biru milik Madam Claire. Tak pernah menyangka buku diary itu begitu misterius sampai menghantuinya dalam mimpi.
Ia tiba di toko buku langganannya. Ia berdiri di rak buku puisi romantis tahun 1802. Kembali ke masalah dalam kepalanya, ia tidak tertarik mengintip beberapa halaman buku di depannya. Matanya terus menatap gambar sampul buku itu dengan tatapan dingin. Sepuluh detik berlalu, wanita gingham menyapanya dengan nada gemulai. Ia memaksa kepala dan matanya yang berat menoleh, dan tidak berat lagi setelah bertemu wanita gingham lagi.
"Siang, tuan P.D!"
"Anda tahu nama saya?" Lamunan Dai berhasil teralihkan.
"Apakah anda punya waktu senggang?"
Sebuah pertanyaan yang langsung ke inti dari seorang wanita yang ia nantikan. Ia bingung memilih jawaban yang tepat, tapi ia bisa berkata begini.
"Saya selalu senggang, jika tidak ada panggilan dari pemilik sirkus."
"Itu tidak setiap hari, bukan?"
"Ya. Tapi sisa hari yang senggang adalah waktu berhargaku." Sekarang ia berani menunjukkan senyum hangatnya.
Dai sedang tidak berbohong, wanita gingham sadar akan hal itu. Sayangnya, kelemahan wanita gingham adalah terlalu banyak menyimpan harapan. Wanita gingham bersikeras membual di depannya.
"Nama saya Kate, biasa dipanggil Katie. Ayahku pemilik toko roti ternama di jalan Redbrick. Anda suka roti?"
Dai terkagum setelah mendengar kata roti. Matanya membesar seperti kucing melihat ikan.
Toko roti Amber namanya. Ia menggigit sangat lahap french bread di genggamannya. Katie sedang duduk manis sambil memperhatikan Dai makan. Tuan Noah Baker selaku pemilik toko ikut penasaran tentang dirinya setelah diceritakan oleh putrinya.
Setelah ditanya tuan Baker, ia menjawab singkat; berkat usahanya yang tidak pernah mengkhianati hasil. Tuan Baker yang tidak tahu kalau itu bukan suatu candaan tertawa terbahak, sedangkan putrinya tetap duduk manis dan tertawa kecil. Dai mempelajari bahwa ayah Katie adalah pria yang tidak percaya pada kesuksesan yang datang dari diri sendiri. Seperti tokonya yang saat ini terkenal bukan karena kerja kerasnya. Dai tahu roti yang ia makan adalah french bread, tapi nama yang terpajang "french bread with cheese dices extra lemon grass" seharga 25 euro.
Roti di tangannya sudah habis. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya hingga remah-remah roti berjatuhan di atas piring kecil, lalu mengelap mulutnya dengan tisu.
"Terima kasih rotinya, tuan Baker! Dan Katie, kita bertemu lagi nanti, ya. Saya tidak sabar untuk menikmati kesendirianku."
Ia memperlihatkan sedikit sulap sebelum pergi; membuka topi lalu mengeluarkan sejumlah lembaran uang untuk tuan Baker dan setangkai bunga tulip hidup untuk Katie.
Topinya ia pakai lagi sambil berkata "selamat sore". Saat mau berjalan menuju pintu, Katie sudah menahan erat tangan kiri Dai.
"Tuan P.D, datang lagi besok, banyak yang ingin kita bicarakan." Potong Katie.
"Apakah itu penting--"
"Pokoknya datang saja." Tekan Katie.
Ia perlahan gelisah dan menambah muatan ke dalam kepalanya. Saat keluar pun wajahnya terlihat jelas kusut.
Senja berganti malam, malam berganti pagi. Katie sedang bersemangat, sampai rela menggunakan gaun cantik dengan pundak terbuka berwarna hijau daun dengan pernak pernik, seolah gaun itu seperti terbuat dari permata. Gaun indah yang dikenakan Katie bermaksud menarik perhatian Dai dengan mengikuti kebiasaannya dalam berpakaian.
Ia tiba tepat waktu, walau nyatanya terlambat lima detik saat sudah di depan pintu kayu toko ayahnya yang terdapat kaca setinggi bahu. Ia terpukau oleh Katie yang terlihat cantik pagi itu. Batinnya terus bertanya kalau pertemuan ini sebenarnya kencan atau sebaliknya. Katie menyapanya lebih dulu, sementara ayahnya menjamu Dai dengan roti yang ia makan kemarin. Walau ia ragu di awal, ia berani menerima tawaran keluarga Katie dengan cuma-cuma. Ia lupa kapan terakhir kali keluarganya peduli dengannya.
Sebelum menuju inti pertemuan, Katie memintanya pendapat tentang gaunnya. Dai menjawab singkat, "Cantik. Menawan. Sangat cocok denganmu." sambil mengunyah roti. Reaksi Katie terpapang jelas, wajahnya memerah dan perlahan menundukkan kepala sambil berterima kasih. Walau tatapannya masih seperti ikan mati namun Katie dan ayahnya sudah terbiasa.
Giliran ayah Katie bicara. Sang ayah menawarkan Dai untuk bekerja dengannya, mempromosikan tokonya di pertunjukkannya. Dai setuju, dengan syarat sang ayah perlu menata ulang konsep tokonya. Dengan nama panjang yang berlebihan serta harga yang kurang masuk akal ia akan kena rugi juga, ia juga harus diskusi dengan madam Claire tentang kerjasama ini.
Tuan Baker pun menambahkan tepat setelah ia menjelaskan, meski sedikit terkesan tidak sopan, tuan Baker bersikeras untuk bilang demikian pada Dai.
"Kalau anda setuju, saya izinkan anda bersama dengan Katie. Sampai menikahinya pun tidak masalah. Kita impas, Tuan P.D."
Ia mematung, tentu bingung atas definisi "impas" dari ayah Katie. Keluarga Baker ini sangat tergantung padanya, sampai mengorbankan apa saja demi memanfaatkan Dai untuk mencapai keinginan, pikirnya.
Terakhir sebelum mengunjungi Madam Claire, ia menatap Katie cukup dingin, tidak lagi bicara dengannya. Dai membisu, merasa dirinya bagai minuman yang dituang ke gelas bukan miliknya.
Madam Claire merenung sembari memperhatikan jadwal pertunjukkannya dengan Dai. Wajahnya terlihat datar, seperti kehilangan harapan. Ia pikir penjelasannya kurang rinci.
"Baiklah. Karena nama anda sudah dikenal di banyak kota, anda sudah boleh melakukan kerja sama." Madam Claire menjeda. "Namun, perihal imbalan mereka, tentang pernikahan. Apa mereka sudah gila?"
"Saya pikir itu hanya bujukan. Lagipula mereka tidak terlihat sepakat satu sama lain."
"Hanya sepihak, ya? Atau, bisa saja mereka sudah mengatur skenario. Seperti sang putri bersedia menikah setelah anda bersedia kerja sama dengan toko roti itu. Sudah sedia payung sebelum hujan."
"Sejujurnya itu sangat tidak nyaman."
"Saya juga paham, tuan P.D. Kalau saja mereka memang menggunakan hal pernikahan sebagai bujukan, lebih baik abaikan saja."
"Baik. Terima kasih banyak, madam!" Dai tersenyum.
Hari pertunjukkan berjalan lancar. Strategi promosinya berhasil. Dalam tiga hari banyak pelanggan pergi ke toko roti Amber. Persiapan memperbaiki konsep tokonya juga sudah sesuai. Roti keluarga Baker laku keras. Katie yang tidak selalu bantu ayahnya kini lebih banyak ambil alih kerja di kasir dan dapur. Sorenya mereka memutuskan menutup toko satu jam lebih awal. Katie duduk di teras toko dan tidak tersenyum. Katie merasa bersalah setelah teringat kalau dia ingin sekali menonton sulap Dai; hari saat sedang mempromosikan tokonya.
Sore menjelang malam, Katie sudah menduga Dai akan mengunjungi tokonya. Katie langsung berdiri dan minta maaf tanpa merespon sapaannya. Ia tidak keberatan, tapi ia datang untuk mengabari ayah Katie tentang penambahan cabang toko di beberapa kota. Mata Katie berkaca-kaca dan segera lapor bersama Dai.
Sore menjelang malam setelah selesai dengan pertunjukkannya, keluarga Baker mengirim surat lewat pemilik toko bunga yang cukup akrab. Surat berupa undangan makan malam bersama keluarga baker pukul sembilan. Ia asumsi itu semacam merayakan kesuksesan toko roti Amber. Dai kuat bermabuk setelah enam gelas, tapi untuk kali ini ia memilih menolak bermabuk jika ditawarkan.
Pukul sembilan kurang ia sudah sampai di toko roti. Ia masih suka dengan rompu merahnya, maka ia sengaja memakai rompi itu lagi demi jamuan malam.
Ruangan gelap dengan satu cahaya di tengah ruangan belakang setelah dapur.
"Selamat pagi, tuan pee pee (air seni)!" Sahut tuan Baker. Wajahnya sudah sangat merah seperti terpanggang. Sedangkan Katie duduk manis dengan posisi siaga walau matanya sudah berkedip-kedip menahan kantuk.
"Maaf terlambat." Sahut balik Dai setelah mendekap beberapa detik. Ia mulai berhati-hati dengan pria tua yang sudah kehilangan urat malu itu.
"TUAN PEE PEE SANG PENYELAMAT!!!" Teriak tuan Baker. Karena teriakan sang ayah, Katie perlahan membuka matanya yang sedikit kaku.
"Oh, tuan P.D! Terima kasih telah datang!"
Ia membuka suara setelah mendengar teriakan aneh tuan Baker.
"Maaf jika saya lancang. Menurutku kita sudahi saja pestanya. Kelihatannya ayah anda dalam masalah, dan ini sudah malam--"
"Hei, pesulap, tunjukkan sihirmu, sialan!" Sahut Katie sambil menatapnya dengan paras wajah tertekuk. Wanita ini sudah mabuk.
Dai teramat sabar dengan tingkah keluarga ini. Ia merasakan hawa kegagalan yang berhasil mereka singkirkan dalam waktu singkat. Tapi ia juga senang bisa mengenal dan dekat dengan mereka, meski dalam situasi tertentu. Ia memutuskan meladeni sang ayah dan putri yang sedang bermabuk. Ia dengar segala keluhan, masa lalu, dan seberapa besar cinta Katie kepadanya. Ia cukup simpan puluhan kalimat itu ke dalam otaknya, bersedia beritahu setelah mereka penasaran.
Pada hari minggu, toko roti Amber memutuskan tutup sehari penuh untuk renovasi besar-besaran pada ruang makan dan sedikit di dapur. Setengah hari Katie bosan memperhatikan sang ayah yang sibuk dengan para pekerja bangunan. Sorenya Katie memutuskan mencari Dai meski dia hanya tahu sampai letak apartemennya saja. Katie tidak menemukan namanya saat melihat nama-nama penghuni. Katie Takut setelah menekan bel penghuni dengan nama inisial P; layaknya dia hanya mengingat nama P.D dari media. Salah, respon dengan suara yang tidak dia kenal.
Katie menekan hampir semua tombol bel secara acak, hingga bel terakhir yang berada di pojok kanan atas, suara pria yang dia kenal merespon. Akhirnya Katie berhasil menemukan kamar sekaligus mengetahui namanya selain P.D.
"Ada yang bisa saya bantu? Bagaimana kabar ayahmu?" Tanyanya sopan.
"Dia baik-baik saja, hanya saja di kepala sebelah kiri sedikit sakit. Dia minum sekitar sembilan botol. Maaf ya kalau pestanya tidak sesuai ekspetasi. Ayah terus membicarakanmu dan--"
Dai dengan mudah menebak kalimat Katie yang hilang dari rawut wajah yang murung. Lalu ia menaruh secangkir teh di meja di samping Katie duduk. Katie kaget setelah sadar dia masih dilayani walau sudah bertindak tidak sopan padanya. Ia sarankan untuk minum, lantas setiap pertemuan akan terasa lebih tenang bersama minuman. Katie jujur pada dirinya kalau dia tidak tahu apapun tentang melayani tamu, karena dia biasa dimanja kedua orang tuanya.
Hari ini Katie memutuskan memanggilnya dengan nama "tuan Dai", tapi ia menolak. Ia bersikeras untuk tidak akan memberitahu siapapun tentang nama aslinya. Kali ini Katie bisa bersimpati, dia berjanji untuk tetap memanggilnya "tuan P.D". Namun, hari ini merupakan hari istimewa, ia mendapat pujian dari seorang penyanyi terkenal di Italia. Setelah Katie menyeduh teh, ia berdiri dan mengajaknya berdansa dengan pose bagai pangeran kerajaan. Katie menaruh cangkirnya dan ikut berdiri. Walau dia tidak tahu banyak tentang menari, tapi dia ingin sekali menari.
Mereka menari tepat saat bintang-bintang bergelimang. Satu-satunya lampu di ruang tengah menyala, kamar tidur dan dapur dibiarkan gelap dan sunyi, hanya mendengar suara indah dari ruang tengah. Barang-barang di sekililing mereka hening seperti sedang menonton mereka berdansa. Katie sedikit takut dengan suasana itu, namun selama dia bersama Dai, dia reflek mencintai suasana itu. Tidak hanya itu, Katie menyukai penampilan Dai yang seadanya--rompi yang masih menempel di kemejanya setelah bekerja, aroma parfum yang memudar tertabrak aroma keringatnya. Penampilan Katie yang sama seperti ia lihat pertama kali bertemu. Lama menari, tarian diakhiri setelah Katie perlahan menyandarkan kepala ke dada Dai. Dai tidak pernah berpacaran, namun ia paham fase ini dimana wanita perlahan merasa nyaman saat dekat dengannya. Ia terdiam, tidak merasakan apa-apa. Pikirannya tertekan lagi setelah teringat ucapan pernikahan dengan Katie. Keluarganya sudah tidak memperdulikan hal itu, namun dia sendirilan yang akan merasakan.
Malam begitu sunyi. Ia menemani Katie sampai di depan toko roti, ternyata toko itu sendiri juga rumah keluarga Baker. Di depan pintu toko Katie melepas jaket yang ia pinjamkan. Katie menatap sejenak sambil tersenyum lalu menutup pintu. Ia sendiri lagi. Malam itu ia tidur dengan lampu menyala, membiarkan pikirannya mengalir perlahan setelah berhari-hari bersama keluarga Baker. Tapi ia tidak lupa dengan satu hal yang ia paling takuti--buku sampul biru milik Madam Claire. Secara bersamaan, ia membuahkan ide baru untuk bisnis sulapnya. Sekitar 5 tahun yang lalu ia pernah melihat keramaian di sebuah markas kecil dengan hiasan penuh bintang dan gambar-gambar aneh lainnya di mata anak muda, seorang wanita duduk membungkuk di dalam markas sempit menghadap tepat pada sebuah bola kristal di depannya. Jubah yang membuat identitasnya tersamarkan membuat orang-orang semakin penasaran. Seorang Dai muda yang kurus menghampiri keramaian itu dan menyelinap hingga bisa melihat atraksi wanita misterius itu dengan jelas. Kalimat yang ia tidak pernah lupa dari wanita itu adalah "Hadapilah masa depanmu, jangan pernah takut dan berkata untuk mundur. Kekuatan waktu terlalu kuat, lantas kita harus menghadapinya dengan bijak."
Dai muda yang tenang dan terbilang tidak pernah membanggakan kedua orang tua setelah sembilan tahun sekolah hanya memahami konsep sihir, sulap, dan ramalan. Ia tidak takut menyimpan pengetahuannya tentang itu.
Awal Desember, ia disambut kembali oleh si nasabah bank, mengatakan bahwa dia merindukan mengunjunginya sambil menegur tanpa sebab. Seperti burung kecil bersembunyi dari kucing, nasabah bank tidak berani menyinggung apapun tentang karirnya yang terbilang "menghibur". Dai memberi nasabah bank itu roti terbaik di toko roti Amber. Nasabah bank membisu lalu tersenyum--untuk pertama kalinya di depan Dai, dan berkata "Selalu ada satu keikhlasan di antara beribu senyuman palsu." Kemungkinan ini adalah kalimat terakhir sebelum digantikan dengan nasabah baru di awal tahun.
Sudah lama sekali ia tidak menginjak gundukan salju. Dingin tapi hangat. Hangat karena puas dengan segala usaha yang ia perjuangkan.
Usai mengunjungi keluarga Baker, ia mengunjungi madam Claire. Selama dua jam mereka membicarakan makanan tanpa henti, sedangkan membahas tentang jadwal pertunjukkan natal dan tahun baru hanya sebesar sebutir beras. Perbincangan yang tidak terlalu penting namun menyenangkan. Beberapa gelak tawa kemudian Dai mengajak Madam Claire untuk makan malam bersama di suatu restoran bintang lima. Madam Claire langsung berbunga-bunga sambil membayangkan makan malam seperti nuansa kencan meski bukan itu tujuannya.
Madam Claire memesan menu utama hewan laut seharga 35 euro termasuk makanan penutup, sedangkan Dai memesan roti dan sup tanpa makanan penutup. Dari menu yang ia pesan bukan berarti tidak lapar atau tidak nafsu. Tabungannya yang masih banyak tetap ia gunakan dengan baik, sebaik mungkin. Ia tidak kaget jika Madam Claire mengetahui hal itu.
Setelah piring dan gelas mereka kosong, Dai memulai percakapan baru, dengan nada yang terkesan lemah dan ditekan sesuatu yang sangat berat.
"Saya mengerti kalau ini terdengar aneh. Tapi, apa boleh saya tahu sedikit...tentang... sulap lain?"
"Boleh, apa saja, tuan P.D!"
"Tapi--"
"Saya guru anda, dan anda adalah murid saya. Jadi tidak usah takut untuk bertanya soal trik baru." Senyum Madam Claire.
"Madam, saya--"
"Ada apa denganmu hari ini, tuan P.D? Anda terlihat tertekan."
"Ah, tidak, madam. Saya hanya tidak ingin anda... tersinggung." Ia perlahan lesu.
"Tersinggung kenapa?" Madam Claire prihatin setelah menatap wajahnya yang terlihat akan mati.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu bersiap berbicara.
"Apakah anda mau mengajariku cara... meramal?"
"T i d a k ." Ucap madam Claire dengan tegas dan dingin.
Dai terkejut dan membisu bersamaan. Ia tidak pernah melihat wajah madam Claire yang baik hati dan anggun. Keanggunannya tidak lagi terpapang di wajah.
"Madam--"
"Anda tidak diperkenankan mempelajari hal yang berhubungan dengan meramal. Anda baru saja menentang hukum alam semesta."
"Madam, saya--" ia nyaris tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.
"Memangnya menjadi pesulap ternama belum cukup? Mau lebih dari sekedar "pesulap"? Mau menjadi malaikat pelindung di negeri ini?" Tatapan sipit madam Claire terkesan mengancam.
Disini mereka berdebat tanpa jeda.
"Madam, saya berencana membangun bisnis baru!"
"Kalaupun itu bisnis baru, saya tetap tidak izinkan anda mempelajari sihir meramal."
"Bagi anda saya siapa?"
"Bukan siapa-siapa, jika anda masih bersikeras membangun bisnis konyol itu."
"Ini bukan demi keuntungan saya! Tapi keuntungan kita bersama!"
"Tujuan kita memperlihatkan atraksi spektakuler bukan untuk memperoleh uang, melainkan untuk menghibur! Kalau anda mau uang, maka kembalilah bekerja sebagai budak kantor yang mematahkan tulang dan semangatmu setiap hari."
Dai membuang napas berat. "Madam, saya bersyukur dilahirkan dengan kesabaran. Tapi malam ini saya benar-benar tidak tahan ingin bilang begini..."
"Ya sudah! Katakan! Telinga saya masih menempel!"
"Madam, ketika kita membuat perjanjian bersama, apa yang anda maksud dengan kepercayaan, kejujuran, dan lainnya? Persetan dengan kepercayaan, anda sendiri tidak memberitahu saya yang sebenarnya tentang buku sampul biru yang anda masih sebut "diary"?!"
"Bahkan sampai detik ini anda masih penasaran dengan buku buluk itu?"
"Jelas buku itu buluk dan tidak terawat, itu yang membuat saya curiga dengan isi buku itu, Claire! Anda tidak ingat kalau saya juga bisa merasakan aura aneh disekitar saya?" Tekanan nada Dai mulai membentak.
"Mau sampai kapan anda terus penasaran dengan buku itu? Percuma juga jika anda ingin mengetahui isi buku itu, anda akan menyesal setelah mengetahui--"
"Itu tujuan saya, madam! Saya sudah bersumpah untuk mempercayai anda sampai detik ini dan yang anda berikan tentang buku itu hanya ampas rokok?!"
"Setidaknya anda paham akan peringatan saya. Saya berharap anda hati-hati dengan keputusan anda dan memahami... Situasi." Ucap madam Claire dengan tenang.
Dengan berkata begitu, Dai reflek tidak setuju. Malam itu ia memutuskan untuk tidak mempercayainya lagi. Makan malam yang lumayan buruk di ekor jamuan. Mereka sudah menduga hal itu akan terjadi. Namun berbaikkan adalah satu-satunya jalan untuk kembali menjalani karir mereka, bersama.
Seminggu terlewatkan. Akhir-akhir ini madam Claire sibuk mengurus jadwal pertunjukkan untuknya dan Dai, malam natal di istana kerajaan. Lagi-lagi pikirannya tidak tenang. Demi menghilangkan keresahan, ia menemui Katie sebagai pengalihan.
Katie langsung menanyakan keadaannya sembari menjamu teh. Ia mengabaikan sapaan dan teh dari Katie.
"Nona Katie, anda mengerti arti menikah, bukan?"
Katie berhenti menuang teh dan mengangguk berat, antara tahu sekilas atau pura-pura tahu agar ia tidak terlalu mencemaskannya.
Ia menarik nafas berat. "Bisakah anda beritahu saya alasan kuat anda menikahi pria yang anda kenal satu bulan saja? Apakah anda sendiri kenal siapa itu tuan P.D?"
Katie diam beberapa detik dan menggeleng kepalanya lamban. Reaksinya tenang, namun bukan karena merasa lega, ia tidak percaya harus mengatakan ini pada seseorang yang tidak ia cintai.
"Nona, kalau anda benar-benar ingin menikah, saya beri anda waktu melimpah untuk berpikir, dan memahami sifat kita, satu sama lain."
Katie menyebut namanya dengan gelisah.
"Pelan-pelan tapi pasti, nona. Saya tahu waktu terus berjalan seakan terus laju tak berujung. Dan pernikahan ada karena hubungan dua arah, dan saling percaya."
"Tapi itu tidak mudah--" nada Katie sedikit menaik.
"Selama anda percaya dengan saya, tidak ada yang akan mengkhianati anda."
Hening, tidak ada respon apapun dari Katie. Ia keluar dari toko roti dan kembali ke karirnya. Padahal hatinya ingin sekali memberitahu segala sesuatu yang dia tidak ketahui. Namun batinnya terus mengatakan "sia-sia merawat pohon apel di lumpur."
Siang hari sambil mempersiapkan panggungnya, Dai menyempatkan beli koran harian eksklusif. Ia menumpang di toko roti Amber sebentar, namun tidak menemukan Katie, ayahnya sendirian di dapur menunggu roti di oven sambil merokok. Dai kembali baca koran usai mengingatkan sang ayah untuk tidak merokok di dalam ruangan. Separuh halaman koran membahas pertunjukkannya di istana kerajaan, selain itu mengenai berita di Eropa dan beberapa di Asia dan Amerika.
Mata Dai tiba-tiba terpancing ke suara pintu terbuka; Katie masuk bersama seorang pria dengan lemah dan wajah pucat. Katie baru saja dari toko obat dan nyaris pingsan di tengah jalan, cerita seorang pria yang mengantarnya. Ia tentu heran akan reaksi sang ayah yang sangat tenang, berterima kasih pun tidak. Tuan Baker membawa Katie ke kamar dan langsung kembali ke dapur. Sang pria tiba-tiba sangat mengenal Dai setelah menilik wajahnya. Pria itu bukan penggemar berat, namun terkesan dengan salah satu triknya mengeluarkan seikat bunga dari topi. Ia maklumi kalau tidak semua orang bisa menikmati setiap sulapnya. Entah dari mana, tanpa pria itu menanyakan bahwa dirinya adalah kekasih wanita gingham atau hanya teman. Dai diam dan menatap dingin pria itu, "Tidakkah anda punya pertanyaan yang lebih bagus dari itu?"
"Tentu tidak, lantas dia tidak berhenti membicarakan tentang anda setiap bertemu dengan saya."
Ia menyipitkan mata, "Memangnya anda siapa?"
"Nama saya Joel. Saya mantan kekasih Katie. Kami berpisah tiga bulan lalu dengan alasan finansial ayahnya. Tapi dia selalu mengucapkan janji padaku setelah toko ayahnya sukses dia akan kembali padaku."
Dai mematung sambil menatap kosong pria itu. Ia pergi begitu saja, mengabaikan sisa kalimat dari pria itu, tidak mengharapkan penjelasan apapun setelah itu.
Pertunjukkan malam tahun baru adalah jatahnya. Kali ini ia menunjukkan sulap yang tidak seorang pun dapat menduga. Kebetulan tidak ada anak-anak dibawah sepuluh tahun datang ke pertunjukkannya.
Pertunjukkan dimulai. Sang ratu, pangeran dan putri duduk di balkon atas dengan tenang. Ia mulai dengan berjalan ke tengah panggung dan membiarkan suasana hening. Asistennya menaruh kursi kayu dan ia duduk. Madam Claire diminta untuk nonton juga, katanya pertunjukkannya hari ini akan sangat berbeda, spesial untuk para bangsawan.
Ia duduk di kursi elegan berwarna merah dengan kayu berwarna keemasan yang telah disediakan, lalu menghilangkan postur tubuh, dan bicara, dengan tenang, selaris dengan kekosongan dirinya yang menyelimuti rasa penasaran penonton. Ia bicara satu bait penuh hayat, menyampaikan perumpamaan seseorang dengan burung gagak berwarna putih yang bertahan hidup di lingkungan dimana para hewan disana membencinya. Ia membuka topinya dan burung gagak putih terbang tinggi memapasi panggung, penonton kagum. Ia melanjutkan; burung gagak yang tinggal di dunia salju pun melentangkan sayap dan terbang ke ufuk timur, mencari dunia yang mau menerimanya. Panggung perlahan menjatuhkan butiran salju dari atas, penonton terkejut, saling bisik. Dai lanjut bicara sambil berdiri, ia melangkah perlahan dan menceritakan gagak putih itu jatuh karena keteledoran sendiri yang telah menerobos bebatuan tajam dan tebal. Ia melepas topi dan gagak putih jatuh dari atas. Panggung hening, madam Claire tetap menyimak. Namun sang pangeran memajukan kepalanya karena semakin penasaran.
"Mati karena ditolak, mati karena perbedaan, mati karena bisu, mati karena kebodohan..." Ucapnya penuh hayat. Bertambah satu sorot cahaya dari atas menyinari burung gagak putih yang terbaring. Ia mengakhiri kisah gagak putih dengan menyempurnakan karakter dari sang gagak.
"Burung yang unik, namun tak berdaya, punya mimpi namun tak pernah terkabulkan. Menolak kebaikan, menerima kutukan, itulah yang sang gagak terima." Ia mengambil gagak putih yang terbaring lemah di lantai panggung. Bulunya yang seputih salju kini berwarna kemerahan. "Sang gagak yang malang tersenyum pada cahaya didepannya. Alam menyeringai padanya. Sang gagak masih punya satu harapan; pulang dalam damai."
Hening beberapa detik, lalu para penonton berdiri dan bertepuk tangan, sambil terdengar teriakan "bravo!". Ratu dan pasangan bangsawan muda ikut berdiri dan bertepuk tangan. Madam Claire masih duduk tenang.
Di sela Dai merumpi dengan para bangsawan, madam Claire memanggilnya. Mereka membuat rapat rahasia di tenda madam Claire.
Madam Claire tidak basa basi lagi, langsung menanyakan bagaimana Dai bisa mempelajari sulap tanpa mempelajari yang ada di buku paduan sedikitpun, bahkan madam Claire sempat parno jika ia mempunyai kekuatan supernatural. Ia menggeleng berat dan menjelaskan bahwa ia hanya manusia biasa, tidak mempunyai kekuatan apapun. Kalaupun ada, sejak awal ia sudah ceritakan. Madam Claire akhirnya mengizinkannya pulang.
"Tuan P.D, jangan lupa akan perjanjian kita." Madam Claire mengingatkan sembari menatap punggungnya.
"Tentu saja, madam! Sejak awal pertunjukkan tadi hanya ilusi, tak perlu anda cemaskan."
Madam Claire menatapnya dengan ujung mata. Lalu berbisik dalam hati, "kenapa engkau sampai rela menunjukkan efek delusimu ke kenyataan?"
Dai di perjalanan pulang terus menuntut mulutnya untuk diam.
Menginjak akhir bulan Januari, ia mendapat telepon dari rumah sakit, menginformasikan bahwa ibunya sakit terkena osteoporosis. Dokter menyebut jumlah dana yang diperlukan untuk penyembuhan, namun masih kurang. Meski kakaknya sudah menambahkan, angka yang dicapai masih sangat jauh. Tepat setelah dokter menelepon, giliran kakaknya.
"Hei, Die (mati), anda sudah tahu kalau ibumu sedang dirawat? Anda tahu kalau sulapmu tidak bisa menyembuhkan ibu?"
"Craig, sudah saya katakan; meski saya terkenal, bukan berarti upah yang saya peroleh sangat banyak."
"Lantas anda mau apakan ibu setelah dia sudah tiada? Mengantar nyawanya pada malaikat kematian? Kau mau mengokoh dosa-dosanya dengan tanganmu?"
"Putain de Merde! Itu tidak lucu, dasar kadal lepek!"
"Bonsang! Anda bukan adik saya lagi, ya! Persetan dengan namamu yang sedang naik daun, mengulurkan sedikit uang saja tidak becus!"
"Setidaknya ibu sadar dulu apa yang sudah dia perbuat pada ayah."
Telepon dari kakak sudah terputus.
Ia membeli seikat bunga varian warna merah, kuning dan merah muda. Lanjut pergi membeli roti di toko roti langganannya untuk mengurangi rasa lapar sang ibu.
Tiba di toko roti, ia sudah disambut tuan Baker yang sangat berbeda dari biasa; membaca koran sambil merokok dan membiarkan radio menyala cukup keras, tatapan tuan Baker juga murung. Ia reflek berpikir positif; mungkin saja dia sedikit kesal karena tokonya sepi.
"Selamat pagi, tuan Baker! Maaf saya sedikit terburu-buru. Bisakah saya ambil satu buah french bread itu?"
Tuan Baker tidak merespon.
"Emm... Tuan Baker? Maaf lancang, itu untuk ibu saya, dia sedang dirawat dan sangat suka french bread. Saya pikir untuk mengambil satu saja cukup untuk beliau."
Sambil menerima kembalian, "Tuan Baker, ini saya, tuan P.D! Ingat?" Bujuk Dai.
"Jika tidak ada keperluan lain silahkan pergi dari sini!" Tegas tuan Baker tanpa menoleh sedikitpun.
Ia termangu, menyadari ada yang tidak beres dengan keadaan sekitarnya. Sebelum tuan Baker meluapkan amarah, ia segera keluar dari toko.
"Nyonya Brittany Peterson berada di kamar nomor 92 lantai lima." Jelas seorang receptionist. Setiba di depan kamar ibu, ia menarik napas dalam-dalam, hal yang lumrah sebelum bertemu orang tuanya.
Ia mengetuk pintu dan masuk sambil berkata "permisi" dengan halus. Sedangkan ibunya merespon dengan nada tidak enak didengar.
"Craig? Kemana adikmu itu? Katamu mau diantarkan?!"
"Ini Dai, ibu. Saya datang sendiri. Kakak kelihatannya masih sibuk."
"Craig tidak sibuk, beliau kesal karena watakmu seperti anak tidak tahu terima kasih!"
Ia menghela napas berat. Ketika ia menunjukkan seikat bunga dan roti sang ibu terdiam dan menatap tajam.
"Kenapa baru sekarang memberiku sesuatu seperti ini?"
Dai masih mengabaikan ocehan sang ibu. Ia duduk di kursi sebelah ranjang ibunya. Dengan berat hati beritahu bahwa ia belum bisa menyumbang sisa dana untuk melunasi biaya perawatan. Setelah Dai menyebut berapa persen dana yang ia mampu bayar, sang ibu menyambar kalau selama ini dugaannya benar. Sambil mengucapkan kata kasar dengan bahasa Perancis, sang ibu terus mengoceh tentang keserakahannya yang turun dari sang ayah. Kemudian terus menceramahinya tentang ayah yang pergi hingga bertemu pertengkaran saat kakaknya berumur 16 tahun. Dai berumur 12 tahun yang tidak tahu apa-apa namun masih berlinang di kamar bersama dengan imajinasinya dan berlagak seperti seorang pesulap. Juga sedih karena faktanya bahwa putra bungsunya di usia remaja menderita psychosis. Kepolosannya waktu remaja percaya bahwa obat pil yang ibunya tinggalkan di kamar merupakan penambah kekuatan super yang ia dambakan. Kini beliau hanya pasrah melihat putranya tumbuh hanya bisa menghibur dan tak menghasilkan uang sepeser pun di tabungannya, olok sang ibu. Dai berusaha tidak mendengar namun tidak bisa. Dengan wajah murung pun sang ibu tidak peduli. Lalu ia memotong ucapan ibunya saat menjelek-jelekkan karirnya.
"Hei, pernahkah ibu sesekali bersyukur? Pernahkah ibu sesekali memiliki rasa bangga pada anak-anak dan keluarganya sendiri?"
"Saya belum selesai bicara, dasar anak tidak tahu--"
"Ayah pergi karena ada alasan. Tidak seperti ibu yang menceraikan ayah begitu saja." Ibunya membungkam. "Tak apa, ibu. Tolong beritahu saya kalau punya alasan; apa saja!"
Ibu masih menatap dengan tatapan bimbang. Perlahan ibunya menggeleng kepalanya. "Ibu tidak tahu salah ibu apa. Tapi sudah jelas ayahmu juga salah. Dia tidak pernah bilang pada saya kalau beliau sedang ada uang atau tidak, punya wanita simpanan atau tidak. Kalian tahu kalau ibu tidak bisa bekerja terus menerus seperti ayahmu."
Dai terdiam sejenak sambil menarik napas. "Itu yang saya mau. Sebaiknya ibu ingat kata-kata tadi dan katakan langsung pada ayah." Ia berdiri gontai dan keluar. Sontak ia berbalik badan ke ruangan untuk mengambil dua tangkai bunga sambil minta izin ke sang ibu. Respon ibu tetap nol.
Dua tangkai bunga yang ia bawa merupakan warna yang mendekati warna baju gingham Katie. Ia tiba di depan toko roti Amber dan hendak mengetuk. Tangannya mendadak berhenti setelah melihat pasangan di belakang tumpukkan gentong. Ragu jika matanya tidak salah lihat, ia diam-diam menghampiri pasangan itu sambil menyembunyikan bunga.
Belum terlalu dekat pun ia bisa melihat dengan jelas pasangan itu adalah Katie dengan mantan kekasihnya Joel. Matanya jelas tidak ingin melihat mereka berpelukkan, bahkan sampai berciuman. Saat itu, pikiran Dai yang selalu penuh kini kosong sangat cepat seperti spong menyerap air. Bahkan bentuk matanya yang bulat kini meredup, ikan segar telah membusuk. Dengan paras wajah seperti itu, menjelaskan bahwa ia bebas dari mengurus keuangan, rencana pernikahan, bahkan kepercayaannya pada Katie.
Dai menghampiri Katie seperti sesuatu yang sangat normal. "Selamat siang, nona Katie!"
Katie kaget dan menolehnya.
"Dan selamat atas hubungan kalian yang kembali normal. Saya hanya mau memberikan bunga ini; sisa dari menjenguk ibu saya--"
Katie menegas sebelum ia selesai bicara. "Tuan Dai! Maskud saya... Tuan P.D! Aku mohon, dengarkan saya!"
"Tidak perlu, Nona. Semua masalah sudah selesai, bukan? Pria tampan disana sudah mendahului saya tanpa basa-basi, seperti yang anda inginkan, bukan begitu?"
Katie cemas sambil sesekali menoleh sang mantan kekasih di belakang. "P.D, saya..."
"Katie, aku mohon, lepaskan saya..." Sambil memasang wajah murung.
Katie terdiam, lalu mengangguk kepalanya dengan berat. Keraguan Katie masih melekat di dalam dirinya. Dan lagi, meski seorang wanita mempunyai sisi licik, Dai sebagai seorang pria biasa yang mampu meraih cita-citanya masih memaafkan dan menghormati.
Ia terus berjalan tanpa lihat ke belakang. Dai melangkah dengan lapang dada. Pikirannya tentang pernikahan dan kerja sama dengan toko roti keluarga Baker lenyap begitu saja menjadi asap, terutama--pada buku sampul biru. Dengan percaya diri ia tersenyum di depan proposal yang ia sudah rencanakan.
Dai menyapa para pekerja bangunan yang sedang beristirahat di dalam. Mereka tentu mengenalinya dengan baik. Mereka menyapa Dai bersamaan, seperti mencium akan mendapat upah melimpah dari seorang pesulap ternama.
"Anda akan buka pos surat, tuan P.D?" Salah satu pekerja bertanya.
"Bukan. Ini untuk bisnis sampingan saya. Dan bonus untuk kalian adalah 40 persen setelah selesai dibangun. Saya hanya butuh kepercayaan kalian. Rahasiakan tujuan pembangunan bisnis ini dan samakan persis dengan yang ada di kertas ini."
Diperlihatkanlah kertas kecoklatan muda lengkap dengan gambar sketsa dan penjelasan. Para pekerja menelaah sambil sesekali mengangguk. Salah satu yang mewakili mereka tersenyum padanya, seolah mengatakan tidak ada yang tidak bisa kalau berusaha.
1×5 jam setiap hari Dai mengunjungi mereka di lokasi yang sudah mereka temukan--tidak terlalu jauh dan dekat dari apartemennya. Kayu yang menggunung hari demi hari menipis. Minggu kedua, toko kecil yang sudah terbentuk sebagian sudah di cat. Selama pembangunan toko, kali ini saja ia bisa tersenyum sungguhan dari lubuk hatinya. Ia tak sabar memperlihatkan atraksi spesial darinya.
Sehari sesudah toko kecilnya selesai, ia langsung minta menaruh namanya di beberapa koran ternama, seperti Daily Royal, Daily Telegram, dan The Times. Koran terbit dan siap disebarkan. Dalam dua hari banyak orang menumbuhkan rasa antusias yang sangat besar. Bahkan sang pangeran yang rajin membaca Daily Royal mengangguk dengan atraksi barunya.
Hari yang ditunggu pun tiba. Tanpa teater mewah, digantikan dengan tenda untuk berteduh, orang-orang mengantri hingga antrian memanjang ke perumahan kelima. Tamu pertama langsung terkesan dengan atraksinya yang hanya duduk tenang di belakang bola kristal. Dai cukup menyampaikan ramalan masa depan setiap tamu di depan tokonya. Harga ramalan yang ia jual hanya tergantung seberapa puasnya tamu-tamu disana.
"Selamat siang, Tuan P.D." sapa salah seorang nasabah bank.
"Anda mengenal saya?"
"Tentu saja, nama anda sudah menyebar kemana-mana, tuan. Dan anak saya penggemar berat anda."
Ia bergumam. "Begitu, ya. Saya mau ambil dari tabungan." Ucapnya sambil melepas topi.
"Tabungan anda hampir penuh, tuan. Beruntung hari ini anda mengambil separuh tabungan anda."
Ia mengangguk-angguk.
"Lalu... Bagaimana bisnis baru anda, tuan?"
"Lancar, seperti saat pertunjukkan." Jawabnya santai.
Hampir dua bulan terlewati, bisnis meramalnya terus naik dengan konsisten. Keluarga Baker dan Peterson tahu akan hal itu. Reaksi sang ibu tetap biasa saja, begitu juga dengan kakaknya. Tuan Baker mengucek koran dan melempar ke tumpukkan sampah di gang sempit. Katie hanya diam di tempat duduk. Seorang seperti Dai tidak pantas dimanfaatkan dan ditinggalkan begitu saja, batinnya.
Hari-hari yang terlewati membuat Dai teringat sesuatu--ia tidak melihat tenda khas milik Madam Claire. Sekalipun melihat tenda yang hampir serupa, pikirannya tentang Madam Claire langsung terlintas.
Pagi hingga petang, ia hampir meninggalkan karirnya sebagai pesulap. Perlahan-lahan, hal yang tidak ia duga menghampirinya. Ia bertanya pada pemilik sirkus yang sedang merokok di depan panggung kosong tempat pertunjukkan sulapnya. Ia segera menanyakan jadwal pertunjukkan Madam Claire. Sang pemilik sirkus terdiam dengan mata sedikit melotot.
"Siapa? Madam Claire?"
Dai menjawab "iya" ragu.
"Siapa itu madam Claire? Saya tidak pernah dengar nama itu!"
"Madam Claire adalah pesulap juga seperti saya, dan beliau bekerja sudah empat tahun!"
"Hah? Bukannya anda satu-satunya pesulap disini? Maksud saya, saya selalu mengingat siapapun yang menyewa panggung ini."
Dai membungkam di hadapan sang pemilik sirkus.
Ia terkapar lemas di ranjangnya dengan posisi terlentang, merasa keganjilan yang datang membuatnya kesulitan berpikir jernih. Telinganya yang hening pelan-pelan mendengar bisikan aneh, seperti bertanya kenapa dan bagaimana, juga suara yang ia selalu dengar dari ibu dan beberapa orang yang ia kenal. Napasnya menderu, keringat mengalir di dahi hingga leher, membasahi ketiak, pandangannya perlahan mengabur, akhirnya tertidur pulas.
Dai terbangun pukul tiga dini hari. Dalam Hati ia berkata "time of the ox". Ia percaya bahwa makhluk dari alam akhirat memanggilnya. Dai memutuskan mandi. Sambil merasakan air mengalir, ia juga merasakan kehampaan pada tetangga di kamar sebelah. Ia terus parno, terutama pada eksistensial seorang wanita bernama Claire. Sejauh ini ia tak pernah memikirkan nama lengkap dan identitas wanita Claire itu. Atau mungkin saja ada yang tidak beres dengan memorinya. Setelah sekian lama menghabiskan separuh hari di toko kecilnya, ia sadar kalau ia hampir lupa cara bersulap. Ia juga hampir lupa orang-orang yang pernah ia temui; Katie, tuan Baker, pesulap ternama yang pernah ia temui, bahkan ratu dan pangeran kerajaan.
Matahari tampak jelas di ufuk timur. Dai menatap matahari lewat gorden yang tertutup setengah. Sinar itu menyinari kepala dan dadanya vertikal. Paras wajahnya kosong, tak bernyawa sampai selarik cahaya menyinari pupil matanya. Lalu ia melangkah gontai ke kamar mandi, tak lupa membenturkan kepala kosongnya ke kayu pintu. Air hangat dari sinar mentari mengembalikan nyawanya yang pergi entah kemana. Beberapa saat kemudian telepon berdering. Dai melangkah dan menggenggam ganggang telepon dengan gemetar.
"Dengan tuan Dai Peterson?" Suara dari telepon yang terdengar berat dan samar. Pendengarannya belum sepenuhnya kembali normal.
"Iya... Dengan saya sendiri..." Suaranya juga masih patah-patah.
"Saya dokter Willard, yang mengurus ibu anda. Tadi malam suster mengabarkan bahwa beliau tidak bernafas dan matanya melotot kaku. Maaf jika terkesan lancang, kami menyatakan nyonya Brittany meninggal dunia. Karena biaya perawatan nyonya Brittany juga belum lunas, saya hanya bisa mengirim suster untuk merawatnya, tapi tidak begitu lama. Kami turut berduka cita, tuan Peterson."
Reaksinya datar, juga tidak memberi respon apapun.
"Oh! Baru saja kakak anda--tuan Craig kemari dan sudah mengetahui hal ini--"
"Pak, saya paham, mohon segera tutup telepon ini sebelum--"
Kakaknya berhasil meraih telepon dokter.
"DAI, MERDE! HENTIKAN RAMALAN TIDAK MASUK AKAL ITU, ATAU SAYA PANGGIL POLISI--"
Tanpa pikir panjang ia menutup telepon.
Esoknya mereka mengadakan pemakaman untuk sang ibu. Kerabat dan orang-orang penting yang mengenalnya juga datang sebagai tanda hormat. Sang kakak tidak terima saat adiknya lebih banyak memperoleh ucapan. Dia yang paling sedih karena harus menghadapi dua orang aneh di keluarga; ayah yang kabur dan adik penyihir (rumor para pesulap disangka melakukan itu dengan bantuan sihir). Sang kakak sudah dengar dari banyak orang tentang ramalan yang tak pernah meleset. Saat itu juga, sang kakak memanggil teman lamanya seorang inspektur dan menyewa seorang psikolog. Sang kakak meminta mereka untuk menyamar, sebisa mungkin hingga orang-orang tidak mengenal mereka. Karena Dai adalah pesulap, ia tidak akan meninggalkan hal kecil apapun di sekitarnya.
Tepat esok hari sang inspektur dan psikolog benar-benar merubah penampilan, dari gaya rambut, jenggot, hingga gaya sepatu. Sang psikolog berpura-pura menjadi orang buta bertongkat yang hanya duduk di bangku taman--seberang toko kecilnya.
Sang inspektur ikut mengantri. Sekitar tiga puluh menit sudah mencapai giliran sang inspektur.
"Tuan, anak saya sebentar lagi menginjak kelulusan SMA nya, namun beliau baru saja terkena demam tinggi. Badannya panas, sekitar 43 derajat Celsius. Namun setelah saya dan istri saya bawa ke dokter, mereka mengatakan bahwa anak saya tidak demam, melainkan punya kekhawatiran yang besar. Seminggu sebelum ujian, anak saya tidak mau belajar, berkeringat dan lemas. Beliau sulit tidur seminggu ini.
Kami memutuskan izin beberapa hari tidak mengikuti ujian dan membawanya ke rumah sakit lagi. Kali ini kata dokter beliau terkena penyakit jantung karena setelah diperiksa jantungnya berdebar sangat cepat. Berdasarkan dokter yang berbeda menyatakan anak saya punya penyakit jantung atau anemia. Saya sangat bingung, saya harus apa terhadap anak saya, tuan!"
Dai mengedipkan matanya sekali setelah selesai mendengarkan kalimat tidak logis dari pelanggan satu ini.
Sambil mengucek matanya, "Tuan, bukankah sudah jelas apa yang akan terjadi setelah itu?"
"Maksud anda?"
"Penyakit semacam itu terdengar langka. Lantas anda dan istri anda tidak percaya kata-kata dokter, bukan?"
Sang inspektur terdiam.
"Penyakit yang tidak biasa, antara penyakit jantung atau anemia. Saya tidak percaya keduanya juga. Bahkan tanpa menerawang pun saya sudah tahu anda harus berbuat apa."
Hening. Pelanggan yang mengantri ikut menyimak.
"Kehadiran anda disini adalah jawabnya."
Inspektur tersenyum tipis.
"Itu berarti... Anda tidak bisa melakukan apapun lagi dengan anak tercinta anda. Saya adalah puncak jawaban anda. Kalau saya menerawang sebanyak lima puluh lima ribu tiga ratus dua puluh empat kali juga akan berakhir ke saya--"
"Tidak juga." Potong sang inspektur. Dai diam dan tidak melirik kemanapun.
"Puncaknya tetap kepada anda. Namun, bagaimana kalau saya memilih penyakit anak saya ada karena anda?"
Pelanggan di antrian saling berbisik meliputi rasa curiga dan misterius. Dai membuang semua napas yang ia tumpuk.
"Lantas untuk apa, saya menceritakan hal yang tidak jelas tentang anak saya? Saya bocorkan sedikit pada anda. Saya tahu tesis anda setahun lalu, anda punya penyakit sama dengan anak saya; anxiety. Dan anda terlalu membuat-buat mereka percaya bahwa ramalan anda benar, bermula dari anda yang secara bersamaan mencegah kegelisahan mereka." Jelas inspektur sambil menoleh pelanggan yang mengantri di belakang inspektur. "Jangan khawatir, tuan P.D, kami punya saran bagus untuk anda!"
"Kami?" Ia curiga. Kemudian matanya langsung menatap ke seseorang berkacamata hitam yang duduk sendirian di bangku taman. Pikirnya bahwa tidak mungkin seorang buta ingin duduk di tempat sekitar kerumunan yang sesak. Ia berasumsi mereka berasal dari kepolisian yang dikirim oleh orang yang dekat dengannya.
"Angkat tangan, tuan!" Ucap inspektur dengan nada halus, sambil mengacungkan pistol di depan dahinya. "Cukup angkat tangan, anda akan dibebaskan kurang dari setengah jam. Begitulah ramalan saya--"
Sontak suara inspektur tertahan sesuatu yang tak terlihat. Di leher inspektur seperti ada bekas genggaman tangan sangat besar yang terus menekan suaranya. Inspektur yang malang tidak dapat menjerit memanggil sang psikolog di belakang sana. Namun, tetap saja, pelanggan yang mengantri adalah saksi mata. Dai melakukan itu tanpa ampun, terlihat jelas di paras wajahnya yang geram namun dingin.
Drama berakhir setelah suara tembakan di langit terdengar. Tembakan pertanda yang berasal dari sang psikolog mengejutkan para pelanggan. Terdengar juga suara para polisi yang sigap berlari ke keramaian. Dai melepas cekikan dan menabur beberapa bom asap warna warni (yang ia gunakan saat pertunjukkan). Beberapa polisi membubarkan pelanggan itu, sisanya memeriksa keadaan inspektur dan psikolog.
"Lebih baik anda segera laporkan ke kakak beliau!" Tegas sang inspektur.
Psikolog dengan sifatnya yang sangat tenang dan teliti menilik isi toko kecilnya, sambil membaca makna benda yang ia simpan di toko itu.
Dalam sekejap setelah Dai kabur, asap warna-warni itu menghilang. Pelanggan tidak ada satupun yang terluka, namun, sayangnya saat di introgasi beberapa polisi tidak ada satupun dari mereka yang ingat.
Craig menerima laporan setelah antusias datang ke kantor polisi. Sesuai dengan penjelasan inspektur, Craig langsung menyatakan, Dai pantas di cari atas tindakan kriminalnya. Craig berbisik dalam hati seolah sedang bicara dengan adiknya; kalaupun ia pergi jauh, Craig berharap ia mau bertobat dari keegoisannya.
Dai telah membulatkan keputusan. Terik siang hari mengantar bayangannya ke suatu tempat nun jauh dari habitatnya. Bersama dengan bayangan ia membeli tiket tujuan Manchester. Ia menyewa tenda kecil untuk pertunjukkan terakhirnya selama seminggu. Tabungan yang ia bawa hanya digunakan untuk menginap. Hujan deras menyiram kota. Dingin dan sejuk adalah momen yang sangat ia nantikan, ia tak ragu rasakan langsung di balik bingkai jendela yang terbuka. Udara pengap hotel pun lenyap.
Sambil menggenggam sebuah kertas ia menatapi hujan dengan tatapan lesu. Ia kembali merasakan "jatuh di ujung tanduk". Sesekali ia menatap kertas yang merupakan poster buruan. Dai kini adalah buron yang telah menipu puluhan orang tiap harinya dengan segala macam ramalan yang dianggap di luar logis. Tatapan lesu terhadap foto wajah dirinya yang terlihat menyedihkan seperti dahulu, seakan dua orang bertemu untuk menantang realita, atau satu orang dengan dua jiwa yang saling melawan. Semakin menikmati hujan, ia juga semakin malas memikirkan rencana nanti setelah kerja menjadi pesulap lagi. Namun ia semakin memikirkan reaksi orang-orang akan seperti apa, seberapa cukup uang yang ia peroleh untuk pergi lebih jauh dari Eropa, hingga siapa madam Claire yang sebenarnya. Membayangkan soal madam Claire, pula ia hampir lupa siapa dirinya.
Pertunjukkan di hari ke lima pun berjalan lancar, namun ia sempat lesu setelah memperoleh berapa banyak uang yang ia peroleh. Ia paksa memasang senyum di depan beberapa penonton yang antusias bertatap muka dengannya. Beberapa ada yang mengenalinya lewat media dan sering menyaksikan pertunjukkan. Dai menerima antusias mereka, sampai sesaat kemudian, ia disapa seorang wanita. Sang wanita mengakui dia hanya janda sangat menikmati pertunjukkannya.
"Bertahanlah sedikit lagi..." Teriaknya dalam hati. Ia sadar senyumnya perlahan kaku dan merosot, namun masih melontarkan kata-kata sopan dihadapan sang wanita janda. Kemudian sang wanita janda memperlihatkan "tamu spesial" padanya. Tamu spesial yang merupakan seorang anak kecil sekitar umur empat belas dan lima belas tahun, dengan kedua mata tertutup dengan kain buluk, serta tongkat setinggi badannya, berlagak bangsawan pelan-pelan melangkah kepadanya.
Dai terpicu, kedua matanya terbuka sangat lebar, kaget bukan kepalang. Ia memperhatikan anak kecil itu dan hampir mengabaikan kalimat sang wanita janda. Lalu sang wanita janda menjelaskan setelah Dai kembali menyimak. Amanda, putri satu-satunya menderita buta sejak umur tujuh tahun. Tidak sekolah namun diajarkan untuk memiliki cita-cita sebesar apapun itu. Namun Amanda adalah putri yang mempunyai cita-cita sangat indah, dan wanita janda ingin sekali Dai bisa bantu mengabulkan cita-cita anak kecil itu.
Dai itu adalah pria yang sekalinya suasana hati sedang rusak, akan memakan waktu sangat lama untuk memulihkannya. Jika merasa tidak nyaman, ia akan terang-terangan pada siapapun, seraya tenggorokannya terlalu berat untuk mengeluarkan beberapa kalimat. Karena sifat itu juga yang membuatnya sangat ragu jika benar-benar akan menikahi Katie.
Dai menunduk dan menatap Amanda sang anak kecil nan imut. Ia menyebut namanya dengan lembut sebagai pembuka. Ia tidak ingin menyakiti hati sang anak kecil, melainkan membuatnya menyesal telah menemui seseorang seperti Tuan P.D.
"Tuan pesulap P.D? Apakah ini sungguhan? Saya sudah lama menanti momen ini!"
Sang ibu dari anak kecil tertawa manis. "Tentu saja, nak! Dia tuan P.D yang selama ini ibu ceritakan!"
Sang anak kecil tergirang-girang dengan keadaan yang menyedihkan. Dai sedikit mengerutkan dahi.
"Tuan P.D! Bisakah anda mengabulkan cita-cita saya?"
Dai menghela nafas sebelum mendengar kalimat selanjutnya. "Apa itu, nak?"
"Bisakah anda membuat saya bisa melihat?" Tanya anak kecil penuh antusias.
Dai membeku di tempat. Ia mengeluh; mengapa harus bertemu hal sebegitu aneh. Pikirannya tetap kosong karena suasana hatinya, dan bertabrakan dengan tindakan yang seharusnya ia lakukan. Dan lagi-lagi ia "terpaksa".
"Nak, saya bisa menghibur siapapun, namun tidak bisa mengabulkan keinginan, cita-cita, apapun itu." Ia sudah menduga seperti apa reaksi sang wanita janda dan putrinya. "Saya hanya pesulap sirkus. Saya tidak tahu apa-apa tentang menyembuhkan."
"Tuan, saya tidak masalah jika anda berkata begitu, tapi... jangan pada putri saya!" Sang wanita janda gelisah.
Masih memandangi sang anak kecil, "Saya juga punya mimpi yang sama dengan mimpi anda, nona Amanda. Namun saya menghukum saya sendiri karena terus menempelkan mimpi aneh saya dalam diri saya. Saya buang dan berubah menjadi mimpi yang realistis. Dengan begitu, saya bisa hidup dengan tenang mengikuti arus kehidupan, seperti yang anda temui sekarang."
Amanda membisu. Kemudian sang ibu menyinggah. "Tuan P.D, mengapa anda bicara begitu?"
Ia menarik beberapa lembar uang dari lubang lengan bajunya layaknya sedang menunjukkan sulap dan berikan kepada sang ibu tanpa basa-basi.
"Ini sedikit bantuan dari saya untuk mengabulkan cita-cita anak anda, nyonya Sunday. Semoga anak anda cepat--"
"Perawatan? Operasi? Apa maksud semua ini, tuan P.D?"
"Uluran bantuan, nyonya."
Kalimat sang ibu terbata-bata. Lalu Amanda menyambar. Dengan begini orang-orang sekitar dengan mudah menyaksikan.
"Tuan, saya penggemar berat anda! Walau saya tidak melihat, namun saya bisa merasakan! Saya tahu ibu sedang sedih!"
Sang ibu membungkuk sedikit dan mengelus kepala putrinya dengan maksud ibunya baik-baik saja.
"Saya punya harapan, tuan! Harapan seseorang tidak akan mati!" Amanda masih menyambar.
"Nak, jika sudah selesai, tuan pergi dulu, ya! Tuan P.D sangat terburu-buru sekarang. Selamat sore." Sambil memakai topi dan memutar badan.
"Untuk menipu orang-orang lagi?"
Langkah gesitnya tertahan, matanya melotot, setetes keringat mengucur di dahinya. Ia menelan ludah, masih tidak percaya bahwa seorang anak kecil yang bicara begitu. Ia bisa merasakan orang-orang memandanginya tanpa perlu melirik, seperti para iblis mengelilinginya dengan senyuman sinis dan tampang mengerikan. Tak lama, sang ibu ikut bertanya di tengah kegelisahannya.
"Tuan P.D, sebenarnya... mimpi anda yang sama seperti putri saya apa?" Wajah sang ibu masih murung.
Ia membuat hening sejenak agar bisa kembali bicara dengan normal. Ia pun menjawab, "Menjadi seorang yang jujur." tanpa memandangi sang ibu dan anak lagi.
Sudah terlambat, semua orang sudah tahu kebusukan pesulap dan peramal bernama P.D ini. Ia sadar akan hal itu, naas masih sulit melupakannya.
Malam itu tidak hujan. Sebagai gantinya ia membuka lebar-lebar jendela di kamarnya. Ia tidur dengan angin malam yang menyengat, seperti yang ia inginkan. Ia tidak bermimpi apapun, tapi sulit melupakan kalimat dari sang anak kecil; harapan orang-orang tidak akan mati.
Telepon berdering di siang bolong. Ia membuka matanya yang Kaku setelah cahaya mentari sebesar kelereng masuk ke bola mata. Ia kesal untuk yang pertama kalinya pada sang mentari. Perutnya berbunyi, namun ia tidak peduli. Ia berjalan gontai ke telepon yang terus berdering setiap lima detik.
"Halo?" Ucapnya seperti singa yang mengamuk.
"Biar saya tebak. Anda sedang di Manchester, bukan?" Kata seorang dibalik telepon.
"Craig keparat! Anda tahu dari siapa?"
Craig cekikikan beberapa saat. "Memangnya apa yang kakak tidak tahu dari adik saya sendiri? Yang seenaknya menghilang dari kulit kacangnya setelah ibu meninggal dunia."
"Bagaimana pun juga saya tidak akan kembali ke tanah keluarga maupun apartemen saya. Saya harus segera pergi, jauh dari kegilaan ini. Dan saya tidak mau anda tahu kemana saya akan pergi."
"Itu yang ingin saya beritahu sekarang, Dai."
Ia menyipitkan mata. Sangat aneh, ia tidak ingat kakaknya pernah menyebut namanya dengan benar secara personal.
"Tempat jauh dari perkotaan kebanyakan makan banyak biaya karena tempat menginap dan sewa yang mahal, sisanya adalah tempat terbengkalai bagai kuburan para pelaut. Saya punya saran tempat yang bagus. Dan mungkin bisa menghilangkan rasa penat anda."
Air keringat Dai mengalir di pelipis.
"Cari di peta kota bernama Brighton atau Hove. Setahu saya anda cukup naik kereta bawah tanah sebanyak tiga kali dan berjalan kaki sebentar ke suatu jalan yang dikelilingi toko kecil." Ia langsung mencatat di memorinya. "Selalu ada perumahan kecil yang terpisah dan biaya murah untuk pengunjung lokal. Angin sejuk, nyiur melambai, suara ombak dan burung camar. Akan lebih indah jika menatap pantai bersama dengan langit senja keemasan... Halo?"
Lamunan Dai kabur.
"Dasar Craig bajingan. Terima kasih banyak. Saya pastikan tidak akan pulang sebelum rambut saya memutih." Ia menggeleng kepala dan langsung tutup telepon.
Dai telah menemukan destinasi baru. Ia segera membereskan kopernya dan bergegas ke stasiun. Kepalanya seketika membayangkan suasana sejuk nan asri pantai yang ia nantikan. Seperti liburan akhir dunia menanti. Ia tidak peduli jika tiba terlalu awal, bahkan sudah makan atau belum. Kereta bawah tanah penuh sesak, namun ia menerobos masuk. Tubuhnya yang kurung mudah sekali menyelinap seperti kucing.
Ia merasa sangat pantas menantikan tempat damai, lantas ia tidak lagi harus memenuhi kepalanya dengan segala dilema yang berakhir menimpa kesialan. Ia tidak perlu mempedulikan anak kecil buta yang pilu telah menemui seseorang yang teramat didambakan, dan sang ibu yang terlalu banyak berharap. Ibu dan kakaknya yang kasar dan tidak peduli sedikitpun dengan dirinya, enggan mendidik tapi ingin menjadikan kambing hitam. Keluarga Baker yang hanya memanfaatkan namanya demi bisnis dan nama baik putri tunggalnya, dan putrinya sendiri yang pada akhirnya mengkhianati orang yang dia kasihi. Seorang nasabah bank yang berakhir menghormatinya sebagai orang yang rendah hati, walau di balik itu ia sangat tersakiti, roti pemberiannya sudah tergeletak di mulut tempat sampah. Dan seorang idolanya, seorang yang mewujudkan cita-citanya, Madam Claire, menghilang dari muka bumi, tanpa jejak sedikitpun. Menghilang secara misterius bersama dengan segala benda pribadinya. Jika maut menjemput, ia siap menutup mata dan terjun. Jika surga terbuka, ia siap melepaskan seluruh keluh kesah dan dosa-dosanya. Lantas ia paham alasan lain kakaknya menyuruh pergi ke kota itu. Kota yang dekat dengan daerah bernama Sussex, jurang indah sekaligus ujung dunia.
Kakinya masih bergerak sepenuh tenaga. Kecepatan larinya melambat setelah melihat pantai dari kejauhan.
Sudah pukul empat sore, ia mengabaikan sarapan dan makan siangnya. Ia terus berlari hingga tersandung-sandung, namun tak berhenti tersenyum. Ia melihat selarik cahaya senja samar-samar tepat di depan matanya.
Pantai Sussex, ia berhasil memijak pasir pantai perak. Kecepatannya melambat lagi sambil sedikit terantuk. Matanya yang hampir diserang kekosongan terselimuti sinar senja.
Sinar yang hangat, ia bisa bernafas dalam-dalam, menikmati kesendiriannya, melihat langit lebih jelas. Ingin lebih jelas, ia naik ke salah satu bukit yang menanjak. Dua tiga rumah ia papasi, selaras sinar senja yang semakin kuning keemasan. Meski dengan langkah yang sesekali terantuk, ia berhasil tiba di ujung bukit itu. Sangat lancip, sangat panjang, hijau bersih. Dikala jutaan mulut berkata pemandangan ini laksana ujung dunia, ia berkata lain, melainkan pemandangan yang serupa dengan surga.
Ia menebak sudah pukul lima menjelang enam sore beedasarkan ketinggian matahari. Senyumnya lebih lebar, menyapa siapapun jauh di antah berantah. Ia diam di tempat, kakinya sama sekali tidak bergerak. Namun, ia tidak menduga mendengar suara telepon. Pikirnya dalam-dalam bahwa sangat tidak masuk akal, hingga paras wajah sukacitanya redup. Sejak kapan telinganya menangkap suara telepon yang datang entah dari mana.
Ternyata telepon itu berada sedikit jauh dari tempat ia pijak. Menoleh sedikit saja sudah membuatnya merinding. Keringatnya bercucur semakin deras. Lantas telepon itu tidak akan berhenti jika tidak diangkat--oleh Dai sendiri. Saat itu ia merasakan sangat sendirian, seperti ia yang tersisa di dunia ini.
Kaki dan tangannya gemetar hebat, merasakan ada malaikat kematian mengawasinya dari belakang.
"H, ha... Halo?" Ia berusaha tegar.
"Oh, halo, Dai! Bagaimana perjalanan anda? Sudah sampai mana?" Suara yang serupa dengan kakaknya membalas.
"C... Craig??? Tem... Tempat apa ini? Anda... Bilang..."
"Kota Brighton atau Hove, bukan? Kenapa? Anda tersesat?"
"Tersesat? Haha... Ha... HAHAHA... JANGAN BERGURAU, KEPARAT!!!" Ia sadar ia sedang diawasi dan di tipu sesuatu yang tak terlihat.
"Dai? Anda tidak apa-apa?"
"ANDA BUKAN CRAIG!!! SIAPA ANDA SEBENARNYA?!"
"Ahahahahahahahaha--" gelak tawa kakak lakinya berubah menjadi tawaan mengerikan serupa wanita paruh baya. Semakin keras semakin membuat jantungnya hendak meledak.
Lantas ia langsung tutup telepon dan mengusap keringat dengan lengan kemejanya. Badannya terasa seperti terbakar. Batinnya berkata bahwa ia hanya berhalusinasi, jangan mudah dibodohi oleh ilusi. Ia pun menoleh ke matahari senja.
Matahari itu sudah berubah menjadi merah darah yang lengket. Batinnya mengeluh pada tempat macam apa yang sedang ia pijak sesungguhnya. Lantas daratan yang ia pijak berubah tandus dan udara sejuk lenyap.
"Tidakkah anda merindukan saya, tuan P.D?" Suara yang sama dari telepon menyambutnya, juga menampakkan awak yang ia kenali di hadapannya. Sambil awak itu perlahan terbentuk dari serpihan rumput, Dai menantang sebagai tameng.
"Ma... Madam Claire?!" Kagetnya bukan kepalang.
Penampilan Madam Claire sangat berbeda. Dia mengenakan pakaian yang hampir secara keseluruhan berwarna merah, seraya warna matahari di belakangnya. Warna rambutnya tetap pirang, namun matanya bersinar berwarna kuning. Tatapan Madam Claire terlihat mengancam.
"Lama tidak bersua..."
Sekujur tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin tak henti. Ia merasakan dirinya telah jauh dari bumi, mendekati neraka.
"Claire... Saya mohon katakan kalau saya sedang tidak berhalusinasi." Cemasnya.
"Lantas mengapa kalau anda memang tidak berhalusinasi?"
"Saya... Akan mundur! Dan pergi--"
"Kemana? Disinilah tujuan akhir anda, tuan P.D yang menakjubkan!"
Nafasnya menderu. "Haha, jangan bilang kalau ini sulap aneh yang anda buat untuk menyambut saya!"
Ia melihat dengan jelas madam Claire menyeringai sinis. "Cih! Sulap?! Setelah tahu bahwa seorang madam Claire tidak pernah ada anda dengan enaknya menganggap saya memberi anda kejutan?" Nadanya terdengar sedang marah.
"Claire? Ada apa? Anda... Apa saya pernah menyakiti perasaan anda?"
"Persetan dengan perasaan saya! Anda pikir saya mudah dibodohi? Karena saya terlalu baik dan perhatian terhadap anda? Dasar pria egois!!!"
Amukannya bergema menyelimuti udara. Tanah berguncang, ia tersungkur dan berlutut di depan madam Claire. Semua menjadi serba merah, tidak ada rumput hijau, pasir, dan pemandangan bagai surga. Gempa hebat menimbulkan retak di tempat ia berlutut. Retakan kecil keluar dari kedua tangannya yang menyentuh tanah, lalu membuat retakan besar dengan pesat. Madam Claire hanya menyaksikan dengan masygul.
"Seharusnya kita tidak pernah bersua." Ancam madam Claire dengan dingin.
"Claire? Apa-apaan ini?!"
"K u t u k a n."
"Cla--ah... Madam Claire...! Siapa..."
Retakan besar membuat lubang, terdapat jurang yang sangat gelap dan curam. Dai memegang tanah sekuat tenaga agar tidak jatuh. Separuh tubuhnya perlahan merosot ke lubang. Ia terus meneriaki nama madam Claire. Madam Claire masih berdiri diam, memperhatikannya, tidak peduli, dengan tatapan dingin yang jelas, dan hati yang panas karena merasa dikhianati.
Gempa masih berlangsung, membuat usaha Dai keluar dari lubang sia-sia.
"Madam... Maafkan saya! Saya mohon! Dan siapa diri anda sebenarnya?! Saya perlu tahu tentang anda!"
"Oh begitu... Memang seharusnya anda tahu hal ini." Jawab Madam Claire dengan pelan. Kemudian Madam Claire mengeluarkan amarah sesungguhnya.
"Saya adalah Madam Clairvoyant, penyihir pengabulan! Mengabulkan keinginan adalah sihir saya! Anda tahu sendiri bagaimana mimpi anda dapat terkabulkan hanya dengan melihat saya! Saya adalah penyihir pertama yang berhasil bertahan setelah 300 tahun era "witch trial"!" Perlahan amarah madam Claire meredup. "Namun, saya mengharapkan manusia untuk mendengarkan larangan, namun tak ada satupun..."
Dai kaget, "E... Eleanor--"
Gaun Madam Claire berkibar-kibar. Mata kuning madam Claire menyala-nyala bagai api. Dai yang malang hanya bisa meratapi nasib selanjutnya.
Namun, Telinganya tiba-tiba saja tidak mendengar suara dentuman di langit, darat, maupun matahari, menjadi samar-samar. Melainkan suara Madam Claire yang sangat jelas terdengar, seperti saat ia menari dengan tenang di tengah kekacauan. Begitu juga dengan madam Claire yang sudah tenang setelah meluapkan semua jago merah pada Dai. Tampang Dai yang takut kini menjadi tampang yang biasanya, menyedihkan. Mereka saling bertatap muka, mulai saling mengerti.
Madam Claire perlahan berlutut dan mendekatkan wajah pilu pada Dai.
"Sama seperti anda, saya punya keinginan. Namun, dikala jutaan orang menyimpulkan yang berbanding terbalik dari fakta, itu menimbulkan tuduhan. Suami saya pun tidak mempercayai saya. Mereka meneriaki saya penyihir dengan histeris. Dan nasib, saya hanya menerima apa adanya. Mereka membakar saya hingga tak menyisakan apapun."
Dai terdiam.
"Anda mengerti bukan? Bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang anda percayai?"
"Madam... Buku anda..."
"Maafkan saya, tuan P.D. Saya sudah tidak percaya dengan anda lagi. Buku sampul biru saya jelas anda tukar dengan yang serupa dengan buku menggambar milik kakak anda. Meski tidak pernah saya baca, itu adalah salah satu ujian anda. Makanya saat anda buka buku itu berisi tentang trik membuka mata untuk menerawang masa depan. Ternyata, hasilnya..."
"Madam! Saya... Hanya ingin hidup sesuai keinginan..." Giliran Madam Claire menyimak. "Saya... Tau itu salah. Namun, kegelisahan saya tak berhenti menyerang... Kepala saya. Saya... Ingin ayah kembali... Saya ingin ayah dan ibu berbaikkan, atau lebih baik lagi jika mereka bangga atas kesuksesan saya! Dan, kegelisahan yang tak pernah habis ini, terhadap buku anda... Saya pikir, saya bisa mempercayai anda lebih lama lagi... Semuanya membekaskan kesialan terhadap saya..."
Madam Claire sedikit murung. Tidak hanya mendengar curhatannya, juga sambil membaca masa lalunya. Dai jujur.
"Tapi saya mohon, ampuni saya sebelum anda mencabut nyawa saya!
"...?! Sebegitu mudahnya?!"
Dai terkesiap, dadanya sesak. Tidak ada harapan lagi. Lalu madam Claire mengulurkan tangan kirinya dan menutup kedua mata Dai.
"Ngomong-ngomong, saya suka ide bisnis baru anda--meramal masa depan. Namun saya tidak suka bahwa faktanya semua itu hanya bualan murahan. Mungkin ini termasuk kutukan paling ringan untuk anda..."
"JANGAN!!!"
"Saya memesan 1644 buku berisi catatan masa depan setiap manusia yang ada di bumi ini--"
"Jangan...!" Tenaga Dai melemas.
"Ketiklah semua itu paling lama 300 tahun. Jangan terlambat! Saya tidak sabar untuk mengirimkan ke teman-teman penyihir saya..."
"..." Mulutnya kaku, hendak merintih nangis namun tidak bisa.
"Au revoir, tuan P.D, Procidat Deceptionem." Bisik madam Claire di telinga kirinya.
Retakan terakhir, genggamannya lepas, ia tersungkur seperti burung putih yang terluka di udara. Harapan, rencana, semuanya yang ada di depan mata lenyap. Matanya seperti menatap cahaya kecil di depannya. Ia menatap madam Claire untuk terakhir kalinya. Tangan yang lemah tidak lagi ingin menggenggam usaha. Tangan yang ia gunakan untuk menghibur kini harus ternodai. Kedua kaki kokoh yang selalu menemaninya pergi kemanapun kini harus kaku bagai batang pohon. Waktu yang ia lalui harus berhenti, bahkan hanya berjalan sesuai tebakkannya saja. Mata yang ia gunakan untuk melihat orang-orang dan apapun yang menghidupkan hari-harinya, kini tergantikan dengan gundukkan kertas tak terhitung. Mesin ketik yang merupakan teman untuk mencatat kenangan, kini menjadi musuh terbesarnya. Bahkan nama yang diberikan keluarganya terhapus dari ingatannya. Ia jatuh bersama kertas-kertas yang ia tulis selama setahun, berisikan ramalan yang ia karang. Di pikirannya, ini adalah momen yang paling ia sesali.
Si nasabah bank, keluarga Baker, kakak dan ibu, ayah yang minggat, gadis buta, dan idolanya, ia berharap untuk yang terakhir kalinya, berharap untuk memaafkannya. Berharap semoga mereka dapat melanjutkan kehidupan mereka sebaik mungkin.
Berakhir sudah kisah seorang pesulap ternama di Inggris.
Here lies Dai Peterson / Mr. P.D
The magnificent magician, the friendly and kindest man of people's happiness.
1873-1902
/-/-/
Jemari Dai masih mengetik dengan sigap di depan mesin ketiknya. Kemudian tangannya berhenti setelah mendengar suara ketukan pintu di depannya. Ia tidak menjawab sebelum seseorang sudah memutuskan untuk menerobos masuk sebelum minta izin.
Seorang wanita muda dengan gaun kuning dan jas biru tua. Wanita itu segera menutup pintu karena ketakutan terhadap sesuatu yang sedang mengejarnya. Dai menatap wanita itu sejenak. Wanita itu mengatur nafas dan memohon padanya.
"Tuan? Apakah anda bisa bantu saya? Kami terjebak di kereta ini berhari-hari! Saya mohon, tuan!"
"Lalu?" Jawab Dai singkat.
"Ah... Anda--apakah anda juga kru di kereta ini?" Wanita itu tentu curiga. Jelas, Dai sudah menebak. Ia hanya bisa tersenyum bahwa faktanya kereta ini juga bagian dari kutukan...
/-/-/
Tamat (?)