Mr. P D - The Enigma

Mr. P D - The Enigma
Part 5



Ia mematung, tentu bingung atas definisi "impas" dari ayah Katie. Keluarga Baker ini sangat tergantung padanya, sampai mengorbankan apa saja demi memanfaatkan Dai untuk mencapai keinginan, pikirnya.


Terakhir sebelum mengunjungi Madam Claire, ia menatap Katie cukup dingin, tidak lagi bicara dengannya. Dai membisu, merasa dirinya bagai minuman yang dituang ke gelas bukan miliknya.


Madam Claire merenung sembari memperhatikan jadwal pertunjukkannya dengan Dai. Wajahnya terlihat datar, seperti kehilangan harapan. Ia pikir penjelasannya kurang rinci.


"Baiklah. Karena nama anda sudah dikenal di banyak kota, anda sudah boleh melakukan kerja sama." Madam Claire menjeda. "Namun, perihal imbalan mereka, tentang pernikahan. Apa mereka sudah gila?"


"Saya pikir itu hanya bujukan. Lagipula mereka tidak terlihat sepakat satu sama lain."


"Hanya sepihak, ya? Atau, bisa saja mereka sudah mengatur skenario. Seperti sang putri bersedia menikah setelah anda bersedia kerja sama dengan toko roti itu. Sudah sedia payung sebelum hujan."


"Sejujurnya itu sangat tidak nyaman."


"Saya juga paham, tuan P.D. Kalau saja mereka memang menggunakan hal pernikahan sebagai bujukan, lebih baik abaikan saja."


"Baik. Terima kasih banyak, madam!" Dai tersenyum.


Hari pertunjukkan berjalan lancar. Strategi promosinya berhasil. Dalam tiga hari banyak pelanggan pergi ke toko roti Amber. Persiapan memperbaiki konsep tokonya juga sudah sesuai. Roti keluarga Baker laku keras. Katie yang tidak selalu bantu ayahnya kini lebih banyak ambil alih kerja di kasir dan dapur. Sorenya mereka memutuskan menutup toko satu jam lebih awal. Katie duduk di teras toko dan tidak tersenyum. Katie merasa bersalah setelah teringat kalau dia ingin sekali menonton sulap Dai; hari saat sedang mempromosikan tokonya.


Sore menjelang malam, Katie sudah menduga Dai akan mengunjungi tokonya. Katie langsung berdiri dan minta maaf tanpa merespon sapaannya. Ia tidak keberatan, tapi ia datang untuk mengabari ayah Katie tentang penambahan cabang toko di beberapa kota. Mata Katie berkaca-kaca dan segera lapor bersama Dai.


Sore menjelang malam setelah selesai dengan pertunjukkannya, keluarga Baker mengirim surat lewat pemilik toko bunga yang cukup akrab. Surat berupa undangan makan malam bersama keluarga baker pukul sembilan. Ia asumsi itu semacam merayakan kesuksesan toko roti Amber. Dai kuat bermabuk setelah enam gelas, tapi untuk kali ini ia memilih menolak bermabuk jika ditawarkan.


Pukul sembilan kurang ia sudah sampai di toko roti. Ia masih suka dengan rompu merahnya, maka ia sengaja memakai rompi itu lagi demi jamuan malam.


Ruangan gelap dengan satu cahaya di tengah ruangan belakang setelah dapur.


"Selamat pagi, tuan pee pee (air seni)!" Sahut tuan Baker. Wajahnya sudah sangat merah seperti terpanggang. Sedangkan Katie duduk manis dengan posisi siaga walau matanya sudah berkedip-kedip menahan kantuk.


"TUAN PEE PEE SANG PENYELAMAT!!!" Teriak tuan Baker. Karena teriakan sang ayah, Katie perlahan membuka matanya yang sedikit kaku.


"Oh, tuan P.D! Terima kasih telah datang!"


Ia membuka suara setelah mendengar teriakan aneh tuan Baker.


"Maaf jika saya lancang. Menurutku kita sudahi saja pestanya. Kelihatannya ayah anda dalam masalah, dan ini sudah malam--"


"Hei, pesulap, tunjukkan sihirmu, sialan!" Sahut Katie sambil menatapnya dengan paras wajah tertekuk. Wanita ini sudah mabuk.


Dai teramat sabar dengan tingkah keluarga ini. Ia merasakan hawa kegagalan yang berhasil mereka singkirkan dalam waktu singkat. Tapi ia juga senang bisa mengenal dan dekat dengan mereka, meski dalam situasi tertentu. Ia memutuskan meladeni sang ayah dan putri yang sedang bermabuk. Ia dengar segala keluhan, masa lalu, dan seberapa besar cinta Katie kepadanya. Ia cukup simpan puluhan kalimat itu ke dalam otaknya, bersedia beritahu setelah mereka penasaran.


Pada hari minggu, toko roti Amber memutuskan tutup sehari penuh untuk renovasi besar-besaran pada ruang makan dan sedikit di dapur. Setengah hari Katie bosan memperhatikan sang ayah yang sibuk dengan para pekerja bangunan. Sorenya Katie memutuskan mencari Dai meski dia hanya tahu sampai letak apartemennya saja. Katie tidak menemukan namanya saat melihat nama-nama penghuni. Katie Takut setelah menekan bel penghuni dengan nama inisial P; layaknya dia hanya mengingat nama P.D dari media. Salah, respon dengan suara yang tidak dia kenal.


Katie menekan hampir semua tombol bel secara acak, hingga bel terakhir yang berada di pojok kanan atas, suara pria yang dia kenal merespon. Akhirnya Katie berhasil menemukan kamar sekaligus mengetahui namanya selain P.D.


"Ada yang bisa saya bantu? Bagaimana kabar ayahmu?" Tanyanya sopan.


"Dia baik-baik saja, hanya saja di kepala sebelah kiri sedikit sakit. Dia minum sekitar sembilan botol. Maaf ya kalau pestanya tidak sesuai ekspetasi. Ayah terus membicarakanmu dan--"


Dai dengan mudah menebak kalimat Katie yang hilang dari rawut wajah yang murung. Lalu ia menaruh secangkir teh di meja di samping Katie duduk. Katie kaget setelah sadar dia masih dilayani walau sudah bertindak tidak sopan padanya. Ia sarankan untuk minum, lantas setiap pertemuan akan terasa lebih tenang bersama minuman. Katie jujur pada dirinya kalau dia tidak tahu apapun tentang melayani tamu, karena dia biasa dimanja kedua orang tuanya.


Hari ini Katie memutuskan memanggilnya dengan nama "tuan Dai", tapi ia menolak. Ia bersikeras untuk tidak akan memberitahu siapapun tentang nama aslinya. Kali ini Katie bisa bersimpati, dia berjanji untuk tetap memanggilnya "tuan P.D". Namun, hari ini merupakan hari istimewa, ia mendapat pujian dari seorang penyanyi terkenal di Italia. Setelah Katie menyeduh teh, ia berdiri dan mengajaknya berdansa dengan pose bagai pangeran kerajaan. Katie menaruh cangkirnya dan ikut berdiri. Walau dia tidak tahu banyak tentang menari, tapi dia ingin sekali menari.


Mereka menari tepat saat bintang-bintang bergelimang. Satu-satunya lampu di ruang tengah menyala, kamar tidur dan dapur dibiarkan gelap dan sunyi, hanya mendengar suara indah dari ruang tengah. Barang-barang di sekililing mereka hening seperti sedang menonton mereka berdansa. Katie sedikit takut dengan suasana itu, namun selama dia bersama Dai, dia reflek mencintai suasana itu. Tidak hanya itu, Katie menyukai penampilan Dai yang seadanya--rompi yang masih menempel di kemejanya setelah bekerja, aroma parfum yang memudar tertabrak aroma keringatnya. Penampilan Katie yang sama seperti ia lihat pertama kali bertemu. Lama menari, tarian diakhiri setelah Katie perlahan menyandarkan kepala ke dada Dai. Dai tidak pernah berpacaran, namun ia paham fase ini dimana wanita perlahan merasa nyaman saat dekat dengannya. Ia terdiam, tidak merasakan apa-apa. Pikirannya tertekan lagi setelah teringat ucapan pernikahan dengan Katie. Keluarganya sudah tidak memperdulikan masalah itu, namun dia sendirilah yang akan merasakan tanggung jawab seumur hidup.