Mr. P D - The Enigma

Mr. P D - The Enigma
Part 12



Ia merasa sangat pantas menantikan tempat damai, lantas ia tidak lagi harus memenuhi kepalanya dengan segala dilema yang berakhir menimpa kesialan. Ia tidak perlu mempedulikan anak kecil buta yang pilu telah menemui seseorang yang teramat didambakan, dan sang ibu yang terlalu banyak berharap. Ibu dan kakaknya yang kasar dan tidak peduli sedikitpun dengan dirinya, enggan mendidik tapi ingin menjadikan kambing hitam. Keluarga Baker yang hanya memanfaatkan namanya demi bisnis dan nama baik putri tunggalnya, dan putrinya sendiri yang pada akhirnya mengkhianati orang yang dia kasihi. Seorang nasabah bank yang berakhir menghormatinya sebagai orang yang rendah hati, walau di balik itu ia sangat tersakiti, roti pemberiannya sudah tergeletak di mulut tempat sampah. Dan seorang idolanya, seorang yang mewujudkan cita-citanya, Madam Claire, menghilang dari muka bumi, tanpa jejak sedikitpun. Menghilang secara misterius bersama dengan segala benda pribadinya. Jika maut menjemput, ia siap menutup mata dan terjun. Jika surga terbuka, ia siap melepaskan seluruh keluh kesah dan dosa-dosanya. Lantas ia paham alasan lain kakaknya menyuruh pergi ke kota itu. Kota yang dekat dengan daerah bernama Sussex, jurang indah sekaligus ujung dunia.


Kakinya masih bergerak sepenuh tenaga. Kecepatan larinya melambat setelah melihat pantai dari kejauhan.


Sudah pukul empat sore, ia mengabaikan sarapan dan makan siangnya. Ia terus berlari hingga tersandung-sandung, namun tak berhenti tersenyum. Ia melihat selarik cahaya senja samar-samar tepat di depan matanya.


Pantai Sussex, ia berhasil memijak pasir pantai perak. Kecepatannya melambat lagi sambil sedikit terantuk. Matanya yang hampir diserang kekosongan terselimuti sinar senja.


Sinar yang hangat, ia bisa bernafas dalam-dalam, menikmati kesendiriannya, melihat langit lebih jelas. Ingin lebih jelas, ia naik ke salah satu bukit yang menanjak. Dua tiga rumah ia papasi, selaras sinar senja yang semakin kuning keemasan. Meski dengan langkah yang sesekali terantuk, ia berhasil tiba di ujung bukit itu. Sangat lancip, sangat panjang, hijau bersih. Dikala jutaan mulut berkata pemandangan ini laksana ujung dunia, ia berkata lain, melainkan pemandangan yang serupa dengan surga.


Ia menebak sudah pukul lima menjelang enam sore beedasarkan ketinggian matahari. Senyumnya lebih lebar, menyapa siapapun jauh di antah berantah. Ia diam di tempat, kakinya sama sekali tidak bergerak. Namun, ia tidak menduga mendengar suara telepon. Pikirnya dalam-dalam bahwa sangat tidak masuk akal, hingga paras wajah sukacitanya redup. Sejak kapan telinganya menangkap suara telepon yang datang entah dari mana.


Ternyata telepon itu berada sedikit jauh dari tempat ia pijak. Menoleh sedikit saja sudah membuatnya merinding. Keringatnya bercucur semakin deras. Lantas telepon itu tidak akan berhenti jika tidak diangkat--oleh Dai sendiri. Saat itu ia merasakan sangat sendirian, seperti ia yang tersisa di dunia ini.


Kaki dan tangannya gemetar hebat, merasakan ada malaikat kematian mengawasinya dari belakang.


"H, ha... Halo?" Ia berusaha tegar.


"Oh, halo, Dai! Bagaimana perjalanan anda? Sudah sampai mana?" Suara yang serupa dengan kakaknya membalas.


"C... Craig??? Tem... Tempat apa ini? Anda... Bilang..."


"Kota Brighton atau Hove, bukan? Kenapa? Anda tersesat?"


"Tersesat? Haha... Ha... HAHAHA... JANGAN BERGURAU, KEPARAT!!!" Ia sadar ia sedang diawasi dan di tipu sesuatu yang tak terlihat.


"Dai? Anda tidak apa-apa?"


"ANDA BUKAN CRAIG!!! SIAPA ANDA SEBENARNYA?!"


"Ahahahahahahahaha--" gelak tawa kakak lakinya berubah menjadi tawaan mengerikan serupa wanita paruh baya. Semakin keras semakin membuat jantungnya hendak meledak.


Lantas ia langsung tutup telepon dan mengusap keringat dengan lengan kemejanya. Badannya terasa seperti terbakar. Batinnya berkata bahwa ia hanya berhalusinasi, jangan mudah dibodohi oleh ilusi. Ia pun menoleh ke matahari senja.


Matahari itu sudah berubah menjadi merah darah yang lengket. Batinnya mengeluh pada tempat macam apa yang sedang ia pijak sesungguhnya. Lantas daratan yang ia pijak berubah tandus dan udara sejuk lenyap.


"Ma... Madam Claire?!" Kagetnya bukan kepalang.


Penampilan Madam Claire sangat berbeda. Dia mengenakan pakaian yang hampir secara keseluruhan berwarna merah, seraya warna matahari di belakangnya. Warna rambutnya tetap pirang, namun matanya bersinar berwarna kuning. Tatapan Madam Claire terlihat mengancam.


"Lama tidak bersua..."


Sekujur tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin tak henti. Ia merasakan dirinya telah jauh dari bumi, mendekati neraka.


"Claire... Saya mohon katakan kalau saya sedang tidak berhalusinasi." Cemasnya.


"Lantas mengapa kalau anda memang tidak berhalusinasi?"


"Saya... Akan mundur! Dan pergi--"


"Kemana? Disinilah tujuan akhir anda, tuan P.D yang menakjubkan!"


Nafasnya menderu. "Haha, jangan bilang kalau ini sulap aneh yang anda buat untuk menyambut saya!"


Ia melihat dengan jelas madam Claire menyeringai sinis. "Cih! Sulap?! Setelah tahu bahwa seorang madam Claire tidak pernah ada anda dengan enaknya menganggap saya memberi anda kejutan?" Nadanya terdengar sedang marah.


"Claire? Ada apa? Anda... Apa saya pernah menyakiti perasaan anda?"


"Persetan dengan perasaan saya! Anda pikir saya mudah dibodohi? Karena saya terlalu baik dan perhatian terhadap anda? Dasar pria egois!!!"


Amukannya bergema menyelimuti udara. Tanah berguncang, ia tersungkur dan berlutut di depan madam Claire. Semua menjadi serba merah, tidak ada rumput hijau, pasir, dan pemandangan bagai surga. Gempa hebat menimbulkan retak di tempat ia berlutut. Retakan kecil keluar dari kedua tangannya yang menyentuh tanah, lalu membuat retakan besar dengan pesat. Madam Claire hanya menyaksikan dengan masygul.


"Seharusnya kita tidak pernah bersua." Ancam madam Claire dengan dingin.


"Claire? Apa-apaan ini?!"


"K u t u k a n."