
1900, Oxford, London
Keramaian di iringi aduan suara kendaraan dan pejalan kaki. Keramaian itu perlahan menyebar membuat jalur masing-masing yang berbeda. Seorang pria melangkah sedikit lesu menuju bank, dengan tangan kiri yang menggenggam erat tas kotak besar buluk nan berat. Selain tas yang berat, pikiran dan pandangannya juga berat. Terlihat jelas dari tatapannya yang seperti kurang nutrisi dan tidak makan seminggu. Salah satu nasabah bank memanggil nama, "Tuan Peterson!" Reflek pria ini berdiri. Namun tidak hanya dia seorang diri yang terpanggil. Dua pria di sebelah kiri dan belakangnya bingung sambil memandanginya.
Sang nasabah menghela nafas, "Tuan Harry Peterson!"
Akhirnya ia kembali duduk bersamaan dengan pria lain di belakangnya.
Tiga puluh menit kemudian hal yang sama terjadi lagi. Nama pria ini sedikit kikuk, yakni David Philip Douglas Philodendron Davor Dan Peterson, anak bungsu dari dua bersaudara dalam keluarga Perancis, ayah yang merupakan mantan tentara Amerika dan ibu berprofesi sebagai penulis puisi. Ringkasnya pria lesu ini sering dipanggil Dai, terdengar serupa dengan 'die', lantas dari tampangnya yang seolah siap mati kapan saja.
Dua jam kemudian, "Tuan Philip!" Pria ini nyaris berdiri setelah melihat seorang pria tua berdiri terlebih dahulu di sebelah kanannya.
Sela beberapa menit, namanya akhirnya di sebut oleh salah satu seorang nasabah yang cukup lama mengenalinya.
"Tuan Dai!"
Akhirnya ia berdiri dengan yakin, sambil loyo.
"Tuan, cobalah untuk minum vitamin penambah nutrisi." Sang nasabah membersihkan tenggorokan. "Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
"Periksa tabungan." Ucapnya sambil melepas topinya.
Sang nasabah mengangguk sambil senyum tipis. Sambil menunggu ia sesekali menggaruk kepala belakangnya seperti belum keramas. Beberapa saat kemudian sang nasabah menunjukkan secarik kertas yang tidak seberapa panjang dari orang-orang yang ada di dalam bangunan ini. Perasaannya sudah tidak enak. Sejenak ia mengedipkan mata dan menilik kertas dari si nasabah bank.
"Saya rasa anda tidak akan pernah dapat keberuntungan, tuan..."
"Saya berhenti bekerja." ucapnya dengan tatapan lesu pada lawan bicaranya.
Sang nasabah meninggalkan apartemennya, tanpa menoleh lagi menyusuri jalan raya yang berasap dan bising, tapi beginilah estetik sekitar perumahan ini.
Ia diam sambil menghitung sepuluh detik, lalu berbalik badan. Ia mengambil salah satu dari sekian susunan piringan hitam di atas meja dan ditaruh di atas gramophone. Ia sangat menyukai lagu itu, seraya dengan suasana dalam ruangan yang gelap dengan sedikit cahaya siang hari. Ia tidak mendengar bising transportasi lagi, hanya merdunya lagu dan suaranya yang sangat pelan mengikuti nada lagu. Ia menari di tengah ruangan setelah menepi semua perabotan. Seraya menari mengikuti nada, perlahan ia melupakan hal yang ia benci hari ini. Mulai dari subuh yang hujan deras, sudah disuruh orang di kamar sebelah untuk membetulkan genting. Paginya di telepon ibunya yang mengeluh tentang kemalasannya yang tidak jauh beda dengan mantan suaminya. Dan hingga siang hari sebelum di kunjungi nasabah bank, ditolak mentah-mentah lamarannya di lima kantor. Ia terus menari, dan senyumannya semakin berseri.
Sesekali di hari libur ia menghubungi ibunya untuk memberi sedikit uang untuk kebutuhannya sebulan kedepan. Seperti biasa, ibunya hanya menumpahkan kalimat tak becus panjang lebar. Ia tidak mau ibu sendirian di komplek itu sejak tetangganya perlahan pergi. Tetap tidak berguna, ibunya sudah tidak ragu lagi berkata "aku menyesal telah melahirkanmu". Hidup ibunya seperti tiada arti tanpa sepeser uang. Lalu apa gunanya kakaknya tinggal dengannya?
Malam yang sangat dingin hari itu sangat ramai. Ia memutuskan keluar dari apartemen dan berbaur di keramaian. Jalan raya senggang, hanya ramai orang-orang dan hiasan natal yang menyelimuti rumah-rumah. Malam itu ia teringat kalau hari ini adalah malam terakhir tahun 1900. Sangat disayangkan ia belum ganti kalender sejak tahun 1898.
Kembang api yang indah menghiasi langit malam. Malam itu menjadi sedikit hangat. Ia perlahan membuka matanya lebih lebar--karena kaget dan lega bersamaan. Orang-orang memasang senyum terindah mereka. Terakhir, ia berhasil memasang senyuman terhangatnya setelah dua tahun kehilangan harapan.
Malam itu tidak segelap malam biasanya. Ia memutuskan kembali ke apartemen. Ia memapasi sebuah taman kecil yang ada di tengah jalan raya. Suasana perumahan masih sepi karena sebagian besar orang-orang berpindah ke tengah kota sebagai titik berkumpul. Namun, masih ada satu orang yang duduk di bangku di taman kecil. Tidak salah lagi, seorang wanita dengan baju hangat motif gingham yang sama ketika ia pergi dengan kereta bawah tanah.
Tidak pernah terpikirkan di benak untuk mengajak bicara dengan orang yang tak dikenal.
Dari tanggal satu sampai empat Januari ia memutuskan meliburkan diri dari kesehariannya di luar, tapi tidak akan mengangkat telepon dari siapapun. Sejak pagi hari ia sudah menari dengan lagu kesukaannya. Di tanggal empat saat ia sedang menari, nasabah bank datang lagi tanpa memberi kabar. Tentu ia mengabaikan ketukan pintu dan deringan bel kamarnya. Nasabah itu jengkel, hingga niat mengintipnya dari luar. Nasabah sedikit menjauh dan mendangak ke kamarnya yang berada satu lantai dari bawah. Nasabah itu melihat sekilas ia sedang menari dengan tenang. Terlalu jengkel, nasabah itu pun berani mempermainkannya, sang nasabah lapor ke pemilik apartemen kalau sang pria di lantai satu sedang bertingkah sangat aneh--seperti sedang menari dengan hantu.
Setelah selesai menikmati ketenangannya, ia akhirnya merespon ketukan pintu. Dua orang terlihat murka sudah berdiri di depan kamarnya. Sang wanita pemilik apartemen tolak pinggang dan mengacungkan payung ke arahnya.
"Kau harus berhenti menari mengerikan seperti tadi, mulai hari ini, atau kau harus angkat kaki dari sini!" Murkanya. Lalu pergi begitu saja tanpa peduli alasan apapun. Pria menyerahkan waktu senggangnya demi nasabah bank yang lelah menunggu sejak tadi pagi.
Ia tidak percaya pada apa yang ia lakukan. Ia menyesal mengizinkan nasabah bank itu masuk. Seharian dia tidak membicarakan keuangan, melainkan bermabuk dan makan makanan simpanannya untuk satu bulan kedepan. Malamnya ia langsung mengantarnya ke plang bis sampai bis tujuannya tiba, tidak peduli nasabah itu masih dalam keadaan mabuk.
Ruangannya berantakan, bau alkohol, gramophone nya terkena sedikit noda selai kacang miliknya. Ia merenung, matanya memberat, tapi tubuhnya berkata tidak ingin tidur dengan suasana seperti kapal pecah.