Mr. P D - The Enigma

Mr. P D - The Enigma
Part 6



Malam begitu sunyi. Ia menemani Katie sampai di depan toko roti, ternyata toko itu sendiri juga rumah keluarga Baker. Di depan pintu toko Katie melepas jaket yang ia pinjamkan. Katie menatap sejenak sambil tersenyum lalu menutup pintu. Ia sendiri lagi. Malam itu ia tidur dengan lampu menyala, membiarkan pikirannya mengalir perlahan setelah berhari-hari bersama keluarga Baker. Tapi ia tidak lupa dengan satu hal yang ia paling takuti--buku sampul biru milik Madam Claire. Secara bersamaan, ia membuahkan ide baru untuk bisnis sulapnya. Sekitar 5 tahun yang lalu ia pernah melihat keramaian di sebuah markas kecil dengan hiasan penuh bintang dan gambar-gambar aneh lainnya di mata anak muda, seorang wanita duduk membungkuk di dalam markas sempit menghadap tepat pada sebuah bola kristal di depannya. Jubah yang membuat identitasnya tersamarkan membuat orang-orang semakin penasaran. Seorang Dai muda yang kurus menghampiri keramaian itu dan menyelinap hingga bisa melihat atraksi wanita misterius itu dengan jelas. Kalimat yang ia tidak pernah lupa dari wanita itu adalah "Hadapilah masa depanmu, jangan pernah takut dan berkata untuk mundur. Kekuatan waktu terlalu kuat, lantas kita harus menghadapinya dengan bijak."


Dai muda yang tenang dan terbilang tidak pernah membanggakan kedua orang tua setelah sembilan tahun sekolah hanya memahami konsep sihir, sulap, dan ramalan. Ia tidak takut menyimpan pengetahuannya tentang itu.


Awal Desember, ia disambut kembali oleh si nasabah bank, mengatakan bahwa dia merindukan mengunjunginya sambil menegur tanpa sebab. Seperti burung kecil bersembunyi dari kucing, nasabah bank tidak berani menyinggung apapun tentang karirnya yang terbilang "menghibur". Dai memberi nasabah bank itu roti terbaik di toko roti Amber. Nasabah bank membisu lalu tersenyum--untuk pertama kalinya di depan Dai, dan berkata "Selalu ada satu keikhlasan di antara beribu senyuman palsu." Kemungkinan ini adalah kalimat terakhir sebelum digantikan dengan nasabah baru di awal tahun.


Sudah lama sekali ia tidak menginjak gundukan salju. Dingin tapi hangat. Hangat karena puas dengan segala usaha yang ia perjuangkan.


Usai mengunjungi keluarga Baker, ia mengunjungi madam Claire. Selama dua jam mereka membicarakan makanan tanpa henti, sedangkan membahas tentang jadwal pertunjukkan natal dan tahun baru hanya sebesar sebutir beras. Perbincangan yang tidak terlalu penting namun menyenangkan. Beberapa gelak tawa kemudian Dai mengajak Madam Claire untuk makan malam bersama di suatu restoran bintang lima. Madam Claire langsung berbunga-bunga sambil membayangkan makan malam seperti nuansa kencan meski bukan itu tujuannya.


Madam Claire memesan menu utama hewan laut seharga 35 euro termasuk makanan penutup, sedangkan Dai memesan roti dan sup tanpa makanan penutup. Dari menu yang ia pesan bukan berarti tidak lapar atau tidak nafsu. Tabungannya yang masih banyak tetap ia gunakan dengan baik, sebaik mungkin. Ia tidak kaget jika Madam Claire mengetahui hal itu.


Setelah piring dan gelas mereka kosong, Dai memulai percakapan baru, dengan nada yang terkesan lemah dan ditekan sesuatu yang sangat berat.


"Saya mengerti kalau ini terdengar aneh. Tapi, apa boleh saya tahu sedikit...tentang... sulap lain?"


"Boleh, apa saja, tuan P.D!"


"Tapi--"


"Saya guru anda, dan anda adalah murid saya. Jadi tidak usah takut untuk bertanya soal trik baru." Senyum Madam Claire.


"Madam, saya--"


"Ada apa denganmu hari ini, tuan P.D? Anda terlihat tertekan."


"Ah, tidak, madam. Saya hanya tidak ingin anda... tersinggung." Ia perlahan lesu.


"Tersinggung kenapa?" Madam Claire prihatin setelah menatap wajahnya yang terlihat akan mati.


Ia menarik napas dalam-dalam, lalu bersiap berbicara.


"Apakah anda mau mengajariku cara... meramal?"


"T i d a k ." Ucap madam Claire dengan tegas dan dingin.


Dai terkejut dan membisu bersamaan. Ia tidak pernah melihat wajah madam Claire yang baik hati dan anggun. Keanggunannya tidak lagi terpapang di wajah.


"Madam--"


"Anda tidak diperkenankan mempelajari hal yang berhubungan dengan meramal. Anda baru saja menentang hukum alam semesta."


"Madam, saya--" ia nyaris tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.


Disini mereka berdebat tanpa jeda.


"Madam, saya berencana membangun bisnis baru!"


"Kalaupun itu bisnis baru, saya tetap tidak izinkan anda mempelajari sihir meramal."


"Bagi anda saya siapa?"


"Bukan siapa-siapa, jika anda masih bersikeras membangun bisnis konyol itu."


"Ini bukan demi keuntungan saya! Tapi keuntungan kita bersama!"


"Tujuan kita memperlihatkan atraksi spektakuler bukan untuk memperoleh uang, melainkan untuk menghibur! Kalau anda mau uang, maka kembalilah bekerja sebagai budak kantor yang mematahkan tulang dan semangatmu setiap hari."


Dai membuang napas berat. "Madam, saya bersyukur dilahirkan dengan kesabaran. Tapi malam ini saya benar-benar tidak tahan ingin bilang begini..."


"Ya sudah! Katakan! Telinga saya masih menempel!"


"Madam, ketika kita membuat perjanjian bersama, apa yang anda maksud dengan kepercayaan, kejujuran, dan lainnya? Persetan dengan kepercayaan, anda sendiri tidak memberitahu saya yang sebenarnya tentang buku sampul biru yang anda masih sebut "diary"?!"


"Bahkan sampai detik ini anda masih penasaran dengan buku buluk itu?"


"Jelas buku itu buluk dan tidak terawat, itu yang membuat saya curiga dengan isi buku itu, Claire! Anda tidak ingat kalau saya juga bisa merasakan aura aneh disekitar saya?" Tekanan nada Dai mulai membentak.


"Mau sampai kapan anda terus penasaran dengan buku itu? Percuma juga jika anda ingin mengetahui isi buku itu, anda akan menyesal setelah mengetahui--"


"Itu tujuan saya, madam! Saya sudah bersumpah untuk mempercayai anda sampai detik ini dan yang anda berikan tentang buku itu hanya ampas rokok?!"


"Setidaknya anda paham akan peringatan saya. Saya berharap anda hati-hati dengan keputusan anda dan memahami... Situasi." Ucap madam Claire dengan tenang.


Dengan berkata begitu, Dai reflek tidak setuju. Malam itu ia memutuskan untuk tidak mempercayainya lagi. Makan malam yang lumayan buruk di ekor jamuan. Mereka sudah menduga hal itu akan terjadi. Namun berbaikkan adalah satu-satunya jalan untuk kembali menjalani karir mereka, bersama.


Seminggu terlewatkan. Akhir-akhir ini madam Claire sibuk mengurus jadwal pertunjukkan untuknya dan Dai, malam natal di istana kerajaan. Lagi-lagi pikirannya tidak tenang. Demi menghilangkan keresahan, ia menemui Katie sebagai pengalihan.


Katie langsung menanyakan keadaannya sembari menjamu teh. Ia mengabaikan sapaan dan teh dari Katie.


"Nona Katie, anda mengerti arti menikah, bukan?"


Katie berhenti menuang teh dan mengangguk berat, antara tahu sekilas atau pura-pura tahu agar ia tidak terlalu mencemaskannya.


Ia menarik nafas berat. "Bisakah anda beritahu saya alasan kuat anda menikahi pria yang anda kenal satu bulan saja? Apakah anda sendiri kenal siapa itu tuan P.D?"