
Katie diam beberapa detik dan menggeleng kepalanya lamban. Reaksinya tenang, namun bukan karena merasa lega, ia tidak percaya harus mengatakan ini pada seseorang yang tidak ia cintai.
"Nona, kalau anda benar-benar ingin menikah, saya beri anda waktu melimpah untuk berpikir, dan memahami sifat kita, satu sama lain."
Katie menyebut namanya dengan gelisah.
"Pelan-pelan tapi pasti, nona. Saya tahu waktu terus berjalan seakan terus laju tak berujung. Dan pernikahan ada karena hubungan dua arah, dan saling percaya."
"Tapi itu tidak mudah--" nada Katie sedikit menaik.
"Selama anda percaya dengan saya, tidak ada yang akan mengkhianati anda."
Hening, tidak ada respon apapun dari Katie. Ia keluar dari toko roti dan kembali ke karirnya. Padahal hatinya ingin sekali memberitahu segala sesuatu yang dia tidak ketahui. Namun batinnya terus mengatakan "sia-sia merawat pohon apel di lumpur."
Siang hari sambil mempersiapkan panggungnya, Dai menyempatkan beli koran harian eksklusif. Ia menumpang di toko roti Amber sebentar, namun tidak menemukan Katie, ayahnya sendirian di dapur menunggu roti di oven sambil merokok. Dai kembali baca koran usai mengingatkan sang ayah untuk tidak merokok di dalam ruangan. Separuh halaman koran membahas pertunjukkannya di istana kerajaan, selain itu mengenai berita di Eropa dan beberapa di Asia dan Amerika.
Mata Dai tiba-tiba terpancing ke suara pintu terbuka; Katie masuk bersama seorang pria dengan lemah dan wajah pucat. Katie baru saja dari toko obat dan nyaris pingsan di tengah jalan, cerita seorang pria yang mengantarnya. Ia tentu heran akan reaksi sang ayah yang sangat tenang, berterima kasih pun tidak. Tuan Baker membawa Katie ke kamar dan langsung kembali ke dapur. Sang pria tiba-tiba sangat mengenal Dai setelah menilik wajahnya. Pria itu bukan penggemar berat, namun terkesan dengan salah satu triknya mengeluarkan seikat bunga dari topi. Ia maklumi kalau tidak semua orang bisa menikmati setiap sulapnya. Entah dari mana, tanpa pria itu menanyakan bahwa dirinya adalah kekasih wanita gingham atau hanya teman. Dai diam dan menatap dingin pria itu, "Tidakkah anda punya pertanyaan yang lebih bagus dari itu?"
"Tentu tidak, lantas dia tidak berhenti membicarakan tentang anda setiap bertemu dengan saya."
Ia menyipitkan mata, "Memangnya anda siapa?"
"Nama saya Joel. Saya mantan kekasih Katie. Kami berpisah tiga bulan lalu dengan alasan finansial ayahnya. Tapi dia selalu mengucapkan janji padaku setelah toko ayahnya sukses dia akan kembali padaku."
Dai mematung sambil menatap kosong pria itu. Ia pergi begitu saja, mengabaikan sisa kalimat dari pria itu, tidak mengharapkan penjelasan apapun setelah itu.
Pertunjukkan dimulai. Sang ratu, pangeran dan putri duduk di balkon atas dengan tenang. Ia mulai dengan berjalan ke tengah panggung dan membiarkan suasana hening. Asistennya menaruh kursi kayu dan ia duduk. Madam Claire diminta untuk nonton juga, katanya pertunjukkannya hari ini akan sangat berbeda, spesial untuk para bangsawan.
Ia duduk di kursi elegan berwarna merah dengan kayu berwarna keemasan yang telah disediakan, lalu menghilangkan postur tubuh, dan bicara, dengan tenang, selaris dengan kekosongan dirinya yang menyelimuti rasa penasaran penonton. Ia bicara satu bait penuh hayat, menyampaikan perumpamaan seseorang dengan burung gagak berwarna putih yang bertahan hidup di lingkungan dimana para hewan disana membencinya. Ia membuka topinya dan burung gagak putih terbang tinggi memapasi panggung, penonton kagum. Ia melanjutkan; burung gagak yang tinggal di dunia salju pun melentangkan sayap dan terbang ke ufuk timur, mencari dunia yang mau menerimanya. Panggung perlahan menjatuhkan butiran salju dari atas, penonton terkejut, saling bisik. Dai lanjut bicara sambil berdiri, ia melangkah perlahan dan menceritakan gagak putih itu jatuh karena keteledoran sendiri yang telah menerobos bebatuan tajam dan tebal. Ia melepas topi dan gagak putih jatuh dari atas. Panggung hening, madam Claire tetap menyimak. Namun sang pangeran memajukan kepalanya karena semakin penasaran.
"Mati karena ditolak, mati karena perbedaan, mati karena bisu, mati karena kebodohan..." Ucapnya penuh hayat. Bertambah satu sorot cahaya dari atas menyinari burung gagak putih yang terbaring. Ia mengakhiri kisah gagak putih dengan menyempurnakan karakter dari sang gagak.
"Burung yang unik, namun tak berdaya, punya mimpi namun tak pernah terkabulkan. Menolak kebaikan, menerima kutukan, itulah yang sang gagak terima." Ia mengambil gagak putih yang terbaring lemah di lantai panggung. Bulunya yang seputih salju kini berwarna kemerahan. "Sang gagak yang malang tersenyum pada cahaya didepannya. Alam menyeringai padanya. Sang gagak masih punya satu harapan; pulang dalam damai."
Hening beberapa detik, lalu para penonton berdiri dan bertepuk tangan, sambil terdengar teriakan "bravo!". Ratu dan pasangan bangsawan muda ikut berdiri dan bertepuk tangan. Madam Claire masih duduk tenang.
Di sela Dai merumpi dengan para bangsawan, madam Claire memanggilnya. Mereka membuat rapat rahasia di tenda madam Claire.
Madam Claire tidak basa basi lagi, langsung menanyakan bagaimana Dai bisa mempelajari sulap tanpa mempelajari yang ada di buku paduan sedikitpun, bahkan madam Claire sempat parno jika ia mempunyai kekuatan supernatural. Ia menggeleng berat dan menjelaskan bahwa ia hanya manusia biasa, tidak mempunyai kekuatan apapun. Kalaupun ada, sejak awal ia sudah ceritakan. Madam Claire akhirnya mengizinkannya pulang.
"Tuan P.D, jangan lupa akan perjanjian kita." Madam Claire mengingatkan sembari menatap punggungnya.
"Tentu saja, madam! Sejak awal pertunjukkan tadi hanya ilusi, tak perlu anda cemaskan."
Madam Claire menatapnya dengan ujung mata. Lalu berbisik dalam hati, "kenapa engkau sampai rela menunjukkan efek delusimu ke kenyataan?"
Dai di perjalanan pulang terus menuntut mulutnya untuk diam.