
Bulan Maret; jika perkiraannya tidak salah, ia berniat mengunjungi karnaval di ibu kota setelah diajak pria dari kamar sebelah.
Karnaval itu lebih ramai di malam hari, karena orang-orang menanti pertunjukkan spektakuler seorang pesulap ternama dari Kanada. Matanya perlahan terbuka. Rasa tertariknya pun terbuka setelah mendengar pertunjukkan sulap. Sudah lama ia menantikan melihat pertunjukkan sulap.
Ia selalu lupa akan satu hal sederhana sebelum bepergian, membawa dompet. Ia cepat sadar setelah banyak orang mengejar kedai makanan. Walau perutnya berisk, ia tidak tertarik untuk membeli makan, ia fokus pada pertunjukkan sulap yang ia dambakan.
Tidak ada cara lain, ia menyaksikan pertunjukkan dengan cara kekanakan. Ia mencari sudut tenda yang sempit, lalu melubangi kain tenda dan menyaksikan sulap lewat lubang itu. Pertunjukkan itu hanya berlangsung satu jam. Selama ia bisa melihat atraksinya, tidak masalah.
Lima belas menit sulap berlangsung, ditengah-tengah ia di sahut seorang pemilik kios yang baru sampai dan langsung mengusirnya. Masih belum puas, ia balas menyahut dengan arti menolak. Tapi nyalinya kalah jauh dari si pedagang. Ia menyerah dan meninggalkan pertunjukkan sesukaannya.
Malam yang dingin, ia masih frustasi dengan pilihannya yang seharusnya tidak membiarkan kesenangannya direbut orang lain. Ia juga kesal dengan dirinya yang naif, pelupa, tak pernah bisa mencapai mimpinya. Dan lagi ia pulang dengan tangan kosong.
Paginya, pukul sepuluh ia terbangun karena suara telepon. Kali ini kakaknya yang menelepon, memintanya untuk ke toko buah untuk mengambil buah pesanan kakaknya, untuk ia makan hari ini. Ia tidak berkata "terima kasih" , melainkan "iya".
Teriknya cahaya pagi hari melelehkan sisa salju dari bulan Februari lalu. Ia sampai di toko buah dan menghampiri salah satu truk buah. Si pengurus toko cepat sadar dengan nama kakaknya dan segera memberi keranjang buah padanya.
Dalam perjalanan pulang, ia seperti mengenal tenda yang ia lihat di dekat sebuah bangunan yang sedang dalam perbaikan. Ia adalah pria yang tidak tanggung-tanggung dalam bertindak. Ia akhirnya masuk ke dalam tenda. Sesuai dugaan, tenda ini adalah milik seorang pesulap. Matanya melebar dan sedikit tersenyum, dan secara bersamaan ia takut dipergoki pesulap disitu. Maka ia melihat sekilas benda-benda antik sekitarnya: bola kristal, burung gagak palsu yang digantung di atas, susunan serbet berwarna merah, biru, dan hijau, tongkat yang akan mengeluarkan seikat bunga (ia sudah hafal), jubah panjang biru tua dengan pola bintang-bintang berwarna kuning, dan meja bundar kecil dengan kartu-kartu tarot yang berserakan.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
Sapaan mendadak yang mengejutkannya nyaris membuat dirinya tersandung. Beruntung ia tidak menabrak apapun di dalam tenda. Pandangan pertamanya pada seorang wanita memakai gaun yang berbentuk bunga berwarna biru sapphire, topinya yang lebar dengan hiasan bunga dengan ragam warna merah dan pink. Usai melihat awaknya yang cantik, ia tidak lagi kikuk seperti orang bodoh. Ia langsung bertanya bahwa wanita ini seorang pesulap sungguhan. Wanita itu menjawab "benar" dengan nadanya yang khas dan spektakuler, sama halnya dengan pertunjukkan sihirnya.
Ia mengenal suaranya yang khas, pesulap itulah yang membawa pertunjukkan di malam karnaval. Ia kagum dan takut bersamaan. Lantas dialah penyihir terhebat di tahun itu, Madam Claire. Wajah menyedihkannya lenyap, jantungnya berdebar kencang seperti sehabis tertusuk panah. Ia mendekatinya satu-dua langkah dan antusias menanyakan banyak hal yang berhubungan dengan sihir dan tentang perjalanan suksesnya menjadi seorang pesulap terhebat. Wanita itu rendah hati, ia siap melayani pelanggan siapapun, terutama kepada penggemar beratnya seperti pria ini.
"Namaku... Dai Peterson. P.D singkatnya."
Wanita itu cekikik dengan suaranya yang anggun sambil menggenggam kedua tangannya yang kasar dan dingin. Tangan madam Claire putih dan bersih, serta kuku berwarna pink yang terlihat lebih imut walau paras wajahnya terlihat sedikit keriput.
"Fufu! Saya tahu nama asli anda lebih unik dari sekedar 'Dai Peterson' bukan?" Tawa Claire.
Ia membeku akan terheran-heran, sekaligus kagum.
"Tuan P.D, untuk bertahan hidup, kau harus ingat tiga hal: perjanjian, kejujuran, dan kepercayaan."
Kalimat itu terdengar menahan pernapasannya. Ia bertanya lagi apa maksud sebenarnya.
"Perjanjian; berjanjilah untuk tidak beritahu siapapun tentang rahasia kesuksesan, identitasku, dan lainnya. Karena hanya kau yang aku beritahu. Kejujuran; jangan bohong tentang hal seperti sihir, apalagi terhadap seorang master seperti aku. Kepercayaan; ini sangat sederhana, kau cukup percaya padaku tentang trik dan strategi dalam karir seorang pesulap. Disaat kau sudah siap, aku adalah gurumu hari itu. Dan masa latihanmu menjadi seorang pesulap adalah rahasia antara kita berdua."
Ia menganggukkan kepalanya yang berat. Pria yang malang merasa hari ini ia sangat beruntung. Ia akan terus mengingat momen terbaik itu; bertemu idolanya empat mata.
"Semoga beruntung!" Ucap Madam Claire sambil tersenyum ramah. Pria menyedihkan itu berhasil membalas dengan senyuman terbaiknya.
Demi mengabadikan momen, ia segera menutup kamarnya rapat-rapat dan memainkan gramophone nya lagi, lalu menari seperti biasa. Kali ini ia benar-benar merasa hidupnya berarti dan peluang menuju kesuksesan sudah ada di depan mata.