
Pagi ini Megan dan teman-temannya terlihat lebih arogan dari biasanya. Megan dan Gita menggulung lengan seragam mereka serta baju yang di keluarkan juga tidak memakai dasi. April memakai bomber berwarna Navy dan Hana membuka seluruh kancing seragamnya dan hanya terlihat kaos hitam polos di sana. Mereka memasuki area kantin dan langsung mendatangi meja Refas.
"Eh buset! ini ciwi-ciwi serem amat ya keliatannya" ucap Regan
"Udah kayak mau Tawuran aja mereka" timpal Xeo
"Mas, boleh gak gue gabung di meja lo?" kini Megan sudah berada di hadapan meja Refas
Refas tersenyum sayang ke arah sang adik, ia mengusap kepala Megan dan mengangguk tanda menyetujui.
"Lo semua mau pesen makan pesen aja, gue yang bayar" kata Refas.
"Serius?" Lo udah jadian kah sama Hana?" tanya Regan
"Belom si, tapi kayaknya sebentar lagi"
Hana yang mendengar pernyataan itu hanya tersipu malu, sedangkan Gita sudah meremas ujung rok sekolahnya kuat-kuat. berusaha untuk tetap tegar walaupun hatinya terbantai.
"Batagor lo kalo di campur Jus ini enak kali ya"
"Jangan kak, aku gak punya uang lagi buat beli makan"
"Gak punya uang ya?? uhhh.... kasihan. lagian, anak dari tukang becak kaya lo gak cocok sekolah di high school yang mahal kaya gini, mending lo pulang bantuin bapa lo narik becak!"
"Aku mohon kak. jangan."
Megan dan ketiga sahabatnya melirik Meja yang berada tepat di hadapannya. ia melihat Jessica sedang mencari sensasi di depan seluruh murid di kantin dengan cara membully anak kelas X.
"Gak ada kapoknya ya Sat!" gerutu Gita kesal
Megan langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Geng Kunyuk.
Jessica adalah senior Megan. dari pertama Megan mengikuti masa MOS gadis itu sudah tidak suka dengan Megan dan teman temannya. karena Megan bersekolah di sana kepopuleran Jessica bersama Geng-nya yang mereka namakan sebagai Geng Kunyuk itu lengser, itu lah sebabnya Jessica selalu mencari sensasi dan cari muka sana sini agar selalu terlihat lebih unggul.
"Woy Kunyuk! Lo boleh carmuk asal nggak ngerendahin orang Sat!" ucap Gita kini Megan dan yang lainnya sudah berada tepat di hadapan Geng Kunyuk yang terdiri dari empat orang juga.
"Well..Well..Well..! gue gak ada urusan sama boneka hantu kaya lo semua, jauh-jauh deh!"
"Wah nyari gara-gara dia Sat!" ucap Gita lagi
Megan masih tenang di tempat dengan tatapan sorot mata tajam ke arah Jessica. sekarang kantin sudah menjadi ramai dan seluruh pasang mata di sana akan menonton pertarungan sengit di antara keduanya.
"Gausah banyak bacot. maju lo sini! tantang Megan.
Jessica dengan berani maju ke hadapan Megan dan langsung menjambak rambut gadis itu. sedangkan Megan hanya tersenyum miring dengan melihat cara Jessica melawannya
"Cih! Jess..Jess..! lagu lo doang senioritas tapi main jambakan!"
Gita April dan Hana juga kini sekarang sedang berhadapan dengan ketiga teman Jessica. mereka berkelahi dengan cara mereka sendiri-sendiri. Refas Yoga dan yang lainnya pun ikut serta melihat pertarungan sengit itu. Regan yang sedari tadi teriak mendukung Megan juga sudah memenuhi suara di kantin sekolah. Refas dan Yoga bukannya tidak mau melerai mereka, tapi menurut Refas itu adalah urusan perempuan dan Refas yakin bahwa Megan bisa menyelesaikannya dengan baik.
Megan memajukan langkahnya tepat di hadapan Jessica, tak pakai lama gadis itu langsung memberi pukulan hebat tepat di wajah Jessica. keadaan di kantin pun semakin riuh dengan sorak sorai mendukung Megan. ketiga teman Jessica langsung membantu gadis itu berdiri karena Jessica sudah tergeletak di lantai tak berdaya. detik berikutnya Megan menendang Rata ketiga teman Jessica sampai mereka semua ikut tergeletak di lantai juga seperti gadis itu. Megan membungkukan badannya dan mengambil uang dari saku baju seragam Jessica untuk di berikan kepada adik kelas yang telah di bully oleh Geng Kunyuk tadi.
"Jangan ngerasa senioritas! kita sekolah disini sama-sama bayar. orang tua dari anak yang lo bully tadi kerja keras buat ngasih pendidikan anaknya yang terbaik! tapi anak yang justru jadi beban keluarga kayak lo malah sok tengil di sekolah! cukup miris si gue liat lo Jess! gue pastiin ini terakhir kalinya lo berulah depan muka gue. kalo sampe gue liat lo begini lagi, jangan salahin gue kalo gue bikin muka lo bonyok lebih dari ini!" ucap Megan.
Geng Kunyuk Yang sudah tidak berdaya itu masih tergeletak di lantai kantin. sedangkan Megan dan yang lainnya kembali duduk di meja Refas, para gadis itu langsung meneguk habis sebotol air mineral yang ada di hadapannya.
"Eh anjing! punya gue itu asal lo minum aja!" ucap Regan tidak terima karena minumannya di teguk habis oleh Gita.
"Minta napa Sat!" ucap Gita tanpa dosa
"Kurang atau Ngga?" tanya Refas kepada sang adik, Megan hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.
"Gerah ya? sini gue elapin" kini Yoga yang mulai berusara, Megan hanya menoleh sekilas dan kembali Acuh.
Ketika Yoga ingin mengelapi Megan, niatnya harus terhenti ketika Aldy tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping Megan dengan raut wajah cemas.
"Megan. kamu gak papa? tadi kata anak kelas kamu berantem. apanya yang sakit? ada yang luka?" ucap Aldy khawatir.
"Ya gak papa lah. primadona sekaligus bad girl masa iya berantem luka" celoteh Regan.
"Diem lo gue gak ngomong sama lo!" jawab Aldy sengit.
Regan langsung membulatkan matanya. "Wah berani dia Xe" ucap Regan kepada Xeo
"Udah sikat aja" pancing Yoga
"Gass hayuu bawa ke markas!" timpa Xeo
Yoga langsung berdiri dan menatap Aldy dengan tajam, ia dengan berani menarik kerah seragam pria itu secara kasar, sorot matanya benar-baner tidak bersahabat dengan Aldy.
"Lo bisa gak sih? balik ke Inggris aja? kedatengan lo di sini juga gak di terima sama siapa pun tau gak!"
"Lo suka sama Megan?" tanya Aldy to the point sambil melepas cengkraman tangan Yoga
"Kalo gue suka kenapa? ada urusan sama lo?"
"Heh! stop! gue lagi gerah abis berantem, jangan sampe muka lo berdua gue tinju ya Sat!" omel Gita.
"Lo bilangan sama sahabat lama lo ini. dia gak cocok sekolah di sini!" ucap Yoga sengit
"Rebutan cewek kok pake cara kasar. kampungan!" kini April yang membuka suara
Yoga menoleh ke arah April "Maksud lo?"
"Ya maksud gue kampungan. KAMPUNGAN! kalian berdua tau Megan sekarang udah jadi es, dengan cara berantem lo berdua gak bakal bisa cairin es di hati Megan. lo berdua harus cari cara yang anti Mainstream"
"Bakar aja Megan nya Ga, itu cukup Anti Mainstream menurut gue, pasti dia bakal meleleh" ucap Regan ngasal, hal itu membuat Yoga lagi-lagi menoyor kepala sahabatnya ini.
"Lo aja sini gue bakar!"
Seketika semuanya di antara mereka hening. pikiran Yoga juga terus berputar, Refas yang sedari tadi juga hanya diam seribu bahasa tidak tau harus berbuat apa. Yoga adalah sahabatnya, dan Aldy juga orang yang kenal dekat dengannya. jadi Refas selalu tidak ikut campur ketika sering kali Yoga dan Aldy bertengkar membicarakan Megan.
Megan berdiri dari tempat duduknya ia menatap Aldy dan Yoga secara bergantian. "Kamu Al! Kamu emang mantan aku dan aku butuh kehadiran kamu di sini, tapi bukan berarti aku bisa balikan sama kamu! Dan buat lo Yoga. gue harap omongan gue di mobil waktu itu udah bisa lo cerna secara jelas! dan gue gak mau denger omongan apa pun lagi dari mulut kalian berdua!" setelah itu Megan pun pergi dan di susul dengan ketiga sahabatnya.
"Tapi gue gak akan berhenti buat luluhin hati lo Gan!" teriak Yoga dari tempat duduknya, sedangkan Megan terus berjalan tidak memperdulikan.
**********
Di dalam kelasnya Megan belajar dengan tatapan kosong menuju ke depan, pikirannya tertuju pada dua pria yang bertengkar di kantin pagi tadi.
"Permisi Bu!" Suara dari ambang pintu XI IPA 1 membuat seluruh pasang mata yang berada di dalam kelas menoleh. di sana terlihat Yoga sedang memasang senyum lebarnya.
"Iya ada apa?" jawab Guru yang sedang mengajar
"Ini Bu.. saya dapet perintah dari Refas Arnangio kakanya Megan, buat panggil Megan katanya ada urusan penting Bu"
"Untuk urusan apa?"
"Kalo untuk urusan apa saya kurang tau Bu.. tadi di suruhnya si gitu."
"Yaudah Megan, sana temui kakak kamu"
Megan beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kelas dengan raut wajah yang tak berubah, di luar kelas Yoga tersenyum miring. sebenarnya itu hanya alasan Yoga untuk bisa bertemu dengan Megan.
"Ada urusan apa?" tanya Megan, kini mereka sudah berada di ujung lorong sekolah. Yoga menaikan sebelah alisnya "Maksudnya?"
"Gue tau lo boong soal abang gue, jadi cepetan ada urusan apa sebenernya lo ngajak gue ke sini"
"Kalo udah tau gue boong kenapa lo mau ikut gue?"
"Ya tadi lo bilang ada urusan penting"
"Ya kan lo tau gue boong"
Megan membuang nafasnya kasar, ia menyesal karena sudah membuang buang waktu untuk ikut dengan manusia konyol ini. "Berenti main-main sama Gue!" kini Megan sudah membalikan badannya dan menggerutu kesal.
"Oh Shit!" langkah kaki Megan terhenti ketika mendengar Yoga bergumam dengan suara yang cukup kencang.
Megan menghampiri Yoga lagi. terlihat pria itu sedang menadangi darah yang terus menetes dari hidungnya.
"Lo kenapa?"
Yoga menggelengkan kepalanya pelan. "Cuma kecapean aja"
"Kenapa si lo selalu nyusahin gue!"
"Gue kan gak minta lo buat balik lagi kesini, jadi lo boleh balik ke kelas sekarang"
Megan menatap Yoga dalam-dalam. pikiran dan hatinya mulai bertengkar! ia tidak mau menolong Yoga dan peduli kepada pria itu lagi untuk kesekian kalinya. ia juga tidak ingin membiasakan diri dengan pria itu. tapi ntah kenapa pikirannya selalu tertuju untuk peduli dengan Yoga.
"Ayo ikut gue ke UKS!" Megan akhirnya membawa Yoga untuk ke UKS, ia berusaha menenangkan kata hatinya sendiri.
Yoga sudah terbaring di atas ranjang tidur UKS. Megan mengambil tisu dan mengelapi bekas darah dari hidung pria itu. ia mendengus berkali-kali dan memandang Yoga dengan heran.
"Kenapa si Ga! Kenapa si lo gak mau nyerah aja?" kini mata Yoga tertuju pada sorot mata Megan yang jaraknya tidak ada sejengkal di hadapan wajahnya
"Gue gak bisa nyerah buat sayang sama lo Gan"
Megan mengerutkan keningnya bingung"Sayang?"
"Iya. gue gak bisa nyerah sayang sama lo. gue gak tau kenapa perasaan gue tiba-tiba begini ke lo, tapi kata Gita kalo gue kesel liat lo lagi sama Aldy itu tandanya gue cemburu, dan cemburu datangnya dari rasa sayang. jadi kesimpulan yang gue dapet adalah gue udah mulai sayang dan jatuh cinta sama lo"
"Cih! Tolong lo tarik ucapan lo itu!"
"Gue gak bisa narik ucapan gue karena gue emang beneran sayang sama lo Megan."
"Cukup Yoga! cukup ngomong sayang depan muka gue karena itu semua bulshit!" ntah kenapa lagi-lagi dada megan terasa sesak dan sakit, setiap kali melihat Yoga. pikirannya langsung tertuju pada masa suram dua tahun lalu.
"Kenap si Gan? Kenapa si lo bisa sebenci itu sama gue? bahkan ucapan serius gue aja lo anggap omong kosong"
"Karena Lo! gue udah gak percaya sama apa pun lagi. termasuk diri gue sendiri!"
"Apa masa lalu dari nyokap lo ada urusannya sama gue?"
Megan terdiam sejenak. kini air matanya menetes tanpa permisi, ia menatap Yoga dalam matanya yang kini sudah memerah, gadis itu memilih untuk keluar dari UKS dari pada harus terus berdebat dengan Yoga.
"Gue pastiin ini terakhir kalinya gue peduli sama Lo!"
Megan pun pergi dari ruang UKS dengan air mata yang terus mengalir deras. namun langkah kaki gadis itu terhenti ketika mendengar seperti ada benda jatuh di dalam ruang UKS.
"Aduh! lo ngapain si pake harus nyoba turun segala! kan jadi jatoh kaya gini dan lo lagi-lagi nyusahin gue tau gak!" darah segar dari hidung Yoga terus mengalir tanpa henti, wajahnya terlihat pucat dan tidak seperti biasanya.
Megan mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya sendiri. ia berniat untuk menelfon Refas dan Gita, namun niatnya terhenti ketika Yoga tiba-tiba meraih tangannya.
"Tolong jangan telfon siapa pun terutama Gita, gue gak mau dia khawatir. gue cuma butuh kehadiran lo di sini" ucap Yoga
"Kalo lo sakit, ngapain lo sekolah. nyusahin aja!"
Yoga hanya tersenyum tipis, ucapan Megan memang selalu menusuk untuknya. "Gue tiap hari sakit juga tetep masuk kali"
Megan mengerutkan keningnya tak mengerti. "Tiap hari sakit? lo punya penyakit kah?"
"Punya"
"Apa?"
"Penyakit gak bisa berenti sayang sama lo"
Megan menggerutu sebal, kalau tidak ingat Yoga sedang sakit pastinya ia sudah meninju wajah pria yang ada di hadapannya ini sekarang.
"Gue serius Yoga!" omel Megan kesal
"Jangan serius-serius kalo gak mau gue ajak serius"
"Serah lo deh! pusing gue!"
Lagi-lagi Yoga tersenyim tipis, ia meraih tangan Megan lagi dan mengusapnya pelan. "Ngga gue bercanda ko"
"Ya bercanda lo gak lucu setan! bisa gak si lo berenti main-main sama gue?"
Yoga tersenyum jahil ke arah Megan "Ohh jadi maunya di seriusin beneran nih?"
"Ihh gak gitu Yoga!!!"
"Gan"
"Hmmm"
"Lo lucu kalo kaya tadi"
"Kaya tadi gimana?"
"Yang ngomong gini. Ihhh gak gitu Yoga!" ucap Yoga menirukan suara Megan barusan
"Tau ah!"
"Lima menit lagi Bel istirahat kedua, lo boleh balik ke kelas sekarang. karena pasti Gita sama yang lainnya udah nyariin lo"
"Ngga. gue mau di sini temenin lo"
Yoga mengerutkan keningnya tanda tak percaya, ntah setan apa yang sudah masuk ke dalam raga Megan sampai bisa-bisanya Megan mengucap hal itu. Yoga menahan tawanya sendiri dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Makasih ya lo udah sering bantu dan peduli sama gue, ya walaupun lebih sering banyak galaknya sih"
"Cih! gausah gr. gue cuma kasian aja sama lo"
"Iya gapapa sekarang mah kasian dulu, nanti baru peduli beneran"
"Gue? peduli sama lo? Hahaha siapa lo selebgram!"
"Megan"
"Hmm"
"Lo mau gak ciuman sama gue lagi? mumpung sepi dan belom istirahat nih"
Megan membulatkan matanya tak percaya, gadis itu menoyor kepala Yoga dengan tidak berperasaan. "Dasar lo ya! sakit-sakit aja bisa-bisanya pikiran lo mesum! berani lo ngelakuin itu lagi, gue bakal lakuin hal yang sama kaya pertama kali gue ninju muka lo! bahkan lebih parah!"
Yoga hanya tersenyum tanpa dosa. "Hehehe namanya juga usaha"
Kring!!!!
Bel istirahat kedua pun berbunyi. di dalam kelasnya Gita April dan Hana mencari-cari keberadaan Megan, karena sejak di panggil oleh Yoga tadi Megan tidak kelihatan balik ke kelasnya lagi.
"Kemana si tu anak Sat!" gerutu Gita.
Refas Xeo dan Regan kini sudah berada di kelas XI IPA 1 niat Refas ingin mengajak Megan untuk pergi ke kantin bersama agar bisa juga dapat kesempatan banyak dekat dengan Gita. tapi setelah sampai di sana, Refas tidak melihat keberadaan sang adik.
"Megan mana?" tanya Refas kepada Gita
"Justru itu gue juga lagi nyariin Sat!"
"Emang gak sama kalian?"
"Bukannya sama lo?" tanya Aldy yang mendengar ucapan Refas
"Sama gue? apaan si Anjing! ngaco lo ya! gue aja di kelas dari tadi"
Gita April dan Hana saling bertatapan heran. begitupun dengan Aldy
"Loh? tadi Yoga ke kelas kita, buat manggil Megan katanya di suruh sama lo"
Kini Refas yang bertatapan dengan Xeo dan Regan "Di suruh gue? gue gak nyuruh apa-apa sama Yoga"
"Ya Allah! pantes aja tadi si anak curut izin ke toilet gak balik-balik ternyata nyamperin si Megan" ucap Regan
"Git, Pril, Na. cuma ada dua tempat yang harus kita datengin buat nemuin mereka berdua. pertama UKS dan yang kedua Kantin"
Ketiganya hanya mengangguk mengerti, mereka pun pergi Aldy juga ikut serta mencari.
"Kan! gue bilang juga apa!" ucap Regan kini semuanya sudah berada di ambang pintu UKS. dan terlihat Megan sedang menyuapi batagor ke dalam mulut Yoga.
"Eh Curut! lo kalo mau cari tempat mesum jangan di UKS terus napa! mentang-mentang sepi terus adem ketagihan lo berduan di sini"
Megan langsung memberi tatapan tajam ke arah Regan dan melempar sendok yang berada di tangannya. "Siapa yang mesum! gue juga gak mau kesini kalo gak karena ni anak beneran sakit!"
Gita langsung memperhatikan Yoga yang sedang terduduk di atas ranjang tidur UKS.
"Lo gak bawa obat Sat?" tanya Gita begitu khawatir
"Bawa di tas" jawab Yoga santai
"Terus gak lo minum Sat?"
"Nggak"
"Kenapa lo **** banget si *******! sebentar biar gue ambilin di kelas lo!" Gita keluar membanting pintu UKS dengan cemas. sedangkan Megan lagi-lagi mengerutkan keningnya.
"Lo sakit apa si? kok Gita sampe se khawatir itu?"
"Sakit hati lah Liat lo deket terus sama si bule dongo ini" Regan berulah Lagi.
"Eh kebalik dong sekarang dia yang sakit hati karena liat Yoga suap-suap an sama Megan tadi" timpal Xeo
"Sakit lo parah banget ya sampe Gita Cemas begitu?" tanya April
"Elah ngga! dia emang lebay!"
Refas yang sedari tadi diam tapi mengetahui semuanya, memandang Yoga dengan penuh kasihan. wajah sahabatnya terlihat sudah pucat bahkan tidak seperti biasanya.
"Eh Anjing! lo sakit apa si?" kini Regan mulai bericara serius
"Kan lo udah tau gue sakit hati."
"Ngga! sekarang gue nanya serius, soalnya muka lo pucet banget"
Xeo menoyor kepala Regan. "gausah serius- serius. lo gak cocok begitu" ucapnya
Kini Gita masuk membawa sebotol air mineral dan obat. "Nih minum cepetan Sat!"
Yoga menegak habis obat itu dengan sekali tegukan, sedangkan Aldy yang sedari tadi hanya diam tidak mengerti langsung menarik Megan untuk keluar.
"Eh! lo mau bawa Megan kemana?" ucap Yoga menahan kepergian Megen
"Gue perlu ngomong berdua sama dia" Aldy melepas tangan Yoga dari genggaman Megan dan langsung membawa gadis itu keluar.
"Megan. Apa kita masih sama?" kini Aldy dan Megan sudah berada di depan ruang UKS
Megan hanya terdiam. pikirannya mulai menjalar kemana-mana.
"Aku lagi gamau bahas ini Al"
"Kenapa? karena perasaan kamu udah buat dia?"
"Ngga Al!"
"Terus? Apa arti kamu peduliin dia dan suapin dia tadi? dari apa yang udah aku liat, apa aku harus percaya sama kata ngga dari mulut kamu?"
"Aku bilang aku lagi gamau bahas ini!"
"Tapi aku mau tau! apa kita masih sama? atau aku doang yang sama. sedangkan kamu udah ngga karena kamu udah mulai suka sama laki-laki yang ngerusak kebahagian kamu?"
"Al Stop!"
"Iya kan? Aku bener kan Megan?"
Megan kini hanya diam di tempat, ia menatap Aldy dalam-dalam. seketika air matanya mulau menetes lagi. Aldy memang Sudah tau semua masalah Megan, tentu saja dia tau langsung dari mamanya yang menjadi sahabat Claudy.
Tiba-tiba Megan langsung memeluk Aldy tanpa permisi. air matanya terus mengalir di pelukan pria itu. dadanya lagi-lagi sesak. memori di kepalanya juga terus berputar tanpa di minta.
"Maafin aku kalo menurut kamu aku berubah Al. aku gak tau sama perasaan aku sendiri karena aku udah gak ngerasain apa pun sejak kejadian itu. maafin aku udah gak pernah perhatiin keberadaan kamu sekarang. maafin aku Al. maafin Aku!"
Aldy membalas pelukan Megan dan mengusap kepala gadis itu dengan sayang. "I love You so much Megan Arnangio."
Di dalam ruangan. Yoga dan yang lainnya melihat kejadian itu dari dalam jendela yang terbuka. namun mereka tidak mendengar percakapan keduanya karena pintu ruangan di tutup. di atas ranjang tidurnya Yoga mengepalkan tangan kuat-kuat, matanya berapi-api melihat kejadian itu.