MEGAN

MEGAN
FIRST KISS



Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Megan membuka pintu kamarnya perlahan, sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara bising sedikitpun. gadis itu juga menuruni anak tangga dengan perlahan, ia meraih kunci mobil lalu bergegas untuk berangkat.


Megan melakukan rutunitas malamnya, ia akan pergi ke Club sendirian, kepergiannya ke sana juga bukan tanpa alasan. Megan tidak Mabuk, Merokok ataupun Berjudi di sana, tetapi Megan hanya akan menangis. iya, menangis. suara dentuman musik yang keras di Club membuat Megan bisa menangis sekencang mungkin ketika dentuman musik mulai menyala tanpa harus ada yang mengetahui kesedihannya.


Megan berhasil mengeluarkan mobilnya dari halaman rumahnya sendiri. suasana Ibu Kota yang sudah sepi bisa membuat Megan melajukan mobilnya dengan kencang dan bebas.


Megan pun akhirnya sampai di tempat tujuannya, ia memasuki area Club dengan wajah datar dan pakaian seadanya. banyak sepasang mata keranjang laki-laki di Club bersiul menggoda Megan. namun gadis itu tidak menghiraukannya.


DJ sudah memainkan musiknya. Megan pun mulai menari di tengah kerumunan orang banyak, seketika air matanya tumpah begitu saja, memori di kepalanya pun ikut terbuka dengan sendirinya.


flashback on. two years a go.


Megan pulang sekolah dengan senyum ceria dan bahagia di wajahnya, gadis itu membawa piala serta sertivikat dari sekolahnya. niatnya sampai di rumah ia akan memberikannya kepada Claudy karena Megan berhasil meraih peringkat pertama Lomba menulis cerpen tingkat Provinsi. namun sampai di sana, Megan melihat keadaan rumahnya yang sangat berantakan. pecahan bekas beling piring, mangkuk, dan gelas sudah berhamburan di lantai rumahnya. Megan melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri Alex menarik Claudy secara kasar dan menampar wanita itu.


Megan mendekat ke arah mamahnya. ia mencoba bertanya ada apa sebenarnya di antara mama dan papanya. namun Claudy tidak menjawab, wanita itu diam seribu bahasa di dalam isak tangisnya.


"Brengsek!" ucap Alex menarik paksa Claudy lagi lalu menampar wanita itu untuk kedua kalinya.


Megan berusaha melerai mereka, namun percuma. Alex seperti sudah kehilangan akalnya, apa pun yang ada di hadapan sang Papa, di rusak dan di lempar.


"Pppaaa..pppaapppaaa kenapa?" Tanya Megan dengan nada yang bergetar.


"Tanya sendiri sama perempuan itu!" ucap Alex menunjuk ke arah Claudy.


Claudy meraih tangan Megan dan mencium putri pipinya. "Maafin mama Megan" ucapnya lirih.


Alex memberikan ponselnya kepada Megan, terdapat di sana menunjukan bukti Screenshot-an Chat. Megan membacanya perlahan, seketika dadanya terasa sesak. air matanya terus mengalir pikirannya buyar tak percaya. Alex juga menunjukan beberapa foto yang berada dalam map Coklat. Megan membuka map itu dengan perlahan, detik berikutnya lagi-lagi matanya membelak tak percaya, Megan meremas foto itu. ia menatap ke arah Claudy dengan tatapan benci dan kecewa.


Sampai akhirnya Refas datang. sang kakak juga terkejut melihat Megan dan mama-nya menangis terisak isak di lantai, sedangkan papa-nya mengamuk dengan kalap.


Megan menunjukam bukti yang Alex berikan tadi kepada Refas. seketika dada Refas juga merasakan sesak. ia mengepal tangannya kuat-kuat.


"Kenapa ma! kenapa!" ucap Refas tak percaya sambil menggoyang-goyangkan tubuh mama-nya.


Claudy hanya diam tak menjawab, lagi lagi hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya.


Refas langsung meraih tangan Megan dan membantu sang adik beranjak. pria itu pun membawa Megan pergi dari sana.


Air mata Megan semakin deras ketika memori di kepalanya kembali lagi. rasa sakit di dadanya masih begitu terasa sampai sekarang, badan Megan terus begerak mengikuti irama lagu di sana.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Setelah merasa puas dengan tangisannya Megan pun keluar dari Club dan memilih untuk pulang. namun perutnya terasa lapar, akhirnya Megan memutuskan untuk membeli nasi goreng di ujung jalan dekat Club.


Ketika sedang menunggu pesanannya jadi, Megan melihat seorang laki-laki berjalan dengan sempoyongan di trotoar jalan. Megan mengetahui siapa pria itu, namun Megan memilih untuk tidak memperdulikannya. tapi di sisi lain terlihat orang itu sangat membutuhkan pertolongan.


Di sana terlihat jelas wajah orang yang Megan sangat benci itu babak belur. Ya, dia adalah Yoga Mahasa. orang yang Megan pukul dan di buat malu di sekolahnya pagi tadi.


Darah segar terlihat keluar terus menerus dari pelipis mata dan ujung bibir Yoga. Megan membalikan badannya dan berniat pergi dari sana untuk tidak memperdulikan Yoga lagi. namun langkahnya terhenti ketika pria itu berlirih meminta Tolong.


"Tttt..tttooollongggin..ggguueee" lirihnya.


Megan melihat Yoga yang sudah tidak berdaya di trotoar jalan. lagi-lagi hati dan pikirannya bertengkar, hatinya berkata untuk tidak mempedulikan Yoga, namun pikirannya berkata Megan harus cepat menolongnya.


Gadis itu menjulurkan tangannya, akhirnya yang Megan pilih adalah kata pikirannya untuk menolong Yoga. ia pun membawa Yoga dengan susah payah ke dalam mobilnya


Megan melirik jam tangannya sekilas. waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari, setelah mengambil pesanannya Megan pun pergi.


Otaknya terus berfikir kemana Megan harus membawa Yoga. ke rumahnya tidak mungkin. ia pasti akan di marahi oleh Refas karena ketauan keluar Malam.


Tak ada pilihan lain, Megan pun mengajak Yoga ke Apartemen-nya. Gadis itu dengan susah payah membantu tubuh kekar Yoga berjalan. sampai di lantai kamar Megan, ia pun menekan tombol sandi kamarnya lalu dengan cepat meletakan Yoga di atas sofa ruang tamunya.


"Aww" pekik Yoga kesakitan ketika Tangan Megan membersihkan lukanya


"Lo lagian ngapain sih bisa sampe kayak gini, emang kayaknya lo tuh sukanya bikin orang kesel, makanya lo dapet asupan tinju dari orang Juga."


"Gue di kroyok sama Jaja dkk" jelas Yoga


"Kok bisa?" tanya Megan penasaran


"Biasa lah urusan laki"


"Jangan gerak gerak! kalo gak bersih nanti kumannya masih ada dan lo bakal infeksi! Marah Megan kesal karena Yoga sedari tadi tidak bisa diam.


"lo ngelapnya pelan-pelan kalo gak mau gue gak bisa diam" jawan Yoga membela diri.


Megan mendengeus sebal, yang di bantu sama sekali tidak tau terimakasih. "Sini!" ucap Megan dan membenarkan posisi wajah Yoga untuk berhadapan dengannya.


Yoga melihat wajah Megan dengan serius mengobati lukanya, kedekatan antara mereka tidak ada sejengkal.


Detik berikutnya Yoga mencium Bibir Megan tanpa permisi. Megan langsung membulatkan matanya, detak jantungnya begitu cepat. pria itu menciumnya cukup lama.


"Makasih" ucap Yoga kini pria itu sudah melepas ciumannya sedangkan Megan masih membeku di tempat tak percaya.


"Makasih udah jadi Megan yang baik depan gue sekarang, walaupun gue tau. setelah ini lo bakal benci lagi sama gue" sambung Yoga


Megan pun tersadar dari lamunannya, ia beranjak berdiri dan melempar handuk yang ia gunakan untuk mengelap luka Yoga ke hadapannya. "Anggap aja ciuman tadi cuma kecelakaan! dan gue gak mau denger omongan apa pun lagi dari lo, dan setelah ini gue gak mau nolong lo lagi!" ucap Megan lalu pergi begitu saja dari apartmen-nya ia mengizinkan Yoga nginap di sana. Namun Megan sendiri harus pulang, bisa gawat kalau pagi Nanti tidak melihat Megan di kamarnya.