MEGAN

MEGAN
TIDAK MENYERAH



"Hai! Selamat Pagi!"


Pagi ini Yoga sudah berada di parkiran bersama Gita mereka berdua memberi senyum lebar sambil bersandar di mobil Pajero berwarna hitam miliknya. Megan yang baru saja tiba bersama dengan Refas menatap keduanya dengan heran.


"Baru juga keluar mobil. udah ketemu pengrusuh!" ucap Megan


"Nih buat lo" Yoga memberikan sebungkus eskrim coklat kepada Megan. gadis itu menaikan sebelah alisnya


"Buat gue?"


"Iya buat lo Megan Arnangio Putri!"


"Gak mau!"


"Sini Sat!" Gita menarik eskrim itu dari tangan Yoga. "Kalo gue yang kasih mau kan??" goda Gita sambil mencolek dagu Megan jahil


"Kalian kenapa sih? pagi-pagi aneh banget!" tanya Refas


"Tau mentang-mentang kembar. kemarin marah barengan, sekarang seneng barengan" sambung Megan


Gita memegang pundak Megan sambil mengeluarkan senyum manisnya. "Ini permintaan maaf kita karena udah bikin lo marah kemarin. dan kita udah berusaha lupain masalah itu, karena menurut kita walaupun memang iya bokap gue ada masalah biarlah itu urusan mereka karena itu urusan orang tua dan kita gak mau ikut campur. dan gue berharap rasa benci lo sama adek gue si Yoga bakal ilang. karena kita sama sekali gak tau apa-apa"


Megan mengambil eskrim yang di berikan Gita dan pergi begitu saja.


"Lo maafin kita atau ngga?" teriak Gita


"Kalo gue terima eskrim ini berarti apa?" ucap Megan, ia mengeluarkan senyum manisnya ke arah Gita


Gita berlari mengejar Megan dan memeluk gadis itu erat. persahabatannya memang tidak akan pernah hancur begitu saja. Refas pun ikut tersenyum melihat keduanya, ia langsung menghampiri Gita dan Megan bersama Yoga.


"Boleh ikutan gak?" ucap Yoga jahil


"Gak! Gita doang yang gue maafin! lo gak!" Megan pun pergi meninggalkan Refas dan Yoga sambil menjulurkan lidahnya, hari ini mood-nya sedang baik karena mendapat eskrim kesukaannya. Gita memang paling tau bagaimana cara membujuknya. sedangkan Refas dan Yoga hanya menggelengkan kepalanya pelan


**********


Refas dan yang lainnya sudah berada di ujung lapangan pagi ini. mereka sedang menikmati pemandangan siswa siswi yang berlalu lalang sambil menunggu bel masuk tiba.


"Heh *****! lo gak ada kapok-kapoknya ya cari gara-gara sama gue!"


Terlihat Megan dan ketiga sahabatnya sedang berada di tengah lapangan beradu mulut dengan Jessica. waktu ingin masuk kelas tadi Megan memang tidak sengaja menginjak sepatu putih yang di pakai oleh gadis itu. karena sebetulnya itu juga bukan sepenuhnya salah Megan, toh Megan juga sudah minta maaf tetapi Jessica masih tidak terima. dan terus mengejar gadis itu sampai tengah lapangan, padahal dari lorong lantai dua Megan sudah tidak menanggapi ocehannya.


"Mau lo apa si sat!" kini Gita yang mengeluarkan suara, karena sudah tidak tahan dengan tingkah menjijikan Jessica. sedangkan Megan masih diam dengan tenang.


"Cuciin sepatu gue!"


Gita membuang ludahnya dengan sengaja ke arah sepatu Jessica yang terlihat kotor. ia menatap gadis itu dengan berani dan menaikan sebelah alisnya tanda meremehkan "Tuh udah gue cuci Sat!"


Seluruh pasang mata di sekolah lagi-lagi bisa mendapat tontonan gratis dari pertarungan sengit itu.


Megan memajukan langkahnya perlahan. ia menarik kerah seragam Jessica dengan berani. menatapnya dalam tatapan tajam. "Gue tadi udah minta maaf tapi lo emang mau cari sensasi kan? sengaja lo teriak-teriak di tengah lapangan karena pengen di liat oke kan? tanpa harus di jelasin satu sekolah juga udah tau kalo gue bakal selalu lebih unggul dari lo!"


"Dasar *****!" Jessica menampar Megan dengan cukup keras. keadaan di seluruh sekolah semakin riuh. Megan memegangi pipi sebelah kanannya dan menatap ke arah Jessica tajam. ketiga teman Jessica sekarang juga sudah berurusan dengan Gita April dan Hana.


"Bilangin sama temen lo gak usah sok paling hits!"


"Eh kunyuk lo gak usah songong ya!


"Wah berani lo ya!"


"Dasar lo Jablay!"


"Maju lo sini *******"


Suara adu mulut dari Gita April dan Hana dengan ketiga teman Jessica terdengar begitu nyaring di setiap sudut sekolah.


"*******!" Megan meninju wajah Jessica dengan sekali pukulan


"Biar Mandi lo! bersih dari najis!" Jessica membalas mengguyur Megan dengan air mineral yang di genggamnya.


Ketika Megan ingin membalas pukulan kedua kali tiba-tiba satu guru perempuan datang dan langsung menampar Megan dengan berani. Bu Endang namanya.


"Kok ibu nampar saya si bu?!" ucap Megan tidak terima


"Ibu Liat kamu pukul Jessica keras! jangan salahin saya kalau saya tampar kamu ya Megan!"


Megan mendorong Bu Endang sampai terjatuh di aspal lapangan. matanya memerah dan menatap guru di hadapannya ini dengan tatapan sangat marah. ternyata Bu Endang adalah tantenya Jessica.


"Saya sekolah buat belajar bu! bukan buat di Rendahin!!"


Refas langsung beranjak dan menghampiri Megan. ia berusaha untuk menenangkan adiknya yang sudah kalap. Yoga Xeo dan Regan pun ikut serta menghampiri.


"Megan udah" ucap Refas berusaha menenangkan.


"Bukan berarti Jessica ponakan ibu dia bisa ngatain saya seenaknya! dan bukan karena ibu tante Jessica ibu hanya menyalahkan saya!" Megan terus berontak dengan mata yang sudah memerah


"Kalian semua! Ikut Saya ke kantor!" suara kepala sekolah yang melihat kejadian itu berhasil melerai


Megan dan ketiga sahabatnya datang ke kantor. Bu Endang dan Geng Kunyuk pun juga sama. Refas dan Yoga tadinya tidak boleh masuk tapi di perbolehkan karena ingin ikut serta membantu Menjelaskan.


"Megan! kamu lagi! kamu lagi! kurang di hukum sama ibu karena pukulin si Jaja?" ucap kepala sekolah


"Tapi saya gak salah bu!" jawab Megan membela diri


"Kamu mendorong guru seperti itu! apa kamu gak ngerti sopan santun Megan!"


"Karena Bu Endang nampar saya duluan Bu!"


"Dia begitu karena kamu keterlaluan Megan!"


"Urusan saya sama Jessica! bukan sama Bu Endang!"


"Salah kalau Bu Endang bela keponakan sendiri!?"


"Jelas salah Bu! Saya sekolah di sini bayar! dan tujuan saya sekolah buat belajar! bukan di rendahin!"


"Emangnya siapa yang ngerendahin kamu?!"


"Jessica! dia katain saya ***** tadi. hanya karena saya gak sengaja injak sepatunya, saya juga sudah minta maaf! tapi dia tetep cari masalah sama saya!"


"Ngga kok bu. Megan ngarang" ucap Jessica sok memelas


"Gausah boong lo Sat!" marah Gita tidak terima"


"Bu saya dan Yoga bisa jadi saksi kalau Jessica memang salah" kini Refas mulai angkat suara.


"Saya punya buktinya Bu!" suara Regan terdengar dari ambang pintu kantor kepala sekolah, ia memberikan ponselnya yang berisi video Megan dan Jessica di lapangan tadi. Regan merekamnya karena berniat untuk di jadikan bahan penambah followers di Instagramnya.


Kepala sekolah melihat Video itu dengan jelas. ia menatap Bu Endang dan Jessica dengan kecewa. "Kenapa Ibu gak bisa bersikap depan murid ibu sendiri hanya karena ingin bela ponakan Ibu?" tanya kepala sekolah kepada Bu Endang. yang di tanya hanya menunduk


"Sudah-sudah ibu akan anggap masalah ini selesai dan tidak ada yang ibu hukum jadi kalian boleh masuk kelas sekarang."


"Saya minta Bu Endang di pecat sebagai guru!" ucap Megan


"Maksud kamu Megan?"


"Kalau Bu Endang gak di pecat, saya yang bakal ngundurin diri dari sekolah. karena high school dengan bayaran mahal gak pantas menampung guru seperti ini!" Megan pun beranjak dari tempat duduknya. ia keluar begitu saja tanpa permisi.


**********


"Bang Boy!" Yoga memanggil Bang Boy untuk menghampiri mejanya.


"Ape Lo! ngapain panggil-panggil gue!" ucap Bang Boy


"Goyang dong Bang Boy"


"Muke lo jelek! sory ye! gue goyang keenakan lo semua! gratisan!"


"Kalo saya sawer Gimana Bang?" Regan mengeluarkan uang seratus ribuan dan mulai meledek bang boy


"Bang! gue mau tanya deh. Lo pernah pake ****** yang ada lampu-lampunya gak?"


"Gila lo ye! lo aja pake! terang member gue kalo pake!"


Megan dan ketiga sahabatnya mulai tersenyum. Bang Boy memang sedikit agak seperti perempuan, nada bicaranya sangat ngasal dan menusuk. tetapi dia orang yang sangat baik. bahkan dengan suka rela bang boy sering memberi minuman gratis.


"Bang Boy. masa nenek gue udah gak perawan"


"Heh hantu lo! mana ada nenek-nenek masih perawan nyet!"


"Kalo lo? masih perawan gak bang?"


"Masih lah gue! emang gue si Gita! udah gak perawan empat kali kan ni anak!"


Gita membulatkan matanya sambil menahan tawa, ia mencubit lengan Bang Boy dengan Gemas. "Enak aja lo Sat! gue masih virgin kali!"


Megan dan yang lainnya pun ikut tertawa bersama, moodnya sudah membaik sejak Yoga memanggil Bang Boy. pria itu memang berusaha menghibur Megan dan yang lainnya.


"Dakjal lo semua! manggil doang jadi nyawer ngga!" Bang Boy pun pergi menuju tempatnya lagi, sedangkan semuanya tertawa lepas.


"Gue gak liat Aldy dari pagi? kemana dia?" kini April bertanya


"Ngapain si cariin Aldy? kan ada aku" Goda Xeo.


Pipi April lagi-lagi mulai memerah. Megan dan yang lainnya pun meledek gadis itu.


"Gak masuk, ada urusan penting sama papanya" Megan menjelaskan. sedangkan Yoga sudah bersyukur di tempat duduknya.


"Gan mau balik bareng gue gak?" kini Yoga mulai membuka suara


"Lo aja sama Gita. ngapain gue balik bareng lo"


"Ngga kok Sat!. gue balik sekolah mau beli buku sama April dan Hana. iya kan?" Gita mengedipkan sebelah matanya ke arah April dan Hana berusaha untuk mengode.


"Kita juga hari ini latihan MMA kan?" ucap Refas juga menggedipkan sebelah matanya ke arah Regan dan Xeo


"Yah ko gitu si? kenapa semuanya sibuk?" ucap Megan


"Pril, Na? lo mau anterin gue Boker gak?" kini Gita berlaga sakit perut, ia juga menarik paksa April dan Hana untuk keluar dari area kantin


"Eh Git gue ikut!"


"Gak usah Gan! kita bertiga mau boker April sama Hana juga kebelet ternyata" teriak Gita yang mulai menjauh


"******! hari ini kimia ada PR!" Refas Xeo dan Regan pun beralasan dan pergi dari kantin meninggalkan Megan dan Yoga di sana.


Yoga langsung tersenyum bangga kepada ketiga sahabatnya dan saudara kembarnya. mareka mengerti tanpa di minta. kini di kantin hanya tersisa Megan dan Yoga.


"Gue juga mau ke kelas ah!" Megan beranjak dan berniat untuk pergi namun langkahnya terhenti karena di tahan oleh Yoga.


"Gue minta lo temenin gue di sini"


"Gue gak mau Yoga! lepas!"


"Gan kenapa lo cantik banget sih?"


"Of Course! im so beautiful!"


"Tapi lo lebih cantik kalo gak marah-marah terus sama gue"


"Makanya lo jangan ganggu gue terus!"


"Gue bakal terus ganggu lo. dan gak akan berenti apa lagi nyerah buat luluhin hati lo"


"Yakin banget emang lo bisa luluhin hati gue?"


"Gue gak akan nyerah sampe gue mati!"


"Emangnya kalo lo udah berhasil, lo mau ngapain?"


"Mau cium lo. boleh?"


"Gak!"


"Peluk deh"


"Gak!"


"Kenapa? Aldy aja boleh"


"Ya Aldy mah Beda"


"Lo bilang perasaan lo udah mati buat siapa pun tapi kok kayak masih sayang sama Aldy?"


"Karena Aldy Beda!"


"Walaupun Aldy Beda. gue tetep gak mau jadi dia, gue bakal bikin lo jatuh cinta sama gue pake cara gue sendiri."


"Apa si yang lo cari dari gue?"


"Lo itu menantang"


"Jadi lo cuma penasaran?"


"Awalnya gue emang cuma penasaran. tapi gue pernah bilang kan kalo perasaan gue tiba-tiba berubah karena gue ngerasa cemburu kalo liat lo sama Aldy."


"Kenapa perasaan lo jadi berubah?"


"Karena lo terlalu spesial kalo cuma buat di jadiin bahan penasaran"


Yoga melepas seragam sekolahnya, ia hanya memakai kaos hitam polos dan memberikan seragam itu kepada Megan


"Nih pake, nanti lo masuk angin basah abis di guyur Jessica"


"Gue ganti baju di sini gitu?"


"Ya gak papa kalo mau di sini, gue ini yang liat bukan si Jaja"


Megan mengambil seragam Yoga dengan kasar, ia memukul pria itu dengan seragam yang di genggamnya. "Otak lo mesum terus!"


Yoga hanya tersenyum gemas di tempat melihat Megan keluar dari area kantin.