MEGAN

MEGAN
JADI PACAR



Hari ini kegiatan upacara tiba, Megan berlari menuju kantin sedangkan ketiga temannya sudah baris rapih di lapangan, April Gita dan Hana mencari cari kemana keberadaan sahabatnya itu, Mereka melirik barisan kelas XII IPA 3 yang tidak jauh dari barisannya, Refas berada di sana. tapi kenapa Megan tidak ada? apakah Mereka tidak berangkat bersama tadi pagi?


"ck! kemana si Megan, ini bentar lagi mulai tapi dia belom dateng, Kalo dia telat pasti dia bakal di suruh berdiri di depan lapangan sampe upacara selesai" ucap Gita cerewet Matanya masih terus mencari keberadaan Megan, April dan Hana pun sama


April mengambil ponselnya di saku, ia mengirim pesan kepada Megan dan bertanya di mana keberadaan sahabatnya itu sekarang.


April14420: Lo dimana?


Di kediamannya Megan sedang duduk santai di kantin sendirian, dirinya tidak ikut upacara karena lupa membawa topi. Megan malas kalau harus di hukum dan menjadi tontonan seluruh murid sampai upacara selesai.


Megan mengecek ponselnya sesekali, notifikasi dari April tidak ia hiraukan, dirinya lebih memilih bermain Game untuk menghilangkan suntuknya, berada di kantin sendirian membuat Megan merasa bosan.


Di lapangan Gita April dan Hana menggeser langkahnya secara perlahan, sekuat mungkin Mereka menahan malunya karena sudah masuk ke barisan XII IPA 2 yang bersebelahan dengan barisan kelas Refas. Mereka ingin bertanya dimana keberadaan Megan.


"sut! sut! sut" Panggil Gita mengode


Yoga yang melihat sang kakak Berada di barisan kelas XII menaikan sebelah alisnya.


"Heh! ngapain lo di sini, ini bukan barisan lo"


Gita langsung menginjak kaki Yoga, mengingtkan Yoga untuk diam saja, karena kalau mereka ketauan dengan kepala sekolah, pasti mereka harus menanggung malu karena akan di tempatkan di depan lapangan sampai upacara selesai.


"Ssssssst! Lo bisa gak si jangan berisik Sat!" marah Gita kepada Yoga, namun bicaranya ia pelankan


"Lo ngapain di sini?"


"Tolong panggilin Kak Refas" sambung April


"Mau ngapain?"


Gita menggetok kepala Yoga, ia kesal karena sang adik banyak tanya. "Panggilin aja kenapa si! nanya mulu lo dari tadi Sat!"


Yoga pun akhirnya menurut saja, dirinya tidak mau di hukum karena bertengkar dengan kembarannya di barisan, Akhirnya Yoga memanggil Refas yang berada tepat dua langkah di belakangnya. Yoga meminta temannya untuk tukar posisi agar lebih mudah memanggil Refas.


Kini Refas sudah sejajar dengan Gita April dan Hana, ia menaikan sebelah alisnya lalu bertanya "Kenapa kalian bisa masuk ke barisan kelas XII" tanya Refas ingin tau


"Ck! udah deh lo jangan kaya si Yoga nanya mulu Sat!" kesal Gita


"Yaudah lo mau apa ke sini?"


"Megan Mana?" suara Gita yang terdengar begitu kecil membuat Refas susah mendengar ucapannya


"Hah?"


"Elah! budeg lo! Gue tanya Megan mana Sat!"


"Lah bukannya sama Kalian?" tanya Refas balik


"Dia gak ada di barisan, bareng sama lo gak berangkatnya?"


"Bareng Kok"


Yoga yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya, dirinya bertanya tanya, kemana keberadaan Megan? dia sakit kah? atau sengaja bolos upacara? Yoga memundurkan langkahnya perlahan, serapih mungkin dirinya kabur dari Lapangan tanpa ketahuan oleh guru satu pun.


Yoga langsung berlari ke arah kantin, di sana kosong, dirinya tidak menemui Megan di kantin. otaknya terus berputar kemana perginya Megan, jujur bahwa Yoga sangat khawatir.


Yoga pun memutuskan untuk mencarinya ke lorong ujung sekolah, namun tidak ia temukan juga, sampai ketika ia sedang berdiri di lorong tengah kepalanya menengok kanan kiri terus mencari sosok yang ia cari, langkah Yoga terhenti tepat di depan ruang UKS, tiba tiba tangannya di tarik oleh seseorang, orang itu menariknya masuk ke dalam. dengan cepat orang yang menariknya itu mengunci pintu UKS.


"Mmmeee." ucap Yoga terbata bata


"Sstttt! Jangan Berisik kita bisa ketuan" ucap orang itu


Dia adalah Megan ia berlari ke arah UKS ketika seorang guru mengetahui Megan berada di kantin saat upacara berlangsung. dan ketika ingin masuk, Megan melihat Yoga sedang berdiri tepat di depan ruangan UKS seperti orang kebingungan. tanpa pikir panjang Megan menarik tangan kekar itu, dirinya mengatur nafas dalam dalam.


"Jangan berisik kalo lo gak mau ketaun sama Guru!" ucap Megan tersengal-sengal, nafasnya tidak teratur.


"Megan" Panggil Yoga pelan


"Lo bisa gak sih diem aja? Nyesel gue narik lo kesini tadi aja lo gue biarin ke pergok sama guru!" jawab Megan kesal


Yoga memperhatikan tangan kananya, Megan begitu erat memegang tangan kekarnya itu, jujur Yoga sedang merasakan gugup sekarang.


"Gue cuma lagi gugup Gan, lo pegangin tangan gue begini kita udah kaya orang pacaran"


Megan melirik tangannya sendiri, dirinya merasa malu, dengan cepat Megan melepaskan genggaman itu


"Gue gak sengaja sory" ucap Megan dingin


"Lo ngapain di sini? kenapa gak upacara? temen temen lo nyariin, Lo sakit?"


"Pertanyaan yang mana dulu yang harus gue jawab?"


Yoga menyengir malu "Mmm yang pertama dulu, lo ngapain di sini?"


"Bolos"


"Ohh.. Oke kepertaanyaan yang kedua, kenapa gak upacara?"


"Lupa bawa topi"


"Pertanyaan ketiga, lo saa.." belum selesai Yoga berbicara Megan sudah menatapnya lebih dulu dengan galak.


"berisik lo! nanya mulu!"


"Yaudah satu pertanyaan lagi" Megan hanya diam tidak menjawab "Lo setiap hari pms kah?" pertanyaan Yoga kali ini membuat mata Megan membulat.


"Ya gila aja gue pms tiap hari"


"ya abisnya lo tiap hari marah-marah, Gita aja yang galak kadang ada baiknya, kalo Lo galak terus"


"bodo amat gue gak peduli!" jawab Megan acuh lalu gadis itu meraih knop pintu.


"Lo mau kemana?" tanya Yoga


"Keluar. pusing gue dengar lo ngomong mulu"


"Lo mau ke gep guru karena ketauan pacaran sama gue di UKS?"


Megan memberi tatapan tajam ke arah Yoga "siapa yang pacaran?!"


"Kita" jawab Yoga tanpa Dosa.


"Sejak kapan gue pacaran sama lo Anjing!"


"Sejak hari ini"


Megan menginjak kaki Yoga, lalu mendekatkan wajahnya. "Mimpi Lo!"


Yoga membalas dengan Mendekatkan wajahnya juga, hal itu membuat Megan mundur secara perlahan dan membuat hadis itu tersandar di tembok. nyalinya mulai menciut


"Loo..mmm..mmaau ngaa..paain?" ucap Megan terbata bata.


Yoga tersenyum miring, kemudian ia meniup wajah Megan. "Gue mau perkosa lo" jawabnya ngasal sambil tersenyum Jahil


"Ya allah Yoga, gue masih perawan. minggir gak!" ucap Megan sambil berusaha mendorong tubuh Yoga dari hadapannya namun percuma, tubuh Yoga begitu kekar.


Yoga semakin jahil, ia semakin memajukan wajahnya dan membuat Megan merasa ketakutan. "Gggg...uuuueeee. gue kasih apa pun yang lo mau, tapi Plis lo jangan perkosa gue!"


Yoga semakin tersenyum pertanda kemenangan, ia suka melihat Megan dengan nyali yang menciut seperti ini, terlihat semakin menggemaskan di matanya. tidak seperti hari hari sebelumnya, Megan terlihat begitu arogan dan kasar, bahkan dengan berani gadis itu menarik seragam sekolahnya, padahal di sekolahnya tidak ada satu orang pun yang berani memperlakukan Yoga seperti itu, kecuali Gita. namun sekarang? apa yang bisa di lakukan oleh gadis itu? hanya diam dan berdoa bahwa ucapan Yoga tidak sungguhan di lakukan.


"Kalo gue minta lo jadi pacar gue?" ucap Yoga semakin tersenyum jahil.


Mata Megan membulat, ia menunjukan wajah dinginnya lagi "GAK!" jawabnya penuh penekanan.


"Nggak? oh yaudah" ucap Yoga semakin memajukan wajahnya, Nyali Megan menciut lagi.


"Iiii..iyaaa..iyaaa gue mau jadi pacaar lo!"


Megan langsung mendorong kuat tubuh Yoga dari hadapannya, ia segera pergi dari ruang UKS. untungnya upacara sudah selesai, Megan langsung menuju kantin, ia sesekali mengecek ponselnya telfon dari ketiga sahabatnya sudah memenuhi notifaksi panggilan di ponselnya.


Megan duduk di bangku yang biasa ia duduki bersama sahabatnya, terdapat banyak siswa berlalu lalang di kantin, biasanya mereka pergi membeli es bang boy karena merasa dehidrasi telah berdiri di teriknya matahari pagi selama setengah jam lebih.


Gita April dan Hana terlihat memasuki area kantin, ketika melihat Megan berada di sana mereka pun langsung lari menuju sahabatnya yang sedari pagi mereka cari.


"******* lo kemana anjing, kita cariin" ucap Gita kesal sambil melempar es batu yang ia ambil dari gelasnya


"Lo kemana? kenapa gak ikut upacara?" sambung April


Megan hanya sibuk dengan ponselnya dan tidak menjawab pertanyaan pertanyaan dari ketiga sahabatnya itu, wajah datarnya masih terpampang di sana.


Refas Xeo Regan dan Yoga juga terlihat memasuki area kantin, ntah dari kapan Yoga sudah bergabung dengan Refas dan teman temannya. Megan langsung membulatkan matanya, mengingat kejadian menyeramkan di UKS tadi membuat Megan bergidik ngeri, Yoga melirik Megan yang sedang memperhatikannya, pria itu mengedipkan sebelah matanya, Megan langsung berpaling kembali ke arah ponselnya ia tidak ingin melihat wajah Yoga lagi.


"Anjing tu anak mau ngapain Sat!" ucap Gita


Megan April dan Hana menoleh ke arah Gita, mereka tidak mengerti ucapan yang gadis itu maksud


"Itu lo liat adek gue, ngapain anjing bikin malu Sat!" seru Gita lagi sambil menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya


Terlihat Yoga sedang naik ke atas tengah tengah Meja kantin, Regan Xeo dan Refas berusaha menyuruh sahabatnya itu turun, mereka sangat merasa malu melihat tingkah laku Yoga, sedangkan seluruh pasang mata di kantin sudah memperhatikan pria itu yang tidak tau ingin apa.


"Ga, lo kalo mau bunuh diri jangan dari atas meja, Kurang tinggi" timpa Xeo


"Perhatian Perhatian!" kini Yoga mulai mengeluarkan suara


Di mejanya Megan hanya menonton tingkah Yoga yang sama sekali tidak Megan ketahui ingin apa sebenarnya laki laki itu.


Sedangkan Gita sudah mengumat dalam hati, ia sudah ingin mengutuk Yoga kalau kembarannya itu membuat kerusuhan atau tingkah bodoh lainnya.


"Buat anak anak yang ada di kantin sekarang, Kalian bisa pesen apa pun yang kalian mau sekarang, Es bang boy, mpe mpe loyo ibu jutek, atau apa pun itu, kalian boleh pesen, gue yang akan Bayar"


Refas Xeo dan Regan membulatkan matanya, mereka sama sekali tidak mengerti mengapa Regan melakukan hal itu, Megan dan teman temannya juga ikut terkejut, gadis itu merasakan hal yang tidak enak dalam dirinya.


"Ga, gue tau lo kaya tujuh turunan, delapan belas belokan, sembilan tanjakan, tapi gak gini juga anjing, emang lo pegang uang cash? di sini gabisa bayar pake debit Ga *******" ucap Regan. Xeo dan Refas kali ini setuju dengan ucapannya


Di Mejanya Gita sudah menggerutu, ia tau bahwa ayahnya selalu memberi banyak uang untuk Yoga maupun dirinya, tapi mengapa kembarannya ini bisa melakukan hal sekonyol itu


"Git itu adek lo serius?" tanya April dan Hana bersamaan, sedangkan Gita hanya mengangkat kedua bahunya.


"Karena hari ini gue baru jadian Sama Megan Arnangio Putri dari kelas XI IPA 1. jadi kalian boleh makan apa pun, sebagai pajak jadian dari gue buat satu sekolah"


Gita April dan Hana langsung menoleh ke arah Megan, Yang di tatap hanya bisa membulatkan matanya, gadis itu tidak mengira kalau ucapannya di UKS akan di anggap serius oleh Yoga.


Begitupun dengan Refas Xeo dan Regan, mereka betul betul terkejut dengan ucapan Yoga barusan. sedangkan Yoga yang masih berdiri di atas meja lalu menoleh ke arah Megan yang sudah di perhatikan seluruh pasang mata di kantin.


"Hai sayang" ucap Yoga sambil mengedipkan sebelah matanya dari atas meja


Seluruh murid sudah tidak memperdulikan tingkah konyol Yoga Lagi, mereka langsung mengisi perut mereka dengan Cepat. Yoga turun dari atas meja dan berhenti dari tingkah Konyolnya. Refas Xeo dan Regan masih diam di tempat.


"Ngapain pada diem? lo gak mau makan? pesen sana" ucap Yoga menyadarkan ketiga sahabtnya


Regan dan Xeo saling bertatapan, mereka langsung berebut lari menuju es bang boy, tidak peduli dengan tingkah konyol Yoga lagi, yang terpenting uang mereka masih utuh saat jam kedua nanti.


Di mejanya Megan masih bengong tak percaya, dirinya benar-benar malu, Gita April dan Hana sedari tadi sudah melontarkan banyak pertanyaan untuknya.


"Nyet! gue ngomong sama lo! lo serius?" tanya April gregetan.


Megan masih diam, wajah datarnya masih sama, tetapi pikirannya benar-benar Buyar.


"Sejak kapan Sat?!" tanya Gita lagi


Terlihat Yoga dan Refas menghampiri meja Megan dan teman temannya, Refas langsung duduk si sebelah Megan dan mengusir April yang berada di sana.


"Serius? Lo jadian sama Yoga?" Tanya Refas dengan serius.


Yang di tanya masih diam, Sedangkan Gita sibuk menjambak rambut Yoga. "Lo pacarin Megan awas lo ya buat mainan doang Sat!" Ucap Gita memperingatkan


Yoga hanya bisa terpekik kesakitan, sang kakak terlihat begitu arogan setiap saat. Refas kembali bertanya kepada Megan tetapi Megan masih diam, dirinya bingung akan menjawab apa kepada sahabat dan kakaknya ini.


"Ini cuma salah Paham" Megan akhirnya buka suara.


"Gimana gimana maksudnya?" Kepo Hana sambil memakan mpe-mpe yang ia rampok dari adik kelas tadi. Yoga juga menunggu jawaban dari Megan


"Gue tadi bolos upacara" Megan mulai bercerita


"Iya tau" jawab April


"Gue gak bawa topi" sambung Megan


"Anjing kenapa gak bilang? kan bisa gue pinjemin." jawab April lagi


Refas Yoga Gita dan Hana menoleh ke arah April, karena sedari tadi April memotong ucapan Megan, dengan berani Hana menoyor kepala sahabatnya itu, suasana sedang serius ketika Megan bercerita, tapi bisa bisanya April masih bercanda.


"Ehee iya pissss" ucap April sambil cengengesan. "lanjut deh"


"Terus gue pergi ke kantin, tapi di kantin gue kepergok bolos sama Pak Heru, akhirnya gue cabut dari kantin, kebetulan UKS ngga di kunci dan akhirnya gue masuk tuh, tapi pas gue masuk gue liat di depan UKS ada si Yoga kaya lagi kebingungan, akhirnya gue tarik dari pada dia ketaun Pak Heru juga, tapi pas di UKS gue mau di perkosa sama dia"


Semua mata membelak termasuk Gita ia langsung menjambak lagi kepala sang adik, Refas pun sama, langsung menoleh ke arah Yoga dengan tatapan tajamnya, Yoga langsung menggelengkan kepalnya membela diri.


"Ngga. gak gitu ceritanya, sumpah gue cuman bercanda demi allah, si Megan bilang dia mau jadi pacar gue" ucap Yoga membela diri


"Bener Gan?" tanya Refas memastikan


"Gue gak tau dia bercanda apa ngga, tapi yang jelas dia bilang mau perkosa gue, kalo gue gak mau jadi pacarnya, jadi gue bilang aja iya dari pada gue di perkosa sama bocah ini" jawab Megan jujur


"Whaaat!!?? lo mau perkosa Megan? aduh ya ampun Yoga, gue tau lo mampu menafkahi Megan tapi tau tempat dong bukan di sekolah" ucap Regan yang baru saja datang membawa dua piring nasi uduk dan dua gelas es bang boy


"Berisik lo gak tau apa apa diem aja" ucap Hana galak


"Hey neng Hanna, kamu ini harus sopan ya bicara dengan kakak kelas kamu" jawab Regan di buat buat


Refas menggetok kepala Sahabatnya ia selalu muak dengan tingkah konyol Regan "Lebay lo beruk!"


"Anjing Regan lo makan segini banyak?" tiba tiba Xeo datang membawa segelas es yang sudah sisa setengah


"Gue laper Xe, gak di kasih makan nyokap tiga hari, mumpung orang paling kaya di sekolah kita lagi berbaik hati jadi gue manfaatin" ucap Regan lagi sambil menyuapkan nasi uduk yang ia bawa tadi ke dalam mulutnya.


Tanpa di duga duga, Claudy dan Alex datang ke sekolah untuk menjemput putra dan putrinya, Danish juga sudah ikut dengannya. Di satu meja yang sama, Refas dan teman temannya bergabung dengan meja Megan. mereka menoleh bersamaan ketika seoarang anak kecil menggunakan seragam merah putih memanggil nama Megan dan Refas secara bergantian.


"Mas Refas, Kak Megan" teriak Danish dari area depan kantin, Seluruh mata di satu meja yang sama itu menoleh bersamaan, Refas dan Megan terkejut Danish ada di sana, di susul dengan Claudy dan Alex di belakangnya.


Megan memeluk sayang sang adik, tetapi tidak menghiraukan keberadaan Alex dan Claudy. Refas langsung berdiri tanpa basa basi, Refas minta penjelasan sedang apa mereka di sekolahnya.


"Ada apa?" tanya Refas dingin


Alex berusaha tidak marah kepada putranya di sana, ia masih bisa mengontrol emosinya dengan baik. "Papa mau jemput Kamu sama Megan"


"Ngapain?" tanya Refas


"Ada acara penting keluarga"


"Saya sama Megan sedang sekolah, tidak bisa ikut, Kalian bisa pergi bersama Danish"


"Tapi kehadiran kalian penting, makanya kita datang untuk menjemput kalian, lagi pula kata kepala sekolah hari ini free class, dan Papa sudah izin dengan beliau"


"Sejak kapan saya dan Megan menjadi posisi penting buat kalian?"


"Refas ini sekolah, jangan buat Papa Marah"


"Sama aja, di rumah maupun di sekolah, saya dan Megan tidak pernah berarti buat kalian"


Tiba tiba Megan beranjak dari tempat duduknya tanpa permisi, ia keluar dengan tatapan datarnya, seluruh mata memperhatikannya sambil berbisik bisik, namun Megan tidak menghiraukannya.


Xeo Regan dan Yoga masih diam di tempat, Begitupun dengan Gita April dan Hana, mereka sama sekali tidak membuka suara ketika Megan pergi begitu saja tanpa Permisi.


"Kalian bisa pergi dari sini sekarang, saya harus nyusul Megan" ucap Refas lalu pergi begitu saja.


Alex menatap Claudy dengan benci, ia menyalahkan Claudy sepenuhnya atas sikap Refas dan Megan yang berubah, Regan Xeo dan Yoga hanya tersenyum ramah ke arah Claudy dan Alex mereka pamit untuk pergi, di susul dengan Gita April dan Hana. "Permisi tante, om" jawab mereka serempak.


Mereka ber enam menyusul Refas dan Megan di lorong pojok sekolah, Terlihat Refas sedang mengelus puncak kepala Megan dengan sayang.


Seketika Megan menangis dalam pelukan Refas, ia tidak bisa menahan lagi air matanya. Gita April dan Hana berusaha menenangkan Megan, para Laki laki juga hanya bisa diam, keadaan begitu tegang Sekarang.


"Kak Megan" Megan dan yang lainya langsung menoleh, Suara Danish membuat mereka Terkejud, Megan dengan cepat mengusap air matanya.


"Loh Danish? kok gak ikut mama sama papa?" tanya Megan


"Tadi tiba tiba kak Megan pergi, temen temen kak Megan juga ikut pergi, jadi Danish ikutin mereka dari belakang, Kak Megan kenapa nangis?" tanya Danish polos


Megan sebisa mungkin melebarkan senyumnya untuk sang adik, Ia memegang kedua pundak Danish dan mengusap kepala bocah itu dengan sayang.


"Danish, Kak Megan gak nangis, Danish sekarang temuin mama sama papa ya, Danish mau ke rumah Grandma kan? pasti Danish kangen kan sama Fadil dan Rafa? saudara sekaligus temen Danish di Rumah grandma?" Danish hanya mengangguk.


"Kak Megan sama kak Refas lagi sekolah, jadi Danish aja yang pergi ke rumah Grandma ya, nanti kapan kapan Kak Megan ikut" Bocah berusia sepuluh tahun itu tersenyum riang mendengar ucapan penenang dari Megan, Ia lalu pergi dan melambaikan tangan ke arah Refas dan Megan dengan senyuman bahagianya.


"Dadah Mas Refas, Dadah Kak Megan, Dadah teman teman Kak Megan dan teman teman kak Refas"


Megan Refas dan yang lainnya melambaikan tangan ke arah Danish, Refas dan Megan sebisa mungkin mengeluarkan senyum manisnya untuk sang adik.


Suasana sudah tidak berlalu tegang, Refas kembali mengusap kepala Megan. "hari ini free class katanya, mending kita balik ke kantin buat makan" ucap Refas menenangkan.


Megan beranjak dari duduknya, ia langsung menarik Kerah seragam Yoga dengan mata Merahnya, keadaan kembali menegang. Refas dan yang lainnya terkejut.


"Gara gara lo! gara gara lo gue kehilangan semuanya!" kini Megan mengeluarkan air Matanya lagi, ia berbicara dengan terisak isak, setiap kali melihat Yoga ntah kenapa hanya kebencian terhadap pria itu yang ia rasa.


Gita langsung melepas cengkraman Megan dari seragam sekolah Yoga, ia melihat Megan dengan tatapan Marah juga.


"Lo boleh kehilangan kendali, asal gak usah bawa-bawa Yoga Sat!" ucap Gita penuh dengan penekanan "Lo boleh gak suka sama adek gue, tapi gue gak bisa biarin lo berlaku se enaknya sama dia. lo gak pernah ngerasin rasa sayang karena hati lo udah terkutuk jadi es!" sambung Gita dengan mata semakin Memerah


Megan maju satu langkah dan berhadapan dengan Gita, ia mendorong Gita sampai terjatuh ke lantai. "Lo tau apa soal rasa sayang? lo tau apa soal hati? lo mau gue kasih tau sekarang kenapa gue benci Adek lo ini?" sambung Megan sambil menunjuk ke Arah Yoga "karena dia nyo..." Ucapan Megan terhenti ketika Refas menarik dirinya.


"Megan Cukup! cukup lo nyalahin orang lain!"


Keadaan benar benar semakin Tegang, April dan Hana hanya bisa melihat Yoga Gita Refas dan Megan saling adu argumen, begitupun dengan Xeo dan Regan mereka tidak bisa berbuat apa apa.


Yoga membantu Gita berdiri, ia melangkahkan kakinya lalu berjalan mendekat ke arah Megan. "kalo gue punya salah sama lo, gue minta maaf. dan gue peringatin sama lo! lo boleh nyakitin Gue, asal ngga dengan nyakitin Gita!"


Yoga menarik tangan Gita untuk menjauh dari sana, Megan masih merasakan sesak di dadanya. tangannua mengepal kuat-kuat.