MEGAN

MEGAN
INGATAN AWAL



Sepulang sekolah Refas Megan dan yang lainnya berniat untuk latihan band lagi. namun karena di rumah Aldy sedang tidak bisa dan ruang band di sekolah lagi-lagi di gunakan untuk eskul. terpaksa mereka semua latihan band di rumah Yoga. Megan awalnya menolak ia tidak yakin akan menginjakan kaki di sana, tapi Refas berkali-kali menenangkannya dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Assalammualaikum" Mereka semua sudah sampai di rumah Yoga sekarang.


Nafas Megan berulang kali berderu keras, mereka langsung di sambut dengan Bram ketika sampai di rumah Yoga. Megan menggenggam tangan Refas kencang, berulang kali ia mengatur nafasnya sendiri. Aldy juga ikut mengusap punggung Megan pelan berusaha menenangkan.


Semuanya bersalaman dengan Bram, Megan dan Refas kini sedang berada di hadapan pria paruh baya itu. sedangkan yang lainnya sudah masuk duluan.


"Kuat juga nyali kalian buat datang kesini" ucap Bram


Megan dan Refas sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat, di pertengahan jalan menuju ruang Band Aldy terus menatap ke arah Megan dan Refas yang sedang berhadapan dengan Bram.


Megan memajukan langkahnya, Refas langsung menyangkal gadis itu, Refas sendiri sebenarnya sudah naik darah ingin memberi pukulan hebat kepada Bram, namun sebisa mungkin kekesalannya ia tahan.


"Jelas kita berani! karena kita bukan pengecut seperti anda!" tegas Refas


"Jangan pernah bermain api kalau kalian tidak mau terbakar"


"Seharusnya kata-kata itu harus anda simpan sendiri buat diri anda" Refas pun masuk kedalam rumah Yoga sambil menggandeng tangan Megan dan menabrak tubuh Bram dengan berani.


Megan memasuki rumah Yoga dan langsung menuju ke ruang band, namun matanya tertuju pada wanita rapuh yang duduk di atas kursi roda dengan tatapan kosong lurus kedepan. Megan memandangi wanita itu dengan penuh kasihan, laki-laki egois yang sangat Megan benci itu benar-benar tidak punya hati. ia membuat perempuan yang duduk di atas kursi itu seperti orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. hatinya berlirih sedih. "Maafin mama tante Stela" lirih Megan dalam hati.


Semuanya fokus memainkan alat musik dan tugasnya masing-masing di ruang band. namun kegiatan mereka terhenti ketika Stela datang mengetuk pintu dan membawakan banyak air botol mineral yang ia pangku menggunakan plastik.


"Mama.. ya ampun! Gita bisa sediain minum buat temen-temen Gita sendiri ma. mama gak usah repot-repot begini" ucap Gita khawatir dengan keadaan sang mama.


Stela menatap Gita dengan wajah kebingungan, ia berusaha mengingat nama anaknya sendiri tapi tak bisa.


"Siapa nama kamu?" tanya Stela


"Gita Ma.. anak mama yang paling cantik" ucap Gita berusaha mengibur sang mama.


"Dia cantik" ucap Stela tersenyum ke arah Megan


"Iya jelas Ma! cantik banget calon mantu mama" sambung Yoga


Megan hanya tersenyum canggung. "Sore tante" sapa Megan sopan.


Stela memegangi kepalanya, ia memejamkan matanya cukup lama. seketika ingatan-ingatannya seperti terbuka saat melihat wajah Megan.


"Ma.. mama kenapa?" tanya Gita khawatir


"Claudy.." lirih Stela pelan


Deg!


Megan seketika membeku di tempat ketika mendengar nama mamanya di sebut oleh Stela, Refas mengusap punggung Megan pelan berusaha menenangkan adiknya untuk tetap tenang. Aldy pun sama ia sudah memandangi Megan dengan khawatir.


"Kamu mirip sekali dengan Claudy" sambung Stela


Megan semakin tegang dan membeku, sekujur tubuhnya terasa kelu dan dingin.


"Mama inget tante Claudy?" tanya Yoga


"Mama harus minum obat sekarang" tiba-tiba Bram datang dan langsung mengambil alih kursi roda Stela dan langsung mendorongnya menjauh dari sana.


Megan mengepalkan tangannya kuat-kuat, seketika kakinya terasa sangat lemas seperti tidak mampu berdiri. Megan langsung jatuh dan duduk di lantai, air matanya tiba-tiba mengalir deras. rasa benci dan kasihan tercampur menjadi satu sekarang, ia meremas stik drum yang di genggamnya dengan kencang. lagi-lagi keadaan semakin tegang di ruang band.


"You are not Loser Megan. wake up! jangan sampe dia liat Kamu nangis" ucap Aldy


"Ini sebenernya ada apa si Sat! kenapa gue sama Yoga gak tau apa-apa soal ini!"


Megan beranjak dari duduknya, sekarang kakinya sudah bisa berdiri tegak di hadapan Yoga, ia menatap pria itu dengan air mata yang terus mengalir dan tatapan yang sulit di artikan.


"Gue gak tau! gue harus benci atau suka sama lo" ucap Megan tidak di mengerti oleh Yoga


Refas memberi sebotol air mineral untuk Megan minum, gadis itu meneguk habis satu botol air mineral tidak ada dalam waktu semenit, ia meremas botol yang bekas di minumnya dengan keras.


"Jangan minta pulang. tolong bersikap tenang" bisik Refas ke arah Megan


Megan menarik nafasnya dalam-dalam ia berusaha menenangkan suasana hatinya yang berantakan. detik berikutnya Megan tersenyum ke arah yang lainnya.


"Ayo latihan lagi" ucap Megan. seketika semaunya melongo karena melihat keanehan dari diri gadis itu


Regan menempelkan tangannya ke arah kening Megan, ia mengerutkan keningnya dengan heran.


"Badannya gak panas" ucap Regan


"Tapi kenapa lo tiba-tiba nangis terus sekarang senyum kaya orang stres?"


"Lo kerasukan setan rumah Yoga ya?" kini Xeo yang bersuara


"Hah? ngga! gue tadi nangis cuma lagi drama aja ngetes perhatian kalian" ucap Megan berbohong


Gita menoyor kepala Megan dengan kasar, ia merasa kesal karena sudah di permainkan dengan gadis itu. "Setan lo! gue kira lo beneran!"


"Akting lo bagus Gan, lo cocok nih main di film Azab" celoteh Regan lagi


Mereka semua pun kembali fokus dengan latihan bandnya, acara pensi akan datang seminggu lagi. tidak mungkin mereka semua tidak benar-benar fokus untuk latihannya.


__________________________


Setelah selesai latihan band mereka semua memutuskan untuk pergi ke Kedai Reza. menghilangkan penat karena lelah sudah menghabiskan waktu dua jam lebih untuk latihan band. dehidrasi di tenggorokan mereka semakin terasa saat tuan rumah lupa memberinya suguhan air.


Sampi di Kedai Reza, April Hana Xeo Regan Refas dan Aldy terkejut bisa melihat pemandangan malam hari di lantai atas kedai. April dan Hana sibuk berfoto ria sedangkan para lelaki sibuk mengobrol ntah masalah apa, Gita dan Megan yang terlihat tidak bersemangat hanya diam di tempat duduknya sambil menunggu pesanannya datang.


"Sumpah! gue baru pertama kali dateng ke sini dan ini keren banget!" ucap April tak henti-hentinya ia mengagumi kedai Reza


"Megan are you okay?" ucap Aldy yang sedari tadi memperhatikan Megan menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong


Megan hanya tersenyum sekilas, ia menggelengkan kepalanya pelan memastikan Aldy bahwa gadis itu baik-baik saja. tapi Aldy tau bahwa Megan sedang memikirkan hal yang terjadi di rumah Yoga tadi.


"Jangan paksain diri kamu buat bisa nerima semuanya kalo kenyataannya kamu gak bisa"


Megan menunduk dan memainkan kukunya, ia bahkan tidak tau dirinya bisa menerima semua resiko yang harus di tanggungnya atau tidak setelah perasaannya sudah jatuh ke dalam diri Yoga.


Aldy menggenggam erat tangan Megan dan menatap manik mata gadis itu dalam-dalam. Yoga sebisa mungkin tidak menahan rasa cemburunya karena melihat kejadian itu, ia harus sering memaklumi karena Aldy yang lebih tau Megan daripada dirinya.


"Aku ikhlasin kamu sama Yoga bukan buat bikin kamu sedih, aku mau kamu bahagia sama dia Megan. karena aku tau kamu udah punya rasa sama dia sekarang."


Yoga beranjak dari tempat duduknya, ia menarik tangan Megan untuk menjauh dari sana sesaat. pria itu membawa Megan masuk ke dalam mobilnya.


"Sebenernya urusan lo sama gue apa si Gan? kenapa lo bisa cepet berubah kalo sama gue? nanti lo marah-marah, nanti lo peduli, nanti lo nangis, nanti lo baik." tanya Yoga, keduanya sudah berada di dalam mobil sekarang


"Gue gak bisa jelasin Yoga, lo bakal paham sendiri nanti"


"Gue mau mecahin teka-teki ini. gue gak mau hidup dalam kebingungan gak jelas Megan"


"Plis banget stop bahas ini. gue gak bisa ngontrol emosi gue Yoga setiap kali gue bahas masalah ini!"


"Kalo gue bahas lo jangan terlalu deket sama Aldy apa lo mau bahas masalah ini?"


"Aldy just my ex! apa lo gak bisa liat?"


"Tapi lo terlalu deket sama dia Megan"


"Kalo gue deket emangnya kenapa? dari kecil gue juga deket sama dia"


"Iya gue tau! tapi itu bikin gue cemburu!"


"Kenapa si? lo seneng banget cari ribut sama gue? gak cape debat terus?"


"Nggak!"


"Dasar cowok gila!"


"Karena kita keliatan kaya pacaran kalo debat kaya gini"


Megan diam di tempat tidak menjawab sedangkan Yoga memajukan wajahnya sampai membuat Megan tersandar di kaca mobil. tangan Yoga mulai menyentuh wajah Megan. dari kening hingga turun ke hidung, ia mencubit hidung gadis itu pelan.


"Jangan di ulangin lagi, gue cemburu" ucap Yoga


Detik berikutnya Yoga mencium bibir Megan tanpa permisi, gadis itu memejamkan matanya tak kuasa menahan debaran jantung yang berdetak begitu cepat. ntah kenapa tiba-tiba bibirnya mau membalas ciuman itu. Megan melingkarkan tangannya ke atas leher Yoga. keduanya saling mengecup sampai kegiatannya terhenti ketika Refas mengetuk kaca Mobil Yoga.


Megan langsung tersadar seakan dari dunia mimpinya, dengan cepat ia membuka kaca mobil dan terlihat Refas sudah bertolak pinggang di sana bersama Gita.


"Di cariin malah asik ciuman di mobil!" ucap Refas sambil menggelengkan kepalanya.


Megan keluar dari mobil sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, mukanya memerah padam karena terciduk basah oleh kakaknya. sedangkan Gita sudah menjewer telinga Yoga tanpa ampun.


"Kita cariin ternyata di sini ya lo Sat!" omel Gita sedangkan Yoga hanya terpekik kesakitan.