
Paginya Megan bangun hampir pukul setengah tujuh. sepanjang malam gadis itu tidak bisa tidur, ia memikirkan hal yang terjadi bersama dengan Yoga di apartemennya.
Megan menuruni anak tanggga dengan terburu-buru. seperti biasa, dasinya belum ia pakai saat ingin sarapan. namun tiba-tiba langkah kaki Megan terhenti di pertengahan tangga, ia mengedipkan matanya berkali-kali. pemandangan yang Megan lihat sekarang mengingatkannya pada hal-hal bahagia setiap harinya di rumah itu. terlihat Alex sudah duduk dan makan dengan tenang di meja makannya bersama Claudy Refas dan Danish. pikirannya mulai bertanya kapan Papanya itu pulang?
"Megan. sini Papa pulang" ucap Alex menyadari putrinya sedari tadi hanya diam saja di pertengahan tangga.
Megan menuruni anak tangga perlahan. Claudy juga menyuruhnya duduk namun Megan masih diam seribu bahasa, gadis itu berdiri di ujung Meja makan tanpa berniat untuk ikut makan bersama mereka. detik berikutnya Megan pun pergi begitu saja tanpa suara.
meganarnan10 : gue tunggu di mobil.
Refas mengecek ponselnya sekilas, melihat pop up pesan dari Megan, pria itu menyelesaikan makannya lalu beranjak dan pergi dari sana juga tanpa suara.
"Refas! Papa masih duduk di sini tapi kamu main pergi gitu aja!" Marah Alex. Refas tidak memperdulikannya pria itu memilih untuk terus berjalan.
Namun langkah kaki Refas terhenti ketika ia mendengar suara kegaduhan di meja makannya.
BRAK!
Terdengar Alex menggebrak meja makan dengan kasar, ia juga menunjuk Claudy dengan benci. "Ini semua gara gara kamu!" ucapnya
Refas membalikan badannya dan mengajak Danish yang sedang kebingungan untuk pergi dari sana. tangan Refas mengepal, matanya juga memerah. pria itu menatap Alex dan Claudy secara bergantian dengan tatapan tajamnya.
"Jaga sikap kalian di depan Danish! dia tidak tau apa apa!" ucap Refas begitu menekan
"Kamu yang bikin Papa marah Refas!" kini nada Alex semakin meninggi.
Refas semakin mengepalkan tangannya kuat. "Kalian tau apa alesan kenapa sifat saya begini!"
Refas pun pergi meninggalkan rumahnya dengan tangan yang masih mengepal. namun sebisa mungkin ia menahan emosinya di hadapan Danish yang sedang menangis di depan pintu mobil bersama Megan.
"Hiks.. Kenapa Papa marahin Mama Mas Refas, Danish takut" ucap bocah malang itu dalam isak tangisnya.
Refas dan Megan saling bertatapan, sebisa mungkin mereka menenangkan adik kesayangannya itu.
"Danish. Papa cuma cape karena baru pulang kerja, tapi nanti mereka juga baikan" Ucap Megan menenangkan Refas juga mengangguk meng-iyakan.
************
Sampai di sekolah Megan langsung menyalin PR Fisika dari April. namun kegiatannya terhenti ketika ketua kelas memanggil Megan dan teman-temannya untuk pergi ke kantor kepala sekolah, gadis itu sempat bertanya ada urusan apa ia harus kesana, namun ketua kelasnya berkata tidak tau. Megan dan teman-temannya pun menemui panggilan itu ntah untuk urusan apa.
Di pinggir lapangan terlihat Refas dan teman-temannya sedang berduduk santai melihat pemandangan siswa-siswi yang berlalu lalang, kening Refas berkerut ketika melihat adiknya memasuki ruang kepala sekolah bersama ketiga temannya.
"Mau ngapain tu bocah ya" gumam Refas pelan namun Yoga Xeo dan Regan mendengernya. pandangan ketiganya sekarang juga tertuju ke ruang kepala sekolah.
"April sama Hana gak masuk?" tanya Regan bingung.
Refas hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tak tau, pria itu memanggil April dan Hana yang sedang menunggu di luar ruangan kepala sekolah untuk di mintai penjelasan.
"Megan ngapain di sana?" ucap Refas
"Gue gak tau jelas si dia ngapain, cuma kayanya ngebahas masalah dia sama Jaja, lo tau sendiri Jaja caper banget sama guru" jelas Hana
Kini Yoga yang mengerutkan keningnya. "Jaja?" ucap Yoga bingung
"Iya Jaja. soalnya dia ada di sana juga tadi kita liat"
"Kenapa dia sama si Jaja?" ucap Yoga semakin penasaran.
"Tiga hari yang lalu si Megan ngehajar Jaja di gudang sama Gita, kita gak ikutan jadi kita gak ikut masuk" Kini April yang mulai menjelaskan
"Ckckck. besar juga ya nyali ciwi-ciwi itu ngehajar si Jaja, Yoga aja yang cowo babak belur di hajar dia" ucap Regan meledek
Yoga hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam, yang di tatap hanya menyengir tanpa dosa.
"Emang masalah Jaja sama Megan apa?" tanya Refas, kini pembahasan mereka tertuju pada topik pertama.
"Kata Megan si gara-gara si Jaja berani Modus terus pegang-pegang gak sopan gitu ke Megan" jelas April
Refas dan teman-temannya bertatapan secara bergantian, mereka tau apa yang harus mereka lakukan kepada musuh terbesarnya itu.
Terlihat Megan dan Gita keluar dari ruang kepala sekolah dengan raut wajah muram, kedua gadis itu berdiri di tengah lapangan dan hormat ke arah bendera di bawah teriknya matahari pagi.
Refas beranjak dari tempat duduknya, pria itu menghampiri Megan dengan seulas senyum. kini Refas berdiri di hadapan Megan, tangannya bergerak mengelapi kringet sang adik. "Jangan cape-cape ya, kalo udah gak kuat cabut aja" ucap Refas penuh dengan perhatian. ia juga mengusap puncak kepala Megan dengan sayang, setelah itu Refas pergi di susul dengan Xeo dan Regan.
Seluruh pasang mata yang melihat pemandangan itu langsung berbisik-bisik iri, Refas dan Megan memang selalu terlihat serasih layaknya orang berpacaran, maka tak heran mereka selalu di juluki sebagai bro and sist goals.
Kini terlihat Yoga juga sedang berjalan ke arah tengah lapangan, niat hati ingin meledek Gita yang sedang di hukum. namun niatnya ia urungkan ketika melihat sang kakak berusaha berdiri tegak melawan teriknya sinar matahari.
"Nih" Yoga menyodorkan sebotol air mineral yang tadi pagi ia beli di kantin "Gue yakin lo kuat Git, jadi keep strong ya kalo mau pingsan gapapa pingsan aja, tapi gue gak mau nolongin" ucap Yoga meledek "Muaaaaah!" kini pria itu mencium pipi sebelah kanan Gita. yang di cium hanya memutarkan bola matanya malas melihat kelakuan sang adik.
Yoga melirik ke arah Megan yang sedang berdiri di sebelah Gita, pria itu menyingkirkan langkahnya ke kiri sedikit hingga tepat berada di hadapan Megan. dengan banyak bekas luka yang ada di wajahnya Yoga masih menyempatkan dirinya untuk tersenyum di hadapan gadis yang ia suka ini.
"Berani lo sentuh gue, gue bakal bikin lo malu lebih dari yang kemarin!" ucap Megan memperingatkan gadis itu seperti tau apa yang ingin Yoga lakukan.
Yoga hanya menyengir tanpa dosa, ia memajukan langkahnya sampai tepat di sebelah telinga Megan. "Gue bakal ngehajar si Jaja buat lo" bisiknya. setelah itu Yoga pun pergi menyusul ketiga sahabatnya.
Megan masih diam di tempat, pandangannya lurus kedepan namun pikirannya melayang-layang.
************
"JAJA!" Refas menendang Pintu kelas XII IPA 1 ia mencari keberadaan Jaja namun ia tidak menemukannya di sana, pria itu menarik ketua kelas XII IPA 1 memintanya untuk memberi tahu dimana keberadaan Jaja.
"Mana temen lo yang lugu itu!"
Sang ketua kelas tidak menjawab, dirinya begitu takut dengan Refas dan teman temannya.
"Kita nanya lo dimana si Jaja!" bentak Yoga tidak sabaran
"Ddd..ddd...di Ppperpus" ucap ketua kelas itu terbata bata.
Refas dan teman temannya langsung menghampiri perpus dengan tangan mengepal, tidak ada bosan bosannya Jaja mencari gara-gara dengan mereka. Refas sangat tidak suka jika melihat sang adik mendapat perlakuan tidak pantas, terlebih lagi dari musuhnya sendiri.
"Maksud lu apa!" serka Refas langsung menarik kerah baju Jaja
Jaja sedang di perpus saat itu, berpakaian rapih dan sok lugunya membuat Refas ingin muntah, di luar Jaja begitu Arogan, di sekolah dia pintar memanipulasi keadaan, benar-benar perencana yang handal.
"Santai kali Fas, ada apa sih?" ucap Jaja pura pura tidak tau, ia masih bisa mengendalikan semuanya karena seluruh pasang mata di perpus sudah memperhatikan kegaduhan yang di buat oleh Refas dan teman temannya
Bug!
Yoga sudah tidak tahan lagi melihat wajah Jaja yang sok polos, Regan memegangi kedua tangan Jaja, Xeo pun sama. Refas dan Yoga secara bergantian menghantam Habis orang itu, Mereka pun Berhenti setelah merasa puas, Yoga menginjak Dada Jaja, ia berbisik lirih ke arah musuhnya yang sudah tidak berdaya.
"Itung itung lo nebus kesalahan lo karena udah beraninya keroyokan sama gue tadi malem, dan ini bonus buat lo yang udah berani pegang-pegang Megan sembarangan!"
Bug!
Itu adalah pukulan terakhir dari Yoga, setelah itu Mereka pun pergi, seluruh mata di perpus hanya bisa menatap kasihan ke arah Jaja, laki-laki itu terlihat sudah tidak berdaya.
Refas membuka kancing bagian atas pada seragam sekolahnya, ia mengecek ponselnya dan mengirim pesan kepada Megan untuk segera menemuinya di Kantin, namun tidak ada balasan dari sang adik, Refas berfikir mungkin Megan masih hormat bendera.
"Anjing gue masih belom puas ngeliat si curut sengsara" ucap Regan sambil mengipas ipaskan dirinya sendiri
"Dia kayak gak ada abisnya ya nyari gara- gara sama kita" timpal Xeo
"Gue si gak masalah dia cari gara gara sama kita, Asal gak usah bawa bawa Megan, jangan harap dia bisa sentuh adik gue sembarangan!"
ucap Refas tidak terima
Yang di bicarakan tiba-tiba datang, terlihat Megan dan teman temannya memasuki area kantin, mereka menduduki tempat yang biasa ia duduki, Megan meneguk habis satu botol air yang di belikan oleh April tadi.
Refas mendatangi tempat duduk mereka, Duduk di samping Megan sambil mengelapi wajah Megan yang penuh keringat.
"Cape ya?" Tanya Refas begitu perhatian
"Sedikit"
"Ehemm.. ehemm.. anak satu satunya mah bisa apa" ucap April ngiri melihat sist and bro ini selalu terlihat begitu serasih.
HUAAAAA!
Seluruh murid bersorak ria ketika mendengar pengumuman dari kepala sekolah, keadaan sekolah langsung ramai dengan siswa siswi lalu lalang bersiap siap untuk cepat pulang.
"*******! mending gue gak usah sekolah tadi kalo tau ke sekolah cuma di hukum terus pulang!" Gerutu Gita kesal
"Anjing lah kesel gue!" Sambung Megan sambil melempar botol minuman yang habis ia minum
Refas hanya tersenyum ia mengacak rambut Megan dengan sayang. "Ayo pulang" ajaknya
"Mmm gue lagi males di rumah, gimana kalo lo ajak gue jalan-jalan?" Tawar Megan sang kakak hanya mengangguk meng-iyakan
Regan Xeo dan Yoga akhirnya juga mendatangi meja Megan, Kantin sudah kosong, sudah banyak yang pulang namun mereka belum.
"Hari ini kita mau main Gak?" ajak Xeo kepada teman tetemannya
"Ngga dulu deh, gue mau temenin adek gue shopping" kata Refas
Yoga menaikan sebelah alisnya "Kemana?"
"Kemana kek suka suka gue lah, bukan urusan lo!" jawab Megan galak "Cuss gurls kita ambil tas di kelas"
Setelah Megan pergi bersama teman temannya, Yoga mehomon kepada Refas untuk dirinya saja yang menemani Megan pergi belanja. namun Refas tidak meng-iyakan.
"Nanti yang ada dia marah sama gue, Ga. gue gak mau ya" ucap Refas
"Gue yang bakal traktir dia belanja, jadi lo gak perlu mengorbankan saldo atm lo itu"
Refas berfikir sejenak, Tawaran Yoga cukup menarik. akhirnya Refas pun meng-iya kan ucapan pria itu.
"Terus Gue gimana?" tanya Regan memelas
"Ya gak gimana gimana, emang apanya yang gimana?"
"Ya maksudnya gue gimana? gak ada yg ngajak belanja juga gitu?"
Yoga Xeo dan Refas meninggalkan Regan sendirian di kantin, mereka sudah lelah harus menanggapi drama alay dari sahabatnya itu.
"Ya allah nasib gue gini amat Yak" ucap Regan semakin sok memelas
********
"Mas gue tunggu mobil ya" teriak Megan dari ruang tengah
Sepulang sekolah tadi Megan langsung berlari ke kamarnya untuk bersalin, Megan merasa senang, dirinya akan pergi belanja dengan kakak kesayangannya hari ini, ia pun masuk ke dalam mobil, lalu.
"Loh! kok ada lo? Lo ngapain ada di dalem mobil abang gue?" ucap Megan kaget, Tiba tiba Yoga ada di dalam mobil sang kakak.
"Hari ini gue yang anter lo belanja" ucap Yoga tanpa Dosa
"Hah? Gak mau! gue mau keluar!"
Ketika Megan ingin keluar, tiba tiba pintu mobilnya tidak bisa di Buka, Yoga sudah menguncinya terlebih dahulu. tanpa se izin Megan, Yoga langsung tancap gas Dan tidak memperdulikan gadis itu yang Sudah mengamuk di Mobil.
"Kita mau kemana hari ini?" Yoga berusaha mencairkan suasana.
"Pulang" jawab Megan dingin
"Megan, gue tau lo marah sama gue, gue tau lo gak suka sama gue, cuma gue pengen lo kasih kesempatan ke gue, gue yakin gue bisa cairin es yang ada di dalem hati lo itu, dan gue yakin bisa bikin lo sayang dan cinta sama gue"
Megan menatap Yoga dengan tatapan Marah, tau apa dia soal perasaan? tau apa dia tentang kasih sayang? ya walaupun Megan melihat sendiri kalau Yoga memang sebenarnya tipe orang yang penyayang, tapi Megan persetan dengan kepercayaan.
Megan manarik Baju Yoga dengan kasar, kejadian itu membuat Yoga harus memberhentikan Mobilnya di pinggir jalan, Yoga melihat mata Megan dalam tatapannya.
"Lo dengerin gue ya! Lo denger gue baik baik!" ucap Megan dengan matanya yang sudah memerah. "Jangan pernah bilang lo suka depan muka gue lagi karena gue gak mau denger lo ngucap kalimat itu! oh ya satu lagi, gausah sok ngomong cinta dan sayang depan gue karena itu semua bulshit!"
Yoga memandang wajah Megan dalam dalam, dari matanya pria itu bisa melihat ada banyak kesedihan dan kebencian di sana.
"Kenapa? kenapa lo gak bisa kasih gue kesempatan?"
"Ya karena perasaan gue udah mati!"
"Termasuk buat gue?"
"Buat siapa pun! dan buat apa pun!" Megan semakin mengencangkan cengkramannya ia menatap Yoga dengan benar-benar penuh kemarahan "Lo tau?!! Bahkan gue kehilangan diri gue sendiri karena lo!!!!"
Megan berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya di hadapan Yoga, mata dan wajahnya sudah memerah, dadanya begitu sesak, ia ingin menangis namun Megan tahan.
"Megan" Panggil Yoga pelan, ia melihat Megan sedang mengatur nafasnya, selembut mungkin Yoga memanggil gadis itu, dirinya tidak mau membuat Megan semakin marah
Seketika Megan menangis air matanya sudah tidak bisa lagi ia bendung, Megan menunduk hatinya seperti ter iris ketika mengingat kejadian itu. Kejadian dua tahun lalu yang membuat Megan harus menutup hatinya rapat-rapat, yang membuat Megan harus kehilangan Semuanya bahkan dirinya sendiri.
"Apa karena nyokap lo? apa karena kejadian itu lo dan Refas begini? Lo persis banget sama kayak abang lo, Menutup diri rapat- rapat, padahal sebelumnya gue kenal Refas sebagai orang yang humoris"
"Cukup Yoga!" Megan menampar Yoga dengan keras
Megan merasa dadanya begitu sesak, isak tangis membuat hatinya semakin terasa ter iris, Ia menatap Yoga begitu dengan benci. hatinya selalu bertanya, kenapa? kenapa Refas selalu memafkan masalahnya? Padahal, Yoga lah yang membuat mereka berdua berubah. Kenapa? kenapa Refas selalu memaklumi dengan alasan Yoga tidak mengetahui apa-apa, mengapa Refas selalu menutupi dengan alasan Yoga tidak boleh merasakan sakit seperti mereka.
Sekali lagi megan menarik baju Yoga dengan kasar, Matanya memerah campur air mata yang terus mengalir, Yoga menatap Mata Megan dalam dalam, Ia bisa melihat banyak kebencian di sana. Yoga juga bertanya tanya, kenapa? kenapa tatapan Megan denganya tidak berubah, kenapa Megan selalu berlaku kasar dengannya?
"Lebih baik lo cari kesalahan lo sendiri sebelum lo ngomong depan gue!" Megan lalu melepas cengkraman itu dengan Jijik.
Yoga dapat melihat jelas Megan mengelap tangannya sendiri dengan Tisu, hati Yoga begitu sakit melihat Megan seperti itu. Di mata Megan Yoga terlihat seperti najis. Yoga berusaha menatap lagi mata Megan.
"Gue salah apa sama lo? sampe lo gak bisa kasih kesempatan buat gue?"
"Lo harus inget satu kata ini, PENGHIANATAN SELALU TERLIHAT MENJIJIKAN!" ucap Megan menekan, kemudian ia keluar dari Mobil Yoga.
Megan berusaha mengelap air matanya, Ia tidak boleh terlihat lemah di depan musuhnya sendiri.
Yoga ikut turun, dirinya menghampiri Megan yang terlihat sedang menunggu kendaraan umum untuk dia tumpangi. Yoga perlahan mendekat dan memeluk Megan dari belakang
"Maafin gue kalo emang gue punya salah sama lo tanpa gue sadari, Maafin gue Megan"
Megan langsung melepas pelukan itu dengan kasar, lalu kembali menampar Yoga untuk kedua kalinya.
"Dont Touch me bastard!!"
\*\*\*\*\*\*\*\*
Sampainya di rumah, Megan langsung membanting pintu kamar Refas, Refas melihat Megan penuh dengan kemarahan, dirinya juga bertanya kenapa sang adik? ia berusaha meredakan emosi Megan, namun gagal, gadis itu Sudah lebih dulu memukuli Refas dengan kalap.
"Kenapa? Kenapa lo malah ngebiarin gue di deketin sama Yoga? Kenapa? Kenapa lo gak pernah marah atau bahkan benci sama dia! Kenapa Mas jawab Gue!"
Refas berusaha untuk tetap menenangkan Megan, sedangkan yang di tenangkan masih menangis sampai terisak isak, air matanya begitu deras, Megan terus memukuli sang kakak untuk meluapkan kekesalannya.
"Lo tau kalo kita berubah karena siapa? lo tau kebahagian kita ilang karena siapa? Kenapa lo masih ngebiarin Yoga hidup? Kenapa lo masih bisa maafin dia padahal lo tau hidup kita ancur karena dia!"
Refas menangkap wajah Megan, ia melihat sang adik begitu menderita. mata Megan terlihat banyak kesedihan Dan kesengsaraan di dalamnya.
"Hey! Hey! Megan! please tenang! lo ngasih gue banyak pertanyaan, Dan sekarang gue mau kasih lo satu pertanyaan aja" Emosi Megan kini mulai mereda. "Kenapa lo masih bisa temenan sama Gita? padahal lo tau posisi Gita siapa?"
Megan diam tidak menjawab, otaknya terus berpikir, dirinya mempunyai dendam Dan benci kepada Yoga tapi tidak dengan Gita, Padahal Megan sadar Dan Megan tau bahwa Gita adalah Kakak Dari Yoga
"Karena Gita sahabat gue mas, dia bahkan temenan sama gue sebelum gue kenal April Dan Hanna"
"Itu juga alesan kenapa gue masih temenan sama Yoga, Megan. Karena Yoga sahabat gue, dia gak tau apa-apa soal ini"
"Lo cerita ke temen temen lo tentang masalah nyokap, apa Yoga masih gak Sadar juga? gimana dia bisa gak tau masalah ini? sedangkan lo cerita sama mereka, kalo gue punya alesan kenapa Gita gak tau masalah ini, karena gue sama sekali gak pernah cerita ke siapa pun."
"Gue emang cerita ke temen temen gue Gan, tapi gue gak pernah nyebut apa pun di cerita gue, termasuk dia."
Megan menunduk sambil menangis sejadi jadinya, Refas hanya bisa mematung di tempat dirinya tidak ingin membuat Megan merasa bersedih seperti ini, itulah alasan Refas selalu memberikan perhatian lebih untuk adik kesayangannya.
Di sisi lain ada seseorang yang meneteskan air matanya juga, Claudy mendengar semua perdebatan putra Dan putrinya, hatinya juga ikut ter iris, rasa bersalah selalu datang menghantui Claudy dia juga Sudah tidak bisa berdepaapa-apa, Refas dan Megan Sudah terlanjur membencinya