MEGAN

MEGAN
HARUS MEMILIKI



..."Karena lo milik gue. gue harus memiliki lo sepenuhnya."...


Sepulang sekolah seluruh pasang mata di lorong sekolah melihat Megan dan Yoga yang terlihat begitu serasih. ketiga sahabat Megan sudah pulang duluan ikut dengan mobil April. begitupun dengan Refas dan yang lainnya, sudah pulang duluan dengan alasan ingin latihan MMA.


Megan merasakan risih karena menggunakan baju Yoga yang terlalu kebesaran untuknya. dan pria itu juga terlihat lebih cool karena hanya tertutup kaos hitam polos di badan kekarnya.


"Yoga gue mau ganti baju aja" ucap Megan memberhentikan langkahnya di depan toilet perempuan


"Gak! baju lo basah dan ketat, nanti nyiplak terus di liatin cowo-cowo. gak ikhlas gue! lo pake rok se atas lutut begini aja sebenernya gue gak suka!"


"Tapi baju lo gede banget Yoga Mahasa!"


"Gak papa Megan Arnangio! lo lebih keliatan cute!" ucap Yoga merayu sambil mencubit kedua pipi Megan. "Ayo pulang" kini ia menggandeng tangan Megan


Sampai parkiran langkah kaki mereka terhenti ketika melihat Aldy sudah menyandarkan dirinya ke salah satu mobil yang terparkir di sana. tanpa aba-aba ia menarik tangan Megan dengan paksa.


"Ayo pulang" ucap Aldy. Yoga langsung menyangkalnya kasar


"Apaansi lo! hari ini lo gak sekolah gue udah seneng. tapi sekarang lo tiba-tiba dateng jadi pengrusuh"


Aldy tidak menanggapi ucapan Yoga, ia menatap Megan. "Aku udah Line berulang kali. kenapa gak di bales?"


"Hp nya mati"


"Mama kamu minta aku buat jemput kamu"


"Aku pake rok pendek Al, gak mungkin aku naik motor."


Aldy melepas jaketnya dan memberikan kepada Megan. "Pake ini" ucapnya lalu langsung menarik Megan untuk ikut pulang bersamanya


Motor Aldy melaju begitu saja meninggalkan Yoga. pria itu menendang ban mobilnya sendiri dengan kasar, lagi-lagi Aldy yang Megan pilih.


__________________________________


Sampai di rumahnya Yoga langsung membuka pintu rumah dengan kasar, Gita yang sedang memakan kripik kentang sambil menonton tv di ruang tamu memandang adiknya heran.


"Kesel banget gue *******!!" ucap Yoga sambil melempar tasnya ke atas sofa ruang tamu.


"Kenapa si lo Sat! pulang-pulang kayak orang gila! harusnya seneng dong gue bantuin lo pdkt sama Megan"


"Muka lo jauh! Megan balik bareng Aldy!"


"Apa Sat! kok bisa?!"


"Ya gue juga gak tau! tu anak tiba-tiba ada di parkiran pas gue mau balik sama Megan!"


"Lah dia kan gak sekolah?"


"Ya justru itu tadi gue bilang gak tau Gita!"


"Heh.. anak-anak papa. kenapa sih ko marah-marah" suara dari ambang pintu rumah Yoga membuat keduanya menoleh, terlihat Bram. papa Yoga, memasang senyum lebarnya di ambang pintu sambil membawa tas kerjanya.


"Papa! kok udah pulang? kenapa gak bilang?"


Bram mengusap kepala putra dan putrinya dengan sayang. "Kenapa kalian pada marah-marah?"


"Gita mah gak marah Pa. itu Yoga yang marah karena gak jadi pulang bareng gebetannya" jelas Gita


"Wahh.. udah move-on ya dari mantan kamu yang di SMP. siapa sekarang gebetan kamu? kenalin dong ke Papa"


"Megan. cewek inceran Yoga namanya Megan Arnangio Putri. dia sahabat Gita, berantemnya Pa? Beh! jago banget! sebelas dua belas lah sama Gita. Jutek tapi cantik Polll!" lagi-lagi Gita yang menjelaskan.


"Megan Arnangio?" raut wajah Bram tiba-tiba berubah mendengar nama Megan.


"Iya Pa! masa Papa gak kenal sih. orang mamanya Megan kan sahabat Mama"


Yoga langsung membenarkan posisi duduknya, seketika pikirannya ingat pada masalah kemarin.


"Iya gak mungkin papa gak tau, kemarin waktu kita latihan band di rumah Aldy. kata tante Laras, Mamanya Megan, Tante Laras dan Mama itu sahabat dari kecil"


"Papa cape nak, Papa naik dulu Ya" ucap Bram seperti tidak ingin melanjutkan obrolan kepada putra dan putrinya.


Gita melanjutkan kegiatannya memakan kripik dan menonton Tv. keduanya sudah sepakat kemarin untuk tidak pusing mengurusi urusan orang tua mereka. mereka hanya ingin hidup dengan tenang dan terus bersahabat dengan yang lainnya.


Yoga mengeluarkan ponselnya dan langsung menelfon Megan lewat Line.


"Halo"


"Iya Halo" suara di sebrang sana seketika membuat senyum Yoga terukir


"Udah sampe rumah?"


"Udah"


"Lecet Gak?"


"Nggak"


"Sekarang lagi apa?"


"Baca Novel"


"Jalan-jalan Mau?"


"Kemana?"


"Lo minta ke Antariksa pun bakal gue anterin"


"Kalo ke mars?"


"Bikin roket dulu Ya"


"Emang Bisa?"


"Buat lo apa si yang ngga"


"Kalo gue minta lo jauhin gue?"


"Coba gue tanya, lo mau gak jadi pacar gue?"


"Gak mau"


"Itu jawaban gue pas lo minta di jauhin"


"Coba sekarang gue yang tanya, lo mau gak jadi pacar gue?"


"Mau Lah"


"Itu juga jawaban gue pas lo ngajak jalan-jalan tadi"


"Kenapa nih? tumben banget gak galak?"


"Nebus kesalahan gue karena tadi tiba-tiba ninggalin lo"


"Beli Eskrim mau?"


"Rasa coklat gak?"


"Rasa cintaku padamu juga boleh"


"Kalo gak rasa coklat gak mau"


"Eskrim sama apa?"


"Pizza boleh?"


"Boleh, tapi abangnya jangan di pinta juga ya"


"Kenapa?"


"Nanti gue cemburu"


"Sama abangnya ah"


"Heh! nakal banget jadi perempuan".


Di dalam kamarnya Megan tersenyum lebar, seketika masalahnya seakan sudah ia lupakan, walaupun gadis itu tidak tau besok mood-nya akan berubah lagi atau tidak, tapi yang jelas ia senang melihat usaha Yoga untuk mendapatkannya.


"Jadi atau ngga jalan-jalan?"


"Emang seriusan?"


"Ya lo kira gue boongan?"


"Jangan jemput pas depan rumah ya, agak belakangan dikit, nanti gue ke sana"


"Iya. udah tau, siap-siap dulu"


Di ruang Tamu Yoga melempar ponselnya ke atas sofa dengan raut wajah senang, Gita yang sedang memasukan kripik kentang ke dalam mulut hanya memandangnya heran.


"Tadi Gila. sekarang tampah Gila Sat!"


"Gue mau jalan sama Megan! Yessssas!" ucap Yoga penuh semangat


Gita mengerutkan keningnya tak percaya "Lo? jalan sama Megan? kesambet apa dia?"


Yoga beranjak dan langsung menuju kamar untuk bergegas, ia mengecup pipi Gita dengan sayang sebelum melesat ke dalam kamarnya. "Doain ya! Mmuuuuuaaaah!"


Gita mengelap pipi sebelah kanannya dengan sebal. "Ihhhhh Yogaaaaaa!! udah gue bilang jangan suka cium-cium gue!!!!"


_______________________________


ym0712: udah sampe nih


Megan melirik ponselnya sekilas melihat pop-up chat dari Yoga, ia kembali berkaca dan mulai bingung dengan dirinya sendiri. ntah ada angin apa Megan mau di ajak jalan dengan pria yang bahkan sangat gadis itu benci.


"Lama nunggunya?" kini Megan sudah berada di hadapan Yoga.


Yoga melongo tak percaya, hanya dengan kaos merah maroon polos di gulung di bagian lengan dan memakai rok bermotif kotak-kotak dan sepatu convers warna merah juga Megan terlihat begitu cantik. rambutnya yang di gerai membuat Yoga semakin tidak percaya bahwa Megan sangat cantik ketika tidak memakai seragam sekolah.


"Ini Lo?" ucap Yoga tidak percaya ia mengeceknya dari atas sampai bawah.


"Cantik kan?"


"Yessss! lo cantik banget!"


Megan hanya tersenyum tipis dan masuk ke dalam mobil setelah Yoga membuka kan pintu untuknya.


Selama perjalanan Yoga terus memandangi Megan, bahkan kegiatan menyetirnya tidak fokus karena ia betul-betul terpesona dengan gadis yang sekarang berada di sampingnya.


"Lo fokus nyetir aja kali. tar kalo nabrak gue maki-maki lo di tempat!" omel Megan menyadari Yoga sedari tadi tak berhenti memandanginya.


"Lo cantik banget"


"Gue udah tau gue cantik! dan gue udah denger lo ngomong itu lebih dari tiga kali tau gak!"


Yoga lagi-lagi tak percaya, matanya seperti ingin tertuju terus pada perempuan yang mampu membuatnya jatuh sedalam ini.


Tak butuh waktu lama, keduanya pun sampai di tempat tujuan. Yoga membawanya ke kedai yang bernuansa Classic, tempatnya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. banyak dua sejoli seumuran dengannya datang ketempat itu, tembok coklat dan juga banyak hiasan unik di dalamnya membuat Megan terkagum-kagum, ia bahkan tidak pernah tau bahwa ada kedai yang terlihat elegan seperti ini di Jakarta.


"Woowwww! ini keren banget Yoga! kenapa lo gak pernah kasih tau gue kalo ada tempat se unik ini!"


"Gimana gue mau kasih tau kalo baru sekarang lo mau gue ajak jalan"


Yoga pun akhirnya memilih tempat di bagian atas, kedai itu memang memiliki dua lantai. tapi pendapat Yoga di bagian atas lebih terasa nyaman apa lagi di tambah dengan angin sore hari dan pemandangan kota Jakarta.


Salah satu pelayan yang ternyata itu adalah teman Yoga datang menghampiri, menyapa hangat layaknya teman lama seperti biasanya. ia membawa buku menu dan buku catatan untuk pemesan.


"Hei! Yoga! udah lumayan lama lo gak kesini, biasa sama Gita. kemana dia?" sapa pelayan itu, Reza namanya.


"Ada di rumah" jawab Yoga santai


"Cewe lo?" tanya Reza sambil menunjuk ke arah Megan


Yoga menatap Megan sambil tersenyum. "Lo pacar gue bukan?" tanyanya


"Just Friend" jawab Megan


"Santai Za, bentar lagi juga jadian sama gue" ucap Yoga meledek.


Reza pun hanya tertawa dan memberikan buku menu untuk keduanya. Megan mengerutkan keningnya ketika melihat daftar menu yang menurutnya aneh.


Eskrim rasa patah hati, Kopi rasa cinta tambah gula, mie goreng sepedas omongan bunda, nasi goreng tidak hilang dari ingatan. es teh semanis kamu, cappucino cincau bisa bikin sayang.


Yoga hanya tertawa melihat Megan kebingungan saat hendak memilih makanan dan minuman yang akan ia pesan.


"Eskrim rasa patah hati itu rasa coklat, di bikin nama itu karena rata-rata orang yang patah hati milih makan coklat" jelas Yoga


Megan hanya mengangguk paham "Yauda eskrim rasa patah hati satu sama mie goreng sepedes omongan bunda" pinta Megan, Reza pun menulis menu yang Megan pinta.


"Kalo gue Air putih pake es tapi dikit aja, sama nasi goreng tidak lupa dari ingatan jangan pake acar sama bawang goreng, telornya setengah mateng Za" kini Yoga yang memesan. Reza pun pergi setelah Yoga tidak membutuhkannya lagi.


"Itu temen lo?" tanya Megan


Yoga mengangguk pelan "Iya temen SMP tapi pas kelas delapan udah gak sekolah lagi"


"Kenapa?"


"Kedua orang tuanya meninggal kecelakaan waktu dia kelas delapan SMP, dia gak punya biaya buat lanjutin sekolah. akhirnya dia berhenti sekolah dan ikut kerja sana sini, sampai akhirnya dia kumpulin uang buat bikin kedai ini. sekarang lagi sekolah kejar paket katanya"


"Wihhh keren banget dia bisa bikin kedai sekeren ini, pinter juga bisnisnya. tempatnya juga tepat karena keliatan dan banyak pengunjung"


"Dulu gue sama Gita sering kesini kalo balik sekolah"


"Sekarang udah jarang?"


"Iya karena sahabatnya nambah jadi dua, April dan Hana. dia jadi jarang berdua sama gue, Gue juga kan sibuk main sama Abang lo Xeo dan Regan"


"Lo kenapa waktu SMP gak sekolah bareng Gita?"


"Karena gue mau rasain sekolah negri waktu SMP bosen gue SD di suasta dan sekarang juga"


"Enak gak sekolah di negri?"


"Enak. gua nemuin banyak orang yang tololnya kaya Regan dan lucunya kaya Xeo. gue juga nemuin banyak cewek yang galaknya kayak lo tapi lo yang paling cantik"


"Cih! gombal!"


"Menurut gue negri suasta sama aja, karena gue udah ngerasain dua-duanya"


"Terus kenapa lo SMA di suasta sekarang?"


"Karena ada lo"


"Kok Gue?"


"Waktu SMP Gita sering banget ceritain lo, katanya dia punya Temen yang namanya Megan, cita-citanya mau jadi penulis, dia funny banget orangnya, cerewet dan cantik, terus dia kasih kabar kalo dia mau satu sekolah lagi sama Lo di sekolah Refas, dan di sekolah Refas ada gue"


Megan hanya tersenyum kecut mengingat dirinya waktu awal kenal Gita. "Terus dia cerita apa lagi?"


"Katanya lo suka cowo ganteng, jadi gue ada kesempatan kan buat lo. soalnya gue ganteng"


Megan memutar bola matanya malas "Aldy jelas lebih ganteng dari lo!"


"Misi Mas Mba, ini udah dateng pesanannya" Reza tiba-tiba datang membawa pesanan yang mereka berdua pesan tadi.


"Thanks Za"


"Yoi bro! gue balik kerja dulu ya. selamat menikmati"


Megan menyuapi sendok eskrim pertama ke dalam mulutnya, gadis itu membulatkan matanya tak percaya. "Ini bakal jadi eskrim favorite gue sekarang!"


"Enak kan? itu susunya ada perpaduan madu dan coklat pait, jadi eskrimnya manis tapi topingnya bisa balance sama rasa eskrimnya" jelas Yoga


"Sering-sering ya ajak gue kesini!"


"Pasti! tapi lo jangan pernah ajak Aldy kesini ya"


"Kenapa?"


"Karena lo milik gue. gue harus memiliki lo sepenuhnya."


"Kalo gue sering ajak Hana dan April sekini boleh?"


"Boleh, kapan kapan kita kesini ber delapan"


"Banyak amat. siapa aja?"


"Gue, Lo, Gita, Hana, April, Refas, Xeo, Dan Regan"


"Jaja sama Jessica lo ajak gak?" ledek Megan


"Kalo lo mau si gak papa"


Sore itu Megan dan Yoga tertawa lepas di sana, Yoga terus memandangi senyum Megan yang sering terukir di wajah cantiknya.


"Gue harap lo begini terus Gan, gue bakal milikin lo."