MEGAN

MEGAN
API CEMBURU



Semenjak kedatangan Aldy dari Inggris, Megan jadi sering menghabiskan waktunya dengan pria itu.


Pagi ini Yoga harus mengepalkan tangannya kuat-kuat, pemandangan yang ia lihat hari ini sungguh membuatnya kesal.


Terlihat Megan sedang mengobrol dengan Aldy di depan kelasnya. Yoga yang sedari tadi memandanginya dari meja piket lantai dua membuat pria itu mendengus sebal berkali-kali. Meja piket memang tempat nongkrong Refas dan teman-temannya selain kantin dan pinggir lapangan.


"Pulpen Gan!" ucap Yoga


"Buat Apaan?"


"Mau gue Telen!


"Eh buset! Limbad lo nelen pulpen?! mending telen mpe-mpe loyo ibu jutek enak"


"Lo aja sini yang gue telen!"


"Sabar Ga. emang Megan bukan takdir lu" ucap Xeo


Refas menepuk pundak Yoga pelan, ia tau sahabatnya itu sedang merasakan api cemburu sekarang. "Megan emang selalu selepas itu kalo sama Aldy. mereka kenal bahkan sebelum mereka sekolah, nyokapnya sahabat nyokap Gue" jelas Refas


Yoga tidak menjawab pandangannya masi tertuju ke arah Megan dan Aldy.


"Itu tandanya lo harus ikhlas Ga" ucap Xeo lagi


"Selalu inget bahasa inggrisnya bulan dan pintu Ga" Regan mulai menyeloteh lagi.


Yoga langsung menoleh ke arah Regan "Apaan tu?" tanya-nya


"Moon Door!" ucapan Regan kali ini berhasil membuat Yoga harus mendaratkan tangannya dengan enteng di kepala pria konyol itu. Regan memang paling bisa membuat orang naik darah.


"Jadi si Aldy sama Megan kenal dari belum sekolah?" kini Yoga kembali pada pembahasan Refas. yang di tanya hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Dari masih jadi embrio kah?" Regan mulai berulah lagi. "Atau dari masih jadi kecubung?" "atau dari.." ucapan Regan terhenti ketika Yoga lagi-lagi menoyor kepalanya.


"Aw! Anjing sakit! suka banget si lo noyor-noyor gue!" ucap Regan kesal


"Gausah so marah. lo ga cocok begitu!" timpa Xeo


"Ya makanya lo diem *******! gak tau gue lagi patah hati apa!" Omel Yoga


"Ngapain si patah hati patah hatian segala. gue aja yang jelas-jelas suka sama si Hana tapi di tikung sahabat gue sendiri aja biasa"


Kini Refas yang menoyor kepala Regan. "Hana Emang punya Gue!" tegas Refas


"Males gue sama kalian mainnya pala terus! kan pala Gue juga di fitrah!" Regan pun beranjak lalu pergi meninggalkan meja piket


Kini Regan terlihat seperti marah sungguhan. Yoga Refas dan Xeo saling bertatapan, betulkah sahabatnya yang konyol itu marah? ketiganya hanya bisa memandangi punggung Regan yang sudah menjauh dari kediaman mereka bertiga.


"Nah kan! gue bilang juga apa!" ucap Xeo, kini Regan memutar balikan badannya lagi dan kembali ke meja piket.


"Mpe-mpe loyo Gue keting.." Mata Regan membulat ketika melihat piring plastik yang berisi mpe-mpe sudah tiada. "Kemana mpe-mpe loyo gue!"


Refas Yoga dan Xeo hanya menyengir. "Ehee.. abis Gan" ucap Mereka bersamaan.


Kini Regan lah yang menoyor kepala Refas. "Lo Fas! bokap lo pengusaha expor-impor dan kokay berat! tapi mpe-mpe loyo gue lo embat!" di lanjut dengan menoyor kepala Yoga. "Lo Yoga Mahasa! katanya lo kaya tujun turunan delapan belas belokan sembilan tanjakan, tapi mpe-mpe gue lo makan juga!" Kini Xeo yang tersisa. "Dan lo anak Kadal! Bokap lo pemilik brand baju terkenal, tapi lo sama kaya mereka berdua! apa uang jajan kalian gak cukup buat beli mpe-mpe loyo ibu jutek?!"


Refas dan yang lainnya berdiri. mereka secara bersamaan menoyor kepala Regan lalu meninggalkan pria itu sendirian di meja Piket.


"Liat lo ya bertiga! gue bales nanti!!"


\*\*\*\*\*\*\*


Kini Megan dan ketiga sahabatnya berada di kantin, Aldy pun ikut serta di sana. di Meja ujung kantin terlihat Refas dan teman-temannya sedang menyatap makan siang dengan lahap. kecuali Yoga, pria itu terus memandangi meja Megan dan mentap Aldy dengan sinis.


"Eh! pinjem dong gitarnya" ucap Yoga kepada siswa yang kebetulan lewat dan membawa gitar karena usai latihan band.


"Gita! sini!" panggil Yoga. sedangkan Gita hanya menurut dan menghampiri meja Yoga.


"Kita sama-sama lagi patah hati akhir-akhir ini ayo temenin gue nyanyi" kini Gita sudah berada di hadapan Yoga


Jreng...!


Petikan Gitar yang di mainkan oleh Yoga mulai terdengar di seluruh penjuru sudut kantin. Gita duduk di samping Yoga sambil menyenderkan kepalanya di pundak pria itu. detik berikutnya Gita pun bernyanyi dengan tenang. Megan April dan Hana mulai menghampiri meja Refas.


Mencintai dalam sepi, dan rasa sabar mana lagi...


Yang harus ku pendam dalam.. mengagumi dirimu...


Melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya...


Yang mampu membuatku tersadar.. dan sedikit menepi...


Suara Gita terdengar begitu Merdu di kantin. seluruh pasang mata yang berada di sana langsung tertuju pada sudara kembar yang terlihat begitu serasih itu. Gita menyanyikan lagu dengan sangat menghayati, gadis itu bernyanyi sambil sesekali melirik Refas dan Hana secara bergantian. pengakuan Refas di kelasnya kemarin membuat Gita merasakan api cemburu, seperti apa yang sedang Yoga rasakan sekarang.


"Nyeet! suara lo bagus banget!" ucap April


"Kenapa lo gak bilang punya bakat terpendam!" timpal Hana.


Gita hanya tersenyum palsu ke arah April dan Hana. lagi-lagi gadis itu melirik Refas yang kini sedang memperhatikan Hana.


"Petikan gitar lo oke juga" ucap Aldy kepada Yoga


"Jelas! gue emang selalu keliatan oke dan keren!" jawab Yoga membanggakan diri


"Emang kembar ikatan batinnya kuat banget ya sampe pata hatinya barengan." ucap Regan


"Btw lo lagi patah hati kenapa si Git?" tanya April penasaran


"Patah hati mikirin gue pacaran sama si Juleha adek nya bang boy" celoteh Regan ngasal


"Idih Najis!" jawab Gita spontan.


"Lo beneran pacaran sama Juleha?" kini Xeo yang mulai penasaran


"Ya ngga Lah! ya kali gue pacaran sama umur 20 an!"


Yoga melirik Megan dengan penuh kecemburuan, gadis itu juga ternyata sedang menatapnya dengan tatapan yang tak pernah berubah, yaitu. dingin.


"Main band ber sembilan? lo kira mau marawisan" celetuk Regan


Yoga menahan tawanya saat itu, celetukan dari mulut Regan kali ini ia dukung


"Gue serius" kata Aldy


"Lagian sejak kapan kedatangan lo di sini jadi Kita?"


"Eh bule dongo! lo aja belum tau kemampuan kita di mana, lo kan juga baru seminggu sekolah di sini. gimana bisa lo ngajak kita ngeband?" jawab Xeo


"Nice! gue bangga punya kalian berdua" Gumam Yoga dalam hati


"Lo jangan nyeletuk mulu kek! coba sekali dengerin pendapat orang! siapa tau emang usulnya bagus buat kita!" marah April


"Belain Aldy. Suka lo ya sama dia?" ledek Yoga


"April mah sukanya sama Xeo Sat!" kini Gita ikut berusara


"Lo kenapa si Git? setiap ngomong pasti ada Sat nya!"


"Suka-suka gue dong sat!"


"Stop! udah gak usah pada berantem! mumpung di sini komplit pada kumpul semua. dengerin aja dulu usul Aldy" Refas melerai


"Yang gue tau Refas Yoga Xeo dan Regan itu senior paling populer di sekolah ini. terus Megan dan yang lainnya juga sama populernya kan sama kalian, gue mau kita ikut serta dalam acara pensi karena gue yakin di antara lo semua gak ada yang pernah ikut pensi di sini"


"Dengan cara?" tanya Megan


"Ya yang kaya aku bilang tadi bikin band"


"Tapi? apa gak kebanyakan anggotanya?"


"Ngga! apa lagi kalo kita tampil Maximal. Refas sama Megan punya kemampuan main drum, dan gue juga bisa main gitar"


"Terus gue ngapain?" tanya Regan


"Main kecrekan aja" ledek Xeo


"Setan Lo!"


"Lo bedua mending cabut Deh! pusing gue denger lo ngomong mulu Sat!" lagi-lagi Gita yang marah


"Regan dan Xeo boleh lok main Keyboard" Aldy melanjutkan


Regan dan Xeo saling bertatapan secara bergantian lalu keduanya tertawa bersamaan. "Hahahah! lo kira kita anak Multi Media mau ngeband bawa Keyboard!"


Gita menoyor kepala keduanya. "Bukan Keyboard komputer Sat! Keyboard alat musik! norak lo!"


"Yoga tolong bilangin sama kakaknya, gak boleh gak sopan sama kita!"


"Stop! Gan lo kayanya kebangetan ya ngomong mulu! udah lah gue mau cabut aja!" kini Refas yang bersuara


"Iya-iya Sory"


"Gue lanjut ya. Kalo Regan sama Xeo gak bisa main Keyboard gapapa kok kalian bisa belajar dulu kita masih punya banyak waktu kan?"


"Terus rencana berikutnya?"


"Jadi gini. Refas sama Megan main drum, Gue sama Yoga jadi Gitaris, Regan dan Xeo main Keyboard sedangkan April Hana dan Gita jadi padus, gue yakin kali ini bakal pecah Abis karena kita yang tampil"


"Tapi bakal lebih pecah lagi kalo gak ada lo" gumam Yoga, Gita menoleh ke arah sang adik


"Lo kenapa si Sat? cuma ngeband aja lo bahas, tolong bedain mana urusan hati dan mana urusan sekolah!"


"Kalo gitu gue setuju!" ucap April


"Gue juga!"


"Mmm Gue juga!"


"Gue Ikut Aja"


"Gue ikut Regan ikut aja Juga!"


Aldy menatap Megan Yoga dan Refas, ketiganya belum memberi jawaban.


"Kamu setuju atau ngga?" tanya Aldy kepada Megan


"Terserah" jawab Megan dingin


"Gue setuju. itung-itung ini bisa gue jadiin kenangan pas lulus nanti" ucap Refas


"Gue gak mau sebenernya, tapi yaudah gue setuju" jawab Yoga pasrah


"Deal Semua ya! kita bisa latihan di rumah gue, rumah gue punya ruangan Band dan udah komplit peralatannya" usul Aldy Lagi.


"Ogah gue di rumah lo. di sekolah aja udah gausah ribet!" Yoga tidak setuju.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Yoga baru saja keluar dari toilet dan berniat untuk kembali ke kelas. namun matanya tertuju pada Aldy yang di tengah lapangan sedang bermain basket sendirian.


"Tolong dong bolanya Ga" kini bole basket yang Aldy mainkan melesat dan jatuh tepat di hadapan Yoga.


Yoga mengambil bola basket itu dan memajukan langkahnya sampai di hadapan Aldy.


"Tolong gausah caper sama Megan" ucap Yoga to the point


Aldy hanya menaikan sebelah alisnya "Maksud lo?"


"Gue tau lo mantannya, tapi tolong gausah caper sama Megan. karena itu menjijikan!"


"Lo suka sama Megan?"


"Mau gue sama dia atau ngga, itu bukan urusan Lo!" ucap Yoga, lalu melempar bola basket yang ia pegang ke hadapan Yoga dengan kasar. "Megan punya gue!" setelah itu Yoga pun pergi. sedangkan Aldy masih diam di tempat berusaha mencerna ucapan Yoga.