Maulidiyatul Hanifah

Maulidiyatul Hanifah
eps 8



Asyif sudah berada didalam pesawat,3 tahun lalu ia ke jogja bersama vika menghabiskan akhir pekan bersamanya,namun kali ini dia sendiri dengan kenangan memory tentang vika masih tersimpan dibenaknya,asyif melangkah kaki dibandara terlihat alex sudah menjemputnya,alek adalah skertaris asyif jika ia berada dijogja lelaki kepercayaan keluarganya sudah 10 tahun lebih ia dan keluarganya mengabdi dengan keluarga asyif hingga seperti keluarga sendiri,kemampuan alex membuat ia menghandle perusahaan jogja karena dulu tidak ada pilihan selain alex karena juga rumah alex berada disana.


"sini tuan biar saya bawa kopernya,"ucap alex saat berhadapan dg tuan mudanya asyif hanya diam membiarkan alex membawa barangnya,hingga sudah didepan rumah neneknya yg tak kalah megah dengan rumah asyif,para pembantu disana sudah menyambut kedatangan asyif untuk pertama kalinya lagi sekian tahun tak menginjak tanah kelahiran ibunya,asyif tersenyum ramah ketika memasuki rumah,rumah yg tetap sama saat ia masih menempatinya dulu saat kecil rasanya baru saja ia dimanjakan oleh kakek dan neneknya kini mereka sudah pergi sebelum melihat asyif menikah dan mempunyai anak,nenek dan kakek asyif dulu sangat menentang hubungan dia dan vika hingga setiap liburan ke jogja harus diam2 agar tidak ketahuan oleh kakek neneknya,sekarang rumah ini terasa sepi.dulu selalu kakek neneknya menyambutnya bahkan masih memanjakannya karena asyif cucu tunggal mereka,asyif membersihkan dirinya sebelum menemui alex kembali.


"lex,sebenarnya apa yg terjadi?" tanya asyif diruang kerjanya.


"gini tuan sebenarnya masalah kita terdapat diperusahaan xxx,ada salah satu karyawan kita yg memberitahu tentang produk yg akan kita kelola baru2 ini,saya sudah melacak siapa seorang yg sekongkol dengan remon,saya ingin anda yg mempertegas dia karena ini perusahaan tuan muda,dan satu lagi tuan keuangan kantor bulan2 ini sedikit menurun,saya baru dapat laporan tadi pagi."


"siapa yg berani sekongkol dengan remon,memang remon dari dulu mengin


"tidak berubah dia dari dulu sangat sekali ingin mengalahkanku,"


"siap semua dokumennya,dan cari tahu tentang perusahaan remon."


"baik tuan muda,"


rumah asyif


hanifa baru saja menyelesaikan membacanya karena besok ia sudah sidang skripsi,dan berapa bulan lagi ia akan wisuda,ketika ia baru memejamkan matanya dering ponselnya membangunkan ia,terlihat nama ayahnya dilayar hanfondnya sebenarnya ia enggan menjawabnya namun tetap saja dia mengangkatnya.


"assalmualaikum ayah,"


"waalaikumsalam,fah besok bisa pulang?"


"besok yah,?"


"iya,"


"emang ada apa nyuruh ifah pulang?"


"tuan remon akan datang,"


"lalu hubungannya dengan ifat?"


"dasar anak bodoh,ia akan bertunangan dengamu,"


"ayah,ifah sudah bilang ifah gak mau nikah dengan lelaki tua yg seumuran dengan ayah,"


"siap yg bilang tua,?"


"tasya,"


"dia masih muda ifah,baru umur 28 tahun,"


"terserah ayah tapi ifah tidak akan mau dengan remon,ifah sudah bilang ifah punya jalan hidup sendiri,"


"kau dasar anak tak tau diuntung,pokoknya besok kau harus pulang,"


"bukannya ifah sudah tercoret dari nama keluarga,bukan juga ayah sudah memutuskan ikatan kita berapa hari lalu."


arka diam mendengar protesan dari putrinya karena memang itu benar ia segera mematika sambungan telfon menahan amarah,dengan sikap putrinya,hanifa tak bisa membendung air matanya kembali dia tak habis fikir dengan pemikiran ayahnya yg tega kepadanya.bahkan kesepaktan mereka dia lupakan,pikiranan mereka hanya uang dan uang tanpa memikirkan bagaimana perasaan hanifa,rasa sedih dia sudah menikah tapi seakan tidak menikah,andai dia menikahi lelaki yg ia cintai pasti saat ini ada yg menenangkannya menjaganya penuh cinta,kini ujiannya semakin bertambah


rumah hanifa


Selesai berdiskusi dengan istrinya arka langsung menghubungi putrinya,dan pastinya membahas perjodohan ifah dengan teman bisnisnya,khir2 ini bisnis remon sedikit menurun hanya keluarga aldi yg bisa membantunya sekarang dengan syarat pernikahan,sudah berulang kali arka mencoba membujuk ifah namun selalu gagal bahkan ancaman pun tak mempan baginya berharap kali ini ia bisa membujuk putrinya,arka mencoba mengubungi hanifa,


tut..


terhubung


assalmualaikum ayah,"


"waalaikumsalam,fah besok bisa pulang?"


"besok yah,?"


"iya,"


"emang ada apa nyuruh ifah pulang?"


"tuan remon akan datang,"


"lalu hubungannya dengan ifat?"


"dasar anak bodoh,ia akan bertunangan dengamu,"


"ayah,ifah sudah bilang ifah gak mau nikah dengan lelaki tua yg seumuran dengan ayah,"


"siap yg bilang tua,?"


"tasya,"


"dia masih muda ifah,baru umur 28 tahun,"


"terserah ayah tapi ifah tidak akan mau dengan remon,ifah sudah bilang ifah punya jalan hidup sendiri,"


"kau dasar anak tak tau diuntung,pokoknya besok kau harus pulang,"


"bukannya ifah sudah tercoret dari nama keluarga,bukan juga ayah sudah memutuskan ikatan kita berapa hari lalu."


arka diam mendengar protesan dari putrinya karena memang itu benar ia segera mematika sambungan telfon menahan amarah,dengan sikap putrinya,tak lama ita istri arka menemui suaminya di balkon raut wajah yg terlihat kesal.


"bagaimana mas?" tanya ita sambari duduk disamping suaminya


"ifah menolak lagi,"


(membelalakan mata dan kesal)


"memang putrimu tak tau diri dikasih hidup enak milih sengsara,"


"biar lain waktu saya bujuk kembali sayang,pasti di mau,"


"kalau tidak?saya tak ingin jadi gelandangan,saya menikahimu karena tak ingin susah,"


"iya sayang,pasti kita akan tetap ada disini aku usahain buat kamu,"


ita hanya melirik suaminya sebal,lalu meninggalkannya kedalam kamar,arka diam berfikir bagaimana membujuk ifah yg keras kepala,alasan apa lagi yg harus ia buat agar ifah mau pulang dan menerima perjodohan ini.istrinya terus memaksa ita yg juga keras kepala tak ingin kalah dengan ifah.berbeda dengan ibunya ifah penurut sabar bahkan selalu mengalah dg keras kepalanya arka yg diwarisi ifa,kulsum dulu bisa mengatasi jika perdebatan arka dan ifa.kini ia harus mengatasi ita dan ifah,kepalanya seakan ingin pecah perusahaan yg belom membaik.