Maulidiyatul Hanifah

Maulidiyatul Hanifah
eps 7



Hanifa terbangun ketika alaram hanfondnya berdering,dia menggunakan alaram karena takut bangun kesiangan,sekarang ia mempunyai tugas baru melayani suaminya hanifa berniat untuk memasak, jam baru menunjukan 4 pagi hanifa segera membersihkan diri,lalu menuju dapur memasak sesuai bahan yg ada didalam kulkas,hanifa sudah pandai memasak sejak kecil saat ibu tirinya meminta ia memasak dengan dilatih pembantunya dirumah hanifa menjadi terbiasa memasak hingga sekarang.ketika hanifa sudah berkutik didapur ami datang terkejut dengan apa yg dilakukan nyonya barunya,pembantu lainnya sibuk dengan pekerjaannya,


"nona muda,apa anda lakukan,?"tanya ami,pastinya membuat hanifa terkejut


"ah bi ami ngagetin aja,saya lagi masak untuk sarapan pagi bi,"


"tukang masak sudah ada sendiri non,baru saja membersihkan diri nona tidak perlu repot-repot,"


"ini sudah kewajiban saya bi sebagai istri,"


Ami sebagai kepala asisten rumah tangga hanya tersenyum melihat kelakuan nona mudanya,sangat sederhana ami hanya memohon asyif bisa berubah seperti dahulu dengan hadirnya hanifa,asyif mau membuka hatinya kembali, rumah besar terasa berbeda semenjak asyif berubah dingin dan orang tua asyif jarang menempatinya mungkin sebulan lamanya mereka menempati rumah besar lalu kembali ke luar negri mengurus bisnis disana,


"bi,pak asyif suka makanan apa?"


"tuan muda apa aja suka yg terpenting halal,tapi setiap pagi tuan muda suka minum kopi nona,"


"oh oke,maksih bi informasinya,"


"nona muda kenapa masak ini tugas kami nona,?"tanya ira saat melihat majikan menyajikan makan di meja makan,dan ia merasa bersalah mungkinkah dia telat bangun


"gak apa bi,ini jug kewajiban saya jadi istri,"


"tapi ini sudah pekerjaan saya nona,"


"gak apa bi,nanti malam bibi aja yg masak,"


semua hanya diam mengikuti perintah hanifa,tak lama ilham datang dan melihat hanifa menyajikan makan di meja hanya bisa tersenyum dalam hati melihat hanifa telaten dalam memasak.


"pagi nona muda,"ucap ilham hormat kepada istri tuan mudanya,hanifa spontan langsung menatap sumber suara, lelaki yg seusia dengan suaminya wajah yg tak kalah tampan membuat siapa saja yg melihatnya akan mengantri menjadi pasangannya berdiri tak jauh dari meja makan,


"eh iya,pagi ham"


hanifa sudah kenal ilham walau baru tadi malam,ilham tersenyum kepada hanifa kemudian menuju kamar asyif,ilham mengetuk pintu kamar asyif berapa kali,baru ada sahutan dari dalam


"masuk,"suara asyif khas bangun tidur,ilham melihat asyif masih memejamkan matanya diatas ranjang


"tuan tadi tuan besar nelfon dan menyuruh tuan ke jogja,"


asyif langsung terbangun dengan refleks,mencoba menahan kantuknya karena jam 2 dini hari dia baru memejamkan mata.


"papa ngapain suruh aku kejogja? emang ada kendala apa lagi?"


"perusahaan sana sedang ada sedikit masalah tuan,nanti jam 2 sore anda harus tiba kesana tuan untuk chek-in,"


"iya nanti gue kesana udah gue mau tidur lagi ngantuk,"


"anda gak sarapan tuan? nona hanifa sudah memasak untuk anda,"


"buat apa,lu aja yang sarapan gue masih mau tidur,eh ya nanti suruh dia kemasin baju gue"


ilham hanya menuruti perintah tuannya,semenjak 3 tahun lalu sifatnya berubah 95°,gara2 vika berengsek yang ninggalin asyif demi lelaki lain dan bahkan mereka juga pernah melakukan hal yg senonoh,membuat asyif makin membencinya hal itu ia ketahui saat asyif bertemu dengan client dan tak sengaja melihat vika memasuki hotel asyif berinisiatif membuntutinya dan kejadian yg tak di inginkan asyif terjadi bahkan terpampang di depan matanya vika sedang melakukan perbuatan hina,seketika asyif membenci wanita yg akan menjadi tunangannya bahkan sudah berpacaran dengan asyif 7 tahun lamanya,wnita yang selalu ia percaya,ia turuti keinginannya,saat ini telah melihatkan betapa murahannya wanita itu melakukan hubungan intim tepat didepan matanya,saat itu asyif tak pernah bisa memaafkan perbuatan vika bahkan telah mengirim vika di itali,hingga sekarang.


"non,nanti tuan muda akan kejogja anda disuruh mengemasi bajunya setelah sarapan,"


asyif memberi tahu hanifa saat hanifa sedang menaiki tangga,dan berpapasan dengan ilham


"apa pak asyif tidak sarapan?"


"oke,baiklah,"


ilham buru-buru turun,karena pekerjaannya hari ini sangat numpuk anam yg tak bisa ilham kendalikan sepenuhnya karena ia terlalu mengentengkan pekerjaan mengakibatkan banyak menumpuknya pekerjaan


"eh tunggu ham,"


ilham langsung menoleh pada hanifa yg masih berdiri ditempatnya.asyif tersenyum menunggu kata lanjutan dari hanifa,wajah hanifa sedikit bingung campur resah.harus memulai pertanyaannya dengan gimana?


"a,apa tidak masalah aku masuk kamar pak asyif,?"


ilham tersenyum sambari menganggukan kepala,kemudian melanjutkan langkahnya hanifa segera masuk ke kamarnya mengganti baju bekas memasaknya dengan baju rumahan.



hanifa menyuruh ira menyimpan makanannya,fikirnya karena pak asyif belum makan bisa dihangatin ketika ia sudah bangun,hanifa menuju kamar asyif ia ketuk berulang kali namun tak ada jawaban dengan ragu hanifa masuk dalam kamar asyif untuk pertama kalinya asyif sudah tidak ada dikamar tidurnya mungkin sudah bangun fikir hanifa, tak terlalu ambil pusing hal itu dan sekarang ia di bingungkan dimana letak tempat ganti baju asyif karena kamar asyif berbeda dengan kamar tidurnya



hanifa terus mencoba mencari tempat ganti baju,dia kembali terperanggah melihat mewahnya ruang ganti asyif baju yg tertata rapi.saat sudah menemukannya



"pak asyif benar-benar anak sultan semua terlihat mewah,huft andai saja ia tak nyebelin,"


"ngomong apa kamu?" tanya asyif saat mendengar ucapan hanifa tanpa sengaja,hanifa berbalik dan kini netra menatap asyif yg sedang berdiri didepannya dengan handuk terlilit dipinggangnya,hanifa spontan menutup matanya dengan kedua tangannya.asyif hanya acuh dengan santai memilih baju dan berganti pakaian menganggap tidak ada orang disekitarnya.hanifa masih mematung menunggu asyif menyelesaikan aktivitasnya.


"ngapain lu kemari tanpa izin?"


hanifa dengan ragu membuka matanya sekarang asyif sudah berpakaian dengan kaos dan celana kolor selutut,hanifa sedikit mengagumi pemandangan dihadapannya yg pasti jarang sekali atau malah tidak pernah ia lihat.


"segitunya lihatin orang tampan,"cetus asyif membuat hanifa terbuyar dalam lamunannya,kini ia merasa malu wajah putihnya sudah seperti kepiting rebus,asyif tetap dengan wajah so cool nya,


"ngapai lu kesini,?"


"tadi katanya ilham suruh mengemasi baju bapak untuk pergi ke jogja,"


"bapak,emng gue bapak lu,"


"eh,tapi anda dosen saya pak,"


"panggil saya tuan asyif,"


"what,tuan asyif," ucap hanifa


asyif hanya acuh menatap hanifa,


"ambil tuh koper dilemari sebelah sana,"ucap asyif sambil menunjuk salah satu lemari


hanifa menuruti perintah asyif,walau sedikit kesal dengan lelaki yg menyandang status suaminya,sudah 1 jam lebih asyif dan hanifa berada diruang ganti karena asyif selalu menyuruhnya ,tepatnya mengerjainya,


"kemeja itu kemasi,jas itu dan dasi itu,"


ketika hanifa sudah melipatnya dalam koper asyif lagi-lagi menyuruhnya untuk mengembalikan ketempat semula katanya tidak ingin memakai itu,dan banyak alesan membuat hanifa ekstra sabar.


"sudah selesai,anda puas pak,"ucap hanifa dengan nada kesal ketika asyif puas mengerjainya,asyif tetap dengan wajah dinginnya walau sebenarnya ingin tertawa puas melihat muka hanifa yg menahan amarah.