
Asyif baru saja tiba dirumahnya,semua pelayan menyambutnya dan sahabat sekaligus skertasisnya berada diantara pelayannya ya setiap keluarga asyif datang seluruh pelayan menyambutnya sudah tradisi tersendiri bagi keluarga ceo kaya ini,ia asyif seorang ceo perusahannya sudah berada di berbagai dunia ,bahkan kampus yg ia tempati adalah punyanya,dia anak tunggal pewaris perusahaan xxx dari pak hendra dan bu ika,
"selamat datang tuan muda,"ucap pelayan ketika asyif sudah memasuki rumah,ia hanya membalasnya dengan seulas senyum,anam menghampiri sahabatnya,yg mukanya terlihat begitu kesal
"syif,apa kau tidak ingin memegang perusahaan,?"tanya anam langsung to the point
asyif hanya menatap sekilas sahabatnya,tanpa menjawab ia langsung berjalan meninggalkan anam,
"hei,dasar nih anak kebiasaan kalau diajak bicara langsung nyelonong pergi,oh tuhan beriku kesabaran menghadapi manusia seperti dia,"ucap anam sambari menyusul sahabatnya dilantai 2,dimana letak kamar asyif berada ,sampai di kmar asyif tanpa harus meminta izin pemilik kamar anam langsung menterobos masuk,dilihatnya asyif sudah masuk dalam kamar mandi,anam menghembuskan nafas kasar,memilih tidur di ranjng asyif menunggu manusia itu selesai mandi.
kost hanifah
Dengan rasa masih kesal hanifah langsung merebahkan tubuhnya dikasur menatap langit2 kamar,melepas penatnya dan meratapi betapa sialnya ia hari ini,baginya bukan hari ini saja melainkan setiap hari ia merasa hidupnya terpuruk semenjak kepergian ibunya dan datangnya 2 orang wanita yg tak lain ibu tirinya dan anknya umur 7tahunan,seketika itu hidupnya berubah 90%,ayahnya lebih mencintai 2 wanita itu dibandingkan dirinya,penyiksaan yg selalu ia terima dari ibu tirinya membuatnya ingin sekali membalas perlakuan wanita licik itu namun semua itu ia urungkan karena ayahnya yang pasti akan memarahinya bahkan tak segan akan menghukumnya,hanifa memjamkan mata mencoba menahan sesaknya kehidupan,perlahan air matanya mengalir mewakili perasaanya saat ini senyum ibunya terus muncul dibenaknya menjadikannya kuat bertahan dalam hidup ini.ia kembali membuka matanya ketika suara dinda terdengar diluar ruangan,
ceklek
senyum lebar dinda ketika melihat sahabatnya membuka pintu,dengan kantong plastik hitam ditangannya,dinda langsung menuju dapur mencari piring,
"kau masih memikirkannya han,?"tanya dinda ketika sudah dihadapan hanifah,sahabatnya hanya diam mematung,
"han,"seru dinda menyadarkan lamunan hanifah
"eh,iya din maaf kamu bicara apa tadi?"
"apa yg kau fikirkan,ceritalah han?"
"entahlah din,ku rasa aku ingin istirahat saja,"
"makan dulu han,kamu belom makan pasti,"tebak dinda,hanifah tersenyum melihat sikap temannya begitu perhatian padanya,baginya sekarang dinda adalah keluarganya,dan satu2nya orang yg menyayanginya,tak terasa air mata hanifah mengalir membasahi pipi seketika itu dinda langsung memeluk sahabatnya,membiarkan sahabatnya menumpahkah keluh kesahnya
"menangislah han,luapkan semua setidaknya itu mengurangi bebanmu,"tutur dinda,hanifah mulai tenang usai meluapkn tangisnya di pelukan dinda,walau masih sesenggukan perlahan hanifa melepaskan pelukannya dan mengatur nafasnya,
"din,ke club yuk aku butuh penenang saat ini,"ajak hanifah,
"besok aja han,kau sudah sering minum hampir setiap hari biarkan badanmu istirahat,toh sampai kapan kau akan mengandalkan minuman,berubahlah han aku sebagai sahabatmu hanya ingin terbaik untukmu,tak ingin kau berlarut dalam dunia malam han,ibumu disana pasti sedih melihatmu seperti ini,"nasehat dinda untuk kesekian kali,namun itu tidak merubah hanifah sama sekali,hanifah termenenung bersandar didinding kamar,dinda yg melihat keadaan sahabatnya begitu prihatin,untung fisik dan otak hanifah masih berfungsi kalau tidak sudah menjadi orang gila,fikir dinda setiap melihat keadaan hanifa
"bentar lagi aku skripsi din,"
"wah turut bahagia han,"dinda langsung memeluk sahabatnya
"sepertinya ucapanmu benar din,aku harus fokus sekarang,"
dinda tersenyum lebar melihat ucapan sahabatnya,
"gitu dong,aku tuh han sedih melihatmu seperti ini,kau punya otak cerdas namun ssayang,fikiranmu ke minuman mulu,"
"hahahh,kau mau otakku?"
"kalau bisa dituker boleh juga,hahahh,"
tawa mereka menggema diruangan.karena memang dinda tak secerdas hanifah,bahkan jika ada sesuatu yg ia tidak faham hanifah harus mengajarinya kembali,dengan sabar hanifa mengajari sahabatnya,ia hanifah sosok orang sabar namun begitulah kehidupan membuatnya terjerumus dunia malam,hingga sekarang dulu dia hanya berniat memberontak pada ayahnya akan tetapi semua menjadi candu baginya.
"apa yang membuatmu menangis seperti ini han?"tanya dinda lagi
"ayahku wa aku tadi,"
"tumben transfer kah?"
"dia bilang akan menikahkanku din"
"hah,kau mau dijodohkan,"
"hemm,dan parahnya dengan om2,"
"wah emang ayah kamu sudah kelewatan han,"
"iya,difikirannya hanya uang dan uang,seterusnya anak dan istri barunya,"
"ayahmu nikah lagi?"
"ibuku tiri maksudnya din,"
"sekarang kamu fokus ke skripsimu,"
"makasih din,kau selalu ada untukku,"
dinda kembali memeluk sahabatnya,memberinya kenyaman untuk meluapkan tangisnya,kembali dan ya hanya dinda yang menjadi penguat hanifa selalu ada setiap hanifa terpuruk seperti ini.
kamar asyif
baru saja asyif keluar kamar dengan handuk masih melilit dipinggangnya melihatkan tubuh six packnya,netra mata asyif menatap sahabatnya yang asik dengan ponsel ditangannya tanpa menyadari keberadaanya,asyif langsung menuju ruang ganti tak menghiraukan sahabatnya yg tak menyadari kehadirannya,
"apa harus pegang ponsel punya doi.!"
asyif melirik sahabatnya sinis,anam memposisikan dirinya duduk di tepian ranjang,
"kemaren om hendra telfon gue,"
"hemm.."
"om hendra bilang akan kembali ketanah air setahun lagi,"
"what,kok papah malah gak ngasih tau gue,anaknya gue apa lu ya?"
"kemaren om hendra nelfon lu syif,tapi tidak ada jawaban,"
"gue lupa nyet,hanfond gue matiin biar lu gak ganggu gue,"
"sebenarnya om hendra,bilang jika kamu dikasih waktu 9 bulan untuk mencari pasangan,"
"hah,9 bulan itu cari bini apa mancing ikan?"
"om hendra bilang gitu syif,apa kau masih memikirkan vika,?"
"kisah itu sudah 3 tahun lalu,jangan lu bahas terus,gue usahain sebelum 9 bulan udah dapat bini,"celetuk asyif langsung mendapat tatapan curiga dari anam
"apa lu,lihatin gue kek gitu,?"
"jadi udah dapat gebetan nih dikampus lu,?"
asyif menatap anam tajam,anam tak memperdulikan asyif memilih merebahkan dirinya kembali,asyif cuma menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya yg paling somplak baginya,anam sudah seperti saodara asyif,walau ia kocak tapi otaknya rata2 hahahh,sudah lebih 3 tahun anam ditinggal orang tuanya karena kecelakaan,yg sekarang ia punya adalah adeknya yg kuliah di singapure,sudah hampir 2 tahun abel tidak pulang ke tanah air ia masih trauma atas meninggalnya kedua orang tuanya,kecelakan yang seperti kesengajaan di waktu itu,
"gue mau makan dulu,ikut gak?"ajak asyif sambari meninggalkan anam, dikamarnya,sesampainya dimeja makan asyif perlahan menyantap makannya menyisakan suara piring dan sendok saling bertautan,asyif orang yang tidak suka ada pembicaraan saat makan, baginya itu akan menghilngkn rasa kenikmataan,tak berapa lama saat asyif sudah hampir menghabiskan makan malamnya anam menyusulnya,ya pasti tanpa berbicara apa pun,
"gue mau tidur,"ucap asyif lantas pergi seperti angin,anam hanya mengganguk mengartikan kalau tidak ingin di ganggu,asyif langsung merebahkan tubuhnya,membiarkan tubuhnya beristirahat walau fikirannya masih menginat ucapan anam, 9 bulan waktu yg singkat mencari istri,
"emang papah keterlaluan masak iya waktu sesingkat itu,emang cari bini kayak mancing ikan apa,"grutunya sambari memejamkan matanya,
********#####*********#####****
Jam kuliah sudah mulai sekitar 15 menit lalu,hanifah baru saja masuk keruangannya,dan sialnya asyif yg mengisi jam kuliahnya semua mata pengisi ruangan itu menatap hanifah,ia hanya menghiraukan tetap berjalan menuju dosen es batu itu,
"maaf pak,saya telat😁,"
asyif menatap hanifa dingin,kemudian beralih diponselnya,menghiraukan perkataan hanifah alhasil membuat hanifah semakin kesal,tapi hanifah mencoba bersabar kali ini walau sebenarnya ingin meledak,
"sekali lagi saya minta maaf pak,"
asyif masih sibuk dengan ponselnya
"pak,apa bapak mendengar perkataan saya,?"tanya hanifa pura2 mengira asyif tidak mendengar ia berbicara padanya,asyif menatap hanifah tajam,sorot matanya menunjukn kekesalan pada gadis dihadapannya,namun hanifa menyambutnya dengan senyum paksanya
"keluar berdiri dilapangan sampai mata pelajaran saya selesai,"
"eh,pak itu kan lama?"
"hemm,"
"ringanin dikit pak,"pinta hanifa dengan wajah memelas,asyif tetap tak menghiraukannya masih tetap fokus diponselnya karena ada kerjaan dikantor yg membuatnya berkerja 2 kali,
"dasar dosen gak ada hati,"ucap hanifa sambari keluar ruangan asyif yg mendengarnya lngsung menatap kesal pada gadis cantik yg mulai meninggalkan ruangan,asyif tak pernah ambil pusing dengan ucapan tak berfaedah baginya,toh itu urasan dia,asal tidak mercoh urusan asyif.
##################
Hanifa langsung duduk didepan kelasnya mencoba menetralkan nafasnya sesekali ia usap keringat yg mengalir di keninganya dan mengibaskan tanganya untuk menghasilkan angin,tiba2 ada yg memberinya air mineral tanpa melihatnya siapa yg memberi hanifah langsung menyambarnya karena sudah menahan dahaka,
"sebegitu hausnya,"perkataan seorang membuat hanifa sadar siapa pemberi air mineral,dan benar si es batu dengan wajah dinginnya berdiri disana hanifah langsung bangkit menyerahkan botol aqua bekasnya pada asyif
"nih,gue balikin makasih,"ucap hanifah sambari meninggalkan asyif,tapi dengan cepatnya asyif menahan hanifah dan menyerahkan botol aqua kembali
"apa lu minta gue,minum bekas lu?,"
"tapi saya sudah minum pak,"
"terserah,gue hanya kasian sama lu,"
"anda punya hati pak,?"tanya hanifah tanpa rasa bersalah,asyif berlalu begitu saja memberi kekesalan hanifah,selang berapa menit dinda datang menghampiri hanifa yg tampak jelas raut kesal di wajahnya
"eh udah minum kamu,baru saja aku mau memberi ini,"sambil melihatkan sebotol alqua,hanifa tersenyum melihat sahabatnya begitu perhatian,dinda tak tanya banyak tentang minuman itu,hanifah langsung mengajaknya kekantin mengisi tenaga.