
[ JAE ]
Sesampainya di rumah, aku melihat Taeyong dan Haechan yang sedang sibuk membongkar tas belanjaan mereka di ruang tamu. Tanpa fikir panjang, aku berjalan cepat dan menarik tangan Taeyong dengan kuat, bermaksud menyeretnya ke kamar.
Tapi kucing nakal itu berontak dan melepaskan tarikan tanganku. Menatapku tajam dengan ringisan sakitnya.
"Sialan, apa maumu hah?!" Bentaknya ke arahku. Aku yang melihat itu pun hanya mampu menghela nafas dan mengusap wajahku dengan kasar.
"Apa mauku? SEHARUSNYA AKU YANG TANYA APA MAUMU?!" Ku lihat ia tersentak kaget mendengar teriakanku. Tapi ia hanya diam dan perlahan ku lihat air matanya menetes.
Melihat itu aku semakin frustasi. Di tambah lagi Taeyong malah berlari masuk ke kamar meninggalkanku.
Demi melampiaskan amarahku, vas bunga yang ada di atas meja sekitarku ku banting ke lantai dan seketika hancur berantakan.
"BRENGSEK!"
Perlahan ku atur nafasku dan menatap ke arah Mark yang sedang berbicara sesuatu dengan Haechan tak jauh dari tempatku berdiri. Tak perduli dengan mereka, aku lebih memilih menyusul Taeyong setelah ku pastikan aku dapat mengendalikan amarahku.
Ku buka pintu kamar perlahan dan masuk kedalam. Sunyi. Tak ada Taeyong di tempat tidur, ku lihat ke kamar mandi dan tak ada juga.
"Kemana dia?" Gumamku.
Aku menoleh ke belakang dan menemukan sepasang kaki berbalutkan sepatu berwarna biru di balik tirai jendela.
Menghela nafas dan menyibak tirai dengan kuat, membuat seseorang di balik itu tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.
Taeyong tak menjawab, ia lebih memilih melewatiku dan dengan sengaja menginjak kakiku.
Apa-apaan itu?! Seperti bocah saja.
Ku lihat dia membuka sepatunya dan melemparkannya ke arahku. Aku hanya diam dan membiarkannya berbuat sesukanya. Setelah selesai dengan sepatunya. Ia berbaring dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas dan berjalan mendekati Taeyong.
"Kau membantahku, itu lah sebabnya aku marah." Aku berucap dengan wajah datar. Awalnya tak mendengar apa-apa, tapi aku sedikit terkekeh saat mendengar gumamam dari mulut pria cantikku itu. Aku hanya diam dan berusaha mati-matian menahan tawaku.
Sialan, pria ini benar-benar membuatku tak sabaran.
[ TAE ]
"Kau membantahku, itulah sebabnya aku marah."
"Heuh,,, kau memang mudah marah sialan." Gumamku dengan pelan saat mendengar suara pria brengsek itu.
"Setiap saat selalu bilang mencintaiku, tapi setiap saat juga marah padaku. Dasar brengsek!" Umpatku dengan suara pelan.
"UWAAHHHH!!!"
Aku tersentak kaget saat Jaehyun menarik kuat selimut dan menggendongku dengan tangan kuatnya. Aku mengernyit tak terima dan memberontak.
"Teruslah memberontak jika kau ingin jatuh." Aku akhirnya terdiam karena tak ingin terjatuh.
Jaehyun membawaku ke kamar mandi. Setelah ia menurunkanku, pria itu berjalan menuju bathup dan menghidupkan air.
"Buka pakaianmu." Ucapnya dan aku mengangguk pelan.
Santai saja. Toh aku sudah biasa bersikap seperti ini di depan banyak lelaki.
Layaknya seekor ikan yang kehausan air, dengan cepat aku melompat dan masuk ke dalam bathup. Aku asik bermain dengan busa yang perlahan semakin banyak.
"YAKKK,,, APA YANG KAU LAKUKAN?" Jaehyun hanya diam saat mendengar teriakanku.
Apa-apaan, dia juga melepas bajunya dan ikut masuk ke dalam bathup.
"Berendam tentu saja." Jawabnya santai.
Karena dia sudah terlanjur berbaring di sebelahku, aku pun hanya bisa diam dan pasrah.
Awalnya kami saling diam, ku lihat Jaehyun yang menutup matanya dengan nafas teratur. Mungkin dia tidur.
Aku pun kembali bermain dengan busa sabun, namun aku kembali tersentak dan hampir saja memaki saat Jaehyun tiba-tiba menarikku ke atas pangkuannya.
Sialan. Pria ini serba tiba-tiba. Untung saja jantungku masih sangat sehat.
"Lepaskan aku Jaehyun." Aku memberontak dan berusaha melepaskan pelukan Jaehyun. Namun pria itu malah menyandarkan kepalanya di pundaku.
Punggungku dan dadanya melekat seperti ada lemnya. Aku pun hanya bisa diam dan membiarkan Jaehyun.
"Aku merindukanmu."
"Eum?" Aku sedikit menoleh saat Jaehyun bergumam pelan di dekat telingaku.
"A-ahh..." Mataku melotot horor saat merasakan sesuatu membesar di dekat belahan bokongku.
"Aku merindukanmu Taeyong."
"YAKKKKK!!!"
Oh God, ku rasa aku tak akan selamat kali ini.
[ MARK ]
Aku menarik tangan Haechan yang akan menyusul Jaehyun bersama Taeyong.
"Kau tak perlu ikut campur." Ucapku dengan datar.
Kami hanya diam memperhatikan dua orang itu sedikit bertengkar. Akhirnya, Taeyong berlari ke kamar dan Jaehyun 'kembali' memechakan vas bunga seharga ratusan juta itu.
Ku alihkan tatapanku pada Haechan dan menatapnya dengan dingin.
"Dari mana kau?" Tanyaku padanya.
Sedingin tatapanku padanya, Haechan juga menatapku seperti itu. Dengan kuat ia menarik tangannya dari cengkramanku.
"Pergi keluar. Sekalian ingin mencari lelaki yang serius denganku." Ucapannya membuat rahangku mengeras.
Dengan cepat ku raih tangannya dan mencengkramnya lebih kuat, membuatnya meringis.
"Jika kau berani melakukan itu, aku tak akan segan-segan menghabisi pria yang berani merebutmu." Ucapku dengan suara rendah.
"Brengsek." Aku tersentak saat Haechan menggumamkan kata-kata kasar itu.
"DASAR BRENGSEK!"
Plakk
Aku hanya diam saat sebuah tamparan melayang ke pipiku. Ku tatap Haechan dengan tajam.
"Kenapa kau keluar tanpaku eoh?" Tanyaku.
"Kenapa? Kau takut?" Tanyanya balik padaku. "KAU TAKUT AKU CELAKA?"
Aku hanya bisa diam saat melihat Haechan berteriak dengan aliran air mata yang membasahi pipinya.
"Dengarkan aku baik-baik." Ucapku padanya yang hanya diam. "Kau boleh cari laki-laki yang benar-benar ingin serius padamu."
Aku berusaha mati-matian agar suaraku tak bergetar. Demi apapun, rasanya lebih sakit dari pada puluhan peluru yang menghujam badanku.
"Tapi,,, pastikan dia lebih kuat dari pada aku."
Setelah berkata seperti itu, aku pergi meninggalkan Haechan yang menangis sesegukan di ruang tamu.
[ HAE ]
"Tapi,,, pastikan dia lebih kuat dari pada aku."
Setelah berkata seperti itu, Mark pergi meninggalkanku.
Sakit sekali. Di saat orang yang kau anggap memperjuangkanmu ternyata dengan mudahnya melepaskanmu.
"Ukhhh,,, Eommaaaaaa..." Ku pukul kuat dadaku yang terasa sesak. Akibatnya aku terbatuk dan kembali menangis seperti Loser.
Setelah puas dengan tangisanku. Aku pun perlahan berdiri, memungut barang-barang belanjaanku dan juga milik Taeyong hyung. Berjalan menaiki tangga dan bermaksud untuk mengantarkan barang Taeyong hyung ke kamarnya.
Saat membuka pintu, aku tak menemukan siapa-siapa di dalam sana. Mungkin Taeyong hyung sedang mandi. Aku pun meletakkan barang milik Taeyong hyung di atas sofa kamarnya.
Saat berbalik dan hendak keluar dari kamar Taeyong hyung. Aku mendengar suara berisik dari kamar mandi.
Perlahan aku berjalan ke kamar mandi dan menempelkan telingaku ke pintu kamar mandi.
"J-jaehhh... Anghhh..."
Tsk! Dasar Jung Sialan Jaehyun. Adiknya sedang patah hati dia malah sibuk bercinta.
"Aishhh..."
Dugkhh
Ku tendang pintu kamar mandi tak bersalah itu dan menatapnya dengan tajam.
"Dasar brengsek!" Umpatku. "**** you!" Ku acungkan jari tengahku ke arah kamar mandi.
Setelahnya aku keluar dari kamar dan membanting pintu kamar itu dengan kuat.
[ AUTHOR ]
"J-jaehhh... Anghhh..." Taeyong hanya bisa pasrah saat tangan Jaehyun bermain dengan lowbangnya di bawah sana.
"Berteriaklah sesukamu Babyhh..."
Dugkhh
Suara pintu kamar mandi yang sepertinya di tendang membuat Jaehyun sedikit kehilangan fokusnya. Namun pria tampan itu lebih memilih mengabaikannya dan kembali fokus dengan lowbang hangat Taeyong.
"Aku tidak tahan lagi." kata jaehyun
Jaehyun tak perduli jika badan Taeyong masih terendam, dengan instingnya, ia meraba lowbang Taeyong dan menusukkan jari tengahnnya.
"A-akh... Jaehh..." Jaehyun sedikit menyeringai dan mengeluarkan jarinya.
Perlahan ia menuntun pisangnya untuk memasuki lowbang Taeyong.
"Jaehh,,, cepatlahh... Ku mohonhh."
Jaehyun tersenyum tipis dan menampar belahan mochi Taeyong. Membuat air beriak keras dan sedikit tumpah keluar dari bathup.
"Kau sudah tak sabaran rupanya."
"Enghhh..." Taeyong mengigit bibirnya.
"Fuckhh..." Jaehyun menggeram pelan.
"ANGHHHHH..."
Plok
Plok
Plok
Suara nista yang mengiringi aksi nikmat kedua orang itu adalah saksi betapa kegiatan mereka sangat nikmat dan panas.
"Sialanhh,,, kau nikmat sekalihh..." Geram Jaehyun
"Angh, akh ah ah ahh... Jaehyunhhh..." Taeyong hanya mampu bernafas dengan sisa-sisa tenaganya.
"Akhh,,, sedikithh lagihh.." kata Taeyong.
Begitu juga dengan Jaehyun, pria tampan itu dengan gagahnya seperti seekor singa. Jaehyun hanya sesekali menggeram.
"A-ahhkkk... AHHHH..."
Taeyong lemas saat puncaknya tiba.
"Sebentar lagihh.." kata Jaehyun.
ternyata Jaehyun belum sampai pada puncaknya.
"Aaah,,, kau membuatku gila Lee Taeyong... Fuckhh..." Jaehyun semakin cepat dan dalam.
"Eunghhh..." Akhirnya Jaehyun sampai pada puncaknya.
C
r
o
o
t
t.
Jaehyun menggendong Taeyong dan menidurkannya di tempat tidur. Pria cantik yang masih memakai bathrobe berwarna navy itu dengan cepat berbaur dengan bantal dan selimutnya, kemudian meninggalkan Jaehyun sendirian menuju alam mimpi.
Jaehyun yang melihat itu pun hanya menggeleng pelan dan berjalan menuju sofa. Saat hendak duduk disana, ternyata ia menemukan barang-barang belanjaan Taeyong.
Saat matanya menyusuri tas belanjaan itu, ia menemukan sebuah kotak yang sangat ia kenali bentuk dan warnanya.
Dengan cepat Jaehyun membuka kotak itu dan menemukan sebuah mawar yang sudah membusuk di dalamnya. Baunya pun sangat menyengat dan menyakiti hidung.
"Heuh, ternyata kau masih menggunakan cara lamamu." Gumam Jaehyun pelan.
"Tapi aku tak sebodoh dirimu. Aku akan menjaganya lebih ketat dengan cara baruku, sehingga lalat busuk sepertimu tak akan bisa menyentuhnya sedikitpun."