
[ TAEMIN ]
"TAEMIN!!!" Aku tersentak dari lamunanku dan segera berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan tergesa dan tiba di ruang tamu.
Di sana, Jongin duduk dengan gaya arogannya. Aku hanya mampu diam dan berdiri tertunduk di depannya.
Prangg
Tiba-tiba saja Jongin mencampakkan sebuah vas bunga di dekatku. Aku bergetar ketakutan saat melihatnya mulai berjalan mendekatiku.
"Bicara padaku." Ucapnya dan aku hanya menggeleng pelan. "Cih, dasar brengsek." Geramnya dan dengan cepat meraih kedua pipiku.
"Kau benar-benar ingin ku buat bisu?" Tanyanya dengan dingin dan aku langsung menggeleng kalap. "Kalau begitu bicara padaku. UCAPKAN NAMAKU SAJA BANGSAT."
Bugh
Aku tersungkur saat Jongin dengan kuat menendang perutku.
Ugh,,, aku hanya mampu meringis dan pasrah saat Jongin kembali membuatku berdiri. Dengan kuat ia menarikku dan membuat kakiku menginjak pecahan vas bunga tadi.
"Arghhhhh..." Teriakku saat rasa sakit menghinggapi telapak kakiku.
"Ini yang kau inginkan kan? KAU HANYA BERSUARA JIKA AKU MELUKAIMU." Aku hanya menangis tersedu saat Jongin berteriak ke padaku.
"Pergilah." Ucapnya dan dengan cepat aku berlari ke kamar.
Aku duduk di pinggiran tempat tidur dan menangis seperti anak kecil melihat darah menetes dari kakiku.
Tak lama kemudian, Bibi Ahn datang dengan peralatan obatnya. Aku hanya menangis saat Bibi Ahn membasuh kakiku dengan air hangat yang di bawanya.
"Ya Tuhan, untung saja tak ada kaca yang tersangkut." Ucap Bibi Ahn dengan suara bergetarnya. Perlahan Bibi Ahn membalut kakiku dengan perban dan memberikanku obat penghilang rasa sakit.
Setelahnya, aku berbaring di tempat tidur menghadap jendela. Bibi Ahn meninggalkanku sendirian di kamar, aku hanya diam dan termenung. Kakiku masih merasakan sakit dan berdenyut, tapi aku tau mengeluh tak ada gunanya. Makanya aku hanya diam dan menikmati rasa sakit ini.
Hiksss
Air mataku menetes saat aku melihat bayangan seseorang di jendela kamarku. Aku hanya diam saat jendela kamarku di paksa untuk di buka dan masuklah seseorang yang selama ini sangat aku harapkan kedatangannya.
"Baby..." Orang itu berjalan dan mengecup pelan keningku.
"Minho hyung." Aku hanya mampu bergumam. Aku tau jika ini hanyalah sebuah halusinasi. Maka dari itu, perlahan aku memejamkan mataku dan tidur, berharap orang itu juga datang di mimpiku.
[ JONGIN ]
Aku mengacak kasar rambutku. Entah kenapa, aku selalu bertindak di luar kendali jika itu menyakut Taemin. Dengan segelas wine aku termenung menatap langit-langit ruang kerjaku.
Dulu, sudah sangat lama.
Aku, Jaehyun, dan Minho berteman. Kami hanya teman di sekolah. Walaupun begitu, kami sering sekali berkelahi karena tak sependapat.
Hingga suatu hari, aku bermain ke rumah Jaehyun dan bertemu dengan teman dari kecilnya yang bernama Taemin. Saat itu, Taemin terlihat sangat mempesona dan menggemaskan.
Tanpa fikir panjang, saat itu. Di malam hari yang di penuhi bintang, aku dengan berani mengajak Taemin pergi ke taman. Hanya berdua, tanpa Jaehyun dan Minho.
"Aku menyukaimu."
"Hah?! A-ah, maksudku, k-kau menyukaiku?" Tanyanya dan aku mengangguk sambil tersenyum. "Maaf, tapi aku tidak menyukaimu." Ucapnya tertunduk, membuatku mendesah pasrah.
"Siapa? Siapa yang kau sukai?" Tanyaku.
"Minho hyung."
"TAEMIN!" Kami berdua menoleh ke belakang, menemukan Jaehyun dan Minho berjalan mendekati kami. Aku langsung saja menatap Minho dengan tatapan kebencian, tapi pria itu tak menyadarinya dan hanya bersikap biasa saja.
"Jaehyun, tanyakan saja pada Taemin langsung." Ucap Minho dan aku hanya menatap mereka berdua.
"Baiklah. Taemin, katakan siapa yang kau sukai?" Tanya Jaehyun dan aku mengerutkan alisku.
"A-apa maksudnya?" Tanya Taemin dengan wajah tak mengertinya.
"Katakan siapa yang kau sukai?" Tanya Minho mendesak.
"A-aku, m-menyukai Minho hyung." Ucap Taemin dengan malu-malu.
"YESHH..." Minho langsung menghampiri Taemin dan memeluknya erat.
"Taemin-ah, jadi selama ini kau tak menyukaiku?" Tanya Jaehyun dan Taemin hanya tersenyum seperti anak kecil.
"Sial!" Umpatku dan pergi meninggalkan mereka.
Sejak saat itu, hubunganku dengan Jaehyun dan Minho sama sekali tak baik. Kami selalu memberikan tatapan tajam saat bertemu.
Aku tak terima semua ini. Intinya Taemin harus menjadi milikku.
Hingga suatu hari, aku mendengar kabar bahwa Minho pergi ke Rusia atas perintah Jaehyun. Hhh, aku tau pria Jung itu juga cemburu dengan Minho.
Maka dari itu, tanpa fikir panjang aku langsung menculik Taemin dan membawanya ke rumahku. Tapi anehnya, saat di rumahku pria itu tak pernah bicara sedikitpun padaku. Aku fikir ia bisu, tapi sesekali aku melihatnya berbincang dengan Bibi Ahn. Ahh,,, dia hanya tak ingin bicara denganku, padahal setelah sekian lama aku selalu ingin mendengar suaranya lagi.
DUARRR
Aku tersentak dari lamunanku dan berlari ke arah jendela. Melihat pekarangan rumahku sudah hancur berantakan yang aku yakinkan karena ledakan tadi.
[ MARK ]
DUARRR
"Akhh,,, brengsek!" Teriakku pada Minho yang dengan seenaknya melemparkan geranat di dekatku. Aku meringis saat merasakan kakiku terasa perih.
"Kenapa?" Tanya Minho dengan wajah tak berdosanya. "Bukankah ini sudah biasa?" Tanyanya dengan kekehan mengejeknya.
"Sialan. Bukan karena sakitnya, tapi aku akan kehilangan sesuatu karena luka ini. Dasar bajingan." Umpatku.
"Wo Wo... Santai. Hehe, maafkan aku." Ucapnya dan aku hanya mendesah.
Kami kembali berjalan dan masuk ke dalam rumah dari pintu belakang. Dengan santainya kami melewati mayat-mayat yang sudah kami habisi tadi.
"Hyung, apa yang kau lakukan di atas sana tadi?" Tanyaku pada Minho.
"Eum, hanya mengisi energi." Ucapnya dan aku hanya mengangguk tak berniat memperpanjang.
"SIAPA KALIAN?!" Aku tersentak saat seseorang berteriak pada kami berdua.
Padahal tangaku baru saja ingin menggapai gagang pintu. Perlahan aku dan Minho berbalik.
Aku hanya menatap datar saat beberapa laser merah berada di badan dan kepala kami. Aku menatap Minho memberikan kode.
"Mereka ada di atas sana." Ucapnya.
"Eum, kau bisa melihat mereka?" Tanyaku dan dia mengangguk.
"Sangat jelas malahan."
Ya, mungkin bagi orang biasa ini sulit, tapi bagi kami, menemukan sniper seperti ini sangat mudah. Walaupun mereka menggunakan baju serba hitam, kami dapat dengan mudah melihat mereka.
"Kalau begitu, kau tau apa yang harus kau lakukan."
"Tentu saja, berhentilah bicara."
"Sialan!"
Dorr
Dorr
Dorr
Terjadilah aksi tembak menembak antara kami dan para sniper itu. Dengan gesit aku menghindar dari berbagai peluru yang mengincarku. Begitu juga dengan minho hyung, walaupun hanya dengan pistolnya yang terlihat biasa, tapi pria itu bisa mengatasinya.
Dengan cepat aku memanjat gedung dan berada di rooftop. Perlahan aku berjalan dan mendekati salah seorang sniper yang masih fokus pada Minho. Dengan cepat aku menggorok lehernya dengan pisau yang ku bawa.
Setelahnya, aku kembali menelusuri dan melakukan hal yang sama pada para sniper yang ku temui.
"Hhh,,, melelahkan."
[ MINHO ]
Aku mendesah lega saat takbada lagi peluru yang mengincarku. Dengan cepat aku masuk ke dalam rumah dan suasana gelap langsung menghinggapiku.
Tiba-tiba saja seluruh lampu ruangan menyala. Aku menatap ke seluruh penjuru arah dan menemukan seseorang duduk di sofa dengan membelakangiku.
"Aku tau kau pasti akan datang menjemputnya." Suara yang sangat aku kenali.
"Kau tau, hanya seorang pecundang yang berani menyerang lawannya dari belakang." Ucapku dengan sarkas.
"Hahahahahaha." Aku hanya diam saat melihat dia tertawa.
Dorr
Dengan cepat aku menghindar saat ia tiba-tiba saja berdiri dan menembakku.
"Kau merebutnya dariku." Ucapku dengan santai.
"KAU YANG MEREBUTNYA DARIKU BRENGSEK." Teriaknya seperti orang gila.
Aku menyeringai, berteman cukup lama dengannya membuatku paham akan pria itu. Ia sangat benci saat orang lain menjatuhkannya. Itu akan membuatnya frustasi dan bertindak seperti orang gila.
"Dia tidak mencintaimu. Kau hanyalah orang bodoh yang memaksanya untuk mencintaimu."
"BAJINGAN!"
Dorr
Dorr
Dorr
Dengan membabi buta ia menembakku. Menembak tak tentu arah.
"KAU PECUNDANG. KAU MEMAKSANYA UNTUK MENCINTAIMU PADAHAL DIA SAMA SEKALI TAK MENGHARAPAKANMU." Teriakku sambil berusaha menghindar dari tembakannya.
"MINHO BRENGSEK!"
"Ahh,,, sial." Aku jatuh tersungkur karena tak memperhatikan langkahku.
"Ahahahaha,,, dasar pecundang." Aku berbalik dan menatap Jongin yang berdiri di hadapanku seperti malaikat pencabut nyawa.
"Kau akan mati Minho, dan Taemin akan menjadi milikku selamanya." Aku hanya diam saat ia mengarahkan pistolnya ke kepalaku.
"Buktikan seberapa beraninya dirimu." Ucapku dan ku lihat ia menggeram kesal.
Dorrr
Mataku melotot saat merasakan tetesan darah di kepalaku.