MAFIA AND LOVE

MAFIA AND LOVE
Awal Mula Kerusuhan



[ AUTHOR ]


Jaehyun duduk dengan diam, emperhatikan seseorang yang sedang tidur dengan nyenyak di atas kasur empuknya. Tangan Jaehyun memangku dagunya, matanya tak lepas dari wajah teduh dengan mata terpejam itu.


Sampai pagi menjelang, Jaehyun masih setia memandangi Taeyong yang mulai gelisah karena sinar matahari menggodanya untuk segera bangun.


"Eunghhhh..." Terdengar erangan dari Taeyong, mengusap pelan kedua matanya dan perlahan mendudukan dirinya.


"ASTAGA!" Taeyong terkaget saat melihat Jaehyun duduk tak jauh darinnya dan sedang memperhatikannya.


"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Taeyong heran.


"Berusaha menjadi orang pertama yang kau lihat saat kau bangun tidur." Ucap Jaehyun dengan wajah datarnya.


Taeyong yang mendengar itu mengedipkan matanya berulang kali. Menghela nafas kuat dan memutar bola matanya malas.


"Dasar orang tua." Gumamnya dan beranjak pergi ke kamar mandi.


Selesai mandi, Taeyong keluar dari kamar mandi dengan sesekali mengusap rambutnya yang masih basah.


"ASTAGA JAEHYUN!?" Taeyong kembali terkaget saat Jaehyun berdiri tepat di depan pintu kamar mandinya.


"YAK... MENYINGKIRLAH, KAU MAU MEMBUATKU MATI MUDA EOH?" Kesal Taeyong dan mendorong kuat tubuh Jaehyun, dengan kesal pria cantik itu pergi ke lemari pakaiannya.


"Aku sudah siapkan baju untukmu." Ucap Jaehyun menghentikan pergerakan Taeyong. Dengan kesal Taeyong menatap Jaehyun.


"Apa soal baju pun harus kau yang atur?" Tanya Taeyong sarkas.


"Tidak. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Taeyong menatap Jaehyun tak percaya.


"Benarkah?" Tanya Taeyong berjalan mendekati Jaehyun.


"Eum." Taeyong tersenyum senang melihat anggukan kepala Jaehyun.


"Cepat pakai bajumu, sebelum kesabaranku habis." Ucap Jaehyun lagi. Taeyong bingung apa maksud Jaehyun, sampai ia memperhatikan dirinya yang hanya mengenakan bathrobe yang memperlihatkan pahanya dan dadanya. Dengan cepat Taeyong mendorong Jaehyun untuk keluar dari kamarnya.


"Hhh,,, hampir saja."


[ TAE ]


Aku hanya diam saat di perjalanan. Tak ada niat untuk berbicara sedikitpun. Aku kesal!


Aku pikir kami akan pergi ke taman bermain atau sejenisnya. Tapi Jaehyun bilang ia akan menghadiri pesta rekannya. Hhh,,, pesta orang-orang kaya itu sangat membosankan.


"Arghhh,,, aku mau pulang." Jaehyun hanya menatapku sekilas kemudian sibuk menatap ke luar jendela lagi. "Tuan Jang, ayo kita pulang." Ucapku pada supir pribadi Jaehyun itu.


"M-maaf Tuan, t-tapi saya tidak bisa." Ucap Tuan Jang dan aku melihat Jaehyun tersenyum kecil.


"Kau menyebalkan." Aku menarik kuat rambut Jaehyun. Tapi ia hanya diam dan menatapku dengan datar.


Aku yang mendapat reaksi seperti itu pun langsung kehilangan keberanianku. Dengan cepat ku rapihkan kembali rambutnya.


Dejavu.


Ku rapihkan rambut Jaehyun yang basah karena terkena air hujan itu. Hujan tiba-tiba saja turun, untung saja kami mendapatkan tempat berteduh.


Ku usapkan tanganku ke pipinya. Bermaksud membuatnya merasa hangat, tapi ia malah menarikku ke pelukannya dan memelukku dengan sangat erat.


"Aku pasti akan merindukanmu."


"Kita sudah sampai."


Aku tersadar dari lamunanku saat mendengar suara Tuan Jang. Dengan cepat aku turun dari mobil dan menyusul Jaehyun yang sudah lebih dulu berjalan masuk ke dalam sebuah rumah yang sangat besar.


"Jaehyun, jangan tinggalkan aku sendirian di pesta seperti ini." Ucapku saat aku berhasil menyamai langkah kakinya.


Jaehyun menghentikan langkahnya. menoleh padaku dan menatapku dengan dalam. Aku langsung saja salah tingkah dan bermaksud berjalan terlebih dahulu, tapi tangannya dengan cepat menarik tanganku dan merangkul pinggangku.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." Ucapnya dengan datar dan kami berjalan bersama, berbaur bersama para tamu yang sudah hadir.


Aku hanya diam saat Jaehyun menyapa beberapa orang yang sama sekali tak aku kenali. Dan bahasa yang digunakan Jaehyun pun berbeda-beda. Aku menatap dalam wajahnya, bagaimana bisa ia menguasai beberapa bahasa sekaligus?! Mengherankan memang.


"Jaehyun, bisa lepaskan aku? Aku ingin makan sesuatu." Bisikku pada Jaehyun. Ia menatapku sebentar dan kemudian melepaskan rangkulannya dari pinggangku. Seperti kancil yang terlepas dari jebakan, aku langsung berlari menuju meja besar yang di atasnya terdapat berbagai macam makanan.


Aku sudah lama tidak menghadiri pesta seperti ini. Dulu aku sangat sibuk dengan kegiatanku sebagai artis, jadi sangat jarang bisa menghadiri sebuah acara pesta.


"Baiklah, selamat sore semuanya."


Aku menatap ke atas panggung dan menemukan seorang pria sedang berbicara di atas sana. Di sebelahnya ada seorang pria lainnya, wajahnya terlihat manis dan lugu secara bersamaan.


[ JAE ]


Aku hanya diam memperhatikan dua orang di atas panggung sana. Tak berminat sama sekali. Aku lebih memilih mengedarkan pandanganku ke sekliling dan menemukan pria cantikku sedang sibuk menatap ke atas panggung dengan mulut yang penuh makanan.


Astaga.


Sangat. Menggemaskan.


Dengan cepat aku berjalan ke arahnya. Tanpa perduli situasi, aku memeluk erat tubuhnya dari belakang, tapi ia malah berontak dan melepaskan pelukanku.


Matanya menatapku dengan garang, seperti kucing yang marah saat ekornya di pegang. Haha... Bagaimana bisa ada lelaki yang sangat manis seperti ini?!


"Jangan macam-macam. Aku takut jika nanti penggemarku ada yang melihat kita." Ucapnya padaku.


"Penggemar?" Aku mengernyit heran mendengarnya. Penggemar seperti apa yang bergabung dalam pesta yang kebanyakan dari kalangan mafia ini?


Taeyong berjalan meninggalkanku dan duduk di salah satu kursi yang di depannya terdapat meja bundar. Tanpa ragu, aku pun langsung menyusulnya dan duduk di sebelahnya.


"Kami akan bertunangan."


Aku menatap ke atas panggung saat mendengar suara lantang itu berbicara. Terdengar riuh tepuk tangan dari para tamu, termasuk Taeyong.


"Lee Taemin akan segera menjadi istriku."


Tapi nihil. Tak ada apapun yang diberikan otakku. Terlalu banyak hal yang menimpaku, sehingga sulit untuk mengingat hal yang tak terlalu penting.


[ MARK ]


Aku hanya diam dan fokus pada kegiatan menyetirku. Sedangkan Haechan yang duduk di sampingku sedang sibuk memainkan ponselnya.


Sampai di tempat tujuan. Aku keluar dari mobil dan berjalan mengitari mobil, membuka pintu untuk Haechan. Pria manis itu tersenyum dan keluar dari mobil dengan wajah teramat senangnya.


Kami berjalan beriringan memasuki sebuah rumah besar yang pintunya di jaga oleh dua orang pria berbadan besar. Menunjukkan identitasku dan sebuah undangan, setelahnya mereka membukakan pintu untuk kami.


"Wuahh,,, aku sudah lama tak menghadiri pesta semeriah ini." Aku hanya tersenyum mendengar celotehan Haechan.


"Lee Taemin akan segera menjadi istriku."


Aku menoleh ke atas panggung saat mendengar suara itu. Menatap pada seorang pria yang sepertinya pemilik pesta dan seorang pria manis di sebelahnya.


"Lee Taemin?" Aku menoleh pada Haechan yang bergumam.


"Kau mengenalnya?" Tanyaku pada Haechan. Pria manis itu menatapku sejenak.


"Entahlah. Tapi namanya sangat mirip dengan nama kekasih Minho hyung." Ucapnya.


"Siapa Minho?" Tanyaku padanya lagi.


"Teman Jaehyun."


Aku hanya mengangangguk dan kembali menatap ke atas panggung. Kedua pria itu saling melemparkan tatapan penuh cinta.


"Aku iri sekali." Aku menoleh pada Haechan yang menatap ke atas panggung dengan binar bahagianya.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Tentu saja aku iri. Hubungan kita tidak seromantis itu. Bahkan setelah tujuh tahun pun kau masih saja ingin menyembnyikan hubungan kita dari Jaehyun." Ucapnya panjang lebar dengan wajah yang tertrkuk.


"Aku hanya menunggu saat yang tepat." Ucapku dan berjalan menghampiri Jaehyun yang duduk bersama Taeyong.


"Master." Jaehyun menatapku dan menyuruhku untuk duduk di sebelahnya.


"Kenapa dia ikut?" Tanya Jaehyun menunjuk Haechan dengan dagunya.


"Tentu saja ikut. Dia kan kekasihku." Ucap Haechan dengan lantang dan menarik kuat tanganku untuk di gandengnya.


Jelas saja aku merasa gugup dan melepaskan rangkulan tangannya dengan cepat.


"A-ah, dia hanya bercanda Master." Jelasku pada Jaehyun yang hanya diam sambil meneguk wine.


"Kau tau untuk apa kita kesini kan?" Tanya Jaehyun dan aku mengangguk. "Lakukan tugasmu dengan benar, dan jangan biarkan dia mengacau." Perintah Jaehyun dan aku kembali mengangguk.


Aku menoleh pada Haechan dan berbisik padanya. "Jangan lakukan hal ceroboh. Kau paham?" Ucapku dan Haechan mengangguk dengan malas.


[ HAE ]


Aku memutarkan jariku pada bibir gelas. Bosan. Jaehyun dan Mark tenggelam dalam perbincangan bisnis gelap mereka, sedangkan Taeyong hyung sibuk mengunyah makanan.


"Aku ke kamar mandi sebentar." Ucapku dan hanya di jawab anggukan pelan oleh Jaehyun.


Perlahan aku menaiki tangga rumah mewah itu, berbelok ke kanan dan berjalan menyusuri koridor. Aku terus berjalan, bermaksud mencari salah satu kamar mandi yang ada di rumah ini.


Pranggg


Aku tersentak saat suara sebuah benda yang sepertinya di hantamkan ke dinding. Perlahan aku berjalan mendekat pada sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit. Aku mengintip sedikit kesana dan menemukan pria manis yang bernama Lee Taemin tadi terduduk di lantai dengan tangan yang bersimbah darah. Sedangkan pria yang satunya lagi berdiri memunggunginya dengan kedua tangan berada di pinggang. Dapat ku lihat bahu Taemin bergetar. Aku menatapnya dengan iba.


Deg


Aku terpaku dengan mata yang membola saat pandangan mataku bertemu dengan pria yang bersama Taemin itu. Tanpa fikir panjang, aku segera berlari dan meninggalkan mereka.


Jantungku berdegup kencang, entah kenapa tatapan itu terasa sangat mengintimidasi. Membuatku sedikit bergetar bahkan hanya dengan tatapannya saja.


Aku kembali duduk di sebelah Mark, berusaha mengatur nafas dan menenangkan suara gemuruh jantungku. Tapi sepertinya Taeyong hyung menyadari itu, ia menegurku.


"Ada apa?" Tanya Taeyong hyung membuat Jaehyun dan Mark menatap ke arahku. Dengan cepat aku menggeleng dan meneguk habis wine digelasku.


"Selamat sore Tuan Jung."


Deggg


Aku terpaku menatap pria yang sedang bersalaman dengan Jaehyun itu. Dia, pria yang bersama Taemin tadi dan aku yakin dia juga yang sudah menyakiti Taemin.


"Selamat malam Tuan Kim."


Kim?


Apa nama lengkapnya? Aku sangat penasaran.


"Aku harap kalian menikmati acaraku." Ucapnya lagi dan hanya di jawab anggukan oleh Jaehyun.


"Oh, dimana pria manis yang bersamamu tadi?" Tanya Taeyong hyung yang membuatku ikut penasaran dengan jawabannya.


"Ah, dia istirahat di kamar, mungkin kelelahan." Jawabnya sambil menatapku, ku lihat ia sepintas menyeringai. "Kau adiknya Tuan Jung kan?" Tanyanya dan aku hanya mengangguk kaku. "Wah, sebuah kehormatan bagiku karena kalian berdua bisa hadir dalam acaraku ini."


"Terimakasih Tuan Kim." Ucap Jaehyun dan mereka bersalaman kembali, kemudian pria itu pergi meninggalkan kami, dan saat dia melewatiku, aku merasakan udara yang sangat dingin dari tubuhnya.


"Kau kenapa?" Tanya Mark membuatku tersentak kaget.


"A-ah, tidak. Aku hanya sedikit kedinginan." Jawabku asal.


"Setelah ini kita pulang dan kau bisa istirahat. Bersabarlah." Ucapan Mark membuatku sedikit tenang dan mulai merilekskan tubuhku. Tapi otakku belum berhenti memikirkan bagaimana keadaan Taemin.


"Semoga saja itu tak seperti yang aku pikirkan."