
[ HAE ]
Aku menghirup udara segar dan berdiri dengan nyaman di balkon kamar. Mataku mengedar ke lantai bawah dan menemukan sebuah kotak di halaman depan yang terlihat kecil dari atas sini.
Dengan cepat aku berlari menuruni tangga dan membuka pintu depan. Sampainya di sana. Aku mengambil kotak itu dan membawanya masuk ke dalam. Duduk di ruang tamu dan menatap kotak itu dengan intens.
Warnanya merah darah, dan ada sebuah pita cantik berwarna hitam di atasnya. Dan saat ku lihat sisi samping kotak itu, ada sebuah tulisan yang terukir sangat cantik dengan warna emas.
"Re"
Hanya dua kata, tapi aku benar-benar tak mengerti.
"Haechan."
Aku menoleh ke belakang dan menemukan Mark yang menatapku. Aku hanya diam dan kembali menatap kotak berukuran sedang itu.
"Apa itu?" Tanyanya dan mulai duduk di sampingku. Tapi aku tetap diam dan tak perduli padanya. Perlahan ku buka kotak itu.
"AHHKKKK..."
Aku terkaget saat melihat isi di dalam kotak itu adalah benda aneh yang terlihat sangat menjijikkan, otomatis aku melempar kotak itu karena tak tahan dengan bau busuknya.
Ku lihat Mark berjalan mendekati kotak itu, berjongkok sedikit lama sambil menatap isi dari kotak yang berhamburan keluar.
[ MARK ]
Aku hanya diam menatap dua bola mata yang terjatuh di lantai itu. Karena sudah terbiasa dengan hal seperti ini, aku sama sekali tak terganggu. Perlahan ku ambil sapu tangan yang ada di saku celanaku dan memungut bola mata itu, kemudian meletakkannya kembali ke dalam kotak dan menutup kotak dengan rapat.
"Haechan, pergilah mandi, aku ada urusan sebentar dengan Master." Ucapku sambil menatap Haechan yang sepertinya masih syok dengan apa yang terjadi.
Perlahan aku berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalan ruang kerja Jaehyun. Ku lihat pria itu sudah duduk dengan nyaman sambil membaca sesuatu. Ya, walaupun terbilang masih cukup pagi. Ku rasa Jaehyun tak tidur semalaman.
"Master."
Ku lihat Jaehyun mendongak dan menatap kotak yang berada di tanganku. Ia melepaskan kaca mata baca yang di gunakannya.
"Bawa kemari."
Aku menurut dan meletakkan kotak itu di atas meja kerjanya. Dengan cepat ia membukanya dan reaksinya sama sepertiku. Datar.
"Haechan yang menemukannya tadi." Ucapku dan ku lihat ia menatapku dengan tajam.
Tanpa bisa ku perhitungkan, Jaehyun menarik kerah bajuku dan mencekik leherku. Aku tak berani berbuat apa-apa, hanya berusaha menahan rasa sakitku.
"Kenapa bisa Haechan?" Ucapnya dengan nada teramat menyeramkan menurutku. "Bagaimana jika isi di dalam kotak ini lebih menyeramkan eoh? Apa kau bisa tanggung jawab?"
Aku tak bisa menjawab, dadaku mulai sesak karena cekikan Jaehyun semakin mengencang.
"Haahh,,, hahhh..." Ku hirup udara sebanyak-banyaknya setelah Jaehyun melepaskan cekikan di leherku dengan kasar.
"Dengar. Jangan sampai Haechan menemukan hal-hal seperti ini lagi. Jika itu terjadi,,," Aku menatap Jaehyun yang nenjeda ucapannya. "Sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluargamu." Aku menunduk dalam mendengar ucapan Jaehyun.
"Aku mengerti Master." Dengan cepat aku membungkuk hormat padanya dan pergi dari ruang kerjanya.
[ AUTHOR ]
Taeyong duduk di pinggiran ranjang, matanya menatap mentari dari jendela kamar yang terbuka lebar. Terpaan cahaya membuatnya terlihat sangat indah bak malaikat.
Brakk
Pria cantik itu tersentak kaget saat pintu kamarnya di buka dengan sangat kuat. Taeyong menatap Jaehyun sang pelaku yang berjalan ke arahnya dengan kerutan alis kesal.
Tapi ia tak berani berucap apapun karena Jaehyun terlihat sangat kacau. Rambutnya berantakan dan kemeja yang dua kancing teratasnya terbuka.
Perlahan Jaehyun berlutut di hadapan Taeyong dan menyandarkan kepalanya di atas paha Taeyong yang tak tertutup apapun karena pria cantik itu hanya mengenakan kemeja kebesaran milik Jaehyun.
"Hhhh..." Terdengar helaan nafas dari Jaehyun. Taeyong yang tak mengerti apapun hanya bisa mengelus pelan kepala Jaehyun.
"Bisakah aku memohon sesuatu padamu?" Tanya Jaehyun sambil mendongak menatap Taeyong.
"Eum,,, ku rasa bisa." Jawab Taeyong sedikit ragu. "Apa itu?" Tanyanya lagi.
"Jangan membantah kata-kataku." ucap Jaehyun membuat Taeyong mengernyitkan keningnya.
"Maksudmu?" Tanya Taeyong.
"Sudahlah, hanya cukup jangan membantahku saja. Bisa?!" Tanya Jaehyun dengan nada tak sabaran.
"Hhh,,, yayayaya. Baiklah." Ucap Taeyong pasrah.
Perlahan Jaehyun berdiri dan mengelus pelan kepala Taeyong.
"Hari ini jangan pergi kemanapun, aku ada urusan yang harus ku kerjakan." Ucap Jaehyun dan Taeyong mengangguk.
Siang hari. Suasana kediaman Jung sangat sunyi. Hanya ada dua pria cantik yang hampir mati kebosanan di sana.
Taeyong dan Haechan. Mereka tak tau apa yang harus mereka lakukan. Sedari tadi mereka sudah berbincang banyak hal, namun rasa bosan datang dan menjebak mereka.
"Hyung, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" Tanya Haechan memberi usulan.
Tanpa pikir panjang, Taeyong mengangguk semangat layaknya anak kecil.
Mereka pun bergegas berganti pakaian, Taeyong memilih pakaian yang ingin di kenakannya untuk pergi ke luar bersama Haechan.
Tanpa ia ketahui.
Bahaya sedang menantinya di luar sana.
Dan tanpa ia sadari.
Ia sudah membantah kata-kata Jaehyun.
Ya, semoga kau baik-baik saja Lee Taeyong.
Aku bersenandung sambil menuruni tangga. Melihat Haechan yang sudah menungguku di ruang tamu, dengan cepat kami keluar dari rumah menuju garasi mobil. Haechan memilih mobil sport berwarna hijau dan masuk ke kursi pengemudi, aku pun masuk ke kursi satunya lagi.
Dengan cepat kami melesat menuju salah satu pusat perbelanjaan yang lumayan besar.
Kami pun dengan semangat memasuki satu per satu toko dan membeli barang-barang yang kami inginkan. Sepatu, baju, topi, jam tangan, dan banyak lagi.
"Ughh,,, aku lapar hyung." Keluh Haechan dan aku dengan semangat menunjuk salah satu Restoran yang ada di sekitar kami.
Dengan cepat kami duduk di salah satu meja dan memesan makanan yang kami inginkan.
Tak beberapa lama kemudian makananpun siap dan kami mulai menyantap makanan dengan sesekali berbincang.
"Eumm,,, Hae, kau tau Jaehyun pergi kemana?" Tanyaku pada Haechan yang masih menyantap snack yang dipesannya.
"Tidak tau, mungkin dia sedang mengurus bisnis gelapnya." Ucap Haechan asal dan aku hanya mengangguk pelan.
"Ah, aku ke toilet sebentar ya hyung." Izin Haechan dan aku hanya mengangguk. Karena takut merasa bosan, aku lebih memilih bermain dengan ponselku.
Saat aku sedang asik dengan ponselku, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan memberikan sebuah kotak padaku.
Warnanya merah darah, dan dihiasi pita berwarna hitam di atasnya, juga ada sebuah tulisan bertinta emas.
"Dari siapa?" Tanyaku pada pria yang berpakaian serba hitam itu.
"Seorang penggemar." Ucapnya dan setelah itu pergi meninggalkanku.
Aku menatap heran pada kotak itu dan perlahan membukanya. Ada sebuah bunga mawar yang sangat harum di dalam kotak itu. Bahkan aku sampai terbuai karena keharuman bunga ini, orang-orang di sekitarku pun memperhatikanku karena kurasa mereka juga mencium harum mawar ini.
Tapi aku bingung, perasaan tadi sebelum membuka kotak ini, aku tak mencium wangi apapun. Apa mungkin kotak ini kedap aroma. Ah entahlah, aku tak pernah mendengar seperti itu.
Aku kembali menutup kotak itu dan meletakkannya di salah satu kantong belanjaanku. Tak berapa lama kemudian, Haechan datang dan mengajakku untuk pergi belanja lagi.
"Baiklah, ayo kita belanja sepuasnya." Ucapku dengan cukup lantang dan kami pergi dari Restoran itu, setelah membayar tentunya.
[ JAE ]
"Tak ada di rumah?" Tanyaku pada Mark yang baru saja mematikan telfonnya.
"Ya, ku rasa mereka pergi ke suatu tempat Master." Ucap Mark dan aku menghela nafas keras.
"Rupanya dia belum jinak juga." Gumamku pelan. "Kirim salah satu anak buahku untuk mengawasi mereka." Ucapku dan Mark mengangguk paham.
Tak berapa lama kemudian, seorang wanita dengan pakaian teramat seksi datang menghampiriku dan Mark.
Belahan dadanya sangat rendah, roknya sangat pendek, dan bagian pinggangnya sangat ketat. Ah, aku rasa Taeyong juga akan sangat seksi jika menggunakan pakaian seperti itu.
"Selamat malam Jack." Sapanya dan aku hanya mengangguk pelan.
"Dimana suamimu Marine?" Tanyaku dan dia hanya mengendikan bahu.
Perlahan wanita itu duduk di atas pangkuanku dan mengusakkan dada besarnya di daguku. Pinggulnya ia gerakkan dengan sensual, tangannya mencengkram bahuku dan bibirnya ia gigit entah karena apa.
Aku tak paham dengan wanita ini, apakah suaminya tak pandai memusakannya sampai ia menagih kepuasan dariku?!
Aku hanya diam atas perlakuannya. Tapi saat ia hendak menciumku dengan bibir merahnya itu aku mencegah.
"Kau tau akibatnya jika berani menyentuhku kan?" Tanyaku dengan dingin. Ku lihat ia mendecih kesal dan bangkit dari pangkuanku.
"Dasar pelit." Ucapnya dengan nada kesal dan pergi meninggalkanku bersama Mark di ruangan cukup gelap ini.
"Master. Ada seseorang yang memberikan kotak pada Taeyong." Ucapan Mark berhasil menarik perhatianku. "Dan, sepertinya dari orang itu."
Aku mengusap wajahku kasar, dan beranjak dari dudukku.
"Batalkan pertemuan hari ini dan ayo kita pulang." Ucapku tegas.
"Tapi Master. Tuan Yang hampir tiba." Ucap Mark berusaha menahanku.
"Mark, aku benar-benar tak sudi mengorbankan Taeyong demi pria tua itu. Jadi ayo kita pulang." Ucapku dan berjalan cepat keluar dari ruangan. Tanpa berani membantah lagi, Mark mengikutiku dan ku dengar ia sedikit berdebat dengan Tuan Yang dari ponsel.
Sampainya di mobil, Mark duduk di kursi pengemudi dan aku di kursi penumpang belakang.
"Master. Bisa kau baca ini?" Tanya Mark sembari memberikan ponselnya, dengan malas aku mengambil ponsel itu dan membaca sebuah artikel.
"Lee Taeyong di temukan penggemar sedang berada di sebuah Mall."
Melihat itu, dengan cepat aku mencari berita tentang Taeyong.
"Lama tak ada kabar. Lee Taeyong kedapatan sedang berada di Mall."
"Lee Taeyong, setelah lama tak muncul di layar kaca."
Dan aku membaca komentar para penggemar Taeyong.
"Ya, kurasa Taeyong oppa butuh waktu untuk bersenang-senang."
"Siapa pria yang bersamanya? Tampan juga."
"Yak Lee Taeyong, bagaimana bisa kau disana sedangkan aku menantimu disini?!"
"Suamikuuuu,,, kau semakin tampan saja."
"Taeyong, jangan pergi terlalu lama, ingat anak dan istrimu menunggumu disini."
Aku mengertukan alisku melihat komentar-komentar itu.
"Taeyong benar-benar punya penggemar yang berlebihan seperti ini?" Gumamku pelan.
"Tentu saja Master. Bahkan ada yang lebih parah dari pada itu." Ucap Mark yang kurasa mendengar gumamanku tadi.
Aishhh,,, Taeyong benar-benar membuat pekerjaanku semakin sulit.