MAFIA AND LOVE

MAFIA AND LOVE
Raih Kebahagiaan



[ HAE ]


Aku hanya diam sambil melewati Mark yang sedang duduk di meja makan. Sejak kejadian kemarin, aku menjadi canggung dengannya. Bahkan tidak ada dari kami yang sudi melihat satu sama lain walaupun sedang berpapasan.


"Hhh..." Aku menghela nafas memikirkan betapa beratnya bertengkar dengan orang yang sangat kau cintai.


Perlahan ku raih dua lembar roti dari lemari gantung yang ada di atasku dan memasukkan ke mesin pemanggang roti. Menunggu roti siap, yang aku lakukan hanya melamun dan mengetukkan jariku di meja counter dapur.


Ting


Aku tersadar dari lamunanku dan melirik mesin pemanggang roti. Tanpa sadar, ku raihkan tanganku pada roti yang masih panas.


"Awww."


"Awas!"


Aku tersentak kaget saat Mark sudah berada di sisiku sambil memgangi tanganku yang baru saja terkena roti panas itu. Aku hanya diam saat Mark membawaku ke arah wastafel dan membasuh tanganku dengan air mengalir.


Ku tatap tangannya yang mengusap-usap jariku dengan tangannya yang sedikit lebih besar.


Setelah selsai, Mark mengalihkan tatapannya dan menatapku dengan tajam. Aku hanya diam dan mengedipkan mataku.


"Dasar ceroboh." Ucapnya dengan datar.


Aku hanya diam dan melewatinya untuk mengambil roti panggangku, meletakannya ke piring dan membawa ke meja makan dengan segelas susu yang sudah aku siapkan sebelumnya.


"Haechan," Aku berhenti mengunyah saat kudengar suara Mark yang memanggilku dari arah belakang. Aku hanya diam menunggunya bicara.


"Tolong jaga dirimu. Aku akan berusaha keras untuk melepaskanmu. Jadi... Aku mohon jangan pernah ceroboh lagi,"


", karena aku tak bisa selalu bersamamu."


Aku tertunduk menahan suara isakanku saat Mark berjalan melewatiku dan pergi meninggalkanku sendirian di dapur.


"Haechan?!" Aku tersentak kaget saat mendengar suara seseorang yang terlihat terkejut melihatku.


"Minho hyung?!" Teriakku cukup kuat dan mengusap cepat air mataku.


"Oh, my angel."


Dengan cepat aku bergerak dan memeluk erat Minho hyung. Menenggelamkan wajahku di dada bidangnya dan melingkarkan kedua tanganku dengan erat di pinggangnya.


"Hyuunngg,,, aku merindukanmu." Ucapku dengan nada manja.


"Aku jauh lebih merindukanmu." Balasnya sembari mengecup pelan keningku.


[ MARK ]


Aku mengacak kasar rambutku. Mengerang keras dan menendang udara yang tak bersalah.


Bodoh. Ya, aku memang bodoh. Terlalu lemah hanya karena hal konyol yang dinamakan cinta itu.


Aku tak bisa melupakan Haechan begitu saja. Nyatanya, aku masih sangar khawatir saat tangannya terkena luka tadi.


"Shit!"


"Ada apa mengumpat pagi-pagi begini?" Aku tersentak kaget dan berbalik. Menemukan Jaehyun yang berdiri di belakangku dengan sebatang rokok di mulutnya.


"A-ah, tidak Master."


Jaehyun hanya diam dan berjalan ke arahku. Menyandarkan tubuhnya ke balkon lantai dua rumahnya ini. Aku pun hanya diam memandangnya.


"Buktikan." Ucapnya dan aku menoleh tak mengerti. "Jika kau benar mencintai Haechan, buktikan."


Aku mengedipkan mata beberapa kali dengan raut tak percayaku.


"Malam ini pergilah bersama Minho untuk menjemput kekasihnya." Ucap Jaehyun lagi sembari menghembuskan asap rokoknya.


"Baiklah Master." Balasku dengan sopan dan membungkuk hormat.


"Mark."


Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatap punggung Jaehyun.


"Malam ini, jika kau berhasil menjemput kekasih Minho tanpa luka sedikitpun,,," Ucapannya terjeda dan berbalik menatapku. ",,, akan ku berikan Haechan untukmu."


Crack


Dengan semangat aku memeriksa satu persatu senjata yang akan ku gunakan nanti malam. Senyum kebahagiaan tak lepas dari bibirku. Membayangkan Haechan yang akan menjadi milikku seutuhnya.


"Aku pasti akan membawa kekasih Minho kesini tanpa luka sedikitpun." Gumamku pelan. "Kau pasti akan menjadi milikku seutuhnya Haechan. Tunggu saja."


[ TAEMIN ]


Aku duduk diam sambil memandang hamparan rumput hijau di depanku. Terpaan angin sore menyapu wajahku.


Tes


Tanpa sadar air mata mengalir di pipiku. Mataku bergulir menatap tanganku yang terdapat beberapa luka goresan.


"Hikss..." Isakanku akhirnya lolos membayangkan betapa menyedihkannya hidupku.


"Jaehyun, tidak bisakah kau bantu aku keluar dari rumah ini?!" Tanyaku pada angin.


Jujur saja. Kemarin saat melihat Jaehyun yang datang ke pesta pertunanganku membuatku seakan ingin berlari dan meminta perlindungan darinya. Namun, Jongin jauh lebih cepat dariku.


Prangg


"Jika kau berani macam-macam, akan ku buat hidupmu lebih menyedihkan dari pada ini."


"Tuan." Aku menoleh pada wanita paruh baya yang datang menghampiriku dengan sekotak obat-obatan.


"Bibi." Gumamku pelan dan wanita itu tersenyum. Bibi Ahn namanya.


"Tuan, mari kita obati luka-luka Anda." Ucapnya dengan nada teramat lembut.


Perlahan aku mengulurkan tanganku dan wanita itu mengobatinya dengan pelan. Setelah selesai, aku merubah arah dudukku sedikit miring. Bibi Ahn langsung duduk di belakangku dan membuka satu persatu kancing baju di bagian punggungku.


"Hikss..." Aku mendengar suara isakan saat Bibi Ahn menyibak bajuku. Entahlah, mungkin Bibi Ahn merasa kasihan melihat punggungku yang dipenuhi dengan luka-luka goresan.


Aku hanya diam selama Bibi Ahn mengobati luka ku. Sesekali aku meringis merasakan betapa sakitnya punggungku.


Ya Tuhan. Sampai kapan penderitaan ini berakhir?


[ AUTHOR ]


Malam hari pun tiba. Jaehyun dan Taeyong sedang asik menikmati acara tv kesukaan Taeyong. Taeyong yang berada di pelukan Jaehyun dan Jaehyun yang menyandarkan kepalanya di pundak Taeyong.


"Master." Jaehyun menoleh ke samping dan menemukan Mark yang berdiri disana dengan pakaian serba hitamnya.


"Kau sudah mau pergi?" Tanya Jaehyun.


"Ya Master, lebih cepat lebih baik." Ucap Mark membuat Jaehyun mengangguk pelan.


"Kau tidak berubah, masih sangat bersemangat jika itu menyangkut Haechan."


Mark hanya diam mendengar ucapan Jaehyun, sedangkan Taeyong menatap mereka berdua secara bergantian.


"Memangnya apa? Ada apa dengan Haechan?" Tanya Taeyong.


"Tidak ada. Sudah diam saja dan nikmati drama kesukaanmu itu." Ucap Jaehyun dihadiahi sikutan keras pada perutnya.


"Sialan."


"Aku merindukanmu." Bisik Jaehyun pada Taeyong dan menciwum tengkuk Taeyong.


"Jangan Jae, kau tidak malu pada Mark?!" Bisik Taeyong dan Jaehyun langsung menoleh pada Mark yang sedang melihat ponselnya.


"Mark." Jaehyun dan Mark menoleh ke arah tangga dan menemukan Minho yang terlihat sungguh tampan.


Dengan stelan kerennya. Jaket kulit berwarna merah dengan dalaman berwarna hitam dan celana hitam serta sepatu berwarna biru malam.


"Woahh... Minho hyung sangat kereeennn..." Taeyong langsung melepaskan diri dari pelukan Jaehyun dan berlari mendekati Minho.


"Apakah aku pernah terlihat jelek?" Ucap Minho dengan seringaian tampannya.


"Woahh,,, kau benar-benar keren hyung, seperti pemeran utama dalam drama action." Taeyong menatap Minho dengan binar bahagianya, seperti seorang penggemar tokoh utama dalam drama.


"Hahaha, sudahlah Taeyong, jangan bertingkah seperti itu. Aku takut makin jatuh cinta padamu." Ucap Minho sembari melirik punggung Jaehyun.


"Hehe,,, tapi benar-benar tampan." Ucap Taeyong menarik pelan jaket Minho. Layaknya anak kecil yang merasa gemas pada sesuatu.


"Aishh,,, aku gemas padamu. Bolehkah menciummu se--"


Prangg


"Ahahaha,,," Minho tertawa terbahak-bahak saat sebuah vas bunga mendarat di lantai dekatnya berdiri. Untung saja ia dengan tanggap menghindar, jika tidak sudah dapat dipastikan kepalanya terluka parah.


"Bajingan." Geram Jaehyun sembari berjalan mendekat pada Taeyong yang menatapnya dengan garang.


"Jaehyun, kenapa kau seperti itu? Bagaimana kalau tadi Minho hyung terluka?!" Ucap Taeyong dengan lantang.


"Aku sudah lama berencana untuk membunuhnya, tapi rubah licik selalu saja berhasil lepas dariku." Ucap Jaehyun menarik pelan tangan Taeyong dan menyembunyikannya di balik punggung tegapnya.


"Wahh,,, aku suka perumpamaan itu. Minho si rubah tampan. Hehe..." Gurau Minho. "Aiyy,,, sudahlah Jaehyun, hentikan tatapan Hitler itu, aku benar-benar takut kali ini, sungguh... Hehe..."


"Pergilah." Ucap Jaehyun dingin.


"Ah, baiklah. Aku harus cepat, ayo Mark." Minho menepuk pelan pundak Mark dan berjalan, tapi baru beberapa langkah ia kembali berbalik dan menghampiri Jaehyun.


"Teman, jika nanti aku tak kembali, aku harap kau tidak merindukanku." Ucap Minho dengan wajah seriusnya. "Ah, di kamarku ada jam tangan mahalku, itu boleh untukmu jika aku tak bisa kembali nanti."


"Bedebah."


"Haha, aku bercanda. Aku tau kau bisa membeli pabrik jam tangan termahal jika kau mau."


"Cerdas." Ucap Jaehyun singkat dan datar.


"Jae, aku harap kau tak marah jika nanti Ajudan terbaikmu terluka karena membantuku." Ucap Minho sembari menatap Mark yang berdiri di belakangnya.


"Tenang saja, pria itu sudah berjanji sesuatu padaku." Ucap Jaehyun dan Mark mengangguk.


"Baiklah, aku pergi. Taeyong, tidur lah dengan nyenyak malam ini dan jangan mmimpikan hyung atau seseorang akan cemburu."


"Bangsat!"


"Hahaha, dasar singa pemarah." Gurau Minho dan pergi keluar rumah bersama Mark.


"Jaehyun, Minho hyung mau kemana?" Tanya Taeyong.


"Pergi menjemput kebahagiaannya." Ucap Jaehyun dan mengewcup pelan biwbir Taeyong.


"YAK! Jangan seenaknya menciwumku, dasar mafia mewsum." Geram Taeyong dan pergi meninggalkan Jaehyun.


"Eum, mafia mewsum yang bergayrah hanya karena seekor kucing nakal."