
[ TAE ]
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, menghirup nafas dengan dalam dan menghembuskannya kembali. Tubuhku mulai rileks, perlahan ku pejamkan mataku.
Aku kembali membuka mataku saat kilasan wajah seseorang muncul di otakku.
Lee Taemin.
Pria yang ada di pesta tadi, entah kenapa aku merasa pernah mengenalnya. Seperti pernah melihatnya, tapi entah dimana. Aku penasaran dan benar-benar sangat ingin tau, aku memaksa otakku untuk mengingat, tapi tak ada apapun.
Aku menghela nafas keras dan membalik tubuhku menjadi telungkup. Tanganku kugunakan untuk alas kepalaku, kepalaku ku arahkan ke kiri dan kembali memejamkan mataku.
Beberapa saat kemudian, aku merasakan seperti ada seseorang yang naik ke atas ranjangku. Aku membuka mataku dan tersentak saat merasakan hembusan nafas di tengkukku.
"Kau tidak mandi dulu?"
Sialan. Si Jaehyun itu memang seperti hantu, entah bagaimana dia bisa masuk ke kamar yang aku sangat yakin pintunya sudah ku kunci tadi.
"Menyingkirlah." Ucapku dengan dingin dan berusaha melepaskan diri dari kukungannya. Namun yang ada, saat aku membalik badanku, ia semakin merendahkan tubuhnya.
"A-aku bilang menyingkir." Ucapku lagi dengan sedikit gugup. Ya, siapa coba yang tak gugup saat di tatap dengan begitu intens oleh pria yang begitu -ekhem- tampan.
"Kenapa? Kau gugup?" Aku langsung menatapnya, dan mengedipkan mataku beberapa kali.
"Sialan. Kau percaya diri sekali Tuan Jung." Dengan kesal aku mendorong dadanya dan membuatnya berdiri dihadapanku, sedangkan aku duduk di pinggiran ranjang.
"Pergilah mandi." Ucap Jaehyun dan aku hanya berdehem.
"Oh iya Jae." Jaehyun menatapku dengan mata tajamnya itu, kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya. Ugh, sialan, ia terlihat keren sekali. "Eumm,,, aku rasa aku mengenal Taemin itu." Ucapku.
"Taemin?" Ku lihat dahinya mengernyit. "Taemin yang ada di pesta tadi?" Tanyanya dan aku mengangguk.
"Siapa nama tunangannya Jae?" Tanyaku berusaha mengingat.
"Kim Jongin."
"Ah, iya. Kim Jongin. Kalau di lihat-lihat, dia sangat tampan ya." Ucapku sambil berusaha mengingat wajah tampan tunangannya Taemin itu. Tapi aku tak mendapat jawaban apapun, aku mendongak dan menemukan Jaehyun menatapku dengan wajah ter-a-mat dinginnya.
"Tidak ada yang lebih tampan dari pada aku." Aku menatapnya dengan tatapan aneh. "Pergi mandi dan cuci kepalamu, hilangkan memori pria itu dari otakmu atau akan aku buat kenangan buruk tentang wajahnya nanti."
Sial. Jaehyun dan sifat arogannya itu adalah hal terburuk.
"Terserah." Dengan cepat aku beranjak dan berlari masuk ke kamar mandi. Awalnya aku terdiam, menatap alat-alat mandi di kamar mandi itu. Mengerang kesal dan dengan cepat mengguyur kepalaku dengan air dari shower, bahkan pakaianku belum ku lepas sama sekali.
"Pergilah wajah tampan tunangannya Taemin. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi."
[ HAE ]
Aku duduk di kursi yang ada di balkon kamarku sambil memeluk boneka beruang kesayanganku. Kepalaku kusandarkan di atas kepala boneka sedangkan mataku menatap langit malam yang tak dihiasi apapun.
"Belum tidur?" Aku tersentak saat seseorang tiba-tiba saja sudah menadarat di atas balkon kamarku. Hhh,,, lagi-lagi dia memanjat seperti hewan berbulu dengan hidung pesek itu.
"Mark, tidak bisakah masuk kekamarku melalui pintu?" Tanyaku dengan datar.
Dia hanya diam dan berjalan menghampiriku. Kemudian duduk di sebelahku.
"Nanti Master lihat dan kita bisa terkena masalah." Ucapnya yang membuat moodku semakin buruk. Dengan cepat aku berdiri di depannya dan menatapnya dengan geram.
"Kalau kau masih terus ingin menyembunyikan hubungan kita, lebih baik kita akhiri saja." Ucapku dengan nada sedikit lantang dan meninggalkannya.
Dengan kesal aku berbaring di tempat tidur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.
"Sialan. Dia pikir dia siapa? Kenapa hanya aku saja yang terlihat mencintainya?" Gumamku. "Dasar brengsek!" Umpatku lagi.
[ MARK ]
Aku terdiam saat Haechan meninggalkanku sendiri. Ku hembuskan nafasku dengan cukup kuat dan menyandarkan punggungku di sandaran kursi.
Kata-kata Haechan tadi benar-benar membuatku frustasi. Bagaimana bisa dia mengatakan itu setelah kami menjalani hubungan hampir 8 tahun?
Akhirnya aku hanya bisa diam dan membiarkannya untuk tenang dulu. Bertahun-tahun hidup bersamanya membuatku sangat tau apa isi kepala dan hatinya. Mungkin saja sekarang ia sedang gelisah karena sesuatu.
Perlahan aku berdiri dari dudukku dan berjalan menghampiri Haechan yang tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Aku duduk di pinggiran ranjang dan menarik selimut perlahan. Ku lihat Haechan sudah terlelap dengan memeluk boneka beruangnya.
"Aku mencintaimu." Ucapku sembari mengelus keningnya dengan sayang.
Setelahnya, aku kembali berjalan menuju balkon dan perlahan turun dengan cara merayap. Tak sulit bagiku, menjadi anak buah Jaehyun, sudah seharusnya kami bisa melakukan hal seperti ini.
Aku mendarat dengan mulus di halaman depan rumah besar itu. Aku berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu bersama Jaehyun yang sedari tadi sudah disana dengan sebatang rokok menemaninya.
Aku hanya diam memperhatikan Jaehyun yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Dengan inisiatif, aku pun memulai pembicaraan kami.
"Master, aku sudah mendapatkan info tentang data diri Kim Jongin." Ucapku dan Jaehyun masih diam menikmati rokoknya. Ku lihat ia perlahan bergerak dan mematikan rokoknya kemudian membuangnya di asbak.
"Entahlah, mungkin kalian pernah bertemu dulu." Ucapku. Ku lihat Jaehyun memasang wajah berfikirnya.
"Mark, tugasmu selanjutnya adalah mengawasinya."
"Tapi, bagaimana dengan Taeyong? Bukankah seharusnya aku mengawasinya juga?" Tanyaku heran.
"Kucing manis itu sudah mulai menurut, jadi kau tidak perlu mengawasinya lagi, biar aku yang malakukannya." Ucapnya dan aku mengangguk paham.
"Master, Perusahaan tempat Taeyong bekerja dulu semakin gencar mencari Taeyong, aku hanya khawatir jika kita ceroboh sedikit saja bisa menghancurkan semuanya." Ku lihat Jaehyun memasang wajah kerasnya setelah aku mengatakan seperti itu.
"Kalau begitu, buat skandal tentang kematiannya." Jaehyun berucap dengan datar dan aku mengangguk paham.
Kami terdiam untuk beberapa saat. Perkataan Haechan kembali terlintas di kepalaku. Perlahan aku menatap Jaehyun dengan serius dan berusaha mengatakan yang sebenarnya.
"Master. Bagaimana jika aku memiliki hubungan dengan Haechan?" Jaehyun menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kau tidak ku bayar untuk mengencani adikku." Aku meghela nafas pelan mendengar balasannya. "Percakapan kita selesai." Aku ikut berdiri saat Jaehyun berdiri dari duduknya. Aku menunduk hormat saat ia mulai berjalan meninggalkanku.
"Mark Lee." Aku mendongak dan menatap punggung Jaehyun yang membelakangiku.
"Ya Master."
"Aku harap kau tidak melakukan hal ceroboh. Selama ini aku percaya padamu untuk menjaga Haechan, bukan untuk mengencaninya." Aku hanya diam mendengar ucapannya. "Aku harap kau paham maksudku." Jaehyun kembali berjalan dan menaiki tangga.
"Ya. Seharusnya aku tidak seperti ini." Gumamku dan kembali duduk di sofa. Mengusap wajahku dengan kasar. Bingung entah apa yang harus aku lakukan.
[ JAE ]
Asap rokok yang ku hembuskan berbaur dengan cepat bersama udara malam yang dingin. Kalut. Aku selalu merasa segala sesuatu yang menyangkut Haechan itu sangat penting, bahkan soal asmaranya.
Walaupun aku kejam dan sadis, tapi Haechan adalah anggota keluargaku satu-satunya dan yang paling ku sayangi. Bodoh jika selama ini aku tak tau hubungannya bersama Mark, tapi aku sengaja hanya diam dan membiarkannya untuk bersenang-senang sejenak, karena aku tau itu hanyalah perasaan sesaatnya.
"Aku mencintai Mark hyung, dan aku ingin menikah dengannya nanti."
"Terserah kau saja."
"Tidak terserah. Kau harus setuju."
"Baiklah, aku setuju."
Aku yang saat itu menjawab dengan asal, aku tau Haechan tidak serius karena umurnya masih 12 tahun. Tapi setelah 7 tahun berlalu, ternyata ia masih menjalin hubungan dengan Mark.
Pasti sangat sulit melepaskan orang yang sudah bersamamu selama bertahun-tahun. Karena aku pun begitu, tak akan pernah rela melepaskan Taeyong yang sudah aku cintai sejak dulu.
"Sial. Kenapa aku memikirkan hal tak penting seperti ini." Aku menggeram dan membuang asal puntung rokokku.
Drttt Drttt
Aku mengambil ponselku yang ada di saku celanaku dan mengangkat telfon tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Selamat malam Jaehyun."
Aku mengkerutkan keningku saat mendengar orang disebrang sana memanggilku dengan sebutan Jaehyun.
Mungkin kalian heran. Tapi tak ada satupun orang di luar sana yang aku izinkan memanggil nama lahirku kecuali orang-orang terdekatku.
"Oh, maaf atas ketidak sopananku. Tidak seharusnya aku memanggilmu Jaehyun. Maafkan aku Jack."
"Berhenti berbicara omong kosong dan katakan apa maumu." Ucapku dengan nada dingin.
"Kau tidak berubah eoh. Hhhh... Aku sangat merindukanmu Jack, terutama kekasih cantikmu itu."
Aku mengangguk pelan dengan wajah datar mendengar ucapannya.
"Baiklah, jika kau merindukannya, datanglah kesini dan tunjukkan dirimu. Aku harap lain kali kau tidak betindak seperti pengecut dengan menelfon orang malam-malam hanya untuk membahas hal tak penting."
Tuttt
Ku matikan telfon setelah berucap panjang lebar. Dasar brengsek!
"Buang-buang waktu."
Aku berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu balkon lantai dua itu. Namun ponselku kembali bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk.
"Jack, aku harap nanti kau dapat menyambutku dengan baik."
Aku tertawa sarkas melihat tulisan laknat itu.
"Tentu. Aku tentu akan menyambutmu dengan sangat baik. Jadi cepatlah datang, sebelum aku yang menghampirimu." Ucapku pada angin tanpa niat membalas pesan tak penting itu.
Yah, sepertinya perjuanganku untuk melindungi Taeyong 'kembali' dimulai.