
[ JAE ]
Ku tatap pria cantik yang duduk di hadapanku ini. Tatapannya sangat datar dan sama sekali tak berminat, padahal di depan matanya sudah tersaji berbagai macam makanan.
"Makanlah." Ucapku dengan nada datar. Entah kenapa rasanya sangat sulit untuk bersikap lembut, bahkan dari suaraku saja kurasakan terdengar sangat menyeramkan.
"Tidak. Aku tidak lapar."
Aku mendengus kesal mendengar jawabannya. Ku ambil piring yang berada di hadapannya dan mulai mengisinya dengan berbagai macam lauk pauk. Setelahnya ku letakkan kembali piring itu di hadapannya dan kembali menyuruhnya makan, tapi lagi-lagi ia menolak.
"Makan atau--"
"Atau apa? Kau ingin membunuhku? Oh, atau kau ingin melemparku dari balkon kamarmu lagi? IYA?"
Hhh,,, sulit sekali rasanya menjadi orang baik. Dengan kasar aku berdiri dari dudukku dan menyeretnya keluar dari ruang makan.
"Bawa dia." Ku lemparkan tubuh kurusnya ke salah satu anak buahku yang berjaga di depan pintu ruang makan. "Sekalian saja kau tak usah makan. Selamanya." Setelah itu aku kembali masuk ke ruang makan dan duduk di kursi makan kembali. Ku tatap hidangan di depanku, rasanya sama sekali tak ada minat. Pria itu berhasil menghancurkan mood ku.
Dengan kesal aku kembali melangkah keluar dari ruang makan menuju ruang kerjaku dan duduk di kursi kerjaku. Hhh, rasanya sangat tidak nyaman bersikap kasar padanya.
[ TAE ]
Aku duduk dengan diam di atas tempat tidur besar itu. Tak ada yang bisa ku lakukan. Ya Tuhan, aku ingin pergi dari sini.
Oh, iya. Dimana ponselku? Dengan sibuk aku membongkar seluruh laci yang ada di kamar itu, tapi sama sekali tak menemukan ponselku. Dasar pria bajingan!
Ku lirikkan mataku pada remot tv yang ada di atas nakas, ku hidupkan tv dan langsung terpampang berita tentang diriku.
"Pemilik Agensi sudah mengerahkan seluruh anggotanya untuk mencari Lee Taeyong....."
Aku tersenyum mendengar pembawa berita itu berucap. Rasanya ada sedikit harapan di depan mataku.
"Jangan berharap apapun."
Aku tersentak dan menoleh, entah kapan pria itu sudah duduk dengan manis di sofa kamar.
"Peramal sekalipun tak akan tau dimana keberadaanmu." Ucap Jaehyun padaku.
Sialan. Dia berhasil membuat percaya diriku luntur. Aku sangat tau arti perkatannya itu. Aku tak akan pernah bisa lepas darinya. Selamanya!
Berlagak sedih, aku perlahan berjalan ke arahnya dan berlutut. Menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya dan mulai pura-pura terisak.
"Aku mohon biarkan aku pergi." Ucapku dengan suaraku yang terdengar parau. Tak ada respon darinya, dia hanya diam. Sial. Rencanaku gagal kalau begitu. Dasar Jaehyun brengsek.
Dengan kesal aku berdiri dan menatapnya dengan garang, tapi entah kenapa ia menyeringai melihat wajahku. Dasar bangsat!
"Aku membencimu." Ucapku dengan lantang dan kembali naik ke atas tempat tidur, menyelimuti tubuhku seutuhnya dan memejamkan mata. Di sela-sela pejamanku, aku masih dapat mendengar perkataannya.
"Mulai hari aku tak akan menyuruh anak buahku untuk memgawasimu lagi, karena aku yang akan langsung mengawasimu, setiap pergerakanmu tak akan pernah lepas dari pandanganku Taeyong, jadi jangan pernah bertingkah yang aneh. Aku harap kejadian di masa lalu membuatmu paham."
Bajingan!
Tanpa perduli apa yang di ucapkannya lagi, aku mulai berusaha masuk ke dalam dunia mimpiku. Karena tubuhku rasanya sangat lelah, akhirnya aku tidur dengan sangat nyenyak.
Ughh,,, kurasakan sesuatu menyentuh wajahku, mulai dari kening, pipi, hidung dan terakhir bibirku. Dengan berat ku buka mataku dan mendorong dada seseorang itu dengan tenaga lemahku.
Ah sial. Jaehyun malah tersenyum melihat wajah kesalku. Aku semakin menekuk wajahku saat melihat awan masihlah gelap, artinya ia mengganggu tidur indahku?! Bagus sekali Jung Sialan Jaehyun.
Dengan kesal aku mendorong dadanya yang tak mengenakan apa-apa itu. Dan membalikkan tubuhku memunggunginya. Tapi sepertinya pria itu tak menyerah, dengan sekali hentak ia membalikkan badanku dan memelukku dengan erat.
Hhh,,, sejujurnya aku merindukan saat-saat seperti ini.
[ AUTHOR ]
Jaehyun meperhatikan wajah indah yang sedang terlelap dalam pelukannya itu. Dirinya benar-benar merindukan sosok yang saat ini berada di dalam pelukannya, sampai-sampai ia takut untuk tidur, karena takut saat ia terbangun nanti pria ini sudah tak berada di pelukannya lagi.
Pagi menjelang. Jaehyun menjadi orang pertama yang menyambut Taeyong bangun dari tidurnya, mata bulat itu mengerjap pelan dan mendongak, menatap wajah tampan yang berjarak 5cm dari wajahnya.
Dengan cepat Jaehyun mengusap tengkuk pria cantik itu dan membawanya ke atas pangkuannya. Taeyong tak menolak, karena sejujurnya ia benar-benar sangat merindukan pria tampan di hadapannya ini.
"Eumhhh..." Taeyong mengerang saat ciuman selamat pagi itu terlepas.
"Pergi mandi, aku menunggu di ruang makan." Ucap Jaehyun dan langsung di angguki Taeyong. Pria itu merangkak turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Di ruang makan, Taeyong yang kemarin menolak untuk makan, kali ini memakan semua masakan dengan sangat lahap. Jaehyun menaikkan alisnya melihat itu. Pemandangan yang sudah cukup lama tak dilihatnya.
Dengan perlahan pria tampan itu berdiri dari duduknya dan berjalan untuk mengambil roti dengan irisan daging ham dan sayuran di dalamnya, setelah itu ia meletakkannya ke piring Taeyong.
"Kau belum menyentuhnya sedari tadi, ia merasa iri dengan yang lain." Ucap pria tampan itu saat Taeyong memberikan tatapan penuh tanya padanya.
Taeyong terkekeh pelan dan mulai memakan roti yang di berikan Jaehyun. Jaehyun yang dikenal sangat sadis itu tersenyum teduh melihat wajah bahagia Taeyong. Dengan gemas ia mengacak surai hitam Taeyong dan mengecup pucuk kepala pria cantik itu.
"Apa kau sudah memesan tiketnya?" Tanya Jaehyun pada anak buah yang berjalan di sisinya.
Taeyong yang menyadari keberadaan pria itu pun mengalihkan pandangannya dan menatap penuh arti pada Jaehyun yang sedang membicarakan sesuatu dengan anak buahnya. Di lihatnya pria itu terus berjalan keluar dari rumah tanpa memperdulikannya.
Itu lah yang Taeyong benci dari pria sadis itu. Sama sekali tak mengerti dirinya. Dengan kesal Taeyong memakan snack dalam jumlah banyak dan mengunyahnya dengan kasar.
Malam hari pun tiba. Taeyong berjalan mondar-mandir di kamar luas itu. Tak tau apa yang harus kerjakannya, ia bingung. Atau lebih tepatnya ia merindukan Jaehyun.
"Kalau seperti ini, bukannya lebih baik ia melepaskanku dan membiarkanku bekerja? Dasar pria egois, kau pergi kemanapun yang kau mau dan mengurungku di tempat ini." Taeyong menggeram dan meraih vas bunga yang ada di atas meja di depan sofa.
"AKU MEMBENCIMU JAEHYUN..."
Ctarrr
Vas bunga itu hancur berantakan di lantai. Taeyong menatapnya dengan tatapan amarah, perlahan air matanya menetes dan terduduk lemah. Dirinya hampir sama dengan nasib vas bunga itu, hancur berantakan.
"Hiksss,,, aku membencimu Jaehyun. Aku benar-benar membencimu..."
Cklek
Taeyong masih tetap diam dengan tangisannya saat pintu kamar terbuka. Tak berapa lama kemudian sebuah long coat tersampir di bahunya, dan setelahnya ia sudah berada di dalam gendongan Jaehyun.
Taeyong menatap wajah Jaehyun yang sama sekali tak berekspresi itu. Wajah yang 'pernah' di cintainya dan sesungguhnya masih sangat di cintainya. Semakin lama menatap wajahnya, Taeyong semakin merasakan sesak di dadanya. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jaehyun dan menangis, bahkan sampai Jaehyun menidurkannya di tempat tidur. Sedangkan Jaehyun, ia seperti biasa, membiarkan Taeyong puas dengan tangisannya.
Pagi menjelang. Matahari berusaha menerobos gorden jendela kamar si Tuan Besar itu. Taeyong yang merasakan wajahnya terkena sinar mentari membalikkan badannya dan masuk kembali ke dalam pelukan seseorang yang masih terlelap juga.
"Eunghhh..."
Layaknya seorang bocah, Taeyong terus-terusan mengusakkan wajahnya di dada bidang Jaehyun, menyebabkan pria tampan itu terbangun dari tidurnya. Perlahan ia bawa sebelah tangannya untuk menjadi bantalan Taeyong dan sebelah lagi memeluk erat pinggang ramping pria cantik itu.
Taeyong pun malah semakin lelap dalam tidurnya, sedangkan Jaehyun sudah tidak bisa kembali tidur, karena sebentar lagi ia harus keluar untuk mengerjakan sesuatu.
[ JAE ]
Sepanjang perjalanan aku terus melamun. Entah apa yang merasuki fikiranku, yang pastinya, semakin hari aku semakin takut kehilangan pria cantik itu. Tidak ada rasa lainnya, ya, mungkin ini bisa di katakan obsesi. Tapi aku tidak perduli, selama ia berada di dekatku dan masih dapat ku jangkau dengan pengelihatanku, aku tak perduli dengan perasaan bodoh lainnya.
Ku rasakan mobil berhenti. Dengan penasaran ku lihat jauh ke depan sana. Ada beberapa mobil di periksa oleh Polisi. Hhh,,, merepotkan. Untuk apa mereka seperti itu? Mengabdi pada Negara? Haha, memangnya apa yang di berikan Negara pada mereka? Hanya untuk sesuap nasi saja mereka harus membayar. Dasar orang-orang bodoh.
"Boss,,, sepertinya kita akan sedikit terlambat sampai di Bandara." Ucap salah satu anak buahku yang berada di kursi pengemudi.
"Cihh,,, merepotkan." Aku mendecih kesal.
Ku lihat salah seorang polisi muda berjalan mendekati mobilku, dengan malas aku keluar dari mobil dan menatap wajahnya dengan tatapan bosan.
"Selamat siang Tuan, apakah Anda tidak keberatan jika mobil Anda kami perkisa sebentar?" Tanya polisi itu sok berbasa-basai.
"Terserah kau saja." Setelah berkata seperti itu, aku sedikit menjauh, mengeluarkan rokokku dan menyulutnya, menikmati sebatang tembakau mahalku di siang hari seperti ini.
"Mobil Anda aman Tuan." Aku membuang tatapanku dengan malas mendengar ucapan polisi itu.
"Memangnya kau fikir aku membawa apa? Narkoba? Senjata tajam?" Ucapku dengan sarkas. "Asal kau tau saja, aku tak suka barang-barang seperti itu berada di mobilku." Setelah itu aku berlalu kembali masuk ke dalam mobil. Namun saat melewatinya, aku sedikit berbisik. "Karena mereka sudah sangat nyaman berada di rumahku."
Blam
Ku tutup pintu mobil dengan kencang dan mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.
Drttt Drttt
Aku melihat ponselku bergetar dan menampilkan nama seseorang di sana. Dengan cepat aku menjawab panggilan itu, dannn... Semua makian langsung menghinggap di telinga suciku.
"Dasar hyung bodoh. Brengsek. Bajingan. Aku sudah menunggu lebih dari tiga jam yang lalu. Sebenarnya kau ini di mana? Di jalan atau masih di neraka?".
Aku menghela nafas pelan, berusaha mengusir iblis yang sepertinya berusaha masuk ke dalam diriku.
"Aku sedang di jalan."
"Jalan mana? Jalan neraka?"
"Berhenti mengumpat atau kau pulang naik bis?!"
"Sialan... Baiklah, ku tunggu kau satu jam lagi."
Tutttt
Telfon di matikan secara sepihak, aku mendengus kesal.
"Tambah kecepatanmu, atau kau mau bocah itu memisahkan tangan dari tubuhmu." Aku berkata dengan wajah datar, dan setelahnya dapat ku rasakan mobil melaju dengan kencang.
Hhhh,,, dasar dongsaeng merepotkan.