MAFIA AND LOVE

MAFIA AND LOVE
Awet Muda



[ AUTHOR ]


Taeyong duduk termenung di taman belakang, matanya memandang lurus pada sebuah pohon di depannya. Entah apa yang di lihatnya, yang pasti ia terlihat sangat menikmati kegiatannya itu.


"Hyung."


Taeyong menoleh dan tersenyum manis melihat Haechan yang berjalan menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Haechan kepada Taeyong yang kembali menatap kedepan.


"Hyungmu." Ucap Taeyong dengan raut datarnya.


"Jaehyun?" Tanya Haechan dengan raut bingungnya. "Kenapa dengannya? Apa si brengsek itu menyakitimu lagi hyung?" Tanya Haechan dengan tak sabaran.


"Hae, berhenti mengumpatinya, bagaimanapun juga dia itu hyungmu." Ucap Taeyong menatap Haechan dengan garang. Haechan hanya tertawa pelan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tapi hyung, dia memang brengsek, buktinya dia masih belum mengakui Ibu." Ucap Haechan tertunduk lesu.


"Hhh,,, Jaehyun masih butuh waktu, kau harus bersabar." Ucap Taeyong mengelus pelan pundak Haechan.


Di tepi pantai, Taeyong duduk hanya berlaskan pasir pantai. Matanya berbinar menatap cerahnya langit. Sesekali ia terkekeh saat ombak membuat kakinya basah.


"Tae."


Taeyong mendongak dan menatap pria yang berdiri di sebelahnya. Matanya menyipit karena pria itu terlihat bercahaya karena matahari.


"Jaehyun!" Taeyong langsung berdiri dan memeluk Jaehyun dengan erat.


"Haha,,, santai sayang." Ucap Jaehyun dengan kekehannya, namun tetap membalas pelukan Taeyong.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Jaehyun setelah melepaskan pelukannya.


"Sangat baik!" Jawab Taeyong dengan mantap.


"Sukurlah." Jaehyun tersenyum lembut dan mengusap pelan kepala Taeyong.


"Jae, kau tidak akan pergi lagi kan?" Tanya Taeyong dengan raut memelasnya. Jaehyun awalnya hanya tersenyum, namun terlihat pria tampan itu menghela nafas keras di akhir.


"Maaf, justru aku mengajakmu bertemu disini karena ingin mengucapkan perpisahan." Ucap Jaehyun.


Taeyong menatap tak percaya pada pria tampan di hadapannya itu. Dengan kesal ia menatap Jaehyun dan perlahan berjalan mundur.


"Kau,,, tega sekali..." Ucap Taeyong terbata. Jaehyun hanya diam memperhatikan Taeyong yang menunduk itu.


"A-aku, sudah katakan untuk berhenti Jae." Ucap Taeyong lagi dengan tatapan nanarnya pada Jaehyun. "K-kalau tidak sekarang, aku yakin sampai kapanpun kau tidak akan bisa berhenti."


Jaehyun menghela nafas lagi melihat setetes air mata meluncur dari mata indah Taeyong.


"Aku tau, maka dari itu aku memilih untuk tetap melanjutkannya Tae, karena aku yakin suatu saat nanti aku bisa melindungi dirimu." Ucap Jaehyun.


Taeyong hanya diam dan perlahan ia mulai tertawa. Tertawa keras sekali seperti orang gila, tapi air mata tak henti berjatuhan.


"Aku tidak perlu perlindunganmu." Ucap Taeyong setelah menghentikan tawanya dan berganti dengan raut super datarnya. "Pergilah." Ucap Taeyong dingin.


"PERGI BAJINGAN!"


...****************...


[ JAE ]


"PERGI BAJINGAN!"


Aku tersentak dari tidurku. Perlahan ku turunkan kakiku yang awalanya ku letakkan di atas meja kerja.


Aku memilih untuk keluar dari ruang kerjaku dan mengambil sekaleng wine dari lemari es. Jika bagi orang-orang wine itu minuman yang memabukkan, maka itu tidak berlaku untukku. Bagiku, wine sudah seperti air putih, tak memberikan reaksi apapun.


Aku menyandar di kulkas dan memejamkan mataku sejenak. Saat mendengar suara langkah kaki mendekat, aku segera membuka mata dan melihat Taeyong yang mengenakan kemejaku yang berwarna merah sedang berjinjit mengambil sesuatu dari lemari gantung.


Aku hanya diam menatapnya yang sepertinya tak menyadari keberadaanku karena terlalu sibuk sendiri. Aku sangat menikmati pemandangan paha putih mulus yang disajikannya itu dengan sesekali meneguk minumanku.


Ku lihat pria cantik itu mulai putus asa, dengan cepat ia mengambil kursi dan memanjat untuk mencari pada lemari yang lebih tinggi lagi. Namun, sepertinya dia sedang tak beruntung, belum berdiri dengan sempurna, ia sudah goyah dan hampir saja jatuh menghantam lantai jika saja aku tak menangkapnya.


"Ceroboh sekali." Ucapku dengan nada kesal. Ya, aku memang kesal karena ia sama sekali tak pernah berfikir akan resiko dari hal yang dilakukannya.


Taeyong menatapku dengan tatapan datarnya dan melepaskan diri dari cengkramanku.


"Apa yang kau cari?" Tanyaku saat melihatnya mulai sibuk lagi, tapi aku sama sekali tak mendapat jawaban. Sampai ku lihat ia tersenyum dan dengan cepat berlari ke ruang tamu.


Karena penasaran aku mengikutinya dan melihat Haechan duduk di sofa dengan bongkar pasang yang hampir selesai di atas meja.


"Aku menemukannya. Yeayyyy!" Ku lihat Taeyong bersorak riang dan meletakkan potongan bongkar pasang yang di temukannya tadi.


"Sekarang giliranmu. Petunjuk utamanya adalah balkon lantai dua." Ucap Taeyong dan Haechan dengan semangat langsung bergegas.


Aku berjalan menghampiri Taeyong dan duduk di sebelahnya.


"Kalian bermain harta karun lagi?" Tanyaku dan hanya dijawab deheman oleh Taeyong.


Dengan cepat, aku menarik tangannya dan membuatnya terduduk di lingkaran kakiku.


"Lepaskan!" Ucapnya dengan nada sedikit meninggi, namun aku tak perduli dan memilih menyandarkan kepalaku pada pundaknya.


Awalnya dia merasa risih dan terus-terusan meronta, tapi pada akhirnya ia pasrah dan membiarkanku. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung mencium tengkuknya dan membuatnya bergidik. Pria cantik itu kembali meronta dan aku semakin menguatkan pelukanku.


"Lepaskan Jaehyun!" Teriak Taeyong cukup kuat. Aku tetap tak perduli dan malah membalik badannya, membuatnya terduduk di atas pangkuanku.


"Lepaskan aku brengsek."


Aku hanya diam dan membiarkannya mendorong kuat dadaku. Itu sama sekali tak berpengaruh, aku semakin kuat mencengkram pinggangnya.


"Aku merindukanmu." Ucapku dengan tulus, tapi ia malah memutar bolamatanya dengan malas.


"Kau tau itu, salahkan dirimu yang seenaknya pergi begitu saja." Ucapnya dengan nada kesal. Aku tersenyum hambar dan lebih memilih menarik tengkuknya.


Plak


[ HAE ]


Aku tersenyum lebar saat berhasil menemukan potongan bongkar pasang di bawah vas bunga yang ada di atas meja. Dengan cepat aku turun ke lantai satu dan menemukan pemandangan yang membuatku kepanasan.


Aku berjalan dengan kesal dan menjitak kepala Jaehyun dari belakang. Pria itu langsung melepaskan ciumannya pada Taeyong dan menatapku dengan kesal.


Aku tak takut, malah mendelik tajam padanya. Sedangkan Taeyong hyung menunduk dengan wajah merahnya. Ouhh,,, manis sekali.


"Kau menganggu acara kami Jung sialan." Ucapku.


"Siapa perduli?!"


"YAK!!"


"Sudahlah, berhenti berdebat." Kami berdua terdiam saat mendengar Taeyong hyung berkata dengan cukup keras. "Hhh,,, kalian membuatku pusing." Taeyong hyung beranjak dari pangkuan Jaehyun dan berjalan ke arah kamarnya.


Ku lihat Jaehyun menghela nafas kasar dan beranjak dari sofa dengan kasar. Memberikanku tatapan tajam dan aku memberikan tatapan tak kalah tajamnya.


"BANGSAT!" Ucapnya ke arahku dan setelah itu pergi.


"BAJINGAN!" Teriakku dengan kesal.


Hhh,,, menyebalkan sekali. Aku menatap bongkar pasang yang sudah hampir selesai itu dan menunduk sedih. Padahal aku baru saja memulai hal menyenangkan dengan Taeyong hyung. Semua ini karena ulah Jung sialan itu.


"Haechan?!"


Aku mendongak saat mendengar suara seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke samping dan menemukan pria tampan dengan stelan serba hitamnya menatap penuh minat padaku.


Aku awalnya terdiam, mencoba mengingat wajah yang kurasa tak terlalu asing itu.


Seketika mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang ku lihat. Dengan cepat aku menghambur ke pelukan seseorang yang sepertinya dari tadi menungguku responku.


"Kau semakin manis saja." Ku dengar pria itu berbisik di telingaku.


"Aku merindukanmu Mark hyung." Ucapku sambil mengeratkan pelukanku.


"Aku jauh lebih merindukanmu."


[ MARK ]


Aku tersenyum setelah melepaskan pelukanku pada Haechan. Ku lihat mata pria itu berkaca-kaca, dengan cepat aku kembali memeluknya dan menepuk pelan punggungnya.


"Kalau kau menangis, aku akan pulang sekarang." Ancamku dan dengan cepat ia melepaskan pelukanku kemudian menghapus air mata yang baru saja lolos dari matanya.


Aku terkekeh melihat tingkah menggemaskannya. Mengajaknya duduk dan menggenggam erat tangan yang sudah lama tak ku genggam itu.


"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku dengan tatapan lembut padanya.


"Aku baik, dan sangat baik setelah bertemu denganmu." Ucapnya dengan senyuman kekanakannya.


"Ahh,,, kau belum berubah ternyata." Ucapku dengan kekehan pelan.


"Tapi kau berubah hyung." Ucap Haechan tertunduk lesu. Aku langsung merasa heran.


"Apa yang berubah?" Tanyaku penasaran.


"Kau tidak tersipu lagi saat mendengar rayuanku." Ucapnya.


Aku melongo tak percaya. Apa-apaan pria menggemaskan ini? Dia benar-benar membuatku ingin menghajarnya habis-habisan.


Dengan gemas aku memeluk tubuhnya dan menciumi bibir menggodanya.


"EKHEM!!!"


Aku dengan cepat melepaskan pelukanku pada Haechan dan menoleh ke samping, menemukan Jaehyun berdiri menatap kami dengan dingin dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


Aku yang menyadari pertanda buruk langsung beranjak dari dudukku dan menunduk hormat pada Jaehyun.


"Aku menyuruhmu kesini bukan untuk bersenang-senang Tuan Lee." Aku yang masih menunduk memejamkan mataku dan meringis pelan mendengar suara dingin itu. Dengan cepat aku berdiri dengan tegap dan menatapnya dengan tegas.


"Maafkan saya, Master." Ucapku dan menunduk kembali.


"Apa-apaan kau hyung? Memangnya kenapa kalau dia kesini menemuiku?" Ku dengar Haechan berkata dengan nada cukup kuat pada Jaehyun. Aku langsung berjalan mendekat pada Haechan dan mengelus pelan pundaknya.


"Emm,,, pergilah ke kamarmu, aku ingin membahas sesuatu dengan Master." Ucapku dengan nada lembut, berusaha membuat Haechan paham. Untungnya pria itu langsung mengangguk.


Haechan berjalan mendekat pada Jaehyun dan menginjak kuat kaki Jaehyun, aku hampir berteriak heboh melihat tingkah beraninya itu. Tapi Jaehyun hanya diam dan menatap Haechan dengan datar, Haechan mengerang kesal saat mengetahui Jaehyun tak merasakan sakit sedikitpun.


"Brengsek!" Umpat Haechan dengan pelan tapi masih dapat ku dengar.


Ahh,,, dia yang melakukannya, kenapa aku yang merasa sesak ya?!


Setelah Haechan pergi, aku langsung menatap Jaehyun dan pria itu langsung duduk di sofa single dan aku duduk di sofa lainnya. Jaehyun menyilangkan kakinya dan menatapku penuh tuntutan.


"Ternyata kau belum mengerti juga." Ucapnya tanpa melihat ke arahku. Aku meringis pelan dan mengucapkan maaf padanya.


"Hhh,,, sudahlah, lagipula aku menyuruhmu kesini bukan untuk itu." Aku mendesah lega saat mendengar ucapannya.


"Bagaimana keadaan pasar kita yang ada di Jerman?" Jaehyun mulai menatapku dengan serius dan kami mulai terlelap dalam pembahasan bisnis gelap kami.


[ TAE ]


Aku baru saja selesai mandi. Tanganku masih sibuk mengusap kepalaku yang basah menggunakan handuk. Menatap ke arah cermin yang ada di depanku dan memperhatikan wajahku dengan seksama.


"Ck, sepertinya aku harus meminta uang pada Jaehyun untuk perawatan wajahku." Ucapku.


"Berapa yang kau butuhkan?"


Aku terperanjat kaget dan memutar tubuh dengan cepat. Mendesah kesal saat melihat pria tak sopan yang masuk kekamar mandi orang lain tanpa izin.


"Tentu saja yang banyak, kau tau, wajahku ini harus selalu terlihat awet muda." Jawabku dengan judes dan kembali menatap cermin, mengusap rambut dengan kasar dan mendecak berkali-kali. Entah kenapa, aku selalu merasa kesal saat Jaehyun berada di sekitarku. Arghh,,, suasana hatiku benar-benar berubah jadi buruk.


Mataku terbelalak saat Jaehyun memelukku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Pantulan di cermin membuatku semakin membencinya, karena aku tak sanggup menolak atas apapun yang dilakukannya padaku.


"Kau sudah cantik." Ucapnya dan aku hanya diam. Dia menoleh padaku, membuat jarak wajah kami sangat dekat.


"Dan tidak perlu kemana-mana untuk terlihat awet muda, cukup di rumah dan bercinta denganku setiap hari."


Aku langsung saja menoleh padanya dengan mataku yang membulat tak percaya. Dengan kesal aku menyikut perutnya dan dia terlihat biasa saja. Aku melepaskan diri darinya dan menampar kuat wajahnya.


Ya, aku memang tau kalau **** itu bisa membuat awet muda, tapi jika setiap hari, bukan awet muda, yang ada mati muda.


"Brengsek!"


Aku mengumpat dan ia hanya menyeringai menatapku. Dengan kesal aku keluar dari kamar mandi dan membanting pintu dengan kuat.