MAFIA AND LOVE

MAFIA AND LOVE
Penjahat Cantik



[ JAE ]


Aku hanya duduk diam memperhatikan Taeyong bersama Taemin yang sedang berbelanja, sedangkan Minho dengan setia berdiri di sebelah kekasihnya itu dan menenteng berbagai macam tas belanjaan.


Karena sedang asik dengan ponselku, aku tak sadar saat beberapa tas belanjaan terlempar atau sengaja dilempar ke arahku. Aku hanya memejamkan mata dan mendesah nafas pasrah, sedangkan sang pelaku sudah kembali bergabung bersama Minho dan Taemin.


"Hhh,,, betapa sabarnya aku menghadapi kucing nakal itu." Gumamku pada diriku sendiri dan perlahan memunguti kantong belanjaan itu. Aku tak perduli beberapa orang berbisik di sekitarku.


Setelah selesai dengan belanja, Taeyong dengan santai berjalan di depanku, sedangkan Taemin dan Minho berjalan bergandengan.


"Yak!" Aku menarik pelan tangan Taeyong dengan tanganku yang terbebas dari kantong belanjaan.


"Eum?!" Taeyong menatapku dengan mata bulatnya itu.


"Bisakah pegang barang ini sebagian?" Tanyaku dan Taeyong tersenyum. Awalnya aku merasa lega, namun saat kepala kecil itu menggeleng aku menggeram pelan. Taeyong malah kembali berbalik dan berjalan meninggalkanku.


"Siapapun kau yang mereka panggil Tuhan, bisakah beri aku lebih banyak kesabaran?!" Tanyaku pada angin.


Orang-orang di sekitarku menatapku dengan aneh, aku hanya diam dan memakai kaca mata hitamku. Sembari berjalan aku hanya bisa mendesah agar aku tetap diberi kesabaran.


"Jae, ayo kita makan dulu." Aku hanya menggumam saat Minho berkata padaku.


Kami pun tiba di sebuah restoran dan aku langsung duduk dengan nyaman, membiarkan kantong belanjaan yang tiga kali lipat lebih banyak dari milik Taemin itu tergeletak tak berdaya di lantai Restoran.


"Beri aku dua botol Sampanye." Ucapku pada pelayan dan si pelayan dengan cepat menulis pesanan kami masing-masing.


"Kau hanya itu Jae?" Tanya Taemin dan aku mengangguk. Aku mengeluarkan rokok dari kantong jas ku.


"Ah, Maaf Tuan, tapi tidak boleh merokok disini." Aku menatap pelayan pria itu dengan tajam, ku lihat ia bergetar ketakutan. Namun rokok di tanganku beserta sisanya yang ada di atas meja langsung di rampas Taeyong dan di berikannya pada pelayan pria itu.


"Tolong buangkan ini." Ucap Taeyong dan pelayan pria itu dengan takut-takut mengangguk dan mengambilnya. Aku hanya diam dan mendesah nafas pasrah.


"Yayaya, aku rasa hanya aku satu-satunya Kepala Mafia di dunia ini yang takut pada seorang pria kecil." Ucapku entah pada siapa. Minho dan Taemin tertawa pelan sedangkan Taeyong masih sibuk dengan pesanannya.


[ TAE ]


Aku menikmati makanan yang ku pesan tadi dengan lahap. Berbelanja dari pagi hingga siang hari membuatku sedikit kelelahan dan lapar.


Aku menoleh ke sampingku dan baru menyadari jika Jaehyun tak memesan makanan sama sekali, pria itu sesekali menyesap cairan berwarna putih kekuningan itu sambil memainkan ponselnya.


"Kau tidak pesan makan Jae?" Tanyaku dan Jaehyun melirik sebentar padaku.


"Makananku sudah kau buang tadi."


"Tsk."


Plak


Ku lihat ia mendesah saat kepalanya ku pukul dengan cukup kuat. Perlahan ia menoleh padaku dengan tatapan garangnya, tapi aku tak takut, aku bisa membuat tatapan yang lebih garang asal kalian tau.


"Benda beracun itu kau bilang makanan? Oh, apa saja yang kau lakukan selama 5 tahun di Australia? Menjual narkoba?" Ucapku sarkas.


"Tidak, aku tidak menjual narkoba. Aku belajar dari pagi hingga malam. Dan setelah Lulus kuliah baru aku menjual narkoba, biar bagaimanapun juga aku ini Mahasiswa teladan dulunya."


"Yayayaya, apapun itu. Kau harus makan." Ucapku dan meletakkan beberapa piring makananku padanya, salah satunya steak ayam.


"Tae, kalau ingin perhatian padaku lakukan dengan lebih romantis." Ucapnya sembari meraih sendok garpu dan pisau.


"Mimpi saja kau sana."


"Aku mencintaimu."


"Aku juga membencimu."


"Terimakasih."


[ MARK ]


Aku megerang pelan saat Haechan sedang melakukan sesuatu disana.


"Lakukan perlahan Haechan."


"Eum." Dia hanya menggumam karena mulutnya penuh dengan sesuatu.


"Awhh... Pelan."


"Hhh,,, selesai."


Haechan tersenyum manis saat pekerjaannya mengganti perban di kakiku selesai.


"Mark, bisakah lain kali jangan terluka lagi? Aku tidak suka tubuhmu jadi jelek karena bekas-bekas luka itu." Ucapnya dengan menggemaskan.


"Baiklah sayang, akan kuusahakan untukmu."


"Hehe, kau manis sekali."


"What? Tidak-tidak, bukan aku yang manis, tapi kau." Ucapku sembari menariknya duduk di pangkuanku.


"Tapi kau jauh lebih manis, aku saja pernah berfikir kalau aku pasti akan cocok di posisi Top."


"YAK!"


"Hahaha, bercanda." Haechan tertawa sedangkan aku mengkerutkan alisku dengan kesal.


"Teruslah berfikir begitu, maka aku akan buktikan jika aku jauh lebih pantas berada di posisi Top." Aku perlahan membawa Haechan pergi dari ruang tamu.


Haechan hanya diam di gendonganku dan saat tiba di kamarnya, dengan cepat aku menghempaskan tubuhnya di ranjangnya dan menciwum bibirnya dengan ganas.


Beberapa saat kemudian, aku melepaskan ciuman kami dan menatap Haechan dengan dalam.


"Hehe..." Pria itu tertawa dan dengan nakalnya menjiwlat bibirnya, berusaha menggodaku.


"Kau manis sekali." Ucapku menatapnya dengan teduh, Haechan semakin mengeratkan pelukannya di leherku dan menarikku untuk kembali berciwuman singkat dengannya.


"Aku mencintaimu." Ucapnya menatapku dengan senyuman manisnya.


"Aku juga mencintaimu."


Selesai berbelanja, Jaehyun dan yang lainnya berjalan menuju parkiran. Minho dan Jaehyun sibuk memasukkan barang-barang belanjaan kekasih mereka ke dalam bagasi mobil, sedangkan Taeyong dan Taemin sudah duduk berdampingan di kursi penumpang belakang.


Taeyong sibuk membuka ponsel barunya yang masih di kotak, begitu juga Taemin yang sibuk membalas pesan, sehingga mereka tidak sadar saat ada seseorang mendekati mobil mereka dan dengan cepat merampas ponsel milik Taeyong yang baru saja lolos dari kotak pengap itu.


"PENCURI!!!" Taeyong berteriak layaknya seorang Ibu-ibu.


Jaehyun dan Minho terkaget dan secara reflek Jaehyun langsung mengejar sang pencuri, sedangkan Minho menjaga Taeyong dan Taemin.


Terjadi aksi kejar-kejaran yang sangat hebat di antara Jaehyun dan sang pencuri. Lelaki berbadan kecil dengan lari yang sangat kencang dan licin bak seekor belut itu membuat Jaehyun sedikit kerepotan.


Bugh


Jaehyun menendang punggung pria itu dan membuatnya tersungkur, dengan cepat Jaehyun menarik kedua tangan itu ke belakang dan menahannya.


"Sialan, kau membuatku susah saja." Jaehyun mengatur nafasnya perlahan dan membawa pria itu berdiri dengan paksa.


Mereka berhenti di jalanan yang sepi di daerah sekitar Mall. Susananya sangat sepi dan jalannya pun sempit dengan beberapa tikungan tajam.


"Lepaskan aku." Pria itu memberontak dan Jaehyun menatapnya.


"Kau mencari masalah dengan orang yang salah."


"Sialan! Kenapa kau pelit sekali? Kalian orang kaya kan, tinggal beli ponsel baru saja lagi, kenapa harus mengejarku?!"


Jaehyun terdiam dengan alis yang sedikit menukik. Ia tertawa dan tatapannya tak lepas dari pria yang sepertinya masih remaja itu.


"Ahhh,,, aku bodoh sekali. Hhh,, kau benar, lagi pula aku tinggal beli yang baru saja." Jaehyun berucap setelah tawanya terhenti.


"Siapa namamu?" Tanya Jaehyun dan pria di sebelahnya itu hanya diam menatapnya.


"Kau tidak perlu tau."


"Aku perlu tau, karena kau cukup menarik untukku." Ucap Jaehyun dan pria di sebelah Jaehyun itu menatap Jaehyun dengan muak, membuat Jaehyun sedikit tertawa karena ia merasa pria itu benar-benar menarik.


"Felix."


"Felix?"


"Aku harap kau pendengaranmu masih bagus."


"Hahaha, oh ya, tentu saja masih bagus, sangat bagus malahan." Ucap Jaehyun dan ia melepaskan Felix.


Felix tanpa fikir panjang mengambil ponsel yang tergeletak di jalan dan berlari, namun pada saat ia mau berbelok, beberapa orang brandalan menghalaunya. Felix berbalik dan hendak berlari lagi, namun anak-anak buah Jaehyun yang berada di belakang Jaehyun menghalaunya.


Jaehyun hanya diam menatap beberapa orang dengan pakaian acak-acakan itu berjalan mendekatinya. Jaehyun melirik pada Felix yang berdiri dengan pucat di belakangnya.


"Kalian teman?" Tanya Jaehyun dan orang-orang di depan Jaehyun yang awalnya terdiam tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahahaha... Bodoh."


Jaehyun menaikkan sebelah alisnya saat umpatan melayang ke arahnya.


"Dia itu kucing kami, kucing yang bertugas mencari tikus untuk makanan kami, Hahahaha." Ucap salah satu orang-orang itu dan kembali tertawa.


"Oh, berarti kalian anjing?" Tanya Jaehyun dengan wajah datarnya.


"Sialan kau."


"Aku benarkan, karena kucing pastilah takut pada ANJING."


"Haha." Jaehyun menoleh ke belakangnya dan melihat Felix tertawa. "M-maaf."


Cuih


Jaehyun menoleh dan melihat sepatunya terdapat cairan menjijikan. Dengan tatapan teramat dingin ia menatap orang-orang aneh di depannya.


"Bersihkan."


"Heh, bersihkan saja sendiri."


Jaehyun mendesah muak dan menatap kedepan dengan kilatan marahnya.


Jaehyun berjalan ke depan dan menatap salah seorang yang ia yakini bos dari orang-orang bodoh itu.


Cuih


Jaehyun meludah ke wajah pria yang di depannya itu.


"Ku rasa masih lebih baik sepatuku dari pada wajahmu bajingan."


"SIALAN!"


Buagh


Dengan cepat Jaehyun menendang perut buncit pria yang diludahinya tadi, membuat pria itu terdorong dan dengan cepat di tangkap beberapa orang di belakangnya.


"Seranggg..."


Jaehyun hanya diam dan tanpa perlu perintah seluruh anak buahnya maju dan terlibat baku hantam dengan brandalan itu.


Jaehyun menoleh ke sekelilingnya dan tidak menemukan Felix. Dengan cepat ia berlari dan melihat Felix sudah berlari terlebih dahulu. Tak ingin kehilangan jejak, dengan cepat Jaehyun kembali menendang punggung Felix dan membuat pria itu tersungkur kembali.


Jaehyun hanya diam dan membiarkan Felix kembali berdiri. Felix menatap Jaehyun dengan marah dan melemparkan tinjunya, namun Jaehyun dengan sangat mudah menghindar dan menendang perut Felix.


Felix terhempas dan memuntahkan darah dari mulutnya. Pria itu terduduk dan mengerang sambil memegangi perutnya. Jaehyun berjalan mendekat dan berjongkok di depan Felix.


"Kalau kau tidak lari, aku yakin kau tidak perlu berdarah begitu." Ucap Jaehyun. Felix hanya diam menatap Jaehyun.


"Ikutlah denganku, aku pasti akan membantumu." Ucap Jaehyun sembari mengulurkan tangannya. Felix hanya diam menatap uluran tangan Jaehyun dan perlahan kesadarannya menghilang.


Jaehyun mendesah dan dengan cepat menggendong Felix. Membawanya ke area parkiran dan menemukan Minho, Taeyong dan Taemin yang berdiri di dekat mobil.


"Jae." Taeyong berlari mendekati Jaehyun dan terheran menatap seseorang yang ada di gendongan Jaehyun. "Siapa dia?" Tanya Taeyong.


"Hadiah untukmu."