
Pria itu duduk dengan santai di atas sebuah kursi dengan ukiran yang sangat indah, kaki kanan yang berada di atas kaki kiri membuatnya semakin terlihat arogan, di tambah lagi sebatang rokok di tangannya yang mengeluarkan asap yang memabukkan.
Dia lah Jung Jaehyun.
[ J A E ]
Aku lah Jung Jaehyun.
Tak ada definisi khusus tentang diriku. Garis besarnya adalah -AKU RAJA MAFIA-
Menurut kalian apa itu Mafia?
Orang yang curang?
Orang yang keji?
Orang yang sadis?
Atau orang-orang yang tak memiliki hati?
Haha... Selamat, KALIAN SALAH BESAR!
Nyatanya. Aku lebih dari pada itu.
Aku tak mencurangi siapapun, tapi aku akan merampas apa saja yang orang miliki tapi tidak aku miliki.
Aku memang keji, bahkan aku pernah memakan mata musuhku dan meludahkannya lagi.
Sadis? Jangan tanyakan itu, atau kalian akan mual saat aku menjelaskannya.
Soal hati? Ayolah, bahkan aku terlahir tanpa memiliki hati. Aku tak tau apa itu hati, tapi aku pernah memakan hati rusa saat aku terjebak di hutan selama 1 bulan. Ah, mungkin hanya Rusa saja yang memiliki hati, tapi yang lainnya tidak.
"Bos, Tuan Smith melakukan kecurangan, kita mengalami kerugian karena tak berhasil mengirimkan barang permintaan klien semalam."
Aku hanya diam mendengarkan laporan salah satu anak buahku. Ku tatap ia dengan tajam, perutku tergelitik saat melihatnya mulai berkeringat dingin dan bergetar. Haha,,, sebegitu menakutkannya kah aku?
"Kemari lah." Aku berkata dengan pelan dan mengibaskan tanganku ke arahnya setelah rokok ku letak di asbak.
Anak buahku itu berjalan lebih pelan dari pada seekor kura-kura menujuku. Dan setelah sampai di depanku,
"Berlutut."
Dengan cepat ia berlutut dan aku segera melayangkan kaki panjangku ke dadanya, membuatnya tersungkur dan memegangi dadanya. Perlahan aku berdiri dan berjalan mendekatinya yang mulai bergetar ketakutan. Aku berjongkok di depannya dan berbisik...
"Aku beri kau kesempatan,,, malam ini, kau harus mencarinya dan membawa jantungnya kepadaku, jika kau tidak bisa..." Ku tatap ia yang mulai meneteskan air matanya. Ahh,,, aku suka pemandangan ini. "Jantungmu yang akan ku ambil..."
Setelahnya aku berdiri dan menepuk pelan jas mahalku yang sedikit berdebu.
"Pergilah."
Dengan cepat curut putih itu berdiri dan berlari keluar dari ruanganku, tapi sebelum sempat tangannya meraih knop pintu...
Dorrr
Kepala belakangnya sudah mengeluarkan darah segar dan ia terjatuh begitu saja di lantai.
"Sebenarnya syaratku itu terlalu berat untukmu... Dari pada kau mati perlahan, lebih baik kau langsung mati saja. Haha,,, aku rasa aku terlalu baik."
Aku tertawa pelan melihat tubuhnya yang terbujur kaku. Ku letakkan kembali pistolku di atas meja kecil dan meraih ponselku yang ada di sebelahnya.
"Apa kabar Tuan Smith?"
"Oh iya, aku sangat baik Tuan Jung, bagaimana kabarmu?"
Dasar bangsat. Di saat seperti ini masih bisa bersikap ramah padaku? Ah, bisa aku tebak ia pasti belum tau kalau sebenarnya aku sudah tau tentang kecurangannya.
"Aku baik Tuan Smith, bagaimana kalau malam ini aku datang ke rumahmu?" Tanyaku berpura-pura berbasa-basi.
"R-rumahku? K-kau tau rumahku?"
Hahahaha... Nada kesukaanku. Nada bergetar ketakutan. Ayolah, bagiku tak ada yang lebih indah selain mendengar suara mereka yang bergetar ketakutan.
"Tentu saja tau Tuan Smith..." Aku tertawa pelan dan kembali melanjutkan dengan nada yang lebih pelan dan nyaris berbisik. "Bahkan aku tau kapan kau lahir, dimana tempat tinggal orang tuamu dan berapa jumlah kekasih simpananmu..."
Tuttttt
Wahhh... Hebat sekali. Dia mematikan panggilan secara sepihak. Dasar tak sopan.
...****************...
[ A U T H O R ]
Jaehyun duduk dengan santai di salah satu sofa yang berada di sudut diskotik. Sesekali ia menyesap minuman mahal berasa aneh yang telah di pesannya.
Ia menyeringai saat melihat seorang wanita yang berpakaian terbuka mendekatinya. Tanpa pikir panjang, Jaehyun dengan senang hati menerimanya.
"AKHH..." Sang wanita yang terlihat syok langsung melepaskan diri dari Jaehyun dan menatap tak suka pada pria tampan itu.
"Kenapa?" Tanya Jaehyun dengan santai.
"Maaf saja, aku tak suka jika kita melakukannya disini, terlalu terbuka." Sang wanita berbisik di depan telinga Jaehyun.
"Tapi aku sedang menunggu sesuatu yang lebih istimewa dari pada dirimu, jadi pergilah." Jaehyun berkata dengan santai dan kembali duduk dengan nyaman, sedangkan si wanita sudah pergi dengan beribu gerutuannya.
"Bos, ini orangnya."
Jaehyun mendongak dan melihat salah satu anak buahnya berdiri di depannya dengan seorang pria bertubuh kurus yang hanya berbalutkan sepotong kemeja.
"Kemarilah." Jaehyun langsung mengibaskan tangannya dan tanpa di sangka sang pria itu langsung duduk di atas pangkuannya.
Namun berbeda dari wanita tadi, pria itu lebih memilih menatap Jaehyun dengan sayu. Ah, sepertinya dia mabuk.
"Pergilah." Ucap Jaehyun pada anak buahnya yang dengan cepat di lakukan.
"Kau mabuk cantik?" Tanya Jaehyun sambil mengusap pelan pipi pria cantik itu.
"Kau sudah tak sabar yahh? Ingin sesuatu yang lebih daripada ini?" Tanya Jaehyun dengan berbisik di depan leher jenjang si pria.
"Astagaa, kenapa aku sangat berhasrat pada jalang sepertimu eoh?!" Dengan cepat Jaehyun menjatuhkan pria itu ke atas sofa.
"Akan ku buat kau lebih menikmati ini, cantik..."q
...****************...
[ T A E ]
Aku membuka mataku yang terasa sangat berat, perlahan mendudukkan diriku di atas kasur dan mengerang saat merasakan sakit merajam bokongku. Pinggangku serasa mau patah dan pandangaku berputar.
Mual.
Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua sisa-sisa kegilaanku semalam. Rasa sakit di bokongku itu tidak asing, jadi aku biasa saja.
Hal yang sangat biasa saat aku merasa sangat kacau. Aku akan pergi ke diskotik dengan pakaian terbuka, minum dengan banyak.
Aku sangat menyukai bercinta, bahkan aku pernah mengajak managerku sendiri yang sudah memiliki anak dan istri untuk bercinta, tapi dia yang terlalu waras itu menolak dan mengundurkan diri.
Oh, apakah aku sudah katakan jika aku seorang artis?
Aku sebenarnya suka menari, tapi Ayah dan Ibuku memaksaku untuk menjadi seorang penyanyi dan model. Sialan, hal itu yang membuatku sangat tersiksa dan sering frustasi.
Di dunia ke artisan, aku di kenal sebagai Angel Lee... Seorang artis yang sangat baik dan polos, tapi siapa sangka aku sangat nakal dan bejat di belakang itu. Errr,,, aku suka membodohi mereka. Haha...
Aku selalu di puja siapa saja. Ku akui, aku ini lebih cantik dari pada kakak wanita ku, Lee Hyori, itulah yang membuatnya tak suka padaku, karena setiap ia membawa kekasih bule nya ke rumahku, pria itu selalu menatapku dengan tatapan nakalnya. Hhh,,, dasar pria brengsek.
Berkali-kali aku sudah katakan pada kakakku kalau dia bukan pria baik-baik, tapi wanita gila itu tak percaya dan masih terus memusuhiku. Seperti saat ini,,,
"Semalam kau pasti menjual dirimu lagi kan? Heh,,, dasar jalang." Aku hanya diam mendengarkan ocehan dari mulut laknatnya.
"LEE HYORI, JAGA UCAPANMU. DIA ITU ADIKMU." Aku tertawa pelan saat melihat Ayah membentaknya. Ya, Ayah selalu membelaku.
"Adik? Mana sudi aku punya adik sepertinya, lelaki dengan wajah cantik. Dasar sialan."
"KAU YANG SIALAN."
Plakk
Yeayyyy... Aku bersorak senang dalam hati saat Ayah menampar wanita iblis itu, membuatnya menangis dan berlari menaiki tangga, mungkin mau ke kamarnya.
Aku beralih menatap Ayah dengan tatapan pura-pura terluka. Ayah pun mendekatiku dan mengelus kepalaku.
"Maafkan dia ya." Aku mengangguk pelan dan tersenyum pada Ayah. "Yasudah, pergi ke kamar dan istirahat."
Dengan cepat aku mengangguk dan berusaha berjalan dengan benar menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku segera melemparkan diriku ke atas kasur dan terlelap.