MAFIA AND LOVE

MAFIA AND LOVE
Saudara Muda



[ AUTHOR ]


Jaehyun turun dari mobil setelah tiba di Bandara. Dengan stelan serba hitam, membuatnya malah semakin terpesona. Di tambah kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat para wanita di Bandara itu tak berpaling darinya.


Jaehyun mengedarkan pandangannya, dan disana ia menemukan seorang pria manis yang sedang berdiri dengan wajah masamnya, kedua tangan di lipat di dada dan bibir yang maju kedepan.


Jaehyun segera berjalan kesana dan mengambil koper pria manis itu, menggeretnya tanpa memperdulikan tatapan kesal sang pria manis.


"YA! Jaehyun bodoh. Kenapa kau lama sekali eoh?" Jaehyun hanya diam dan tak memperdulikan pria manis itu, ia tetap berjalan menuju mobilnya sambil menggeret koper.


Dengan kesal, pria manis itu mengikuti Jaehyun. Masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan kencang, membuat Jaehyun sedikit tersentak, namun ia hanya bisa diam dan menghembuskan nafas pelan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Awalnya suasana mobil menjadi sangat mencekam, karena tak ada satu pun yang memulai percakapan.


"Maafkan aku."


Pria manis yang berada di sebelah Jaehyun mengernyitkan alisnya, fokusnya beralih dari ponselnya menjadi ke Jaehyun. Dengan penasaran pria manis itu mendekat dan menatap wajah Jaehyun dari jarak yang sangat dekat, membuat pria tampan itu risih dan mendorong dahi si pria manis menggunakan telunjuknya.


"Kau, meminta, maaf?" Ucap pria manis itu terbata dan dengan wajah tak percayanya.


"Jangan berlebihan Haechan." Jaehyun menghela nafas lagi dan menatap keluar jendela.


"Oh My God Jae. Apa saja yang kau lakukan saat aku di Jerman? Apakah selama 7 tahun ini kau selalu pergi ke gereja?" Ucap Haechan.


"Cih,,, mana sudi aku menginjakkan kaki ke tempat itu." Ucap Jaehyun, Haechan mengangguk paham.


"Ya, lagi pula iblis sepertimu mana bisa masuk ke tempat suci itu." Ucap Haechan dengan asal. Jaehyun menatap Haechan.


"Dasar kurang ajar." Jaehyun mendengus kasar, sedangkan Haechan tak perduli dan lebih memilih kembali fokus pada ponselnya.


[ HAE ]


Aku tersenyum membaca pesan dari teman-temanku yang ada di Jerman. Selama 7 tahun di sana, bukan hal yang sulit bagiku untuk memiliki banyak teman.


Dan setelah 7 tahun, akhirnya aku kembali ke Korea, rasanya sangat menyenangkan. Seperti terbebas dari penjara, aku tak perlu belajar lagi, tak perlu bertemu dengan wajah tua dosen. Hhh,,, sangat menyenangkan.


Setibanya di rumah, aku langsung keluar dari mobil dan berlari menuju halaman rumah milik Jaehyun yang sangat luas. Ku hirup kuat-kuat udara segar Korea yang sudah lama tak ku rasakan. Dengan senyuman lebar, aku masuk ke dalam rumah, menyusul Jaehyun yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah mewahnya itu.


Aku dengan semangat menidurkan tubuhku di atas sofa empuk yang sangat menggoda, ku pejamkan mataku bermaksud untuk menyelami alam mimpi.


"Pergilah mandi, jika di Jerman, tidak mandi selama 7 hari pun tak masalah, tapi ini di rumahku, kau harus bersih dan di larang bau."


Ku buka mataku dan menatap sengit pada Jaehyun yang sudah duduk dengan santai di sebrangku. Sekaleng bir bertengger manis di tangan kirinya, dan tangan lainnya memegang sebatang rokok yang menyala.


Aku mendengus melihatnya, karena demi apapun, dia terlihat sangat keren saat seperti itu, hal yang sangat ku benci, karena tanpa sadar aku akan memuji dirinya.


"Biarkan aku tidur sebentar." Aku kembali memutar kepalaku membelakanginya dan memejamkan mataku lagi.


"Haechan, aku rasa kau ingin mengambil gelar S2 di Paris, bagaimana?"


Dengan spontan, aku langsung berdiri dan mengacak rambutku dengan kesal. Mendengar ucapan Jaehyun, sama saja seperti menawarkan diri kembali masuk ke penjara.


"Sialan, kau selalu seperti ini. Brengsek." Dengan hentakan kaki yang kuat, aku berjalan meninggalkannya.


Aku menaiki tangga dan berjalan menuju kamarku, saat melewati kamar Jaehyun yang pintunya sedikit terbuka, aku melihat ada seseorang yang duduk di pinggiran ranjang Jaehyun menghadap jendela. Aku hanya bisa melihat punggungnya saja.


Dengan rasa penasaran, aku membuka perlahan pintu kamar Jaehyun dan mendekat pada orang itu. Saat berada di dekatnya, aku dan orang itu sama-sama tersentak kaget.


"Oh!"


"HAECHAN?"


[ TAE ]


Aku hanya bisa mengehela nafas saat aku tersentak dari tidurku dan pemandangan yang di tangkap oleh mataku masihlah sama. Area kamar Jaehyun.


Dengan perlahan aku mendudukkan diriku dan setelahnya pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai membasuh tubuhku, aku membuka lemari pakaian Jaehyun dan mengambil kemeja putihnya untuk ku kenakan. Tanpa menyisir rambut, aku kembali duduk di pinggiran ranjang dan menatap keluar jendela. Sampai ingatanku kembali pada kejadian beberapa tahun lalu.


"Kau akan jadi milikku."


Aku menatap heran pada pria di depanku. Apa-apaan itu? Dia mengatakannya seolah aku adalah barang yang mudah di beli.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak mengerti apa yang anda ucapkan."


"Tak perlu mengerti, biar aku saja yang membuatmu mengerti secara perlahan."


Hhh... Andai saja dulu aku tak bertemu dengan pria sialan itu.


"Oh!"


Aku tersentak dari lamunanku saat mendengar suara seseorang dari sebelahku. Mataku terbelalak saat melihat pria manis yang berdiri di sebelahku itu.


"HAECHAN?" Teriakku dengan rasa tak percaya. Dengan cepat aku melemparkan diri padanya, dan kami langsung berepelukan dengan sangat eratnya.


"Lihatlah hyung, kau semakin cantik, semakin manis, dan sangat sexy." Aku terperangah mendengar pujian Haechan setelah pria manis itu melepaskan pelukannya.


"Yak! Berhenti mengataiku cantik, dasar tak sopan." Ucapku dengan kesal dan kembali duduk memunggunginya, berpura-pura marah.


"Uhh,,, kau malah semakin cantik jika seperti itu hyung."


Hhh... Aku hanya bisa menghela nafas dan memutar tubuhku kembali menghadapnya.


"Ya, kau pun sama cantiknya." Ucapku dengan pasrah.


"Tentu saja, bahkan aku lebih cantik dari pada dirimu hyung." Lihatlah, dengan bangganya dia mengatai dirinya cantik.


Dengan cepat aku menarik tangannya dan membanting tubuhnya ke kasur, setelah itu aku menggelitiki perutnya, leher, dan area lainnya yang aku ketahui membuatnya merasa geli. Haechan berusaha memberontak dan memohon padaku untuk menghentikannya, tapi aku tak perduli. Aku berencana menggelitikinya sampai ia pingsan. Haha,,, rasakan makhluk nakal!


[ JAE ]


Aku tersenyum tipis melihat kelakuan dua pria cantik itu. Lihatlah, mereka tertawa sangat kuat. Yang satu tertawa karena senang di siksa, dan satunya lagi tertawa karena senang menyiksa. Hhh,,, kekanakan sekali.


Aku melangkah masuk lebih dalam ke kamarku, mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka itu, berusaha menyadarkan kedua pria itu bahwa ada aku di sini.


Mereka langsung menghentikan aksi mereka dan menatapku beberapa saat. Setelahnya, ku lihat Taeyong yang awalnya menduduki tubuh Haechan langsung berdiri. Berpura-pura tak melihatku dan berjalan keluar kamar. Tapi saat ia melewatiku, aku langsung menangkap tangannya dan memeluk erat tubuhnya. Pria itu tentu saja memberontak, tapi dengan kuat aku rangkul pinggang rampingnya.


"Lepaskan sialan." Ku dengar ia berbisik sambil menatapku dengan garang. Haha, seperti kucing yang marah saat ikannya di rebut kucing lainnya.


"Kau sangat wangi dan,,, sexy." Aku berbisik pelan di telinganya, dan ku rasakan ia sedikit terperanjat.


Aku melonggarkan rangkulanku pada pinganggnya, membuatnya dengan mudah melepaskan diri dan kembali menatapku dengan garang, kali ini dengan wajah yang memerah.


"Dasar brengsek." Aku tersenyum tipis mendengar umpatan pelannya. Ya, aku tau, setidaknya ia tak akan mengumpatiku secara terang-terangan saat ada Haechan diantara kami.


Pria cantik kesayanganku itu pergi keluar kamar dan aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Ku alihkan tatapanku ke kasurku, menemukan satu makhluk cantik lagi yang sudah terlelap. Perlahan berjalan mendekati Haechan dan membenarkan posisi tidurnya, setelah itu menyelimutinya dan menyalakan penghangat ruangan.


Aku kembali keluar kamar dan membiarkan Haechan tidur dengan lelap. Bermaksud pergi ke ruang baca, namun saat melewati ruang makan, aku menemukan Taeyong yang sudah memulai makan siangnya tanpa diriku. Aku pun berjalan mendekatinya dan langsung mendapat tatapan muak darinya. Hhh,,, sampai kapan seperti ini terus?!


Tanpa perduli dengannya, aku duduk di kursi tunggal meja makan besar itu, sedangkan Taeyong duduk di sisi kananku dengan empat kursi lainnya yang kosong. Aku membalik piring dan mulai menikmati hidangan makan siang ini.


Selesai makan, aku menuangkan anggur merah ke gelasku dan meneguknya. Ku perhatikan Taeyong yang masih menikmati makanannya, sesekali pandanganku melirik ke bawah, melihat paha putih mulus yang di sajikan oleh pemiliknya itu. Dari pada semua makanan di atas meja itu, aku lebih berhasrat menikmati pria cantik di depanku ini.


"Aku selesai." Ucap Taeyong setelah menyeka mulutnya menggunakan lap tangan.


"Mau dessert?" Tawarku yang tanpa pikir panjang langsung mendapat anggukan.


Aku memanggil pelayan dan meminta apa yang diinginkan Taeyong, tak berapa lama kemudian, sepotong kue manis telah berada di dalam mulut pria cantik itu. Aku hanya diam memperhatikannya, rasanya sangat puas dapat melihat seseorang yang kau cintai tumbuh dan makan dengan lahap.


Selesai makan, aku pergi ke ruang kerjaku dan duduk sambil menikmati buku bacaanku. Aku sangat suka membaca berbagai macam buku dan melatih otakku dengan berbagai persoalan. Tak ada yang ku inginkan, semua ku lakukan agar orang tak mudah membodohiku.


"Hyung." Aku menoleh ke pintu dan melihat Haechan yang tampak seperti baru bangun tidur berdiri di sana.


"Emm?" Gumamku dan kembali pada bacaanku. Ku rasakan Haechan berjalan mendekat dan duduk di kursi sebrang meja kerjaku.


"Dimana Taeyong hyung?" Tanya Haechan padaku sambil melihat-lihat barang-barang yang ada di atas meja kerjaku.


"Tidak ada disini." Jawabku dengan santai.


"Ish,,, setidaknya kau tau dimana orang yang kau sayangi itu berada hyung, jangan bersikap kaku." Ucap Haechan yang mulai kembali cerewet.


Aku hanya diam dan membiarkan bocah itu sibuk dengan alat-alat aneh yang ada di atas meja kerja.


"Bagaimana kabar ibumu?" Tanyaku setelah kami terdiam cukup lama.


"Jaehyun, dia juga ibumu." Sungut Haechan tak terima.


"Maaf saja, aku tidak sudi mengakui pelacur itu sebagai ibuku."


Brakk...


Haechan mencampakkan kotak pensil milikku yang terbuat dari kayu ke lantai. Ku lihat ia berdiri dari duduknya dan menatapku dengan geram.


"Dasar brengsek. Biar bagaimanapun juga, kau lahir dari rahimnya. Dan asal kau tau saja, wanita yang kau sebut pelacur itu adalah malaikat bagiku." Ucap Haechan dengan nada rendah.


Aku hanya diam dan memperhatikannya, sesaat kemudian, ku alihkan pandanganku kembali ke buku bacaanku.


"Malaikat bagimu, bukan bagiku. Pergilah." Ucapku dengan santai dan aku kembali mendengar suara kursi yang di geser dengan kuat.


Haechan berjalan cepat keluar dari ruanganku dan membanting pintu dengan sangat kuat. Aku memejamkan mata sejenak dan menghela nafas, menutup buku bacaanku dan membantingnya ke atas meja.


Entah kenapa aku selalu merasa tak enak pada Haechan sesaat setelah kami berdebat. Selalu seperti itu, makanya aku selalu menghindari berdebat dengannya.


Aku mengusap wajahku dengan kasar dan memandang langit-langit ruangan kerjaku.