MAFIA AND LOVE

MAFIA AND LOVE
Sayangku Bangsat



[ JAE ]


Aku duduk diam di depan sebuah televisi, di mana di dalam tv itu menampilkan seseorang yang sangat cantik menurutku. Ya, aku akui dia cantik, walaupun dia itu pria dan memiliki batang sama sepertiku. Di sana, ia terlihat sangat polos dan lugu. Seperti anak yang baru menginjak usia remaja, apalagi suaranya saat menyanyi. Haha, berbeda sekali dengan dirinya yang semalam, dan aku lebih suka suara desahan kesakitannya.


Awalnya aku biasa saja melihat dia yang berada di suatu acara yang sesungguhnya tak aku ketahui itu, yang terpenting dia ada disana, ada saat aku ingin melihatnya. Aku tertegun saat melihat seorang pria yang lebih tinggi merangkul pinggangnya, dan ku lihat dia biasa saja.


Sialan! Apa-apaan itu? Skandal eoh? Ah, akan aku tunjukan skandal yang sebenarnya padanya. Lihat saja.


"Jiwon." Aku memanggil salah satu anak buah yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dari sebelahku.


"Ya Boss?" Responnya dengan tegas.


"Siapkan semuanya, malam ini kita akan menjemputnya, ku rasa ia sudah puas bermain-main di luar sana." Ucapku dengan nada yang cukup menyeramkan.


"Baik!" Aku sangat puas saat anak buahku menjawab dengan cepat dan bergerak saat itu juga.


Aku menatap dengan tajam layar tv yang memperlihatkan kemesraannya bersama pria tinggi itu.


Brakkk


Ctarrr


Tanpa fikir panjang ku lemparkan vas bunga yang ada di hadapanku ke layar tv, membuatnya berubah menjadi gelap dalam seketika dan hancur berantakan.


"Dasar jalang!" Geramku.


[ TAE ]


Aku tersenyum menanggapi segala pertanyaan dari Johnny, rekan kerjaku. Dia sangat baik padaku, perhatian dan sayang. Aku menganggap semuanya itu tidak biasa, tapi aku harus terima kalau nyatanya ia sudah memiliki istri dan satu orang anak. Huftt,,, terkadang menyebalkan jika mengingat itu.



"Tae, ingin makan siang bersama?" Tanya Johnny padaku yang langsung ku angguki dengan kelewat semangat.


Akhirnya kami pergi ke sebuah Restoran langganan kami, memilih menu makan siang yang kami inginkan dan menyantapnya dalam diam. Setelah selesai makan, Johnny sibuk dengan ponselnya, membuatku sedikit berdecak malas.


"Permisi."


Aku menoleh saat ada seseorang menepuk pundakku. Aku sangka ia adalah fansku, tapi saat kulihat dia itu pria berbadan besar dengan stelan hitam, sangat mustahil dia menjadi fansku.


"Ya, ada apa?" Tanyaku padanya, Johnny mulai memperhatikan kami sekarang.


"Begini, Bos saya ingin bertemu dengan Anda, ada sesuatu yang harus di bicarakannya." Ucap pria itu.


Aku dan Johnny mengernyit heran. Bos apa? Bos yang mana?


"Ah, begini Ahjusshi... Lebih baik kalian langsung ke Agensi Taeyong saja dan bicara pada Managernya, saat ini Taeyong sedang menikmati waktu luangnya, jadi aku harap kau mengerti." Johnny berkata panjang lebar dan aku menganggukinya.


"Ah, begitu. Baiklah, maafkan aku sudah mengganggu kalian. Permisi."


Aku terus memperhatikan pria itu yang berjalan keluar Restoran, menyebrang jalan dan menghampiri sebuah mobil. Mencurigakan.


[ AUTHOR ]


"Jadi dia menolakku?" Tanya Jaehyun dengan nada datarnya. Sang anak buah yang berada di kursi pengemudi itu mengangguk dengan takut-takut.


"Baiklah, lakukan rencana kedua, dan jika ini tak berhasil juga, kepalamu akan ku berikan untuk makan siang Harley." Ucap Jaehyun dengan nada teramat santai. Sang anak buah langsung mengangguk dan dengan tangan gemetar meraih ponselnya, menghubungi rekan kerjanya yang sudah bersiap di posisi masing-masing.


Jaehyun menoleh ke arah Restoran yang ada di sebrang jalan, tersenyum penuh arti saat mobil mulai berjalan sedikit menjauhi Restoran itu.


Dan tak lama kemudian...


Duaarrrrr


Suara ledakan yang teramat besar membuat semua orang kalang kabut, bahkan getarannya terasa mengguncang bumi. Jaehyun tersenyum menang saat melihat melalui kaca spion mobil, Restoran tadi sudah hancur karena ledakan. Ya, tentu saja ledakan atas ulahnya.


Sedangkan di sisi lain...


"Johnny hyuuuunggggg..." Taeyong berteriak kuat memanggil Johnny yang sudah jatuh pingsan karena kepalanya tertimpa sesuatu. Ia ingin berlari menghampiri pria itu, tapi tangannya di tarik oleh seseorang.


"Lebih baik kau keluar dari sini." Ucap pria itu, membuat Taeyong menatapnya tak suka dan menarik tangan dengan kasar.


"Kau saja yang pergi sana. Dasar brengsek." Ucap Taeyong dengan kasar dan berjalan kembali mendekati Johnny, namun belum sampai ke tempat Johnny, pandangannya sudah mengabur karena mulutnya di sumpal sapu tangan yang di tetesi obat bius.


"Merepotkan." Gumam pria itu.


"Hey, jaga ucapanmu, jika Bos dengar, hidupmu yang akan repot di buatnya." Ucap salah satu rekan kerjanya yang baru saja datang menghampiri mereka.


Di saat keadaan Resto sedang sangat kacau, mereka malah sibuk ke satu titik. Yaitu Taeyong.


"Sudah ayo, sebelum polisi datang kita harus pergi dari sini." Ucap pria yang memegangi Taeyong.


Mereka berjalan dengan cepat, Taeyong sudah berada di dalam gendongan pria yang menutup mulutnya dengan sapu tangan tadi. Tak ada satu orang pun yang curiga pada mereka. Pekerjaan seperti ini sudah sangat sering mereka lakukan, jadi tak ada sedikitpun perasaan khawatir yang dapat menimbulkan kecurigaan orang-orang.


Di sepanjang perjalanan, Jaehyun terus menatapi wajah Taeyong, sesekali ia menyingkirkan poni yang menutupi mata indah yang terutup itu.


"Aku merindukanmu." Gumamnya dengan sangat pelan di depan bibir Taeyong.


Sesampainya di rumah, Jaehyun langsung yang menggendong Taeyong masuk ke rumah mewahnya. Menidurkan pria cantik itu di atas tempat tidurnya dan menyelimutinya. Setelahnya Jaehyun keluar dari kamar dan mengunci pintu dari luar.


"Jaga dia. Jika saat aku pulang dia sudah tak ada, maka kau harus siap menyerahkan salah satu bagian tubuhmu untuk makanan Harley." Jaehyun berkata datar pada anak buahnya yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Anak buah itu mengangguk dengan kaku dan hanya bisa menatapi kepergian Jaehyun dengan keringat dingin.


Sampai malam Jaehyun belum juga kembali dari urusan pekerjannya. Bahkan sampai Taeyong mulai sadar dari efek obat bius itu.


Pria cantik itu mengerjap dan menatap langit-langit kamar. Setelahnya mendudukan dirinya dan memegang kepalanya yang terasa sangat berat, menatap heran sekelilingnya.


"Dimana aku?" Tanyanya pada angin.


Dengan cepat ia berdiri dan berjalan menuju pintu, namun pintu itu terkunci. Dengan berkali-kali ia mendobrak dan menendang pintu itu, tapi tak ada hasil sama sekali, membuatnya mengerang frustasi.


Saat berbalik, ia melihat sebuah jendela. Dengan cepat ia berlari kesana dan membuka lebar jendela yang tak memiliki pembatas itu.


"Sial. Bisa mati aku jika loncat dari sini." Taeyong akhirnya mencegah dirinya sendiri saat melihat di bawah sana terdapat pohon-pohon rindang dan sepertinya ia sedang berada di lamtai 3 atau 4.


Cklek


Taeyong berbalik dan menatap penasaran pada pintu yang perlahan terbuka. Ia sedikit menyembuyikan dirinya di balik gorden jendela, hanya kepalanya saja yang keluar untuk melihat seseorang yang masuk ke kamar itu.


"JAEHYUN?!"


Pria yang di panggilnya itu menoleh padanya dan tersenyum, ah,,, lebih tepatnya menyeringai.


Tanpa pikir panjang, Taeyong segera berlari menuju Jaehyun dan menampar kuat pipi pria itu. Tak berasa apa-apa untuk Jaehyun, namun hatinya tergores karena perlakuan Taeyong. Pria itu menggeram pelan dan mencengkram pergelangan tangan Taeyong dengan kuat, membuat pria yang sedikit lebih kecil mengerang kesakitan.


"Dasar sialan. Seharusnya kau bersukur karena aku tak melemparkanmu ke jurang." Geram Jaehyun.


Taeyong menatap Jaehyun dengan nyalang, matanya sudah memerah dan sedikit cairan bening keluar dari sana. Dengan kuat ia menarik tangannya yang sudah memerah di bagian pergelangan tangan.


"Kau brengsek..."


Dugh Dugh Dugh


Taeyong memukuli dada Jaehyun dengan kekuatan maksimalnya, tapi tetap tak bereaksi apapun untuk Jaehyun. Pria itu hanya diam dan menatapi Taeyong yang mulai menangis dengan histeris.


"SEHARUSNYA KAU BUANG SAJA AKU KE JURANG BAJINGAN." Teriak Taeyong.


Jaehyun menatap tak suka pada Taeyong dan segera menyeret pria cantik itu ke balkon kamarnya. Dengan kuat ia menolak Taeyong dari balkon kamarnya, membuat pria cantik itu terkaget dan menggelantung.


Taeyong menatap Jaehyun dengan perasaan takutnya, ia melihat ke bawah, terdalat banyak pohon dan semak di bawah sana, pasti akan sangat sakit jika jatuh ke sana. Perlahan ia menoleh pada Jaehyun yang hanya menatapnya dengan datar, tapi tangan pria itu menggenggam tangannya dengan sangat kuat.


Taeyong muak.


Jaehyun itu tidak pernah mengerti apa yang di inginkannya. Selalu saja membuatnya kesal dan ingin memaki. Pria tak berperasaan.


Dengan kesal Taeyong memukuli tangan Jaehyun dengan sebelah tangannya yang bebas, bermaksud agar pegangan tangan pria itu terlepas dan membiarkannya terjatuh. Berkali-kali ia mencakar tangan Jaehyun dan menyebabkan goresan-goresan merah di tangan putih Jaehyun.


"Jangan keras kepala dan berhenti melawan padaku." Ucap Jaehyun yang semakin mengeratkan tangannya.


"Bajingan. Lepaskan aku, biarkan saja aku mati brengsek." Taeyong berteriak di tengah isakannya.


Jaehyun berkedip santai. Dengan cepat ia melepaskan tangannya dari Taeyong dan...


Dengan cepat pula kembali menangkap tangan Taeyong menggunakan tangannya yang lain. Ia akui tangannya mulai merasa keram memegangi Taeyong yang tidak ringan itu.


Sedangkan Taeyong sudah melotot kaget dan jantungnya berdegup kencang. Walaupun ia berteriak seperti itu, bukan berarti ia ingin jatuh kan?!


"DASAR MANUSIA TAK BERPERASAAN!"


Dengan kuat Jaehyun menarik Taeyong dan membawa pria cantik itu kembali ke balkon kamarnya. Mereka jatuh terduduk di lantai balkon. Jaehyun menatap Taeyong yang terdiam, sepertinya pria cantik itu merasa sedikit syok.


"Jika aku tak berperasaan, mungkin kau sudah jatuh ke sana." Ucap Jaehyun dengan santai dan berdiri dari duduknya. Perlahan ia berbalik dan bermaksud untuk masuk kembali ke kamarnya.


"Udara malam sangat dingin, jika tak ingin sakit, lebih baik kau segera masuk ke dalam." Ucap Jaehyun dan melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Taeyong mulai menekuk kakinya dan menyembuyikan tangisannya di atas lututnya. Isakannya teredam oleh tangannya sendiri.


Tak berapa lama kemudian, ia merasakan sesuatu di sampirkan di punggungnya. Mengangkat kepalanya dan melihat kalau itu adalah selimut, dan pelakunya adalah Jaehyun. Pria dengan wajah datar itu segera mengangkat Taeyong layaknya pengantin baru dan menidurkan si pria cantik di atas tempat tidurnya.


"Jangan pergi kemanapun, aku akan kembali nanti." Setelah berkata seperti itu, Jaehyun pergi meninggalkan kamarnya.


Taeyong menatap pintu yang tertutup itu. Perasaannya campur aduk setelah sekian lama tak bertemu dengan Jaehyun.


"Aku merindukanmu." Gumamnya sangat pelan.