
[ JAE ]
Aku duduk diam di ruang tamu sambil menghembuskan asap rokok dari mulutku berkali-kali.
"Jaehyun." Aku menoleh ke samping dan melihat Haechan berdiri disana menatapku penuh penuntutan.
"Eum?" Tanyaku dengan gumaman sembari mematikan rokok dan membuangnya ke asbak.
"Kau pasti melakukan sesuatu pada Mark kan?" Tanyanya.
"Tidak. Aku hanya mengajarinya satu hal baru lagi."
"Hal baru? Hahaha, lucu sekali, tapi aku ingin tau apa itu." Ucap Haechan dengan tawa sarkasnya. Aku sekilas menatap padanya dan menyandarkan punggungku pada sandaran sofa dan memejamkan mata.
"Kau harus berenang ke dasar laut untuk mendapatkan mutiara yang indah." Ucapku dan membuka mataku kembali.
"Apapun itu Jaehyun, aku minta kau tidak berbuat sesuatu yang buruk pada Mark." Ucap Haechan dan aku mengangguk patuh layaknya seorang budak.
"Baiklah Tuan Putri."
Plakk
Aku menggeram saat tangan lentik itu mendarat di kepalaku. Entah kenapa, aku tidak pernah bisa melawan Haechan.
"Dasar mafia brengsek." Umpatnya dan pergi meninggalkanku.
"YAK! DASAR KAU ADIK KURANG AJAR. LAGI PULA AKU LEBIH BAIK MELAKUKAN SESUATU YANG BURUK PADAMU KETIMBANG PADA MARK. DIA ITU PERMATA BERHARGA BAGIKU."
"Bicara saja pada Harley sana."
"YAKKKK!" Dasar adik kurang ajar, bagaimana bisa dia menyuruhku bicara pada anjing peliharaan kami itu.
"Jaehyun." Aku menoleh dengan kerutan di alisku. Menatap Taeyong dengan ganas. Taeyong yang tak tau apa-apa hanya diam menatapku.
"Ada apa dengan tatapanmu itu Pak Tua?"
Asdfghjkl! Pak Tua katanya?!
"YAK! Jangan panggil aku begitu." Teriakku padanya.
Plakk
Aku mendesah setelah terduduk di sofa karena pukulan Taeyong di kepalaku lebih keras dari pada pukulan Haechan tadi.
"JANGAN BERTERIAK PADAKU BODOH." Teriaknya lebih kuat dari pada teriakanku tadi. "Dasar manusia gila! Jika kau setres karena masalahmu, jangan marahi aku. Sialan!" Umpatnya dan pergi meninggalkanku sendirian di ruang tamu.
Ah. Aku sadar satu hal sekarang. Bukan hanya Haechan yang tak bisa ku lawan, tapi Taeyong juga. Ya, mereka adalah serigala yang bersembunyi di tubuh kucing mungil.
"Brengsek!"
[ TAE ]
Brakk
Aku menutup pintu kamar dengan kuat dan menghempaskan tubuhku di tempat tidur.
"Arghh,,, dasar pria sialan."
Amarahku kuluapkan pada guling, ku pukul guling itu berkali-kali seakan-akan itu adalah Jaehyun.
Tok
Tok
Tok
Cklek
Aku menoleh ke arah pintu dan melihat Haechan berjalan menghampiriku.
"Hyung, kau juga bertengkar dengan Jaehyun?" Tanyanya dan aku mengangguk.
Haechan duduk di sebelahku dan memelukku erat. Aku heran dengan sikapnya, biasanya anak ini selalu ceria dan energik.
"Kau kenapa?" Tanyaku dan Haechan hanya menggeleng pelan.
"Aku kesal pada Jaehyun, dia membiarkan Mark pergi tanpa izin padaku." Ucapnya.
"Tapi Hae, Mark akan pulang sebentar lagi, kau jangan khawatir." Ucapku berusaha menyemangatinya.
"Eummm..." Haechan mengangguk seadanya.
"Drama macam apa yang sedang kalian perankan?"
Kami berdua menoleh pada Jaehyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat kami dengan kedua tangan terlipat didada.
"Hey, jangan menatapku seperti itu." Ucapnya saat melihat kami menatapnya dengan garang. "Kau, kenapa disini? Ini sudah larut malam, pergilah tidur sana." Ucapnya pada Haechan.
"Heuh." Haechan membuang mukanya dari Jaehyun dan menatapku. "Hyung, ada drama yang baru tayang, ayo kita tonton sama-sama dikamarku." Ucapnya dan aku langsung menatapnya dengan berbinar.
"Benarkah?!" Tanyaku dan Haechan mengangguk cepat. "Baiklah, ayo cepat." Aku menarik tangannya dan turun dari tempat tidur. Kami berlari menuju pintu kamar, namun sebelum sampai, kerah baju belakang kami sudah di tarik dengan kuat.
"YAKKK!?" Kami memberikan protes pada Jaehyun sang pelaku.
"Kau pergi tidur sana."
Dengan kuat Jaehyun mendorong tubuh Haechan keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan cepat.
"YAK JAEHYUN SIALAN. BUKA PINTUNYA, AKU DAN TAEYONG HYUNG INGIN MENONTON DRAMA BERSAMA." Teriak Haechan dari dalam dan aku mengangguk cepat.
"Eum, biarkan kami menonton drama bersama Jae." Aku berusaha menerobos badan Jaehyun yang menghalangi pintu. "YAK!" Teriakku kesal saat pria itu tak mau mengalah sama sekali.
DUGHH
DUGHH
"Brengsek!!!" Umpatku bersamaan dengan Haechan.
[ AUTHOR ]
"Akhh..." Minho meringis saat tubuh Jongin jatuh menimpanya. Dengan kuat Minho mendorong tubuh besar itu dan bangkit berdiri.
Minho menatap kedepan sana dan menemukan Taemin dengan tangan bergetarnya yang memegang pistol. Perlahan Minho berjalan menghampiri Taemin dan meraih tangan putih itu, membuang pistol yang ada di tangan si cantik dan membawa orang tercintanya itu kedalam dekapan hangatnya.
"Hiksss..." Minho hanya diam dan mengelus punggung Taemin saat pria cantik itu menangis tersedu-sedu.
Sedangkan Mark menatap mereka dari lantai atas rumah milik Jongin itu. Melihat Jongin yang sudah tergeletak dengan darah segar yang terus mengucur dari kepala bagian belakangnya.
"Hhh,,, akhirnya selesai." Gumam Mark. "Euhh,,, aku rindu Haechan."
Mereka bertiga sudah berada di mobil sekarang, Mark yang menyetir sedangkan Minho dan Taemin duduk di kursi penumpang belakang.
"Terimakasih Mark." Ucap Minho dan Mark hanya mengangguk.
"Ini semua juga berkat keberanian kekasihmu itu." Ucap Mark menatap Taemin dari kaca spion dalam mobil. Sedangkan Taemin semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Minho saat mendengar ucapan Mark.
"Hyung, a-aku sudah m-membunuhnya. A-aku pembunuh h-hyung."
"Stttt..." Minho menempelkan jari telunjuknya di bibir Taemin. "Jangan fikirkan itu. Lagi pula, cepat atau lambat ia juga akan mati." Ucap Minho dan mengelus pelan surai Taemin.
Selanjutnya, sepanjang jalan mereka hanya diam. Tak berapa lama kemudian mereka tiba di rumah Jaehyun.
Suasana tengah malam membuat jalanan rumah Jaehyun terlihat menyeramkan. Karena di sepanjang jalan itu hanya ada rumah Jaehyun satu-satunya. Di sebrang jalan terdapat jurang sedangkan di kiri dan kananya hutan lebat.
Mark memarkirkan mobil dan turun dari mobil, berjalan menuju rumah diikuti Minho yang berjalan berdampingan bersama Taemin.
Sedangkan dari dalam rumah sana, Haechan sudah berlari terburu-buru saat mendengar suara mesin mobil dari kamarnya. Dengan cepat pria manis itu berlari menuju pintu depan dan membukanya. Membuat Mark tersentak kaget karena ia baru saja akan meraih gagang pintu.
"Mark!" Mark terpaku saat Haechan memeluknya dengan erat. Tak keberatan sama sekali, Mark langsung membalas pelukan Haechan dan mengelus punggung si manis yang dicintainya itu.
"Aku, aku fikir kau, kau tidak akan kembali. Aku fikir Jaehyun, memberikan pekerjaan membahayakan untukmu." Ucap Haechan berantakan. Mark tertawa melihat betapa kacaunya pria yang sangat dicintainya itu. "Yak! Kenapa kau tertawa?!" Teriak Haechan yang hamlir menangis.
"Owhh, maaf, maafkan aku. Hehe, jangan menangis. Aku baik-baik saja." Ucap Mark dan kembali memeluk Haechan. "Pekerjaannya tidak membahayakan, aku pergi untuk menyelamatkan Tuan Putri Minho." Ucap Mark setelah melepaskan pelukannya.
Haechan menatap heran pada pria yang menurutnya cukup cantik di sebelah Minho. Sedangkan Minho memeluk pinggang ramping itu dengan posesif.
"Eum? Bisa kita berkenalan?" Tanya Haechan berjalan mendekat pada pria cantik milik Minho.
"A-ah,,, tentu saja. A-aku Taemin." Ucap Taemin membalas jabatan tangan Haechan.
"Hehe, aku Haechan. Sepertinya kau lebih tua dari pada aku, bisakah aku memanggilmu hyung?" Tanya Haechan dengan ceria dan Taemin mengangguk cepat dengan senyuman manisnya.
Setelahnya mereka masuk ke dalan rumah dan Minho langsung mendudukkan Taemin di sofa ruang tamu.
"Aku akan ambilkan minum untukmu." Taemin mengangguk dan Minho meninggalkannya di ruang tamu bersama Haechan sedangkan Mark pergi ke kamar untuk berganti baju.
Taemin merasa tak nyaman saat Haechan menatapnya dengan penuh minat.
"Ehehe, kau cantik juga ternyata hyung." Ucap Haechan dan Taemin hanya tersenyum canggung.
"Haechan, jangan menatapnya seperti itu, kau membuatnya takut." Ucap Minho saat ia kembali dengan segelas air minum di tangannya.
"Memangnya tatapanku seperti apa?" Tanya Haechan.
"Seperti Ahjushi yang mengincar anak kecil."
"YAK!"
"Hahaha..."
"Kalian berisik sekali, menganggu saja." Mereka bertiga menoleh ke arah Jaehyun yang baru saja datang dan langsung duduk di single sofa.
Haechan menatap Jaehyun dengan garang, sepertinya ia masih dendam karena tak diizinkan menonton drama bersama Taeyong tadi.
Jaehyun hanya diam dan menimmati sebatang rokoknya. Matanya menatap Taemin yang sedari tadi menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kemarilah jika kau merindukanku." Ucap Jaehyun pada Taemin.
Perlahan pria cantik itu beranjak dan berjalan menghampiri Jaehyun, duduk menyamping di atas pangkuan Jaehyun dan memeluk si pria tampan dengan erat. Menyembunyikan isakannya di ceruk leher Jaehyun.
"Berhentilah menangis, aku tau si brengsek yang sering membuatmu menangis itu sudah dimusnahkan oleh Minho." Ucap Jaehyun mengelus pelan punggung Taemin.
"Bukan aku, dia sendiri yang memusnahkannya." Ucap Minho membuat Jaehyun menaikkan alisnya sebelah dan kemudian terkekeh.
"Wah wah. Ternyata pria kuat ini hanya berpura-pura rapuh eoh." Canda Jaehyun mencubit pelan hidung Taemin.
"Ugh, a-aku membunuhnya Jae." Gumam Taemin.
Jaehyun berdiri dengan Taemin yang masih berada di gendongannya, dan mendudukkan Taemin di sofa tempatnya duduk tadi. Sedangkan ia berjongkok di depan Taemin, meraih tangan putih itu dan menggenggamnya erat.
"Jangan khawatirkan itu. Aku akan berusaha melindungimu semaksimal mungkin." Ucap Jaehyun dan Taemin mengangguk dengan tangisan harunya. "Dan jika kau berubah fikiran, kau bisa datang padaku. Aku tak keberatan punya dua."
"YAK!?"
Bughh
Jaehyun terjungkal kesamping saat bahunya di tendang oleh seseorang. Ia menoleh dan menatap Taeyong yang berdiri disana sedang menatapnya dengan garang.
"Hahaha, rasakan Jaehyun brengsek." Minho tertawa melihat Jaehyun tak berdaya dihadapan Taeyong.
"Dasar bajingan."
Jaehyun segera berdiri saat Taeyong berjalan meninggalkannya dengan murka. Pria tampan itu berlari mengejar Taeyong yang sedang marah, karena demi apapun, Taeyong yang marah adalah ancaman terbesar untuk little Jae.
Hhh,,, berdoa yang terbaik untuk Jaehyun.