MAFIA AND LOVE

MAFIA AND LOVE
Teman Lama



[ AUTHOR ]


Jaehyun baru saja pulang ke rumah saat jam menunjukkan pukul 2 malam. Tak ada yang menyambutnya, hanya suara dentingan jam dan sapuan angin yang di terimanya saat menginjakkan kaki ke dalam rumah mewahnya.


Setelah melepaskan longcoatnya, Jaehyun duduk di sofa, menyilangkan kakinya dan menyalakan sebatang rokok.


Brakkk


Jaehyun tersentak saat mendengar suara rusuh dari jendela kaca di belakangnya. Seperti singa yang tak takut akan apapun, setelah mematikan rokoknya dan membuangnya ke asbak, Jaehyun berjalan menghampiri jendela itu dan menyibak tirainya.


Suasana taman belakang yang gelap gulita terlihat sedikit menyeramkan, tapi Jaehyun biasa saja danĀ  menganati taman dengan mata setajam pisau miliknya.


Drap


Drap


Drap


Jaehyun terdiam saat mendengar suara langkah kaki seseorang dari arah belakangnya. Sangat pelan, tapi telinga tajamnya dengan mudah menangkap suara itu.


Perlahan Jaehyun meraihkan tangannya ke saku celananya, mengambil pistolnya dan berbalik dengan cepat.


Saat mengarahkan pistolnya ke arah orang itu, orang itu juga sudah ikut mengarahkan pistolnya ke arah Jaehyun.


Jaehyun menghela nafas pelan dan menatap muak pada orang di depannya.


"Turunkan pistolmu." Ucap Jaehyun dengan wajah datarnya.


"Haha? Lalu apa? Membiarkanmu menembak kepalaku dengan mudah?" Ucap orang di depannya dengan sarkas.


Dengan tatapan malasnya, Jaehyun mencampakkan pistolnya dan mengangkat tangan seolah dialah orang yang kalah.


"Nah, begitukan lebih baik. Sesekali mengalah pada temanmu tak masalah kan Jae."


[ JAE ]


Aku hanya diam mendengar ocehan tak penting dari teman bodohku itu.



Choi Minho.


Pria brengsek yang belakangan hari selalu mengirim kotak berisi benda-benda laknat dan mengancam akan merebut Taeyong dariku.


"Hahaha, jangan menyambutku dengan wajah begitu Jae." Aku hanya diam mendengar ucapannya dan berjalan mendekat padanya. Kemudian memeluk tubuhnya dan menepuk pundaknya pelan.


"Selamat datang kembali di Korea bajingan." Bisikku di telinganya dan ia terkekeh pelan.


"Ya, terimakasih bangsat." Aku pun sedikit terkekeh mendengar ucapannya.


Ku lepaskan pelukan kami dan menatapnya dalam diam. Alis tebalnya menukik sebelah dan secara tiba-tiba...


"Batu, gunting, kertas..."


Aku yang tak siap pun langsung membuat tanganku menjadi seperti batu, dan dia membuat tangannya seperti kertas.


Dorrr


Brengsek.


Kakiku terasa sedikit perih saat sebuah peluru menembus sepatu mahalku. Sedangkan pria bajingan di depanku itu terkekeh sambil memegangi perutnya.


"****!"


Bughh


Ku tendang perutnya dan membuat ia tersungkur. Masih dengan tawanya, ia mengangkat tangan seakan menyerah.


"Haha... Maafkan aku Jae." Ucapnya sembari berusaha menahan tawanya. Setelah cukup lama, ia kembali berdiri dan menatapku dengan senyuman memuakkannya.


"Hhh,,, sedari kecil kau tak pernah menang bermain batu, gunting, kertas bersamaku."


Ah, menjijikkan, lihatlah wajah menjengkelkannya itu. Bastard.


"Baiklah, lain kali akan ku ajarkan kau bermain batu gunting kertas."


"Persetan!"


Aku mengumpat pelan dan berjalan melewatinya. Aku kembali duduk di sofa dan menikmati rokokku yang baru.


"Jae, dimana permaisuriku?" Tanya Minho dengan nada ledekannya.


"Berhenti bicara atau kau akan kujadikan permaisuriku."


"WHAT THE ****... Aisshh,,, aku merinding membayangkannya brengsek." Aku menyeringai mendengar nada gelinya.


Aku hanya diam saat Minho duduk di sampingku dan merangkul pundakku.


"Jae, bagaimana desaign kotak baruku? Bagus bukan?" Tanyanya dan aku hanya diam sambil menghembuskan asap rokok ke udara. "Kau lihat tulisan 'Re' disana? Itu artinya Raja. Choi Minho, Raja Mafia di Rusia." Ucapnya dan aku masih diam. "Yak! Bicaralah bajingan."


"Jangan mengumpatiku bocah sialan." Geramku dan menyulut tangannya yang merangkulku dengan rokok, membuatnya meringis dan memakiku 'lagi'.


"Minho, biar bagaimanapun juga aku ini manusia, aku masih butuh tidur, jadi setan sepertimu jangan pernah sesekalinya menganggu malam indahku. Paham?" Ucapku dan bangkit dari dudukku.


"Yak, sialan kau. Aku memang setan, tapi kau Iblisnya." Teriaknya cukup kuat tapi aku tetap berjalan.


"Ya, setidaknya Iblis ini lebih tampan dari pada dirimu."


"BANGSAT!"


[ MINHO ]


Aku sedikit mengerang kesakitan saat luka bakar di tanganku ku siram dengan air mengalir, setelahnya aku berjalan menuju lemari di dekat kulkas dan mengambil kotak P3K. Membalut lukaku dan meletakkan kembali kotak P3K pada tempatnya.


Sejak kecil saat aku sering bermain dengan Jaehyun di sini, semuanya terlihat sama.


"Jaehyun, ayo kita main batu gunting kertas, siapa yang kalah kakinya akan di injak oleh yang menang."


"Eum, boleh."


"Batu, gunting, kertas..."


"Yaakkk,,, kau menginjaknya terlalu keras bodoh."


"Uweekk,,, salah siapa kau kalah."


"Dasar Minho bodoh."


"Dasar Jaehyun bodoh."


"Kau yang bodoh."


"Kau."


Aku tersenyum saat mengingat di dekat dapur inilah pertama kali kami bermain batu, gunting, kertas.


Saat itu Jaehyun kalah, dan aku meneriakinya bodoh. Dan saat itu juga, setiap hari Jaehyun selalu menantang ku bermain batu, gunting, kertas karena ia tak terima dikatai bodoh. Namun ia tetap selalu kalah.


"Yakk,,, kau curang, kenapa aku selalu kalah?"


"Aku tidak curang, kau saja yang lemah."


"Baiklah, jika nanti sudah besar, akan ku pastikan aku menang. Lihat saja."


"Eum, terserah kau saja. Dasar Jaehyun keras kepala."


"Dasar Minho bodoh. Aku membencimu."


"Aku juga membencimu."


"Ahahaha,,," Tanpa sadar aku tertawa saat kembali mengingat bagaimana lucunya wajah Jaehyun yang merajuk karena selalu kalah dariku.


Aku menghela nafas pelan dan meraih ponselku di kantong celana. Ku buka galeri ponselku dan memandang foto permaisuri ku yang sesungguhnya.


"Aku akan menjemputmu sayang." Ucapku pelan sembari mengelus wajah cantik itu.


"Aku akan membebaskan mu dari mereka Lee Taemin."


[ TAE ]


Aku membuka mataku saat cahaya sinar matahari menembus melalui gorden jendela yang sedikit terbuka.


Aku merasakan sesuatu yang berat menimpa pinggangku, saat ku lihat ternyata itu tangan milik Jaehyun. Perlahan ku singkirkan tangan Jaehyun dan beranjak dari tempat tidur.


Keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Seperti orang dari gurun, aku meminum air dari kulkas dengan rakus.


"Pagi sayang."


Byuurrr


Aku tersentak kaget dan menyemburkan air dari mulutku saat seseorang meniup tengkukku. Dengan cepat aku berbalik bersiap memaki orang kurang ajar itu.


Tapi yang ada malah mataku melotot tak percaya melihat siapa orang yang ada di depanku itu.


"MINHO HYUUNGGG." Dengan cepat aku menghambur ke pelukannya dan dia dengan senang hati menyambut ku, bahkan dengan tangan kuatnya ia mengangkat tubuhku dan membawaku sedikit berputar-putar.


Aku terkekeh dan melepaskan diri dari pelukannya. Menatapnya dengan rasa tak percaya, takjub, dan lainnya yang membuatku tak bisa berkata-kata.


"Aku merindukanmu." Ucapnya dengan tatapan teduhnya.


"Eum, aku jauh lebih merindukanmu." Jawabku dengan semangat.


"Ppoppo." Ucapnya sembari menunjuk pipinya, dengan malu-malu aku perlahan aku menutup mataku dan menjijitkan kakiku bermaksud mencium pipinya.


Namun yang ada hanya angin yang kucium, membuatku sedikit kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke depan kalau saja tak ada Jaehyun yang menangkap ku.


Aku terkejut saat melihat Minho hyung jatuh terduduk. Aku mendongak dan menatap Jaehyun yang menatapku dengan dingin.


"Sudah lama aku tidak merasakan buruk di pagi hari." Aku hanya diam dan menatapnya dengan bingung. "Jangan bersikap murahan pada siapapun selain pada diriku. Kau paham Lee Taeyong?!" Aku mengedipkan mataku berkali-kali dan mengangguk cepat.


"Dasar serakah." Ku dengar Minho hyung mengumpat pelan dan perlahan berdiri.


Aku hanya diam melihat mereka saling melempar pandangan tajam. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan ini, sangat lucu.


"Baiklah." Ku lihat Minho hyung menghela nafas pelan dan berjalan mendekat padaku.


Aku hanya diam dan menatapnya dengan dalam.


Chuu


Mataku melotot saat dengan kecepatan kilat Minho hyung berlari setelah mencium bibirku.


"BANGSAT!"


Dengan cepat aku menarik tangan Jaehyun yang akan mengejar Minho hyung. Ku peluk erat tubuh Jaehyun dan menatapnya dengan senyuman manis ku.


Ku lihat Jaehyun menghela nafas keras dan balas memeluk pinggangku dengan erat.


"Jangan tersenyum seperti itu, atau kau akan ku kurung di kamar selama seminggu."


"Hehehe..." Aku terkekeh mendengar geramannya. Ku sandarkan kepalaku ke dadanya dan ia balas mengelus belakang kepalaku.


"Aku merindukanmu yang seperti ini." Ucapnya dan aku hanya diam.