Love You Mr Amnesia

Love You Mr Amnesia
Bab.8 (Tinggal di gudang)



Dennis melajukan motor tanpa tahu harus ke arah mana, sudah hampir setengah jam mereka hanya berputar putar di ruas jalan yang sama, sama sama tidak memiliki tujuan setelah pengusiran yang di lakukan oleh warga pada mereka.


Dennis pun tidak banyak bicara setelah ucapan Raya yang benar benar mengganggu fikirannya, bagaimana jika dia benar benar sudah menikah seperti ucapan Raya, tidak ada yang dia ingat dan itu bisa saja benar, yang menjadi alasan Raya tidak menerima idenya untuk menikah dengannya.


"Raya ... maafkan aku! Tidak seharusnya aku bersikeras padamu tanpa berfikir panjang."


"Aku memaafkanmu!" Ujarnya singkat, padat dan juga jelas, pandangannya lurus pada punggung tegap Dennis, pria tanpa nama yang kini mulai menggetarkan hatinya.


"Raya aku serius!"


"Aku dua rius." Jawabnya asal, dia memang tidak ingin memperpanjang masalah itu, pengusiran terhadapnya benar benar membuat jalan buntu, tidak memiliki uang, maupun tempat tinggal.


Mendengar hal itu, Dennis dengan sengaja menginjak pedal rem, dia menghentikan kendaraannya di tepi jalan tanpa aba aba.


Raya yang masih sibuk dengan fikirannya sendiri itu tersentak kaget dengan tubuh terjungkal ke depan menabrak punggung tegap Dennis.


"Aww!"


Dennis menoleh, dengan alis bertaut dan wajah lesunya, "Bagaimana kalau aku ternyata belum menikah Raya?"


Raya tentu saja terpaku, menatap wajah tampan Dennis yang kini di penuhi bulu bulu halus. Namun tidak berlangsung lama karena dia dengan cepat memalingkan wajahnya.


"Aku tidak tahu! Yang jelas kita sudah di usir dan tidak punya tempat tinggal. Lebih baik kita fikirkan saja dimana kita akan tinggal."


Dennis turun dari motor butut milik Raya, membuat Raya juga ikut turun, "Ada apa?" tidak ingin menambah masalah apalagi ucapannya membuat Dennis tersinggung.


"Maafkan aku Raya, semua kekacauan ini salah ku! Kamu berkali kali menolongku, tapi aku hanya bisa menyusahkanmu. Kau juga tidak bisa bekerja sekarang karena tanganmu. Seharian kemarin kau menyetir dan pasti tanganmu sekarang tanganmu pasti kaku lagi." jelas Dennis dengan lirih, wajahnya penuh kerisauan melihat Raya yang menyedihkan dengan dua tas dipangkuannya.


Raya mendadak menyengir, itu memang benar, tangannya merasa sering ngilu dari sebelumnya, tapi bukan itu saja. Ucapan panjang lebar Dennis memberikannya ide cemerlang.


"Kita ke kafe sekarang!"


Dennis mengernyit, "Tidak ... Lebih baik kita cari tempat untukmu dulu baru setelah itu aku pergi bekerja. Masih ada waktu satu jam sebelum kafe buka."


"Justru itu, ayo cepat kita ke sana. Sebelum banyak orang."


***


Raya menyuruh Dennis berhenti di samping kafe, dia turun dan menurunkan barang barang miliknya dan menyuruh Dennis menunggu sebentar sampai dia kembali.


"Kau tunggu di sini sampai aku menyuruhmu masuk."


"Kau mau apa Raya? Jangan macam macam. Kita akan terkena masalah lagi nanti."


"Kau tenang saja, ini pasti aman. Tunggu aku di sini!" Raya bergegas masuk ke dalam kafe melalui pintu samping, beruntung dia memiliki kunci gudang yang dititipkan padanya. Raya masuk dan membuka pintu gudang, setelah berhasil dia kembali ke luar.


"Ayo!"


Dennis menautkan kedua alis tebalnya, melihat Raya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam, tanpa tahu rencana apa yang tengah dlakukan Raya, dia hanya mengikutinya saja.


"Kita akan tinggal disini sementara waktu, setidaknya sampai kita menemukan tempat tinggal baru."


"Hah? Kita akan tinggal di gudang kafe. Bagaimana kalau kita ketahuan Raya? Ini akan semakin mempersulitmu, bagaimana kalau nanti kau justru di pecat!" Dennis semakin khawatir dan tentu saja semua karena dirinya.


Raya membereskan kardus kardus bekas dan menumpuknya, dia juga menyusun tas ransel miliknya, tak lama dia duduk lesehan dengan posisi bersila.


"Maaf!"


"Sekali lagi kau meminta maaf! Kau harus memberiku hadiah!" ujar Raya dengan mata terpejam, menyandarkan punggungnya di dinding yang terasa dingin.


Gudang itu memang jarang sekali di lewati karyawan, bahkan hanya Raya dan pak Revi saja yang biasa ke sana untuk menyimpan dus dus dan barang yang tidak layak pakai.


Aku merasa beruntung jadi pesuruh gak jelas di kafe ini, dengan gitu aku bisa leluasa tinggal di sini tanpa mengeluarkan uang. Kenapa tidak kefikiran oleh ku dari dulu ya. Batin Raya dengan bibir tersungging tipis.


Sementara Dennis menghela nafas menatap gadis didepannya, dia semakin kagum karena bagaimana pun keadaannya Raya tidak menyerah sedikitpun. Akhirnya dia ikut duduk walau dengan hati yang khawatir jika ada orang yang tahu keberadaan mereka saat ini.


"Selama kau bekerja, mereka memanggilmu siapa?" tanya Raya satu jam setelah mereka berdiam diri di ruangan penuh barang bekas itu.


"Heh!"


Raya mengernyit dan mengulangi pertanyaannya lagi dan baru sadar saat Dennis menjawabnya dengan kata yang sama.


"Heh? Mereka memanggilmu heh?"


Dennis mengangguk, "Karena aku selalu diam saat ditanya namaku."


Raya tergelak, bagaimana mungkin dia lupa akan hal itu, kebiasannya memanggil Mr Amnesia tidak mungkin dibawa ke kafe.


"Oke, jadi kita harus memanggilmu apa ya? Biar mereka juga gak bingung, kau sudah bekerja satu minggu dan hanya di panggil heh saja."


"Terserah kau saja Raya."


Tak berlangsung lama, Pak Revi sebagai petugas ke amanan di kafe datang untuk membuka kunci depan, dia pun tidak tahu jika Raya dan Dennis berada di dalam.


"Pak Revi pasti udah datang! Kau harus segera ke luar dan pura pura datang dari depan, aku akan menyusul setelah mengunci pintu gudang." Raya menyuruh Dennis keluar dan menunggu. Dennis pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Raya. Datang ke kafe dengan jalan memutar dan menunggu seperti biasanya.


"Tumben sekali kau datang lebih awal." tanya pak Revi yang baru melihat Dennis memarkirkan motor butut Raya dengan hati yang deg degan. "Raya masih sakit?"


Dennis baru membuka mulut untuk menjawabnya, namun Raya sudah datang dengan berlari kecil.


"Oh tuh Raya, gimana Ray tanganmu?"


"Baik pak, udah sehat dan siap bekerja lagi."


"Syukurlah, Bu Ambar pasti senang kau datang. Dia terus uring uringan selama kamu tidak bekerja, tidak ada yang di suruh suruh. Untung saja dia gantiin kamu, bu Ambar kegirangan liat laki laki tampan." Security paruh baya itu terkikik dengan mendorong bahu Dennis.


Raya menggaruk hidungnya, "Heh Yo, katanya kau tampan, sampai bu Ambar kesemsem sama kau."


Dennis mengernyit, begitu juga dengan Pak Revi.


"Yo ... Siapa yo? Namamu?"


"Dia Karyo pak, tapi dia ini malu punya nama udik kayak gitu, jadi dia gak mau orang orang tahu."


"Oh Karyo to!"


Dennis mencubit pinggang Raya yang tertawa bersama security didepannya, hingga Raya tersentak kaget karena jarak mereka lagi lagi sangat dekat, bahkan hidungnya hampir menyentuh rambutnya.


"Kenapa kau memilih nama yang jelek itu Raya."