
Tanpa sepengetahuan Sarah. Yoga pergi ke kota Xx untuk menemui Dennis, padahal pria berusia 25 tahun yang masih kehilangan ingatan itu baru saja pergi satu hari dari rumah. Tapi Yoga tidak bisa menunggu lebih lama. Keadaan yang harus memaksa Dennis untuk segera kembali.
'Apa dia kembali tinggal dengan gadis itu?'
'Hm ... Baiklah! Segera kirimkan lokasinya.'
Yoga menyuruh supir melaju lebih cepat, dia juga sudah mendapatkan lokasi Dennis tinggal saat ini dari Bram.
Sementara di rumah sakit, seluruh kepala pimpinan tengah mengadakan rapat yang tentu saja tidak dihadiri oleh Yoga, mereka menuntut dengan segera posisi CEO yang telah lama kosong. Semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Dennis sebagai CEO terbengkalai sementara Randi yang rencana awal akan menggantikannya harus menelan pil pahit karena pengangkatan dirinya harus ditangguhkan karena nyatanya Dennis masih hidup.
Semua jajaran direksi rumah sakit mendesak Yoga agar segera menyuruh Dennis kembali bekerja atau menggantinya dengan Randi.
Mengetahui Yoga yang menyusul Dennis ke luar kota, Randi justru baru pulang dari kota xx dan menuju ke rumah Yoga, menemui Sarah untuk mendekatinya dan mengambil simpati. Sarah jelas senang karena dia menyayangi Randi sama halnya seperti Dennis. Wanita yang memiliki wajah teduh itu tidak tahu Randi telah memiliki rencana jahat.
"Tante ... apa tante tahu kalau Om Yoga pergi ke kota xx dan akan membawa Dennis kembali kemari?"
Dengan wajah sumringah Sarah menatap keponakannya itu, "Benarkah?"
"Ya ... Tentu saja. Om Yoga mau tidak mau harus membawanya pulang karena para direksi yang mulai memprotesnya. Mereka akan mengganti posisi Dennis, aku menolaknya karena tahu kalau cepat atau lambat Dennis akan kembali. Tapi mereka mana mau mendengarku Tan. Aku minta maaf." ujar Randi dengan kedua tangan menangkup tangan Sarah.
"Kenapa kau minta maaf sayang! Tidak apa apa ... Walaupun nanti kau harus menggantikan sementara Dennis sampai dia ingat semuanya."
"Itu bukan untuk sementara Tante, tapi akan melanjutkan rencana sebelum Dennis kembali ditemukan dalam keadaan hidup."
"Benarkah?"
Randi mengangguk lirih. "Benar tante! Mereka akan tetap pada rencana awal, justru itu Om Yoga harus berhasil meyakinkan Dennis untuk kembali. Padahal aku benar benar tidak mau tante."
Sarah menepuk bahunya lembut, wanita paruh baya itu mengulas senyuman, "Tidak apa apa Randi. Tidak usah risaukan hal itu kalau memang kau harus menggantikan posisi Dennis. Dia bisa memimpin dimana saja nanti."
Apa itu yang menyebabkan Yoga pergi kesana dan tidak memberitahuku apa apa, apa dia kehabisan waktu. Dan mau tidak mau Dennis harus kembali. Batin sarah.
"Jadi tante juga harus segera menggelar pertunangan Dennis dan juga Celine lebih cepat lagi, aku merasa kasian pada Celine. Dia sudah menunggu lama tapi saat Dennis kembali, dia justru meninggalkannya demi wanita lain yang tidak sepadan dengannya."
"Wanita yang kau maksud wanita yang menolong Dennis saat kecelakaan?"
"Benarkah? Seperti apa dia?" tanya Sarah semakin penasaran.
Randi bingung menjawabnya, sejujurnya dia akui juga jika Raya memang cantik walaupun hanya berdandan seadanya dan juga sederhana.
"Tidak cantik! Biasa saja tante. Dan aku takutkan Om Yoga akan membawanya kemari agar Dennis ikut pulang asal wanita itu ikut pulang juga. Tante harus waspada." terangnya dengan kepala yamg terangguk angguk.
"Kalau begitu. Jangan sampai suamiku membawanya pulang ke mari juga."
"Iya tante! Makanya, hanya ucapan tante yang Om Yoga dengarkan, om Yoga pasti mengikuti perkataanmu Tante."
"Kau benar! Nanti tante akan coba bicarakan pada om mu itu." ujarnya mengelus punggung tangan Sarah.
Yoga tiba di apartemen sederhana yang di sewa Bram untuk Dennis. Pria yang masih terlihat tegap itu keluar dari mobil dan berjalan memasuki lobby apartemen. Dan Bram sudah menunggunya di sana.
"Apa dia sudah pulang?"
"Belum tuan? Sepertinya dia akan pulang sebentar lagi." jawab Bram yang melirik jam ditangannya.
"Apa dia kembali bekerja di kafe bersama gadis itu juga Bram?"
"Betul tuan."
"Kalau begitu. Atur pertemuanku dengan dia." tukas Yoga serius.
"Maksudmu Raya?"
"Hm ... Aku ingin bertemu dengannya."
"Baik Tuan."
.
Masih sepi aja nih yang satu ini. Wkwwkwk.