Love You Mr Amnesia

Love You Mr Amnesia
Bab.31(Tetap memilihmu)



Sementara itu, Raya menjalankan hidupnya seperti biasanya. Dia kembali bekerja di cafe seperti biasanya. Meskipun Dennis telah mengajaknya pergi ke ibukota dan menyuruhnya pindah kuliah.


Namun dia merasa ragu, terlebih saat Celine datang menemuinya dan secara terang terangan mengatakan jika Dennis mencintainya. Hanya saja kehilangan ingatan membuatnya lupa akan dirinya, secara naluri dia tentu saja takut, meskipun berulang kali Dennis meyakinkannya. Bahkan menemukan tempat tinggalnya yang baru.


Sejak saat itu pula hidupnya tidak tenang, dia selalu merasa di awasi. Merasa seseorang terus mengikutinya dari jauh.


Sampai saat ini Raya memang tidak tahu jika Dennis mengirimkan Bram untuk menjaganya, bahkan Dennis menyewa apartemen yang sangat dekat dengannya.


"Hey ... Ngelamun aja, mau aku potong lagi gajimu yang tinggal sedikit itu?"


Teriakan Bu Amber membuatnya kaget, dia pun segera menggeleng dengan kembali membereskan dapur.


"Aku tahu kau kehilangan, aku juga begitu ... Dia pria tampan yang bisa menarik banyak pelanggan kemari, dia juga rajin dan juga tampan ... Ahk ... Tiba tiba aku jadi sedih!"


Raya tersenyum kecut, pemilik kafe violet memang sangat di untungkan selama Dennis bekerja disana. Amber jugalah yang membantu Dennis sampai bisa menebus motor bebek miliknya yang di gadaikan dulu.


"Sudah ... Ayo kembali bekerja, aku yakin jika dia memikirkanmu dia akan kembali kesini, kecuai dia tidak lagi memikirkanmu." Amber menepuk bahu Raya kemudian pergi.


Raya semakin merengut mendengarnya, dadanya terasa sesak tiba tiba. Bagaiman jika ucapan Bosnya itu benar, bagaimana jika Dennis tidak kembali, bagaimana jika Dennis mengingat semuanya dan ... Dan cintanya pada Celine.


Raya menghembuskan nafas panjang, lalu meanjutkan pekerjaannya. Setelah itu dia ke arah belakang dan berganti pakaian.


"Ray ... Masih terus kuliah? Bukannya gajimu aja gak cukup buat bayar uang semesteran kalau kamu ambil setengah shift kayak gini tiap hari?" celetuk Eva yang datang ke ruang ganti untuk menggantikan pekerjaan Raya. Ya seperti ituah setiap hari, Raya hanya mengambil setengah hari untuk bekerja jika jadwal kuliahnya bentrok dan hal itu membuat gajinya lebih rendah dibandingkan dengan teman temannya yang lain.


"Iya nih Va ... Soalnya tanggung nih, tinggal 3 semester lagi kan." Raya menyerahkan apron miliknya pada Eva. Lalu memasukkan nametag ke dalam loker sekaligus mengmbil tas miliknya. "AKu pergi ya Va .. Makaih, lain kali aku akan traktir puyunghai deket kampus,kamu pasti suka!"


Namun Eva malah cekikikan dan mendorong tubuh Raya. "Udah sana buruan, gaji udah kecil sok soan traktir aku,"


"Ih Eva jahat banget!"


Keduanya tertawa, hingga akhirnya Raya keluar dari arah dapur, mengambil perlengkapan kuliahnya dari gudang yang sempat dia tinggali diam diam bersama Dennis.


Rsa sesak kembali dia rasakan saat memasuki gudang itu, rasanya aroma tubuh Dennis masih tertinggal di sana.


"Aku kangen kamu Mr Amnesia!" lirihnya.


"Aku juga Raya!"


Raya tersentak saat sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya, sejurus kemudian dia berbalik dan melayangkan tas ke arahnya.


"Ini aku Raya!"


"Dennis?"


"Tega sekali kau mau memukulku padahal kau bilang rindu aku!"


Raya terkesiap, rasanya mau sekali sekaligus senang bisa melihatnya lagi, ya melihatnya lagi.


"Ini gak mimpi kan? Kenapa datang kemari?"


"Aku ke rumahmu, tapi sepertinya kamu belum pulang. Jadi aku memutuskan untuk kesini!"


"Hm ... Kau jalan belakang?"


"Ya ... Tentu saja, aku tidak ingin ketahuan oleh bu Amber lagi!" bisiknya dengan menarik tubuh Raya dan memeluknya. "Aku merindukanmu Raya."


"Mana mungkin aku melupakanmu Raya!"


"Maksudku jalan masuk ke sini Dennis ... Aku fikir kamu lupa karena ingatan mu sudah kem---"


"Sttthh ... Aku tidak akan perah melupakan segala tentangmu dan kita Raya, sekalipun aku ingat semuanya!"


Raya masih betah mematung, dia tidak ingin gegabah karena dia takut rasanya akan menyakitkan, sekalipun dia sangat merindukan Dennis.


"Raya ...!"


"Apa kau sedang berbohong dengan mengatakan kau rindu aku?"


"Ak---Akuu,"


'Jawablah dengan jujur kalau kau juga rindu aku seperti yang aku dengar tadi." Tangan Dennis menarik tangannya dan mengalungkannya pada lehernya sendiri. "Aku tahu kekhawatiranmu Raya, tapi aku akan selalu ada untukmu. Untuk itulah aku ingin kau ikut aku agar kita selalu bersama."


"Lalu Celine?"


Dennis terdiam, dia tidak bisa menjawabnya dengan cepat sebab ada sesuatu yang harus dia pastikan terebih dahulu.


"Bagaimana dengannya Dennis, kau pasti ingat sesuatu tentangnya kan?"


Dennis tidak pintar berbohong, terlebih pada Raya, "Aku ingat beberapa Raya, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan perasaan untukmu Ray,"


Ryamengurai pelukannya, lalu kembali mengambil tas miliknya. "Aku telat ke kampus! Kita bicara kan nanti aja!"


Lebih baik menghindar daripada harus mendengar kenyataan yang paling dia takuti selama ini.


Secepat kilat Dennis menarik tangannya hingga langkahnya terhenti, "Ray ... Bagaimana kalau aku tetap memilihmu sekaipun ingatanku kembali dan Celine ternyata kekasihku?"


"Dennis?"


"Itu benar Ray, keputusanku sudah bulat ... Aku tetap memilih dirimu walau kemungkinan besar Celine pacarku sebelum aku hilang ingatan!"


"Tapi itu gak akan adil buat Celine Dennis, jangan egois!" Raya menepiskan tangannya.


"Apa itu juga akan adil bagimu Ray. Katakan ... Hm... Apa itu adil bagimu? Jangan bohongi dirimu sendiri dan memikirkan orang lain Raya!"


"Lalu ... Apa yang bisa aku lakukan Dennis ... Apa? Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku cukup tahu diri!" Raya mendorong Pria yang berdiri membelakangi pintu lalu dia keluar dengan cepat seraya menghapus air mata yang tiba tiba turun begitu saja.


"Bodoh kau Raya ... Celine saja datang padamu dan mengatakan tidak akan pernah melepaskanku, tapi kenapa kau tidak bisa melakukan hal itu Raya!" cicitnya seraya berjalan ke arah motor bututnya.


Lagi lagi Dennis mencekal lengannya dan membawa gadis itu ke dalam mobil, dia tidak peduli jadwal kuliah Raya yang hampir terlambat itu.


"Lepaskan aku Dennis, biarkan aku pergi!"


"Jalan Bram!" ucap Dennis pada supir sekaligus asisten sang ayah.


"Dennis!" teriak Raya,


"Aku tidak peduli lagi Raya, sekalipun kau tidak bisa melakukan apa apa, kau hanya cukup diam dan turuti aku, aku sudah putuskan untuk memilihmu Ray!"