
Dennis kini berdiri di depan pintu kost an dimana dirinya juga sempat tinggal bersamanya disana. Hanya keheningan malam disertai hembusan angin yang menemaninya. Dennis tahu jika Raya pasti sudah tertidur dan dia tidak ingin mengganggunya. Keputusannya kali ini sudah bulat, untuk sementara waktu dia akan kembali ke rumah sakit sesuai permintaan Yoga, namun dia juga tidak ingin hubungannya dengan Raya kembali retak bahkan terputus begitu saja. Dia masih berharap Raya menerimanya lagi dan menikah dengannya.
Dennis mengurungkan niatnya untuk masuk, dia membalikan tubuhnya hendak pergi, namun baru saja satu langkah, terdengar deritan pintu terbuka di belakangnya. Dan membuatnya kembali menghadap ke arah belakang.
Gadis manis dengan wajah meneduhkan menatapnya dengan kaget lalu berubah menjadi sendu seiring dalamnya tatapan Dennis ke arahnya.
"Kenapa kau ada disini lagi?"
"Aku harus bicara denganmu Ray. Tapi ini sudah larut malam dan aku takut mengganggumu."
"Tidak apa apa, bicaralah!"
"Ray...!"
"Bicara disini saja!"
Dennis mengangguk pada akhirnya, dia juga menghampiri Raya namun Raya dengan cepat duduk di undakan tangga, membuat Dennis menghela nafas lalu ikut duduk di sampingnya.
"Aku akan kembali ke kota yy, kembali ke rumah sakit dimana katanya aku bekerja di sana."
"Bagus! Itu memang sudah seharusnya. Kau seorang Dokter, aku baru sadar sekarang apa yang kau lakukan dulu saat aku kecelakaan adalan tindakan seorang dokter."
"Tapi aku akan kembali ke mari untuk menjemputmu. Aku ingin menikah saat itu juga. Dengan mu Ray."
Raya menoleh ke arahnya, menatap seberapa dalam Dennis menatapnya. "Lalu Celine? Apa kau tidak memikirkan betapa sakitnya dia saat itu?"
"Ray ... Sudah berulang kali aku mengatakannya padamu, aku hanya menginginkan mu Ray. Bukan Celine. Dan aku tidak peduli dengannya. Yang aku pedulikan hanya kau Ray ... Tidakkah kau mengerti juga itu?"
Raya jelas terhenyak namun hatinya juga menghangat saat mendengar ucapan Dennis.
"Sutth!" Dennis menempelkan jari telunjuk pada bibir Raya, "Jangan ada tapi, aku tidak mau mendengar apa apa lagi. Kau dan aku. Hanya kita Ray. Aku akan pastikan hal itu. Cepat atau lambat aku akan kembali dan menjemputmu Ray. Ikutlah denganku ya."
Raya tertegun mendengarnya, lagi lagi hatinya menghangat karena ucapan Dennis, terlebih sekarsng Dennis merengkuh bahunya dan memeluknya erat.
"Yang aku inginkan hanya kau Ray. Percayalah, kalaupun aku mengingat semuanya. Aku pastikan dirimu yang aku lihat pertama kali."
Raya hanya terdiam, semua kata kata Dennis menghipnotisnya. Membuatnya tidak mampu berkata kata. Percaya, satu hal mustahil tapi dia yakini saat ini.
***
Akhirnya Dennis kembali ke kota yy keesokan pagi bersama Yoga. Dia juga menyuruh Bram menyerahkan kunci apartemen pada Raya dan menyuruhnya tinggal disana agar dia bisa tinggal dengan layak. Raya menolaknya namun Bram yang mendesak karena perintah Dennis tentu saja. Akhirnya Raya menerimanya.
Dennis yang kembali pulang tentu saja membuat Sarah bahagia, apalagi Celine yang hari itu juga datang ke rumah kediaman Atmajasalim.
"Sayang." ujar Celine memeluk Dennis.
"Maaf Celine, aku ke kamar dulu." Sikapnya semakin dingin, tentu saja karena dia rasa tidak memiliki perasaan apa apa padanya.
Randi yang melihatnya berseringai, dia mencekal Celine agar tidak mengejarnya. "Biarkan dia. Aku akan bicara padanya nanti."
"Tentu saja Randi. Kau harus membantuku."
"Serahkan semuanya padaku."
Randi mengikuti Dennis yang masuk kedalam kamar,
"Dennis. Kau baik baik saja kan? Ku dengar kau akan kembali ke rumah sakit. Kau tidak usah khawatir. Karena aku akan selalu membantumu."